
Alisa menatap nanar pada ketiga anaknya. Begitu sakit yang ia rasakan saat Nenek Rima menuduhnya yang bukan-bukan.
Sesak rasa dada nya. Sebulir bening mengalir di pipi tirus nya. Begitu juga dengan Ira. Ia tak menyangka jika Nenek nya dengan tega menghina Mak nya.
Apa salahnya jika mereka bertiga terlahir dari rahim Alisa? Di mana letak kesalahannya? Jika mereka boleh memilih, mereka pun tidak ingin terlahir dari Ayah seperti Emil.
Tapi inilah takdir yang harus mereka jalani. Sakit sekali mendapat hinaan dari orang terdekat.
Jika orang lain masih bisa bertahan. Tapi ini? Nenek Rima. Ibu kandung dari Ayah Emil. Tega-teganya beliau menuduh mereka seperti itu.
Buliran bening masih saja mengalir di pipi nya. Lana masih saja membela nya. Ia menatap nanar pada putra nya itu.
Sungguh, Alisa begitu beruntung memiliki anak laki-laki seperti Lana. Walau ia sering usil dan nakal, tapi lihatlah sekarang.
Ia membela Mak nya mati-matian. Lagi, air mata itu jatuh tanpa di pinta.
Sakit sekali dituduh seperti itu. Nenek Rima dengan segaja menuduh Alisa dengan mengatakan jika ketiga anak itu bukanlah anak Emil.
Lalu, mereka anak siapa?
Lana menatap datar pada Nenek Rima. Ia mengepalkan kedua tangannya. ''Segitu tidak inginkah Nenek terhadap Mak ku? Segitu bencikah Nenek kepada Mak ku? Segitu hina kah Mak ku di mata Nenek? Sampai-sampai Nenek menuduhnya yang bukan-bukan? Sebenarnya apa yang Nenek inginkan?! Belum puas kah selama ini kalian merusak kehidupan Mak ku?! Belum puas kah kalian menyiksa nya dengan ucapan kalian yang begitu pedas setiap harinya?! Jika tujuan Ayah menikahi Mak ku hanya untuk disakiti seperti ini, maka pastilah Mak ku tidak mau! Siapa yang mau hidup dengan suami yang tidak menerima istri apa adanya?''
__ADS_1
Tanya Lana kepada Nenek Rima. Wanita tua itu terdiam mendengar ucapan cucu nya ini. Putra kandung dari Emil.
''Aku tak diminta untuk dilahirkan kedunia ini! Kami bertiga ada di dunia ini karena putra tersayang Nenek! Dan sekarang, dengan teganya Nenek menuduh Mak ku, surgaku yang bersalah disini? Nenek punya kaca tidak? Jika memang tidak punya kaca, Maka akan aku berikan! Agar orang tua seperti Nenek bisa berkaca dulu sebelum mengatai orang lain!''
Sakit rasa hatinya. Ucapan pedas itu selalu ia terima dengan diam, karena Alisa selalu melarang nya untuk ikut campur.
Sebagai anak yang patuh, Lana menuruti keinginan Mak nya itu. Tapi hari ini? Harga diri Mak nya di injak-injak begitu saja oleh Nenek nya.
Ibu kandung dari Ayah Emil. Ayah kandung Lana. Masih dengan wajah datar, ia berbicara lagi kepada Nenek Rima.
Wajah itu begitu dingin, tapi di kedua pipi nya mengalir deras air mata. Air mata rasa sakit hatinya karena Nenek Rima menuduh Mak nya yang bukan-bukan.
Ddddduuuaaarrrr..
Nenek Rima membeku mendengar ucapan cucu kandungnya ini. Ia melotot mendengar ucapan Lana.
''Kenapa setiap orang selalu bisa melihat kejelekan pada diri orang lain, sedang pada dirinya sudah jelas terpampang. Aku heran dengan orang tua, mentang-mentang dia yang paling tua, dia bisa menghina dan merendahkan orang lain. Seolah-olah, dialah yang paling benar! Dialah yang paling baik! Tidak taunya, bahkan dia lebih buruk dari orang yang dikatai nya!"
