
Mendengar ucapan Lana yang begitu bijak dan sangat dewasa, Ira menatap takjub pada adiknya ini.
Ia tersenyum namun sendu. Buliran bening itu terus saja mengalir di pipinya. Ia menatap Nenek Rima yang juga sedang menatap mereka berdua dengar air mata bercucuran.
Wajah keriput itu begitu sendu, Ira tersenyum miris melihat Neneknya. Seharusnya seorang Nenek itu menyayangi cucu nya.
Bukan malah menghina seperti ini. Ira kecewa dengan Ayah dan Nenek nya ini. Mereka begitu kompak menyakiti Mak nya, Alisa.
Ingin berbicara, tapi takut salah. Ira tidak seperti Lana. Lana adiknya begitu berani melawan ketidak adilan yang diberikan oleh Ayah dan Nenek nya.
Ia hanya bisa diam, namun dalam hatinya ia selalu mengumpat kasar terhadap orang yang dengan tega selalu menghina surga nya.
''Aku kecewa dengan Nenek dan Ayah. Tapi aku tak bisa berbuat apapun untuk menolong Mak ku. Baru sekali aku mengatakan hal yang sebenarnya, aku di pukuli hingga rasanya badanku hancur saat itu juga. Apa salah kami pada kalian semua?''' Ucap Ira dalam hatinya.
Ia menatap nanar pada Nenek nya itu. Tapi tidak dengan Lana, saat ini Lana benar-benar mengeluarkan semua uneg-unegnya yang tersimpan di dalam hati.
''Sebelum menghina orang lain, berkaca dulu pada diri sendiri. Sudah baikkah kelakuan kita selama ini? Selama kita hidup? Bagaimana kalau nanti tiba-tiba ajal datang menjemput, sementara Nenek masih dalam keadaan buruk? Masih menghina dan merendahkan orang lain? Apakah Nenek bisa menolak nya? Bukan maksudku menggurui, tapi orang seperti Nenek, memang wajib untuk di tegur dan disadarkan dari kesalahan yang terus dengan sengaja ia perbuat. Bertaubat lah Nek, sebelum ajal menjemput Nenek!'' imbuh Lana, masih dengan wajah datar.
Ira menghayati setiap ucapan yang Lana katakan kepada Nenek mereka. Ia semakin takjub terhadap adiknya ini.
''Lana. Kira-kira ia dapat dari mana ucapan seperti itu? Dari sekolah atau di tempat mengaji? Atau di serial tivi??'' Batin Ira lagi.
__ADS_1
Ira mengingat sesuatu, setelah ia mengingat nya ia terkekeh. Lana menoleh menatap Ira dengan wajah datar.
''Diem napa?!'' bisik lana.
''Ish .. pinter adik kakak! Kamu tiru ya yang ada serial ikan terbang itu?'' bisik Ira juga. Ira terkekeh lagi setelah mengatakan itu.
Lana mendelik. Tidak dengan Nenek Rima, ia terus saja menatap putra semata wayang Emil.
Lana menoleh masih dengan wajah datarnya. ''Kami akan pergi dari sini! Nenek tenang saja! Aku pun tidak sudi harus tinggal dengan orang-orang seperti kalian ini! Bisa nya hanya merendahkan orang saja! Aku tidak meminta untuk dilahirkan ke dunia ini! Begitu juga Kakak dan adikku! Kami bertiga lahir kedua ini karena memang sudah menjadi takdir! Takdir yang tidak bisa kami elak lagi. Jika aku boleh meminta, aku ingin memiliki Ayah yang lebih baik dari Ayah Emil. Penyayang dan santun.''
''Menyayangi Mak ku apa adanya. Tanpa mengatakan jika ia wanita pembawa sial seperti yang kalian tuduhkan selalu. Biar lelaki itu lebih muda dari Mak ku. Yang penting, ia menerima kami bertiga seperti anak nya sendiri! Tidak seperti kalian yang tidak menerima kehadiran kami. Bahkan menyangkal nya!''
''Aku juga akan meminta sama Allah, jika kami pergi dari sini, maka akan ada seseorang yang menggantikan posisi Mak ku. Tapi dengan catatan, wanita itu berpihak kepada Mak ku! Bukan kepada kalian berdua! Karena dia yang akan menjadi perantara kami nantinya, untuk menebus segala kesalahan yang pernah kalian lakukan kepada kami!''
Nenek Rima semakin menangis. Ia menatap nanar pada Alisa dan ketiga cucunya, setelah itu ia beranjak bangun dan pergi tanpa mengatakan apapun lagi.
Tapi sebelum pergi, Ira berbicara sesuatu padanya.
''Tunggu Nek!'' cegat Ira.
Wanita itu berhenti, tapi tidak menoleh pada kedua cucunya.
__ADS_1
''Sampai kan rasa terimakasih kami kepada Ayah, karena beliau dengan rela telah menghadirkan kami ke dunia ini. Jika aku boleh meminta, lupakan kami! Anggap kami orang asing! Karena mulai hari ini, kalian bukanlah keluarga kami lagi. Aku tidak butuh seorang Nenek yang hanya bisa menjelek-jelekkan Mak ku saja. Tidak apa tidak memiliki Nenek dan Ayah. Aku bisa cari gantinya! Tapi tidak dengan Mak ku!''
''Wanita yang telah melahirkan ku ke dunia ini. Sekiranya air susu Mak ku bisa di bayar, seharusnya yang berhutang itu adalah Ayah Emil dan Nenek! Karena kalian berdua yang telah menghadirkan kami bertiga kedua ini! Sampaikan kepada Ayah, Ayah harus membayar air susu yang Mak keluarkan untuk kami selama kami masih kecil dulu.''
''Ganti dengan yang setimpal, jika tidak mampu, maka semua yang Nenek katakan tadi tidaklah hutang! Karena jika dibandingkan dengan air susu Mak ku, maka tidak lebih mahal dari uang yang Ayah berikan selama ini untuk Mak kami! Bayar air susu Mak ku, baru setelah itu kami akan membayar hutang kami kepada keluarga kalian! Jika tidak mampu, jangan pernah lagi aku dengar tentang masalah hutang piutang selama kami tinggal disini!''
''Cukup sudah selama ini kalian berdua menyalahkan Mak ku! Yang seharusnya di salahkan adalah kalian berdua. Nenek dengan tidak tau malunya mengeluarkan Ayah, sedangkan Ayah memaksa Mak kami untuk melahirkan kami kedunia ini! Ingat hukum tabur tuai, Nek! Apa yang nenek tabur itu yang akan nenek tuai nantinya!''
''Ku harap setelah ini tidak ada lagi ucapan yang begitu menyakiti hati kami disini. Jika sampai itu terjadi, jangan salahkan aku, jika aku dan adikku akan melaporkan Ayah kepada polisi karena telah menganiaya Mak ku selama ini! Jangan sekali-kali merendahkan orang lain, jika diri sendiri tak lebih baik dari orang yang kita katai!''
Deg!
Deg!
Lagi, jantung wanita tua itu rasanya seperti ingin keluar saat ini juga. Ucapan dari cucu perempuan nya ini begitu menohok hatinya.
Perkataan yang tidak pernah ia dengar sama sekali. Emil harus membayar air susu yang selama ini Alisa keluarkan untuk ketiga anak nya? Bagaimana mungkin? Pikir Nenek Rima.
Dengan langaki gontai ia keluar dari rumah itu dan berjalan perlahan. Alisa menatap nanar pada wanita tua yang menjadi ibu mertua nya itu.
💕💕
__ADS_1
TBC