Aku Bukan Pembawa Sial

Aku Bukan Pembawa Sial
Permintaan Emil


__ADS_3

Setelah mereka semua masuk dan berkumpul untuk makan malam. Alisa dan mama aliran bergegas menyiapkan segala sesuatunya untuk di hidangkan di depan mereka.


''Waduh Mbak.. ini mau hajatan atau mau pesta? Makanan nya banyak amat?'' tanya Tante Irma.


''Hooh. Gimana cara masaknya sebanyak ini? Mbak kan berdua aja sama Alisa? Apakah istri nya pak Oman yang ikut membantu?'' tanya Tante Rasmi.


''Ya, istri nya pak Oman yang membantu Mbak, tadi siang hingga sore ini. Sejak mendapatkan kabar dari Alisa, kami bergegas untuk berbelanja. Mbak bilang sih usah banyak-banyak belanja nya, lah kakak mu itu belanjanya gini amat! kayak yang mau pesta aja! itupun sebagiannya Mbak simpan di kulkas.''


''Oo.. begitu toh?? Oh ya Mbak, Nafisah mana? Kok nggak datang? Apa tadi nggak dikabarin oleh mas Yoga?'' tanya Irma.


''Ada.. tapi katanya agak malaman dikit datangnya. Karena harus menunggu suaminya pulang kerja terlebih dahulu. Tenang aja! rumah nya dekat kok dari sini!'' ujar Rasmi.


Tante Irma mengangguk, begitu juga dengan mama Alina.


''Ya sudah, ayo kita angkat semua makanan ini kedepan! kayaknya tamu yang kita tunggu untukakan malam udah pada datang. Ayo..'' ajak mama Alina pada kedua adiknya itu.


''Oke,'' sahut Tante Irma.


Dari luar sudah terdengar suara riuh, dengan gelak tawa. Suara yang begitu familiar di telinga mama Alina.


Sesampainya disana mama Alina melihat, Emil dan juga Abang iparnya. Dan satu lagi pemecah keheningan. Yaitu Pak Oman.


Suara gelak tawa diruang tengah itu bergema hingga ke dapur. Mama Alina tersenyum melihat tingkah pak Oman.


Mereka semua duduk lesehan dilantai, mereka mengelilingi makanan yang terhidang disana. Semuanya menghadap ke arah hidangan yang menggugah selera.


Pak Oman yang melihat Mama Alina membawa hidangan makan malam, berbicara.


''Ini dia yang kita tunggu! ayo mari kita makan! Udah lapar nih perut saya! dari tadi keroncongan terus. Semenjak kepulangan istri saya kerumah, ia menyampaikan jika pak Yoga sekeluarga akan datang dan juga saya sebagai perwakilan dari Nak Emil, mengajak kita untuk makan malam bersama. Saya jadi nggak sabar, dikala mendengar jika Bu Alina, masak ayam penyet plus sambal nya yang bikin nagih itu! Hmm sangat nikmat!'' celutuk pak Oman. Ia menghirup aroma dari sambal yang di bawa oleh mama Alina.


''Ngiler saya Ih..!'' ujarnya lagi.


Semua yang hadir di sana tertawa. Setelah semua makanan siap. Mereka semua makan dengan lahapnya.


Emil celingukan mencari pujaan hatinya. Saat ingin menunduk, terlihat Alisa berjalan kearahnya dan duduk di sebelah Tante Irma. Tepat di depan Emil.


Mereka duduk berhadapan. Emil tersenyum melihat Alisa, demikian juga dengan Alisa. Ia membalas senyum Emil, kemudian menunduk. Karena ada mata elang, yang sedang mengawasi mereka disana.


Siapa lagi kalau bukan Pak Yoga. Sekilas ia melihat jika Emil melempar senyum kepada Alisa. Membuat dadanya bergemuruh. Pak Yoga menahannya sekuat tenaga.

__ADS_1


'Mengapa hatiku ini.. selalu mengatakan jika pemuda itu tidak tepat untuk Alisa?? Ya Robb.. ada apa denganku?? Hah! mungkin ini hanya perasaan ku saja karena tidak menyukai pemuda itu.' Gumam pak Yoga dalam hati.


Mereka makan bersama sambil tertawa. Pak Oman selalu bisa mengalihkan suasana yang hening menjadi gaduh. Akibat kelakarnya itu semua yang disana tertawa ngakak.


''Aduh! kebas euuy bibir saya! panas betul ini mulut! Bu Alina sengaja ya buat bibir saya jontor! nih dower kewer! Aduhh.. harus disumbat pake apa nih bibir? biar nggak panas lagi??''


