
''Dimana letak kesalahan ku Pa?? Dimana Ma?? Tega kalian menuduhku tanpa bertanya dulu padaku..?? Sakit rasanya seperti ada ribuan pisau menusuk hatiku! Dikarenakan curiga tanpa bertanya dulu.. Dan itupun dilakukan oleh kedua orang tua ku...'' ucapnya dengan nafas yang memburu. Rasa sesak di dada nya seakan menghimpit jantungnya. Alisa memukul dadanya dengan pelan agar rasa sesak itu lepas dari hatinya. Bibirnya bergetar menahan tangis.
Ddddduuuaaarrrr
Bagaikan disambar petir disiang bolong. Kedua orang tua Alisa terkesiap dengan ucapan nya. Wajah mereka pias. Sepias kelakuan mereka terhadap Alisa.
Mereka tercenung.
Alisa melanjutkan lagi ucapannya.
''Apakah mama tau..? Rasa sakit yang ada ditubuhku tidak sebanding dengan luka hatiku.. kalian begitu tega menuduhku tanpa bertanya terlebih dahulu. Ingin aku bicara tapi dengan segera papa menghubungi keluarga kita disana.
Demikian juga dengan Mama.. mama bahkan tidak menatap ku sama sekali seolah akulah tersangka nya disana! Padahal aku tidak tahu menahu tentang masalah itu.
Aku tidak bersekongkol bersama bang Emil untuk mewujudkan semua ini! Aku tak tau apapun pa..?
Aku tak tau menau ma..? Apa yang harus ku lakukan agar kalian berdua percaya padaku..??
Semuanya terasa berbeda setelah malam itu. Kalian tega mengasingkan diriku.. padahal aku tak tau apa pun.
Nek.. jemput Alisa nek.. Alisa udah nggak tahan dengan keadaan ini.. Alisa nggak sanggup.. bawa Alisa pergi nek..''
Alisa meracau memanggil neneknya yang sudah tiada. Luruh sudah air matanya, ia tak sanggup menahannya lagi. Alisa terisak, membuat kedua orangtuanya pun terisak. Mereka tak menyangka segitu dalamnya mereka menyakiti perasaan Alisa.
Ingin berbicara satu kata saja rasanya tak sanggup. Pak yoga menitikkan air matanya mendengar ucapan Alisa.
Pak Yoga merasa bersalah, dengan wajah penuh air mata, pak Yoga mendekati Alisa yang sedang terisak. Pak Yoga memeluknya dengan erat seakan tak ingin lepas.
Pak Yoga mengusap Surai hitam Alisa yang tertutup hijab. Bibirnya bergetar menahan tangis.
''Maafkan kami nak... kami salah.. maafkan kami.. papa kira kamu memang bekerja sama dengan nak Emil untuk mengejutkan kami.. maafkan papa nak.. papa salah sangka padamu.. maafkan papa.. '' ucap pak yoga dengan berderaian air mata.
''Maafkan Mama nak.. mama tak bermaksud..'' mama Alina tidak sanggup bintik meneruskan perkataan nya.
Hatinya begitu sakit melihat Alisa menangis seperti itu. Dia seorang ibu, mana mungkin tega menghakimi anaknya. Ia hanya sedang kecewa.
''Hiks.. andai aku tak dilahirkan.. pastilah kalian tidak akan menanggung malu seperti ini.. andai aku tidak ada didunia ini pasti aku tidak akan menyakiti kalian berdua.. maafkan aku...?? ucapnya tersedu.
Pak Yoga tersentak mendengar perkataan Alisa. Ia menggeleng.
''Jangan bicara seperti itu nak.. kamu permata hati kami.. kamu jantung kami.. mentari kami.. kami tidak menyesal karena telah melahirkan mu.. jadi jangan bicara seperti itu...??'' ia memeluk Alisa dengan erat.
''Andai saja aku menolak nya pastilah kalian tidak akan membenciku..'' racau Alisa
''Tidak nak.. kamu tidak bersalah sama sekali.. kami hanya salah paham dengan keadaan ini..''
''Maafkan aku.. aku memang tidak pantas menjadi putri kalian.. tapi mengapa Allah mengirimkan aku pada kalian berdua..??'' racaunya lagi membuat mama Alina semakin tersedu.
''Tidak nak.. kamu tidak bersalah kami lah yang salah.. maafkan kami nak.. maafkan kami...'' ucap mama Alina dengan terisak.
