Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Mengadu


__ADS_3

''Alisa?!?!'' pekik Emil.


Alisa yang mendengar teriakan Emil terjingkat kaget. Ia masih duduk tepekur di sajadah, karena baru saja selesai sholat Maghrib.


Mendengar suara Emil yang begitu keras, Alisa bergegas membuka pintu.


Ceklek,


Baru saja pintu terbuka, tapi Emil sudah mendorong Alisa hingga terhuyung kebelakang dan menabrak dinding.


''Allahu Akbar!!'' pekik Alisa.


Punggung nya begitu sakit, ia meringis menahan sakit dan juga perutnya yang tiba-tiba kram.


''Dasar perempuan tidak tau diri?! Beraninya kau mengadu pada kakak ku! Jika aku bermain di belakang mu! hah?! dasar istri sialaaaannn...'' pekik Emil.


Ia begitu geram dengan Alisa. Emosi nya memenuhi ubun-ubun tanpa di duga tangan nya melayang.


Alisa memejamkan matanya rapat-rapat. Hingga tidak terdengar suara apapun selain suara deru nafas Emil yang begitu memburu.


Alisa membuka matanya dengan perlahan. Dan melihat jika kak Rita sedang memegangi tangan Emil begitu kuat.


Wajah Rita merah padam melihat kelakuan Emil. Untung saja ia tiba tepat waktu, jika tidak? Entah apa yang akan terjadi pada gadis malang itu.


''Kauuu... Milham Syahputra.... beraninya kau menyentuh istrimu yang sedang hamil.. heh?!'' Suara Rita seperti suara auman, Rita saat ini benar-benar marah.


Begitu juga dengan pak Daman. Ia tak habis pikir dengan kelakuan Emil. Bukannya ditanya baik-baik, malah melakukan tindak kekerasan.


''Kau ingin menampar ipar ku heh?! Kau ingin menghukum kesalahan yang tidak pernah dia perbuat begitu?!'' ucap Rita dengan terus menahan tahan Emil.


Emil yang merasakan cengkraman Rita begitu kuat, ia meringis. Ingin ia menyentak dan melepaskan cekalan tangan nya.


Tapi ia takut, ada kakak ipar nya disana. Lagi, Emil jadi sasaran kemarahan Rita.


''Kau tidak sadar juga rupanya heh?! Kau menuduh Alisa mengadu kepada ku tentang kelakuan mu, heh?! Dengarkan kau adik sialan! entah mengapa Allah memberikan ku adik seperti dirimu!! jijik aku melihat tingkah mu! Dulu kau mencoba merusak rumah tangga ku demi perempuan gila itu?! Sekarang kau ingin memukul isrimu juga karena gundik mu itu?!? heh?! kau ingin memukul nya?! heh?! pukul! ayo pukul! biar aku yang akan menjadi lawan mu!! Ayo! tunggu apalagi??!'' sentak Rita.

__ADS_1


Membuat seseorang diluar sana terjingkat kaget.


''Rita...'' panggil ayah Bram.


''Kebetulan ada ayah disini?! Lihatlah kelakuan putra semata wayang ayah! Ia ingin memukul istri nya yang sedang mengandung anak nya, gara-gara ia tidak terima jika aku mengetahui segala kebusukan nya selama ini?! Ayah lihat, gadis malang itu?!'' tunjuk Rita pada Alisa.


Alisa sedang menyenderkan dirinya di dinding menahan sakit di punggung dan di perut bagian bawahnya.


Alisa meringis. Ayah Bram mematung mendengar ucapan Rita. Ia melihat Alisa yang sudah pucat pasi.


''Ya Allah.. sa-sakitttt... Mama ...'' lirih Alisa.


Membuat ayah Bram menatap datar ke arah Emil.


''Lepaskan Emil Rita! Bawa Alisa ke rumah sakit! Seperti nya Alisa pendarahan!'' ucap ayah Bram, ia melihat ada darah yang mengalir disana yang sudah membasahi mukenah Alisa.


''Astaghfirullah! Ayo bang! kita bawa ke Puskesmas! Ayo cepat sebelum terlambat!'' ucap Rita dengan segera memegang Alisa yang sudah semakin pucat.


Alisa dibawa kerumah sakit oleh saudara iparnya. Sedangkan Emil masih mencerna semua ini.


Emil diam.


''Jika memang kau tidak menginginkan wanita itu, lebih baik lepaskan! Jangan siksa dirinya lebih lama lagi. Sakit fisik bisa di obati! Tapi luka batin???'' ucap ayah Bram masih dengan wajah datar.


Emil menunduk. Ayah Bram menatap Emil dengan dalam.