''Dasar pak Oman! yang namanya sambal ya pedaslah! kalau manis itu, ya gula... saya ambilkan gula mau ??'' tanya Tante Irma.


''Ho hi hi hi terimakasih cintaku! kamu tau aja deh, mau mas mu ini apa??'' ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya.


''Ishh.. kenapa pula tuh mata kedip-kedip gitu? kelilipan??'' tanya Tante Irma.


''Iya sayang.. tolong ditiupin atuh.. perih nih mata.. yak? ditiupin yak?'' ujarnya lagi menggoda Tante Irma.


''Jangan macam-macam pak Oman.. pawangnya garang loh.. mau pak Oman di terkam olehnya??'' goda paklek Hilman.


Semua yang disana terkekeh. Kecuali Alisa. Ia menatap Emil tanpa kedip.


Tampan!


Alisa tersenyum tipis melihat Emil terkekeh pelan. Sesaat ia menatap pak Yoga, yang juga sedang menatap Emil.


Entah kenapa, Alisa merasa jika pak Yoga seperti kurang srek dengan Emil. Ketika pak Yoga menatap nya, Alisa menunduk.


Pak Oman selaku wakil dari Emil buka suara.


''Baiklah, karena perut sudah kenyang.. maka acara ramah tamah antara saudara Emil dan juga Alisa akan segera kita mulai!


''Hening cipta.. mulai!''


''Eh? Pak Oman apaan sih?! masa' hening cipta sih?!'' sungut Tante Risma.


Semua yang disana terkekeh.


''Oh iyakah?? hehehe.. maapkheun.. karena perut saya sudah kenyang, jadi rada-rada ngantuk! hehe.. maap yak?'' kelakarnya lagi.


''Ish... ngelantur! mentang-mentang udah kenyang mau tidur aja! dasar kejan!'' sungut Tante Irma.


''Kejan??'' beo pak Oman.

__ADS_1


''Hooh, Kebo jantan!''


''Buhahaha...'' semua yang disana tertawa terbahak.


''Oke-oke cukup! sekarang kita bahas Alisa dan Emil. Ayo Nak Emil, silahkan apa yang menjadi keinginan mu! kami siap mendengarkan!'' seru pakde Tarman.


Emil menghela nafasnya.


''Terimakasih sebelumnya, karena telah menjamu saya dan Abang saya disini? Maaf sebelumnya jika kedatangan saya kesini sedikit mengganggu keluarga bapak. Maaf atas kabar yang saya berikan melalui Alisa. Saya hanya ingin menagih janji, yang dulu pernah saya sampaikan saat saya meminang Alisa dulunya. Masih ingatkan Pak??'' tanya nya pada Pak Yoga.


Pakde Tarman mengangguk sedangkan Pak Yoga hatinya mulai gelisah. Hatinya mulai tak nyaman akan keberadaan Emil.


''Ya. Silahkan katakan apa yang menjadi keinginanmu.'' ucap pakde Tarman.


''Bukankah Alisa sudah selesai dari sekolahnya? Hanya tinggal ijazah aja kan yang belum keluar??'' tanya nya pada semua yang ada disana.


''Ya.'' sahut Alisa.


''Oleh karena itu, saya ingin menyampaikan keinginan saya, sebelum saya berangkat ke Medan dua bulan lagi, saya ingin meresmikan hubungan kami berdua, saya ingin menikahi Alisa sebulan dari sekarang!" imbuhnya.


Deg!


Papa Yoga mematung, begitu juga dengan Alisa. Sedangkan yang lain terdiam. Hanya pakde Tarman saja yang mengucapkan hamdalah.


"Alhamdulillah, jika itu memang menjadi keinginanmu! Kami menerima nya dengan senang hati." imbuh pakde Tarman.


"Bagaiman dengan Pak Yoga? Apakah bapak membolehkan saya untuk menikahi putri bapak??" tanya Emil.


Pak Yoga menatap Emil dengan raut wajah datar. Tatapan yang sulit diartikan. Inilah yang ditakutinya.


"Jika bapak mengijinkan, saya punya permintaan!" seru Emil lagi, membuat semua yang disana menarik nafas dalam-dalam.


Pak Yoga tak menjawab, ia tetap menatapnya dengan raut wajah datar. Emil tak peduli itu. Ia tetap melanjutkan lagi ucapannya.


"Setelah saya menikahi Alisa sebulan dari sekarang, saya akan membawa Alisa ikut dengan saya ke Medan."


Ddduaarr..


💕

__ADS_1


Ada yang penasaran seperti apa kelanjutannya??


TBC


__ADS_2