''Semua telah terjadi.. kita tidak bisa menolak nya.. yang bisa kita lakukan sekarang adalah Alisa harus bisa bangkit kembali.. papa mau kamu tetap menjadi Alisa putri kami. Walaupun kamu sudah bertunangan papa harap sekolah mu tetap berjalan dan juga setelah tamat nanti kamu harus kuliah baru setelah nya menikah. Kamu mau kan nak..??''
Alisa diam, ia tak mau menjawabnya. Karena tak ada yang tau seperti apa masa depan nantinya.
Alisa memejamkan matanya sejenak untuk menetralisir rasa sakit dihatinya.
Huuufffttt
''Aku tak pernah tau apa yang akan terjadi dimasa depan.. biarkan seperti air mengalir. Aku takkan melawan arus ... aku akan mengikuti kemana arus itu membawaku. Jika aku menentang nya sama saja seperti aku menentang takdir!'' ucapnya dingin.
Pak Yoga menghela nafasnya. Rupanya Alisa sangat susah dibujuk jika hatinya sudah terluka. Sama seperti dirinya. Pak Yoga memahami itu. Karena Alisa adalah bagian dari dirinya.
''Baik lah jika itu yang menjadi keinginan mu.. tetaplah seperti biasa.. kamu tetaplah putri kami yang membedakan adalah status kamu sekarang sudah terikat dengan seorang pemuda.''
'Masih tunangan kan? Belum menikah!' bisik hati pak Yoga.
__ADS_1
Alisa diam saja tidak menyahuti tidak juga membantah. Untuk sekarang percuma pun mereka mengatakan ini itu padanya. Semuanya terasa berbeda sejak pertunangan nya dengan Emil.
Tapi biarlah.. ini memang sudah menjadi resikonya yang menyukai Emil tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.
****
Keesokan harinya.
Setelah kejadian pagi itu, kini Alisa berubah menjadi lebih banyak diam. Berbicara hanya seperlunya saja. Jika ditanya barulah ia menjawab, tidak seperti dulu lagi.
Mama Alina memandang Alisa dengan tatapan yang entah seperti apa. Sulit untuk dijabarkan sekarang ini seperti apa perasaannya terhadap perilaku Alisa.
Mama Alina tetap seperti biasa begitu juga dengan pak Yoga. Beliau lebih memperhatikan keadaan Alisa sekarang. Karena ia takut jika sewaktu-waktu Alisa akan berubah menjadi nekat.
Alisa yang sudah siap untuk berangkat ke sekolah seperti biasa, ia sarapan kemudian pamit kepada orang tua nya. Walaupun dalam keadaan hati yang terluka tapi ia tak melupakan jika mereka adalah kedua orang tuanya. Ia tetap menghormati mereka seperti biasanya.
Hari ini Alisa sudah menyandang status sebagai gadis yang sudah dipinang. Ia sudah terikat dengan Emil. Seperti apapun orang tua nya menolak hubungan ini baginya hubungannya dengan Emil suci.
Saat ingin berangkat, mama Alina memanggil Alisa.
'' Tunggu nak.. ini uang jajan mu..''
Alisa diam saja. Mama Alina menyerahkan dua lembar uang berwarna kuning kepada Alisa yang disambut Alisa dengan diam.
Setelah itu tidak ada percakapan lagi baik dari Alisa maupun dari Mama Alina.
Alisa meninggalkan mamanya yang berdiri mematung disana.
Alisa mengayuh sepedanya melalui jalan biasa. Saat sudah tiba di tengkolan jalan itu, Alisa kaget melihat Emil sudah menunggunya disana.
Emil tersenyum.
''Assalamualaikum dek..''
'' Waalaikum salam bang... '' Alisa mendekati Emil yang sedang tersenyum memandang nya.
Alisa tersipu malu ditatap seperti itu oleh Emil. Alisa menundukkan kepalanya. Ia malu menatap Emil.
'' Kok menunduk sih.. lihat Abang dong.. ''
Alisa tersenyum tapi tetap menunduk. Wajah nya terasa panas hingga ke telinganya.
'' Dek ... betul nih nggak mau lihat Abang ??''
Emil mendekati Alisa. Alisa jadi gugup berdekatan dengan Emil. Jantung dag dig dug serrrr ... seakan mau jatuh saja. Alisa saya memegang stang sepeda nya dengan erat.
Aduuhhh jantungku ... kondisikan dong ... malu atuh ... sama bang Emil ... mana ditatap segitunya lagi ... usah dipandang Napa! malu ....
'' Dek ... jangan malu atuh ... biasanya adek nggak seperti ini jika tiap kali jumpa sama Abang ...''
Alisa tersipu lagi ... ia tambah menundukkan wajahnya.
