Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Kenikmatan sesaat berujung neraka!


__ADS_3

Alisa mengusap kepala Tama dengan sayang. Sedangkan pemuda tampan yang baru berusia lima belas tahun itu masih terisak dipangkuan Alisa.


''Sayang.. Mak nggak bisa pergi dari sini. Karena ini adalah rumah Mak! Dan juga pria yang tadi kamu lempari itu suami Mak, Nak..'' lirih Alisa masih dengan mengusap kepala Tama.


Tama mendongkrak dan menatap Alisa dengan wajah penuh air mata. ''Mak tau, padahal malam ini Abang mau bilang, jika seluruh hutang Mak yang di pinjam oleh nenek sihir itu sudah lunas!''


''Hah? Lunas?? Kok bisa?! Siapa yang melunasi nya?!'' pekik Alisa membuat Tama terduduk dan memeluk Alisa.


''Abanglah yang melunasi nya..'' lirih Tama dalam pelukan Alisa.


''Tama??'' Tama melepaskan pelukannya. Ia tersenyum melihat Alisa.


''Jangan bilang??''


Tama mengangguk dan bersimpuh lagi di pangkuan Alisa. Wajah nya menghadap perut Alisa yang sedikit membuncit.


''Ya, Abang jual motor Abang yang satu lagi untuk bisa lunasi hutang Mak yang di pinjam oleh nenek sihir suami Mak itu!'' ketus Raga.


Alisa mematung. Ia menatap Emil yang juga sedang menatapnya kini. ''Sayang... motor kamu kan untuk sekolah? Kenapa dijual?? Dan kamu tau hutang Mak dari siapa??'' selidik Alisa.


Tama mendongak dan duduk kembali. Entah kenapa ia sangat suka jika Alisa mengusap kepalanya.


Apalagi jika ia tidur di dekat perut Alisa yang sedang membuncit. Tama mengelus sekilas perut Alisa dan ia tersenyum.


''Ada Adek ya Mak?? Pasti perempuan nih! Pasti nanti cantik melebihi Ira, cerewetnya sama kayak Mak! Abang suka sama adik perempuan!'' Celutuk nya membuat Alisa terkekeh kecil.


''Jawab dulu Nak. Abang tau dari siapa jika Mak punya hutang di Bank??''


''Tidak tau dari siapa-siapa! Abang cari tau sendiri. Dan kebetulan motor Abang itu jarang dipakai, buat apa terletak disitu lebih baik dijual kan ? Dan uangnya bisa di gunakan untuk yang lebih bermanfaat!'' sahutnya santai.


Tama masih saja mengelus perut Alisa. ''Wooaahh.. adek gerak Mak! Kapan Mak periksa? Abang ikut ya?? Udah USG kah??'' cecar Tama, Alisa terkekeh kecil.


Dari kejauhan Alvian tersenyum tipis, setelah itu ia berlalu meninggalkan Alisa dan juga Emil beserta gadis yang entah siapa itu.


''Besok malam! Abang mau ikut??''


''Mau, mau! Abang aja sama Mak ya? Ira sama Lana dirumah aja! Gantian atuh sama Abang.. ya kan Dek!'' sahut nya dengan terus mengelus perut Alisa.


Alisa tersenyum. ''Nak.. Abang tau darimana jika Mak punya hutang di Bank??'' tanya Alisa sekali lagi.


Tama menghela nafasnya. ''Abang tau dari Lana, dan juga malam kemarin Mak sama Ayah bertengkar gara-gara hutang. Belum lagi pagi tadi Abang dengar juga! Udah Abang lunasi semuanya! Bahkan Abang dikasi bonus sama pihak Bank Mak!''

__ADS_1


''Bonus??''


''Hooh! Katanya Abang boleh meminjam di bank itu kapan pun! Dan Mak pun sudah tercatat sebagai nasabah tetap disana! Mak nasabah di bank itu kan??''


''Iya sih.. tapi...''


''Coba buka ponsel Mak, pasti udah masuk tuh notifikasinya!''


''Iyakah??'' tanya Alisa, Tama mengangguk mantap.


Alisa merogoh ponsel dari saku gamis dan membuka nya. Saat membaca pesan di ponsel itu mulut Alisa menganga.


Tama yang melihatnya tertawa. ''Benar kan Mak, apa yang Abang bilang?''


''Tapi.. bagaimana mungkin, Nak.. ini tidak mungkin!'' bantah Alisa.


Tama lagi lagi tertawa. Ia sangat menyukai Alisa yang sedang terkejut seperti itu. Wajahnya begitu polos dan lugu.


Menggemaskan! Jika aku sudah sebaya Ayah Emil, pastilah Mak Alisa ini tidak ku lepaskan begitu saja!


Ya Allah.. kirimkan seseorang untukku yang sama persis seperti Mak ku ini.. akan sulit mencari sepeti Mak Alisa. Mak wanita istimewa.


''Aduhh...'' rintih Alisa


Tama terkejut. ''Kenapa Mak?? Ada apa? Mana yang sakit??''


