Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Kenangan


__ADS_3

Setelah pertemuan dibelakang sekolah, mereka berdua masuk ke aula. Waktu yang sudah ditentukan untuk memulai segala acara MTQ tingkat SMA dan MA.


Sebagai panitia, Alisa berperan sebagai peniliti susunan acara. Di mulai dari pembukaan, pidato dari kepala sekolah serta bacaan Al-Qur'an yang dipimpin oleh Madan.


Betapa senangnya Alisa, bisa mendengar suara syahdu Madan. Inilah yang ditunggunya sejak dulu. Sejak dulu, ini yang Alisa suka dari Madan.


Suaranya yang begitu mendayu ketika membaca Alqur'an. Suara yang begitu merdu, hingga menghipnotis seluruh peserta yang mendengar. Suara ini yang akan di rindukan olehnya.


Sungguh maha luas kebesaran Allah. Ia menciptakan manusia berbagai macam dan berbagai potensi.


Alisa menitikkan air mata ketika Madan membacakan surah Ar-Rahman. Ayat yang begitu menyentuh hatinya.


Sungguh besar nikmat yang dirasakan oleh Alisa. Mulai dari bangun tidur, pergi kesekolah, bertemu dengan pemuda tampan, dan sekarang ia mendengar suaranya yang begitu merdu.


Nikmat mana lagi yang kau dustakan?? Sungguh maha kuasa Allah, dengan segala kuasa Nya. Perbanyak bersyukur atas segala nikmatnya. Dan sabar atas semua ujian nya.


Alisa tersenyum dalam tangis.


Selesai acara pembukaan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an, kini kepala sekolah berpidato singkat diatas mimbar.


Semua murid diam dan menyimak apa yang disampaikan oleh kepala sekolah. Setelah selesai sekarang tibalah waktunya acara perlombaan.


Satu persatu peserta dari sekolah lain, dipanggil untuk menunjukkan bakat mereka dalam membaca ayat suci Al-Qur'an.


Alisa yang ditunjuk sebagai panitia begitu sibuk. Ia tidak sempat duduk. Karena dirinya bertugas sebagai panitia pelaksana. Madan yang melihat Alisa tidak berhenti, tersenyum.


Senyum yang begitu memikat hati bagi siapa yang memandangnya. Mata Madan, tidak teralihkan dari Alisa. Ia terus saja menatap gadis pujaan nya itu.


''Andai.. kita bisa bersama Lis... tentu aku akan sangat bahagia. Berjalan berdua dengan mu, seperti yang lain. Bercanda bersama.. apalagi kalau kita menyatu dalam sebuah ikatan pernikahan. Pastilah akan sangat bahagia. Sungguh beruntung pemuda yang akan mendapatkan mu Lis... sayang nya, pemuda itu bukanlah aku!'' serunya pada diri sendiri. Ia mengusap bulir bening yang mengalir di pipinya.


''Aku mendoakan semoga kamu mendapatkan seorang pemuda yang lebih dariku! dia pemuda yang selalu bisa membuatmu tersenyum. Pemuda yang selalu menyayangi mu, melebihi diriku.. semua ini akan menjadi kenangan diantara kita. Astagfirullah! aku lupa!'' ucap Madan, ia menepuk jidatnya sendiri.


Membuat seseorang disana, menatapnya lucu. Alisa menatapnya tanpa kedip. Ia melihat, pemuda itu meraba-raba saku celananya, seperti sedang mencari sesuatu.


Setelah ia menemukan, ia tergelak sendiri. Tapi karena sadar ia tertawa sendiri, ia menutup mulutnya dan kembali bersikap seperti seorang ketua OSIS yang disegani.


Alisa tersenyum melihat tingkah Madan.


''Andai... kakak tidak dijodohkan dengan putri kepala sekolah, maka aku akan sedia mengejar mu kemana saja. Tapi.. kamu tidak diciptakan untuk diriku kak.. sungguh beruntung seorang gadis yang mendapatkan mu! Aku berdoa.. semoga kamu bahagia dengan pilihan hatimu nantinya. Aku sangat berharap, kamu menyimpan namaku disisi yang lain.. semoga kita bahagia kak.. dengan pilihan kita.. termasuk diriku.. aku sayang kamu kak...'' lirih Alisa.


Matanya mengabur, akibat bulir bening yang sebentar lagi siap tumpah. Alisa mengusap pipinya yang telah basah oleh air mata.


Sungguh indah cinta mereka berdua. Cinta dalam keikhlasan. Suka sama suka, tapi sudah terikat takdir dengan yang lain. Apa yang bisa mereka lakukan, selain hanya bisa saling merelakan dan melepaskan.