Deg!
Lagi jantung Nenek Rima serasa di hantam palu Godam. Begitu sakit dan berat yang ia rasa menghimpit dada nya.
__ADS_1
"Jika Nenek ingin kami pergi dari sini, maka kami akan pergi! Tak perlu dengan cara menghina dan merendahkan martabat orang lain. Sekarang aku tanya sama Nenek, jika posisi Mak ku dibalik menjadi Nenek, mampukah Nenek menerima nya? Mampukah Nenek bertahan jika suami Nenek seperti itu? Tidak sakit hati kah Nenek, jika anak-anak Nenek dituduh bukanlah anak kandung suami Nenek? Kurasa tidak! Bisa ku lihat, seperti apa kelakuan Nenek! Sekarang aja terlihat jelas!'' Ucap Lana panjang lebar.
Ia mengusap kasar air mata yang mengalir di pipi nya. ''Bahkan jika itu sampai terjadi, pastilah Nenek akan memarahi suami yang telah tega menduakan Nenek. Nenek pasti akan mengamuk seperti orang gila, jika sampai itu terjadi pada Nenek. Dan jika itu terjadi pada Nenek, seperti yang terjadi kepada Mak ku, Nenek pastilah menyahuti setiap perkataan dari ibu mertua Nenek!''
''Aku sangat mengenal siapa Nenek! Nenek tidak ada apa-apa nya di bandingkan dengan Mak ku. Jika aku boleh memilih, maka aku lebih suka dilahirkan oleh Mak ku dari Ayah lain, bukan Ayah Emil putra kandung Nenek! Aku memang masih kecil, tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi aku selalu belajar di sekolah tentang tata Krama. Tentang bagaimana aku bersikap kepada kedua orang tuaku. Juga pengalaman ku selama aku mengaji, begitu banyak yang ku dapat dari sana.''
Ia mengusap lagi air mata yang terus bercucuran di pipinya. ''Aku tidak pernah menghina ataupun merendahkan Ayah Emil di depan siapa pun! Walau ku tau Ayah selalu menghina ku dan Mak ku di depan orang banyak. Tapi itu tidak jadi masalah buatku, karena aku selalu diajarkan untuk bersikap baik kepada orang tua termasuk Ayah dan Nenek! Orang yang dengan tega selalu menghina Mak ku! Apa salah Mak ku hingga kalian berdua tidak menyukai nya? Belum cukupkah selama ini pengorbanan yang ia berikan untuk Ayah?? Jawab Nek!''
Nenek Rima terdiam, wajah tua nya itu terlihat sendu. Buliran bening terus mengalir di pipi keriputnya.
''Ketika ada Atok, Nenek begitu baik kepada Mak ku! Tapi setelah Atok meninggal, jangankan untuk menjenguk Mak ku yang baru saja melahirkan, bahkan Nenek dengan terang terangan menyuruh Ayah membawa perempuan lain kerumah Mak ku! Sadar Nek! Nenek itu sudah tua! Seharusnya Nenek menjadi panutan untuk cucu seperti kami yang masih kecil ini. Ini tidak. Yang ada bisanya cuma menghina dan merendahkan!''
''Sebelum menghina orang lain, berkaca dulu pada diri sendiri. Sudah baikkah kelakuan kita selama ini? Selama kita hidup? Bagaimana kalau nanti tiba-tiba ajal datang menjemput, sementara Nenek masih dalam keadaan buruk? Masih menghina dan merendahkan orang lain? Apakah Nenek bisa menolak nya? Bukan maksudku menggurui, tapi orang seperti Nenek, memang wajib untuk di tegur dan disadarkan dari kesalahan yang terus dengan sengaja ia perbuat. Bertaubat lah Nek, sebelum ajal menjemput Nenek!''
💕💕
Sedikit lagi!
Pantengin terus!
TBC
__ADS_1