Alisa terkekeh melihat Tama. ''Nggak ada sih.. hanya saja adik mu ini menendang perut Mak begitu kuat! Sssttt..'' ringis Alisa lagi.


Tama tersenyum dan mengelus perut Alisa. ''Dek.. nggak boleh gitu ah! sama Mak! kasian loh.. Abang usap adek diem ya?''


Alisa tersenyum melihat perhatian Tama pada perutnya. Tama mengusap perut itu dengan sesekali menyandungkan sholawat yang selalu di ajarkan oleh Alisa pada nya.


Ajaib! Elusan tangan Tama sangat mujarab. Perut Alisa yang tadi mengencang kini perlahan mengendur.


Alisa bernafas dengan lega. Tama semakin senang saat menyadari jika janin di dalam perut Alisa begitu patuh pada nya.


''Mak? Mau diapakan tuh bonus dari Bank??''


Alisa terdiam. Ia menatap Emil yang juga sedang menatapnya. Tama paham, ia menoleh pada Ayah Emil.


Raut wajah yang tadinya sangat manis kini berubah menjadi dingin.

__ADS_1


''Jelaskan! Atau aku yang akan menjelaskan nya!'' titah Tama menatap Emil dengan tajam.


Emil menatap datar pada putra angkat yang telah tega melukai nya itu. Emil menatap Alisa yang juga sedang menatapnya dengan tatapan kosong nya.


''Aku pulang kerumah bukan untuk berzina dengan gadis ini! Tapi aku pulang kerumah untuk mengambil dompet ku yang tertinggal!''


''Oh ya?? Lalu kenapa tadi kalian berdua berciuman?! Apakah itu bukan zina nama nya?! Bagaimana jika aku tidak pulang tadi, bisakah Ayah memastikan kalau Ayah tidak berbuat zina dengan gadis itu dirumah Mak ku?!''


''Cih!! Rumah Mak mu?! Ini rumah ku! Bukan rumah nya!'' sahut Emil


''Rumah Ayah?? Hahaha... kapan rumah ini menjadi rumah Ayah, hah?! Rumah ini rumah Mak ku! Asal Ayah tau ya, rumah ini-''


''Sudah Nak.. tidak perlu diperjelas. Mak mau mengobati luka Ayah mu dulu! Setelah itu, biarkan ia mengantar gadis itu pulang ke rumah nya! Tak baik lama-lama dirumah suami orang, nanti akan menimbulkan fitnah!''


Deg!


Gadis itu terkejut dengan ucapan Alisa. ''Maaf Kak.. bukan maksudku begitu.. aku sama Bang Emil nggak ada apa-apa kok. Kami tadi tidak sengaja seperti yang disebut Tama. Kaki saya terkilir Kak, bang Emil berniat membantu dengan membawa saya ke tukang pijat. Tiba disini kaki saya semakin sakit. Bang Emil mencoba untuk membopong saya, karena katanya di rumah sebelah ada tukang pijatnya. Saat masuk, saya nggak sengaja terpeleset dan jatuh dengan bang Emil menimpa tubuh saya.. Dan kebetulan Tama pulang.. jadi dia salah paham pada kami Kak..'' jelas gadis yang entah siapa nama nya.


Tama tersenyum miring. ''Sengaja? Atau menikmati? Saya lihat kalian berdua begitu menikmati nya tadi. Sampai tangan Ayah sudah meraba-raba dada kamu! Apa itu namanya jika bukan zina?! Terus tadi apa saat kamu dipangku sama Ayah dan ingin dibawa ke kamar nya dengan bibir kalian terus berpagut seperti itu?! Sengaja juga?! hah?!'' sentak Tama begitu emosi.


Gadis itu semakin tertunduk. Emil menatap datar pada putra angkatnya itu.


''Aku kecewa pada mu Yah! Bukannya kau melindungi Mak ku, tapi kau malah berbuat zina dirumahnya! Jika memang kau sudah tidak menginginkan nya, lepaskan! Aku masih bisa membiayai Mak ku walau hanya sekedar makan! Ayah boleh sakit hati dengan Mak ku! Tapi tidak dengan membawa wanita lain ke rumah ini! Ayah imam! Segala perbuatan Ayah itu akan menurunkan pada anak Ayah nantinya. Apakah Ayah tidak sadar jika Mak sedang hamil anak kalian berdua?? Bagiamana jika nantinya anak yang dalam kandungan kalian di perlakukan sama seperti yang sedang Ayah lakukan sekarang?? Bisakah Ayah menerima nya?? Bisakah Ayah nanti menerima putri Ayah yang sudah ternoda? Sadar Yah? Kenikmatan sesaat tapi berujung neraka! Bukan Mak Alisa yang membawa neraka ke rumah ini! Tapi Ayah lah yang membawa nya!!''


Deg!


Deg!


Deg!


💕


Cakep Bang Tama!


Nanti othor siapkan jodoh yang istimewa ya untuk kamu.


Tunggu sampai dia lahir! eh?


Beberapa bab lagi menuju end!


TBC

__ADS_1


__ADS_2