Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Menegur bukan menghukum


__ADS_3

''Abang lihat foto yang terpajang di pojok itu! Apakah Mama Linda memiliki foto yang seperti itu dirumah Abang?? Bukan hanya itu, lihat juga foto yang disana!'' tunjuk Alisa pada foto pernikahan mereka saat resepsi memakai pakaian adat Aceh.


Tama melihat foto itu, karena semakin penasaran ia memanjat keatas meja dan mengambil nya.


Tama menatap itu dengan kening berkerut. Sesekali bibirnya manyun dan sesekali bibirnya itu mencebik.


''Ini baju apa sih?? Abang kok nggak tau sih??'' tanya nya sembari mendekati Alisa.


''Itu pakaian adat Aceh, saat Tante dan ayah Emil menikah.'' sahut Alisa dengan tersenyum lembut menatap Tama.


Putra semata wayang Linda itu semakin bingung dibuatnya. Alisa terkekeh. ''Sini sayang. Coba Abang ingat lagi, kira-kira dirumahnya Abang ada nggak foto yang seperti itu ayah bersama dengan Mama Linda??'' tanya Alisa sembari memangku bocah malang itu.


Linda semakin pias saja wajahnya. Alisa tersenyum tipis. Bocah itu mengingat nya dengan mata mengerjab lucu.


''Ada!!''


Deg.


''Ada??''


''Iya! kalau nggak salah, ada satu sih. Tapi....'' putra Linda menatap Mama nya.


''Tapi??''


''Bukan dengan ayah Emil! Abang nggak tau itu siapa? Yang jelas mama juga memakai baju cantik kayak baju Tante ini. Tapi bukan dengan ayah Emil...'' lirih Tama.


Membuat Linda pucat pasi wajahnya. Semakin piaslah wajah Linda. Dan sekarang wajah itu datar tanpa ekspresi.


Alisa terkekeh melihatnya. Belum sempat Alisa berbicara, Ira keluar dari kamar dengan rambut acak-acakan.


''Mak??''


Alisa menoleh. ''Udah bangun??''


''Hooaaammm.. kakak haus...''


Alisa terkekeh. ''Ambil sendiri ya Nak? Mak lagi ada tamu. Cuci mukanya dan minum,'' titah Alisa.


Gadis kecil itu mengangguk. ''Hem, hoooaammm... ngantuk banget sih?! Ishhh..'' gerutunya pada diri sendiri.


Membuat seorang anak kecil lebih tua dua tahun darinya menatap Ira tanpa kedip. Putri Alisa sudah berlalu kedapur.


Sedangkan yang menatapnya masih saja bergeming. Alisa terkekeh. ''Abang??''


Bocah kecil itu diam. ''Abang Tama!'' seru Alisa dengan sedikit menggoyang kan lengannya.


Bocah itu menoleh dengan mata mengerjab lucu. Membuat Alisa gemas, dan mencium pipinya.


''Eh? kok Tante sih yang cium?! Abang maunya gadis itu yang cium Abang?!'' sungutnya pada Alisa dengan bibir mengerucut sebal.


Linda yang mendengar ucapan putra nya itu membulatkan matanya. Sedangkan Alisa tergelak.


''Isshh kenapa pula Tante tertawa?!''

__ADS_1


''Hahaha.. ayo kedapur! susul gadis mu itu! ingin kenalan kan?'' Tanya Alisa dengan senyum jenaka di wajahnya.


Putra Linda itu langsung saja berlari secepat kilat menuju dapur untuk menemui putri Emil. Memang sih, sedari kecil itu Ira memang sudah cantik dan imut.


Jadi jangan salahkan para lelaki kecil karena tertarik dengan putri sulung Alisa itu. Alisa terkekeh melihat kelakuan putra Linda.


Sekarang waktu nya memberi pencerahan pada wanita yang dengan sengaja memperalat putra nya sendiri karena ingin mendapatkan suami Alisa.


''Aku tau apa tujuan mu datang kemari.'' Ucap Alisa, setelah lama terdiam.


''Jika tujuan mu ingin mengenalkan Emil sebagai ayahnya, kamu salah kak Linda!'' Linda menatap horor pada Alisa.


''Seharusnya kamu jujur pada putra mu! Bukannya malah menunjukkan sesuatu yang bukan menjadi hak nya? Kamu berpikir tidak, bagaimana kondisi psikis Tama, saat tau jika Emil bukanlah ayah kandung nya??''


Linda diam.


''Anak kecil itu akan kecewa kak! Dia akan terluka! Apakah kau tak berpikir dulu, sebelum kau mengambil tindakan sejauh ini?? Membawa nya kerumah orang lain yang jelas bukanlah siapa-siapa!''


Linda terkejut.


''Kamu tak berpikir kak, suatu saat jika Tama tau, Emil bukanlah ayah kandung nya, dia akan membenci mu! Dia akan kecewa karena kau membohongi nya! Tidakkah kau sadar? Jika apa yang kau lakukan adalah kesalahan yang akan menghancurkan dirimu kelak??''


Linda tetap diam. Ia masih menatap Alisa dengan datar.


''Tama suci kak! Dia bersih! Yang membuatnya kotor itu kamu!'' tunjuk Alisa pada Linda.


