Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Season 2 - Chapter 23


__ADS_3

Camila menghirup udara malam sebanyak banyak nya. Rasanya sungguh lega. Setelah terjebak dalam hiruk pikuk suasana pesta, juga dia yang bisa terbebas dari Rasya, pada akhirnya Camila bisa keluar juga. Ya, setelah tadi dia berpikir sejenak akan kemana arah


tujuan nya, pilihan nya jatuh pada taman rumah Sakit yang meskipun malam


seperti ini masih tampak ramai. Beberapa pengunjung serta keluarga pasien


banyak yang memilih bersantai di taman sembari melihat indahnnya malam.


Camila menoleh ke samping kanan  dan kiri. Mencari bangku kosong yang bisa ia


duduki. Dan ternyata memang masih ada bangku yang tak berpenghuni. Berjalan


gontai Camila duduk di salah satu kursi panjang yang ada di taman ini.


Kepalanya menengadah, menatap langit malam yang tidak terdapat banyak bintang. Akhir akhir ini memang sering turun hujan sehingga yang terlihat lebih dominan adalah awan mendung yang bergumpal di langit malam. Menghela nafasnya sekali lagi. Camila memainkan kaki nya .


Masa tugasnya disini tinggal satu hari besok. Dan lusa dia sudah bisa kembali pulang ke rumah. Bisa bertemu dengan Je juga suaminya. Camila sudah sangat merindukan mereka.


“ Apa kabarnya Je sekarang.” Gumam Camila pada dirinya sendiri. Dua minggu tak bertemu dengan anak nya, rasanya sungguh luar baisa rindu. Ingin menciumi pipi gembul Je yang selalu segar dan wangi.


“ Ah Je mama rindu, “ kembali Camila bergumam.


Kepalanya menunduk melihat kaki yang terbalut high heel sedang ia goyang goyang kan. Suasana hatinya sedang kacau karena menahan rasa kerinduan yang mendalam pada keluarganya.


Camila tertegun menatap sebuah sepatu fantofel mengkilap yang ada di hadapan nya.


Deg


Jantung Camila terasa berdebar, itu sepatu lelaki. Tidak mungkin Rasya kan ?


Segera ia mendongak dan lega rasanya mendapati dokter Allan yang tenyata ada di hadapan nya. Senyum Camila merekah penuh kelegaan.


“ Dokter Allan ...”


“ kenapa kaget begitu ?” tanya Allan sedikit keheranan.


“ Oh tidak apa apa dokter, saya pikir tadi itu ....”


“ Siapa ? dokter Rasya ? " tebak Allan.


Camila hanya meringis mendengar tebakan dokter Allan sangatlah benar adanya. Tapi tak mungkin juga Camila mengiyakan nya, Bagaiampun juga dokter Rasya adalah sahabat dokter Allan. Tidak pantas rasanya Camila membicarakan dokter Rasya di hadapan dokter Allan.


" Boleh saya duduk disini ?" dokter Allan meminta ijin pada Camila.

__ADS_1


Camila mengangguk lalu menggeser duduknya memberi tempat bagi dokter Allan agar bisa duduk di bangku yang sama dengan nya.


Dokter Allan tersenyum lalu duduk di samping Camila.


Mereka berdua sama sama terdiam dengan pemikiran masing masing. Tadi sebenarnya dokter Allan tidak sengaja melihat Camila yang sedang menyendiri di tempat ini. Setelah bertemu dengan dokter senior, niat Allan adalah datang ke tempat acara farewell party. Tapi langkahnya terhenti kala pandangan matanya tanpa sengaja menatap seorang perempuan yang duduk menyendiri di kursi Taman. Allan memutuskan untuk mendekat dan menghampiri Camila.


" Apa yang dilakukan Rasya, hingga membuatmu harus menyendiri berada disini?" pertanyaan dokter Allan membuat Camila terhenyak.


Wanita itu menoleh ke samping menatap dokter Allan dimaana pandangan dokter Allan yang masih fokus ke depan.


" Sebenarnya... Tidak ada yang dokter Rasya lakukan. Hanya saja.... " Camila menjeda ucapan nya. Tak enak rasanya membicarakan dokter Rasya di hadapan dokter Allan yang notabene mereka berdua adalah sepasang sahabat.


