
Bahkan hingga Dirga tiba di kantor nya pagi ini, kepalanya masih berdenyut nyeri. Setelah meletakkan tas kerja nya, Dirga menyandarkan punggung nya pada sandaran kursi kerjanya. Mata nya terpejam dengan jari - jari yang memijit pelipis nya.
Ferdy, setiap melihat bos Dirga datang, maka lelaki itu akan mengikuti bos nya masuk ke dalam ruangan.
Dan begitu ia mendapati kondisi bos Dirga, kekhawatiran langsung mendera nya.
" Bos sakit?" tanya nya sambil mendekat di sisi Dirga.
" Kepalaku pusing sekali."
" Seperti nya Bos membutuhkan obat. Maukah jika saya berikan bos obat sakit kepala?"
Dirga berpikir sejenak. Perlukah dia meminum obat? Ya, seperti nya memang perlu. Mengingat bagaimana kepala nya yang semakin berdenyut nyeri. Bahkan perut nya kini terasa mual.
" Boleh. Carikan aku obat sakit kepala sekarang juga. "
" Siap bos. Tunggu sebentar."
Ferdy keluar ruangan menuju dimana terdapat kotak P3K. Mencari keberadaan obat sakit kepala. Setelah ia mendapatkan nya, barulah Ferdy kembali ke ruangan bos nya. Tak lupa Ferdy juga mengambil air mineral dalam kemasan yang terdapat di atas meja.
" Bos, ini obat nya. Ayo diminum dulu."
Ferdy sudah menyobek pembungkus obat dan mengeluarkan isi nya.
Dirga membuka mata nya. Pandangan nya sedikit kabur dan berputar putar. Lalu ia meraih air mineral dan menerima obat yang Ferdy ulurkan. Segera ditenggak obat tersebut. Setelah nya Dirga kembali memejamkan mata.
" Sebaik nya bos tidur saja di sofa."
" Apa aku ada jadwal meeting pagi ini."
" Tidak ada bos. Jadwal meeting bos hari ini setelah makan siang. Jadi sekarang bos bisa beristirahat dengan tenang. Biar saya yang menghandel pekerjaan bos untuk sementara waktu. "
" Terimakasih Fer. "
" Sama - sama bos."
Dengan tertatih Dirga pindah untuk tidur di sofa, mengikuti saran dari Ferdy.
Lalu Ferdy keluar dari ruangan bos nya. Membiarkan bos Dirga beristirahat.
Hingga menjelang jam makan siang, belum ada tanda - tanda jika bos nya itu sudah bangun. Jan menunjukkan pukul sebelas siang. Ferdy yang khawatir dengan kondisi bos Dirga, perlahan membuka pintu ruang kerja bos nya. Mendapati bos Dirga yang masih tidur di atas sofa. Nafasnya teratur dengan satu tangan menutupi kedua mata.
Ferdy kembali keluar tak ingin mengganggu bos nya. Padahal bos Dirga sudah hampir tiga jam tertidur. Jadwal meeting mereka adalah jam dua siang di kantor ini. Jadi mereka tak perlu repot - repot keluar kantor yang bisa dipastikan akan memakan banyak waktu.
" Selamat siang, Fer!" sapaan seorang wanita membuat Ferdy mendongak.
Mulut nya menganga mendapati istri bos nya sedang berdiri di depan meja kerjanya.
__ADS_1
" Eh ada dek Mila. Tumben datang kesini?" sindir Ferdy. Karena tak biasa nya istri Bos Dirga akan berknjung ke kantor.
Camila, entah kenapa dia ingin sekali menemui suaminya dengan membawakan makan siang. Sejak bangun dari tidur nya, Camila sudah berkutat di dalam dapur untuk memasak makan siang kesukaan papa Dirga. Dan pada akhirnya disinilah ia berada, di kantor suaminya untuk membawakan makan siang.
" Kau jangan menyindirku, Fer. Aku datang karena sudah rindu dengan suamiku."
Ferdy menyemburkan tawanya. Sejak kapan dek Mila bisa bercanda sevulgar ini dengan nya.
" Tapi seperti nya Bos Dirga masih tidur."
Ucapan Ferdy membuat Camila mengernyit tak mengerti.
" Tidur? " tanya Camila dan Ferdy mengangguk.
" Sejak pagi tadi, bos Dirga bilang jika sakit kepala. Sampai minta obat segala. Dan setelah meminum obat nya, bos Dirga tidur sampai sekarang belum juga bangun."