Walaupun sakit, tapi itu lebih baik. Dari pada sudah separuh jalan malah ketahuan kalau masing-masing dari mereka memiliki pasangan.


''Lis...''


Alisa tersentak, mendengar panggilan seseorang. Ia menoleh, dan betapa terkejutnya Alisa saat melihat siapa yang ada di belakangnya.


''Kak Madan!'' serunya kaget.

__ADS_1


Madan tersenyum. ''Nanti setelah acara ini selesai, temui kakak ditempat biasa ya? Ada yang Kakak ingin berikan padamu, sebagai kenangan-kenangan dari kakak untukmu!'' ujar Madan.


Alisa mengangguk. ''Iya Kak! Alisa akan kesana!'' jawabnya.


''Ya sudah, kakak kembali kesana ya? Ingat sweety.. jangan tunjukkan kesedihan mu pada siapapun! cukup kita berdua saja yang tau! hapus air matamu! jangan bersedih! jika kamu sedih, kakak pun ikut sedih..'' lirih Madan.


Bertambah sesaklah dada Alisa. Ia makin tersedu. Tapi berusaha ditahannya dengan membelakangi Madan.


''Sweety...''


''Hiks.. iya kak! aku nggak akan nangis! hiks.. aku akan cuci muka dulu!'' imbuhnya, seraya berlari ke toilet.


Madan menatapnya sendu. Setitik bulir bening mengalir di pipi mulusnya. Sesak rasa di dadanya. Tapi ia harus apa? jika memang takdir tidak menginginkan mereka bersua??


''Kamu harus kuat sweety... kamu lah penguat ku! jika kamu rapuh, maka aku pun akan rapuh... serapuh hatimu saat ini.. aku tau kamu berlari karena ingin menangis! Menangis lah selagi menangis ini membuat perasaan mu lega.. begitu juga dengan ku! Walaupun sakit, tetap akan ku jalani! inilah takdir yang harus kita lewati.'' ujarnya pada diri sendiri.


Tanpa disadari olehnya, ada seseorang disana yang mendengar semua ucapan mereka. Maksud hati ingin memanggil Alisa, malah mendapatkan kabar begitu menyayat hati.


Madan berlalu, ia mengusap air matanya. Kemudian berlalu ke toilet.


Seseorang disana juga berlari ke toilet perempuan. Ia mencari Alisa, tapi tak ada. Sayup-sayup terdengar suara orang menangis. Karena penasaran, ia mendatangi tempat itu.


Sesampainya disana, ia melihat Alisa menangis sesegukan.


''Ya Allah Lis... kamu kenapa??'' tanya nya panik.


''Hani... sakkiiiiitttt.. hiks.. hiks... kenapa jalan hidupku se-sepeti iiiniii... mengapa harus dengan orang lain! bukan dengannya! sakit hatiku Hani... aku bisa apa???? haaaaa... sakkiiiiitttt...'' lirih Alisa sambil sesegukan.


''Sabar Lis... semua itu memang sudah menjadi ketetapan Nya! kamu harus bisa menerima! jangan berlarut-larut! menangis boleh! tapi jangan berkepanjangan ya? Kamu harus sabar! semua ujian ini pasti ada hikmahnya! tenangkan hatimu! aku ada bersama mu!! menangislah! jika menangis bisa mengurangi rasa sakit dihatimu!'' ujar Hani, sambil memeluk Alisa.


''Sebentar, biar ku telpon mereka untuk menghendel tugas-tugas mu!'' ucap Hani seraya menelpon seseorang disana.


Setelah selesai, Hani membawa Alisa kebelakang, dimana ia dan Madan berjanji setelah acara sekolah selesai.


Hani dengan setia menemani Alisa. Sampai Madan nantinya tiba disana.


Pukul 12.30 acara itu pun usai. Dan akan dilanjutkan esok hari. Mereka berhenti sejenak, karena sudah memasuki waktu dhuhur.


Madan dan yang lain melaksanakan kewajibannya di musholla sekolah. Setelah selesai, Madan langsung bergegas ke belakang.


Terlihat Alisa disana dengan seseorang. Madan berlari kecil untuk mencapai Alisa.


''Lis...'' sapanya.


Alisa dan Hani menoleh. ''Aku tinggal ya Lis...'' ujar Hani. Ia melangkah meninggalkan Alisa dan Madan disana.


Sebelum pergi, Hani tersenyum pada Madan. Yang dibalas senyum juga oleh Madan.


''Kak...'' lirih Alisa dengan bibir bergetar.


''Ssshhhtt... jangan bicara Lis.. jika kamu tak sanggup! Biar Kak Madan aja ya.. yang bicara.'' imbuh Madan.