Untuk kesekian kalinya Emil memanggil Alisa. Gemas sekali melihat tingkah Alisa seperti itu. Malu malu tapi mau uhuyyyyy...
'' Dek ... ''
Merasa dirinya sudah terlalu lama menunduk, Alisa mengangkat kepalanya menatap Emil yang juga menatapnya dengan tersenyum lembut.
Alisa berdehem membuat Emil terkekeh.
''I-iya bang ... maaf ... jangan ditatap terus napa! '' ucapnya malu
Emil terkekeh lagi.
'' Adek cantik jika sedang tersipu seperti itu! Abang suka! ''
__ADS_1
Blushhh
Tambah merona lah wajah Alisa. Ia jadi salah tingkah dipuji seperti itu. Emil sangat menyukai melihat Alisa yang bersikap malu malu padanya.
Tidak seperti para gadis yang selama ini ia dekati. Mereka begitu gesit dan genit mendekati nya.
Emil menatap Alisa lagi. Lagi dan lagi Alisa menundukkan wajahnya tak mau menatap Emil balik.
'' Ya sudah kalau adek nggak mau lihat Abang .. Abang pergi aja deh .. ''
Alisa yang mendengar Emil akan pergi mendongak menatap Emil dengan wajah cemberut.
Emil tergelak melihat Alisa cemberut.
'' Woah .. adek Abang ini ya .. baru digertak aja udah takut ? Gimana kalau Abang beneran pergi .. ??''
Alisa masih saja cemberut membuat Emil gemas melihatnya, tanpa sengaja Emil mengacak Surai hitam Alisa yang tertutup hijab membuat si empunya membeku.
'' Ya sudah ... Abang hanya mau kasi adek ini ..'' ucapnya sembari memberikan satu lembar kertas berwarna biru kepada Alisa.
Alisa terkejut melihatnya. Alisa menatap Emil dan juga menatap kertas yang sedang disodorkan Emil padanya.
Alisa memandang Emil heran '' untuk apa Abang berikan ini sama Alisa ?? Ada yang harus dibeli kah ??''
Emil tersenyum. Sungguh ia sangat menyukai wajah Alisa yang polos dan lugu ini.
'' Ini untuk adek buat beli jajan di sekolah .. kan adek lama pulangnya jadi Abang sengaja ngasinya buat adek .. adek keberatan kah ??''
'' Ho hehehe ... kirain Abang ada yang mau dibeli ... beneran nih buat Alisa bang .. ?? Tapi ... kayaknya nggak usah deh bang .. kan Alisa udah bawa bekal dari rumah jadi nggak usah ya bang .. ??''
Emil kecewa karena Alisa menolak pemberian nya. Alisa yang melihat raut wajah Emil berubah jadi serba salah.
Alisa menghela nafasnya.
'' Ya udah Alisa terima ya .. tapi uang ini akan Alisa simpan, mana tau suatu saat nanti Abang butuh uangnya ada sama Alisa. Abang nggak keberatan kan jika seperti itu ??''
Emil yang mendengar nya tersenyum. Sungguh gadis ini begitu manis dan baik sekali hatinya. Padahal Emil hanya menunjukkan wajah kecewa saja tapi ia menerima nya karena tak tega melihat wajah Emil yang kusut.
'' Baiklah ... jika itu mau adek .. Abang ikut aja .. toh nantinya uang Abang juga akan menjadi uang adekkan ??''
Alisa tersenyum malu.
'' Ya udah, Alisa tinggal ya bang .. udah hampir telat nih .. ''
'' Oke .. hati hati dijalan ya .. jika ada apa apa segera kabari Abang ..''
'' Iya bang .. Alisa pergi dulu ya .. assalamualaikum ..''
'' Wa'alaikum salam sayang ...''
Blushhh
Lagi dan lagi wajah Alisa merona. Emil sangat menyukai Alisa seperti itu. Malu malu tapi mau ...
Sepeninggal nya Alisa, Emil pulang ke mess proyek. Tanpa di sadari olehnya ada seseorang yang sedang menatap nya dengan nanar. Melihat Emil begitu bahagia dengan wanita lain membuat ia terluka.
Tapi apalah daya takdir tidak berpihak padanya. Ia menyusut bulir bening yang mengalir di pipinya.
Sakit! namun tak nampak.
Inilah yang dinamakan cinta bertepuk sebelah tangan. Semoga nanti ia akan mendapatkan jodoh yang terbaik. Semoga saja!
🌸🌸🌸🌸
Masih nunggukah??
__ADS_1