" Kenapa kau tak membangunkan nya?".
" Aku tak enak hati mau membangunkan. Kelihatan nya tidur nya sangat pulas. Mungkin jika dek Mila yang membangunkan, bos Dirga mau bangun seketika. "
Camila menghela nafas." Baiklah kalau begitu aku masuk dulu ke dalam. "
Camila sudah berniat masuk ke dalam ruang kerja suaminya. Tapi kemudian dia kembali berbalik menghampiri Ferdy. Mengambil sesuatu dari dalam paperbag yang ia bawa.
Meletakkan satu box makan di meja kerja Ferdy.
Lelaki itu sudah berbinar karena mendapat rejeki.
" Terimakasih makan siang nya dek Mila."
" Sama-sama."
Setelahnya Camila benar - benar meninggalkan Ferdy dan masuk ke dalam ruang kerja papa Dirga.
Begitu masuk, Camila melihat suami nya yang tertidur di atas sofa. Dia dekati Papa Dirga yang tertidur dengan satu tangan menutupi mata.
Camila duduk di sisi sofa menyentuh pelan lengan suaminya.
" Pa, bangun!" ucap Camila lirih.
Tak ada respon dari suaminya. Camila menyentuh lengan Dirga, tapi tidak panas. Suhu tubuh suami nya biasa saja.
Sekali lagi dengan sedikit menggoyang tubuh Papa Dirga dan pada akhirnya ada pergerakan dari suaminya.
Perlahan Dirga menurunkan lengan nya. Matanya memicing lalu sedikit terbuka. Seperti melihat istri nya. Sekali lagi Dirga berusaha membuka mata dngan sedikit mengucek nya. Memang benar istri nya yang ia lihat.
" Pa, bangun." kembali Camila berusaha membangunkan suaminya.
__ADS_1
" Sayang! Kenapa ada disini?"
Dirga berusaha bangun dari berbaring nya.
" Jam berapa ini?" tanya nya.
" Jam sebelas lewat tiga puluh menit."
" Sudah siang rupanya."
Dirga menurunkan kaki nya hingga menapaki lantai.
" AkuĀ ke toilet sebentar," pamit Dirga pada Camila.
Dirga masuk ke dalam toilet untuk mencuci mukanya. Setelah dirasa kembali segar, Dirga keluar dari toilet dan kembali menghampiri istri nya untuk duduk di atas sofa.
" Papa sakit?" tanya Mila khawatir.
Dirga menggeleng.
" Tadi pagi aku hanya merasa sakit kepala. Setelah minum obat aku tertidur."
Sebenarnya karena memang semalam Dirga kurang tidur. Hingga saat dia memejamkan mata kantuk langsung menyerang nya.
" Kalau papa sakit sebaik nya pulang saja. Jangan dipaksakan untuk bekerja."
" Aku sudah baikan sayang. Pusing ku seperti nya juga sudah hilang."
" Papa yakin? Nggak sedang membohongiku kan? Jangan bilang baik-baik saja padahal sebenarnya tidak baik - baik saja. "
" Beneran sayang. Aku sudah tidak apa-apa. Sakit kepalaku sudah mereda karena obat yang aku minum tadi. "
Kali ini Dirga memang tidak berbohong. Sakit kepalanya memang telah hilang. Dan dia sudah tidak merasakan nyeri lagi di kepalanya.
" Baiklah. Kalau seperti itu, sebaiknya papa makan dulu. Aku sudah memasak makanan kesukaan papa. "
Dirga mengernyit. Tumben sekali istri nya datang ke kantor dan membawakan makan siang untuk nya.
" Pa, jangan mengataiku tumben membawakan makan siang."
Dirga terkekeh." Aku tidak bilang seperti itu sayang. "
" Entahlah Pa. Hari ini rasanya aku ingin sekali mengunjungi ke kantor dan membawakan makan siang. Kau harus berterimakasih pada calon baby yang membuatku bisa sampai terdampar kesini."
" Jadi ini semua karena kemauan baby? "
Dirga mengulurkan tangan mengelus perut Camila yang masih rata.
__ADS_1
" Seperti nya begitu, " jawab Camila ragu. Karena selama ini dia hampir tidak pernah datang ke kantor suaminya untuk membawakan makan siang. Dan hari ini tiba-tiba dia bersemangat memasak dan membawa makan siang ke kantor suaminya. Mila pikir ini semua karena pengaruh dari kehamilan nya.