__ADS_1


Tangannya merogoh saku, dan mengeluarkan kotak berwarna merah hati. Madan mengambil tangan Alisa dan meletakkan kotak itu disana.


Alisa tercenung melihatnya.


''Kak.. i-ini...''


''Ya Lis! itu untuk mu! sengaja kakak belikan dari hasil keringat kakak sendiri! selama kakak disana, kakak mengajar adik kelas. Dan dibayar, selama tiga bulan kakak menyimpannya dan baru kemarin, saat kakak ingin pulang kesini, kakak belikan itu untukmu! Kakak pikir, ini bisa sebagai pengikat dirimu, ternyata kakak terlambat!'' Madan tergelak saat mengatakan nya.


''Kak.. ini tidak pantas untukku! berikan saja nanti pada calon kakak!'' ujar Alisa.


Madan menggeleng. ''Nggak Lis! dari awal cincin ini memang kakak belikan untuk mu! udah diniatkan tidak boleh diberikan kepada yang lain! ini memang khusus kakak belikan untukmu! jadi pakailah sekarang! kakak ingin melihatnya! pasti akan sangat cantik jika dipasangkan dijari manismu!'' ujar Madan.


Alisa menggeleng. Tapi Madan kekeuh. Ia mengambilkan kotak itu dan membukanya.


Alisa terpaku menatap kotak itu saat Madan membukanya. Sebuah cincin bermata seperti berlian, tapi bukan berlian, dengan ukiran cantik ditepi cincin itu.


Madan mengambil jari manis Alisa. Ia memasangkan cincin itu dijari manis kiri Alisa. Karena jari kanan Alisa sudah terisi dengan cincin pemuda lain.


Hati Madan tercubit melihat jari Alisa dihiasi cincin pemuda lain.


Madan memasangkan cincin itu. Dan tepat seperti dugaan nya, sangat cantik dijari Alisa.


''Ingat Lis! jangan pernah lepas cincin ini dalam keadaan apapun! jika suatu saat kamu membutuhkan uang, maka gadaikan lah! tapi tidak untuk dijual! ini sebagai tanda jika disisi hati mu yang lain ada bersemayam diriku! jika suatu saat penerus kita berjodoh, kamu boleh memberikan cincin itu padanya. Tapi sebelum itu jagalah cincin ini, seperti kau menjaga hati mu untukku!'' tegas Madan.


Alisa menangis pilu. Tak disangka jika takdir akan membawanya pada keadaan yang rumit seperti ini.


''Ba-baik Kak! aku akan jaga sampai pada waktunya! aku akan ingat, bahwa ada seseorang yang harus ku jaga hatinya, sampai dimana cincin ini akan berlabuh pada orang yang tepat! Sampai saat itu tiba, aku akan menjaga ini dengan sepenuh hatiku!'' tukas Alisa mantap.


Madan tersenyum. '' Thank you Sweety.. kamu akan selalu ada dihatiku sampai kapanpun. Nama mu akan tersimpan disatu sudut hatiku, tak tergantikan oleh yang lain! Untuk yang terakhir kalinya, boleh kah Kakak memeluk mu Lis??'' tanya Madan sambil menatap Alisa.


Alisa mengangguk. ''Ya..''


Madan memeluk Alisa dan mengusap surai hitam yang tertutup hijab. Lama mereka berpelukan, akhirnya Madan melepaskan pelukannya dan menatap Alisa dalam.


Madan menatap Alisa yang juga menatapnya. Madan maju, dan menempelkan bibirnya tepat di dahi Alisa. Terasa hangat disana. Sebutir bulir bening mengalir di pipinya, jatuh membasahi pipi Alisa.


Alisa memejamkan kedua matanya. Ia meresap cinta yang diberikan oleh Madan untuknya yang terakhir kali. Alisa memeluk Madan dengan erat. Dibalas lebih erat oleh Madan.


Seseorang disana menatapnya haru.


Cinta yang begitu rumit. Saat cinta itu datang ingin berlabuh, tapi tempatnya itu telah disisi oleh yang lain. Cinta dalam diam. Saling merindukan dan saling menyebut didalam doa.


Kisah cinta Madan selesai. Cintanya tak terbalaskan. Tapi kenangan tentang cinta ini akan selalu terpatri didalam hatinya, sampai kapanpun.


Indahnya cinta yang saling merelakan dan melepaskan. Inilah cinta yang sesungguhnya. Melepas demi kebahagiaan nya dengan yang lain.


Cinta murni berlabuh dalam keikhlasan.


💕


TBC

__ADS_1


__ADS_2