''Ayah kecewa pada mu Mil! Ayah pikir, kau bisa berubah! Ternyata tidak! kau malah menyiksa nya dan juga buah hati mu yang belum lahir ke dunia ini! Apakah itu yang ayah ajarkan pada mu Mil?? Apakah seperti itu cara mu mendidik istri mu?? Ayah tak menyangka, ternyata tujuan mu ingin menikahi Alisa hanya untuk menyiksa nya saja! Dia bukan barang Milham! Dia itu manusia! Sama seperti kita! Punya mata punya hati punya segalanya! Apa yang membuat mu hingga tega kau melayangkan tangan mu kepadanya?? Ayah tau siapa kau Emil! Berhentilah sebelum terlambat! Kendalikan dirimu! Dia itu istrimu! Bukan seonggok daging yang kapan saja bisa kau pakai, setelah puas kau buang! Ketika kau marah, kau menyiksa nya! bukankah sudah ayah katakan pada mu? Jika kau tidak menginginkan wanita itu, maka lepaskan! Tapi jika kau menginginkan wanita itu, perlakukan dia dengan baik. Kenapa kau mengabaikannya Milham!!'' ujar ayah Bram begitu panjang.


Membuat Emil tergugu. Ia tidak bisa berbicara lagi.


Ayah Bram menatap Emil dengan tatapan yang sulit di artikan.


''Ayah kecewa pada mu Milham! Suatu saat kau akan merasakan apa yang ayah rasakan! Semoga kelak kau mendapatkan seorang putri dan putra agar kau sadar, Jika apa Yang ayah katakan ini benar! Ingat Milham! Hukum tabur tuai berlaku di dunia ini! Apa yang kau tabur itu yang kau tuai! Ayah pulang!!'' ucap ayah Bram.


Kemudian ia berlalu meninggalkan Emil seorang diri disana. Setelah sadar ia mengusap wajahnya.

__ADS_1


Ia bingung sekarang dengan dirinya, mengapa terlalu mudah di sulut emosi. Apalagi menyangkut Alisa.


Lama ia termenung, setelah dirasa tenang, barulah ia menyusul Alisa ke Puskesmas untuk melihat istrinya disana.


Lain dengan Alisa, lain juga dengan Hani dan Hendra. Di usia pernikahan mereka yang menginjak tujuh bulan, Hani saat ini sedang hamil enam bulan.


''Alhamdulillah.. ya Allah.. sungguh besar karunia mu.. sekarang hanya tinggal menghitung hari saja. Hani... apa kabar dengan Alisa ya?? Apakah ia juga sudah mengandung seperti mu??'' tanya Hendra pada Hani.


Hani tersenyum. ''Kenapa?? Apakah kamu memimpikan Alisa lagi??'' tanya Hani.


Dan diangguki oleh hendra. ''Ya.. aku melihatnya terhisap dalam lumpur hitam, ia menangis meminta tolong. Tapi tidak ada seorang pun yang menolongnya. Saat aku ingin menolong nya, seseorang lebih dulu menolong nya. Pemuda itu sangat tampan. Kulitnya putih, hidung mancung. Persis seperti artis Korea. Matanya begitu sipit. Sekilas aku melihatnya begitu mirip dengan bang Emil. Tapi itu bukan bang Emil. Bang Emil kulitnya kan kecoklatan?? Sedangkan ini, begitu tampan. Dan mereka berdua begitu mirip Hani.. Apa ya maksudnya??'' tanya Hendra yang sudah berbaring dipangku an Hani dan menghadap ke perut Hani yang membuncit.


Dengan sesekali mengecup nya disana.


''Tidak semua mimpi itu nyata By.. bisa saja kan itu cuma bunga tidur??'' sahut Hani.


Ia sengaja menenangkan pikiran Hendra, karena bukan sekali ia bermimpi tentang Alisa tapi berulang kali.


''Iya juga sih. Tapi ini seperti nyata Hani.. aku hanya takut jika Alisa kenapa-kenapa.. Aku ingin jika anak kita nantinya lahir, aku akan menjodohkan nya dengan anak Alisa! Bolehkan sayang??'' tanya Hendra sembari menatap Hani.


''Tentu. Mintalah sama Allah tentang Alisa. Berdoalah yang baik untuknya. Agar kelak salah satu dari anak kita akan berjodoh dengan nya! ah! aku sangat merindukan sahabat ku itu! Sedang apa ya dia sekarang??'' tanya Hani sembari menerawang jauh ke depan.


Hendra yang mendengar nya tersenyum. ''Ayo kita sholat! Kita doakan Alisa agar dirinya baik-baik saja dan akan dipertemukan dengan kita nantinya. Ayo.. aku juga sangat merindukan cinta pertama ku itu..'' goda Hendra.


Membuat Hani memutar bola mata jengah. ''Ya, ya, ya.. terserah anda tuan Hendra Hariawan! Aku mah apa atuh.. cuma selingkuhan kamu...'' ucap Hani sembari menyanyikan lirik lagu cita-citata.


Setelah nya ia mencebik kan bibirnya menatap Hendra. Dan Hendra tergelak. Ia sangat suka menggoda Hani.


Dan senang nya Hani tidak marah, malah mereka tertawa bersama.


Sedangkan Alisa disana masih dalam keadaan tidak sadarkan diri setelah dirinya tadi di suntik obat untuk penguat kandungan.


Semoga nantinya mereka di pertemukan saat anak-anak mereka telah tumbuh menjadi dewasa. Mungkin.


💕

__ADS_1


TBC


__ADS_2