Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Bersikap kasar


__ADS_3

Setelah berdebat panjang lebar dengan kedua saudaranya iparnya itu, kini saatnya untuk Alisa istirahat.


Setelah Maghrib yang ketinggalan disambung dengan sholat isya. Alisa tertidur di lantai berlapiskan tikar barum. ( Ada yang tau apa itu barum?)


Tenaga terkuras habis. Lelah hati juga lelah pikiran. Belum lagi seharian ini Emil mengajaknya keliling. Sudah pastilah sangat lelah.


Berharap pulang kerumah bisa ketemu bantal, eh malah ketemu mamah judes lagi ceramah dirumahnya.


Lelah hayati tak seimbang dengan lelah hati. Hatinya begitu terluka saat ini. Entah butuh waktu berapa lama, ia harus mengobati luka hatinya.


Akibat perkataan yang tidak disaring dari ibu mertuanya itu.


"Bang.." Emil menoleh.


"Aku tidur duluan ya? Capek banget badanku.. besok aja ya kita beberes??" tanya nya pada Emil.


Emil hanya diam, ia menatap sekilas namun setelah nya ia pergi dan mengunci pintu dari luar.


Alisa menghela nafasnya. Sangat sulit menerima sesuatu yang baru saja terjadi dalam kehidupan nya.


Alisa mencoba untuk bersabar, berharap segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Lama Alisa melamun, lambat lain mata itu terlelap begitu saja.


Rasanya baru sebentar, ia tertidur kini ada sesuatu yang mengusik tidur nya. Alisa membuka matanya walau sangat terpaksa.


Terlihat Emil sedang melucuti seluruh pakaiannya. Yang di tatap diam saja. Ia sibuk melepas seluruh pakaian yang melekat di tubuh Alisa.


"Bang... aku capek.. bisa nggak besok aja??" ucap Alisa dengan lembut agar tidak menyinggung perasaan suami nya.


Emil menatapnya dengan wajah datar. Sesaat setelah itu ia berhenti. Tak lama setelahnya, ia memaksa memasuki Alisa dengan cara paksa dan kasar.


Membuat Alisa terpekik kaget. Alisa begitu terkejut dengan perlakuan Emil. Ia menatap nanar pada tubuh yang ada diatasnya sekarang ini.


Alisa memejamkan matanya. Mencoba menahan rasa sesak di dadanya.


Inikah sifat asli mu bang..??


Berulang kali Alisa merintih menahan sakit, tapi tidak dihiraukan boleh Emil. Alisa menjerit tapi di bungkam lagi dengan telapak tangannya.


Lagi dan lagi Alisa terluka. Tanpa disadari oleh Emil, jika perlakuannya itu sudah melukai fisik dan juga hati istrinya.


"Udah bang... ah sssstt.. sakiitt.." rintih Alisa.


Emil menulikan pendengaran nya. Baginya ia bisa melampiaskan rasa dahaga nya kepada Alisa sekarang.


Untuk masalah sakit, itu urusan nanti. Yang penting hasratnya dulu tersalurkan. Lagi, Alisa meneteskan air matanya.


Kenapa kau menyiksa ku seperti ini bang?? Apakah kau marah pada ku?? Apakah kau tidak menyukai jika kita tinggal disini, bukan di rumah mu?


Bukankah tadi aku sudah mengatakan, jika aku ingin kau melepaskan ku? Lalu, mengapa kau ingin bertahan denganku? Jika hanya rasa sakit yang aku rasa..?? Alisa bergumam dalam hati sambil menggigit bibirnya menahan rasa sakit yang terus mendera pada pusat inti nya.

__ADS_1


Ingin sekali ia berkata seperti itu, tapi tidak berani karena melihat raut wajah Emil yang terkesan dingin padanya.


Emil yang sudah kalap, tidak peduli dengan rintihan Alisa Emil itu terus saja menghentak nya tanpa henti.


Hingga erangan Emil yang begitu kuat serta nafas yang terengah-engah, barulah ia berhenti.


Dan melepaskan penyatuan nya dengan Alisa. Setelah itu, ia langsung terlelap tanpa sadar jika seseorang menatapnya dengan pandangan kosong.


Lama Alisa melamun. Karena terasa letih dan lelah, belum lagi baru saja di gempur Emil secara paksa membuat Alisa tertidur hanya dengan sehelai kain tipis penutup tubuhnya.


Tak ia pedulikan jika cuaca cukup dingin hingga menusuk ke tulang. Akibat kelelahan, Alisa terlelap hingga matahari menerbitkan bias panasnya masuk dari fentilasi jendela kamar mereka.


Subuh tadi ketika ia ingin bangun, Alisa sedikit merintih. Emil yang terkejut, bangun dari tidurnya dan melihat Alisa menangis sesenggukan.


Tanpa banyak kata, Emil memeluk Alisa dengan erat. Hangat pelukan Emil, membuat Alisa lama kelamaan terlelap lagi.


Hingga ia terbangun dengan suara gaduh diluar kamarnya. Alisa mencoba untuk bangun dan ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Ia duduk dan memakai semua pakaiannya. Setelah selesai Alisa ingin keluar dan membuka gagang pintu kamar mereka.


Ceklek, ceklek.