''Anak kecil itu ibarat kertas putih, kedua orang tua nya lah yang membuat nya menjadi kotor! karena sengaja menoreh tinta yang begitu banyak disana. Ketika tinta itu sudah terlanjur parah, kedua orang tua pasti menyalahkan kertasnya. Padahal, tinta itu tumpah terlalu banyak karena kelakuan orang yang menumpahkan tinta itu tidak berpikir, jika terlalu banyak akan menghitamkan seluruh kertas nya! Pernahkan kau berpikir kak Linda?? Jika yang sedang kau lakukan saat ini adalah contoh buruk untuk putra mu dimasa depan??''


Linda termangu dengan ucapan Alisa.


Deg.


Linda tertegun dengan ucapan Alisa. ''Sadar kak... sebelum semuanya terlambat. Katakan yang sejujurnya jika Emil bukan ayah kandungan nya! Tapi ada orang lain yang menjadi ayah kandung nya!''


Deg.


Seseorang berdiri di belakang Alisa terkejut. Ia menatap dingin pada dua orang dewasa yang sedang terdiam.


''Ja-jadi... ayah Emil bukan ayah Abang??'' tanya Tama dengan mata yang berkaca-kaca.


Alisa terkejut mendengar suara Tama. Begitu juga dengan Linda. Ia menatap sendu pada putra nya itu.


''Bang... sini! biar Tante jelasin! Ayo..'' ajak Alisa, agar mendekat padanya.


Bocah kecil itu menurut. Ia duduk dipangkuan Alisa. Sedangkan Ira menatap datar pada Tama.


Ia pun memilih duduk di depan tivi.


''Bang... yang Tante katakan itu memang benar... kalau ayah Emil bukan ayah kandung Abang.. Tapi ayah kandung Ira... udah kenalan tadi kan??'' ujar Alisa begitu lembut, membuat anak itu mengangguk namun wajahnya sendu.


''Jadi Ira itu, bukan saudara Abang dong??''


Alisa tersenyum. ''Bukan sayang.. walaupun Ira bukan saudara kandung Abang, tapi Abang boleh kok, menganggap Ira adik Abang. Begitu juga dengan ayah Emil.'' jelas Alisa sembari mengusap kepalanya dengan sayang.

__ADS_1


''Benarkah??'' tanya nya dengan mata berbinar.


''Ya sayang. Abang boleh kok menganggap ayah Emil sebagai ayah Abang, tapi ayah Emil tidak bisa pulang dan tinggal bersama Abang. Karena rumah ayah Emil disini. Bersama Tante dan Ira. Tapi... jika Abang ingin ketemu dan menginap disini, boleh kok! Tante mengijinkan untuk Abang tinggal disini.'' Sahut Alisa serta menjelaskan apa yang seharusnya dijelaskan oleh Linda.


Mata Linda berkaca-kaca melihat Alisa. ''Terus, siapa dong ayah kandung Abang??''


Alisa mengusap lagi kepala Tama. ''Untuk itu.. Abang tanyakan sama Mama Linda ya? Karena Mama Linda yang lebih tau tentang siapa ayah kandung Abang.'' sahut Alisa.


Tama menoleh pada Mama nya. ''Ma??''


Linda diam, matanya berkaca-kaca melihat putra semata wayang nya itu. ''Ayah Abang memang bukan ayah Emil, tapi orang lain. Namanya Fabian Pratama..'' lirih Linda dengan air mata yang sudah beruraian.


''Tante?? Boleh kah Abang memanggil Tante sama dengan Ira memanggil tante??''


Alisa tersenyum. ''Tentu. Silahkan Nak!'' sahut Alisa sembari mengusap lembut kepala Tama.


Tama menangis. Ia memeluk Alisa, tapi terhalang oleh perut Alisa yang sudah membesar.


''Ini apa Mak?? Kok keras??'' tanya Tama masih dengan sesekali menangis, membuat Alisa terkekeh.


Alisa membawa tangan mungil Tama untuk menyentuh perutnya. Tak disangka, janin Alisa bergerak.


''Apa itu Mak??'' pekik Tama, membuat Alisa tertawa.


''Ternyata, adek menyukai keberadaan Abang!''


''Adek??''


''Ya, sebentar lagi kalian berdua akan memiliki adik lagi!'' seru Alisa dengan senang.


Tama membulatkan matanya. ''Beneran Mak??''


''Ya!''


''Aseeeekk.. Abang punya adek dua dalam waktu satu hari!! Mama!! bolehkan malam ini kita menginap disini??'' tanya nya pada Linda.


Linda mematung mendengar pertanyaan putra kecilnya itu. ''I-it-itu...''


''Boleh kan Mak??''


Alisa tersenyum. ''Boleh Nak..'' sahut Alisa.


Membuat putra kecil Linda itu bukan main senang nya. Lagi dan lagi Linda tertegun melihatnya.


''Terimakasih Alisa.''


💕


Nah.. benar itu Mak.. kita itu harusnya menegur jika orang itu berbuat salah, bukan menghukum.


Karena yang bisa menghukum hanya Allah SWT saja.


Hehehe.. othor jadi mamah Dedeh yak??

__ADS_1


Like dan komen ya!


TBC


__ADS_2