" Kamu pasti merasa tidak nyaman kan? "


Kembali tebakan dokter Allan membuat Camila keheranan. Sepertinya dokter Allan memang tahu banyak dengan apa yang dirasakan oleh Camila.


" Mila... Saya minta maaf."


" Minta maaf?" Camila mengernyit. " Minta maaf untuk apa dokter? "


" Saya minta maaf karena mungkin kelakuan Rasya yang sudah sangat berlebihan padamu. Sebenarnya sudah sering saya menasehati Rasya agar tak lagi menganggumu. Dan saya pun juga tak kurang kurang menjelaskan pada Rasya jika kamu sudah bersuami juga sudah punya anak. "


" Saya tahu itu dokter. Dokter Allan tidak perlu meminta maaf pada saya karena ini semua bukan salah dokter. "


" Dokter, terimakasih atas semua yang telah dokter Allan lakukan untuk saya. memang saya merasakan kurang nyaman dengan kehadiran dokter Rasya. Sebenarnya dokter Rasya itu baik. Hanya saja terkadang sikapnya yang terlalu berlebihan membuat saya kurang nyaman. "


" Aku akan terus membantu mu untuk mengingatkan Rasya. Jadi, kamu tenang saja. "


" Terimakasih banyak dokter Allan. "


" Baiklah, kalau seperti itu saya permisi dulu. Saya tidak enak jika belum menyapa semua yang ada di tempat pesta. "


Allan beranjak dari duduk nya. Lalu menatap Camila.


" Kamu tak mau masuk lagi ke dalam. "


Camila tersenyum lalu menggeleng.


" Saya disini saja dulu dokter. Mungkin nanti saya akan masuk lagi ke dalam. Masih menikmati angin malam karena di dalam sana saya merasa sesak. Maklum lah dokter, saya tak terbiasa berada di acars pesta seperti itu. "


" Baiklah jika seperti itu. Saya permisi dulu. "


Allan meninggalkan Camila. Tujuan nya adalah masuk ke dalam tempat pesta

__ADS_1


" Allan....! " seruan seseorang membuat Allan menghentikan langkah. Menoleh ke samping dan mendapati Rasya yang berdiri tak jauh darinya sedang menatap nya tajam.


" Rasya... " gumam Allan.


Rasya berjalan semakin mendekat dan bediri tepat di hadapan Allan. Tatapan nya lurus menghujam bola mata Allan.


Allan merasa aneh dengan tatapan Rasya padanya.


" Ada apa?" tanya Allan penasaran.


" Allan... Apa yang sedang kau lakukan disini... bersama Camila?" Tanya Rasya menelisik wajah Allan.


" Aku?" Allan menunjuk dirinya sendiri.


" Ya. Kau bersama Camila kan tadi?"


Rasya menoleh dimana keberadaan Camila. Begitupun juga Allan.


Jadi, Rasya melihat nya yang sedang bersama Camila tadi. Begitulah pikir Allan dalam hati.


" aku hanya mengobrol sebentar dengan Camila tadi."


" Yakin kau hanya mengobrol biasa dengan nya?"


" Apa maksudmu Rasya?"


" cih... Selama ini kau yang selalu menasehati ku agar jauh jauh dari Camila. Tapi kalau sendiri apa? Disaat semua orang sedang menikmati pesta, Kau justru berduaan dengan Camila di taman. "


" Astaga Rasya.... Aku hanya mengobrol dengan Camila tadi. "


" Oh atau jangan jangan memang kau sendiri yang tertarik pada Camila hingga melarangku untuk tidak dekat dengan nya. "


" Rasya, jaga bicaramu. "


" Memang kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapanku? "


Sungguh Allan sudah lelah berdebat dengan Rasya. Sahabatnya ini entah kenapa menjadi seperti ini. Dan Allan memilih untuk tak menanggapi.


" Terserah apa yang kau katakan, Rasya. "


Selanjutnya Allan memilih pergi meninggalkan Rasya.


" Allan...! Allan jawab aku...!" seruan Rasya tetap tak ditanggapi oleh Allan.

__ADS_1


__ADS_2