Alisa memutar pintu kamar itu, tapi tidak bisa terbuka. Lagi Alisa mencoba nya. Tetapi masih tetap sama.


''Apakah pintu kamar ini terkunci dari luar??'' gumamnya sembari membuka pintu itu.


Setelah dirasa lelah, tidak bisa terbuka juga, akhirnya Alisa memilih duduk di belakang pintu.


Sungguh, tidak ada kata lembut sama sekali dari Emil. Bahkan pagi ini, ia tidak melihat ada Emil disana.


Lagi, hatinya kecewa. Mendapati suaminya membutuhkannya saat ingin menyalurkan hasrat biologisnya saja.


Saking lama Alisa melamun, hingga ia tertidur lagi di belakang pintu, dengan merebahkan dirinya disana.


Entah sudah berapa jam Alisa tertidur, saat terbangun, ia mendapati Emil sedang duduk di sisi nya sambil memijat kakinya.


Alisa tersentak, ia berpikir dari mana pula seorang laki-laki ada didalam kamarnya. Alisa ingin menjerit, tapi tak jadi karena Emil sudah lebih dulu berbicara pada nya.


''Udah bangun dek??'' tanya nya sembari menatap Alisa.


Alisa hanya menatapnya dengan datar. Sedangkan Emill menghembuskan nafas panjang.


''Maaf.. Abang terlalu kasar padamu tadi malam... Abang tidak bermaksud-'' ucapannya terhenti saat Alisa memotongnya lebih dulu. Emil terdiam.


''Aku mau mandi! Bisa Abang lepaskan kaki ku sebentar saja??'' tanya nya masih dengan wajah datar.


Emil yang melihatnya merasa bersalah. Ia tau dan sadar. Semua ini pasti karena ulahnya tadi malam.


''Maaf dek.. maafkan Abang..'' ucap Emil masih dengan menatap Alisa.

__ADS_1


''Ya. sekarang aku mau mandi, jadi biarkan kau mandi dulu dan sholat.'' imbuhnya masih dengan menatap Emil dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Lagi dan lagi hati Emil tercubit melihatnya. Kejadian ini mengingat kan nya akan kesalahan dimasa lalu.


Dulu ia juga pernah melakukan kesalahan seperti ini, hingga membuat Alisa menjauhi nya.


Em yang tidak ingin mencari ribut, melepaskan Alisa. Dan membiarkan istrinya itu untuk membersihkan diri.


Tiba di kamar mandi, Alisa melihat ada air hangat di baskom. Ia berpikir buat siapa air panas ini?


''Buat adek! sengaja tadi Abang masak, tuh semua peralatan nya udah ada. Tadi kak Rita datang kemari dan memberikan kita ini. Katanya sebagai hadiah pernikahan kita.'' terdengar suara Emil dari belakang tubuhnya.


Mereka berdiri begitu dekat. Ia tersenyum menatap Alisa.


Tapi tidak dengan Alisa, ia hanya menatap datar Emil tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Saat Alisa mandi, Emil pun ikut masuk. Alisa heran melihatnya.


''Biar Abang bantu untuk menggosok tubuhmu, sebagai ucapan permintaan maaf Abang pada mu.'' ujarnya sembari tersenyum lembut menatap Alisa.


Alisa diam, tidak menyahuti tidak juga ia membalas perkataan Emil. Ia tetap diam, hingga Emil membuang nafas berkali-kali.


Ternyata sesakit ini yang Alisa rasakan tadi malam akibat perbuatannya. Tak ambil pusing, Emil langsung saja mengisi baskom air panas itu dengan air dingin yang ada didalam bak mandi.


Setelah nya ia menyuruh Alisa untuk membuka pakaian nya dan ia yang memandikan Alisa. Alisa tak menolak, lagipula tubuhnya terasa remuk.


Seperti baru saja dilindas truk berulang kali. Sangat sakit. bahkan hanya sekedar untuk berjalan saja ia rasa nya tidak mampu.


Sedang asyik-asyiknya mandi dengan sang istri, pintu rumah mereka diketuk dari luar. Emil dan Alisa saling pandang.


''Mandi saja dulu, biarkan saja tamunya menunggu. Ayo.. Abang bilas lagi tubuh mu. Setelah ini kita makan. Kak Rita tadi juga sudah menyiapkan kita makan siang.'' imbuhnya sambil tetus saja menyiramkan air hangat ke tubuh Alisa.


Air hangat yang mnyentuh tubuhnya, seakan menghilangkan rasa penat yang ada pada tubuhnya.


Setelah mandi, Alisa masuk ke kamar dengan Emil yang mengekor di belakangnya. Emil memakai baju duluan, ketimbang Alisa.


Karena tamunya sudah berulang kali mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Emil bergegas ke depan meninggalkan Alisa yang masih sibuk mengeringkan rambutnya.


Emil tiba didepan pintu, terdengar suara berisik dari luar. Emil tau siapa yang datang, karena tadi malam mereka sudah ketemu dan berbicara empat mata disana.


Ceklek,


''Assalamualaikum.. bang..''


💕


Hayoo... siapa itu??


Ada yang tau??

__ADS_1


Like dan komennya ya.. 😁😁😘😘


TBC


__ADS_2