
CAMILA POV
Kulirik tanganku yang masih berada di genggaman tangan hangat om Dirga. Aku mendongak menatap wajahnya. Tapi yang kulihat om Dirga seolah tak perduli dengan tatapan yang masih lurus kedepan.
Baru saat sampai di parkiran, om Dirga melepaskan genggaman tangan nya. Rasanya seperti ada sesuatu yang hilang. Kugelengkan kepalaku berusaha mengusir perasaan aneh yang melingkupi hatiku saat ini.
-----
Tidak banyak obrolan diantara kami karena aku merasa masih sangat canggung, secara sudah lama juga aku dan om Dirga tak bertemu. Sekalinya bertemu malah berada di situasi yang mengharuskanku berada dalam waktu yang lama bersamanya.
" Om Dirga beneran tinggal di London ya sekarang." tanya ku berbasa basi daripada tak ada percakapan diantara kami karena Om Dirga pun kurasa lebih banyak diam.
" iya. Kamu tau darimana aku tinggal di London." om Dirga berhenti menyuapkan nasi ke mulutnya dan menatapku penuh tanya.
Pada akhirnya aku tadi mengajak om Dirga makan di salah satu rumah makan yang tak jauh dari Rumah Sakit.
" eum dari Kak Daffi. " jawab ku
" Daffi...? Kamu sering ketemu Daffi. “
Aku hanya mengangguk. Om Dirga masih menatapku. Aku yang ditatap seperti itu merasa risih dan memilih menunduk meminum es jeruk ku.
Suasana kembali canggung. Hanya denting sendok yang terdengar. Ingin aku bertanya tentang kabar Danu. Tapi kuurungkan. Entah kenapa aku tak punya keberanian untuk bertanya hal pribadi om Dirga terutama tentang keluarganya.
-----
Seharian ini om Dirga menemani kami di Rumah Sakit. Dia banyak mengobrol dengan Bunda
dan juga Budhe. Aku hanya sesekali menimpali obrolan mereka. Tak menyangka jika om Dirga bisa secepat itu akrab dengan Bunda dan Budhe.
Baru sore harinya om Dirga pamit kembali ke hotel. Ingin mandi katanya. Sementara aku dan Bunda lebih memilih tetap tinggal di Rumah Sakit. Rencana nya kami akan disini sampai besok menunggu anak Budhe Jasmine datang. Sesuai janji Mbak Ratna yang tak lain adalah anak semata wayang Budhe Jasmine, akan tiba disini nanti
malam.
" nak Dirga itu sudah ganteng, dewasa, mapan, baik lagi." aku yang sedang mengupas apel menoleh mendengar perkataan Budhe Jasmine. Aku sedang berdua bersamanya karena Bunda izin untuk pergi ke Mushola.
" calon mantu idaman setiap ibu." lanjutnya.
" ya kan Budhe anaknya sudah menikah. Masak Mbak Ratna mau disuruh nikah lagi sih."
" hush ngawur kamu. Ya bukan Ratna to nduk. Tapi kamu."
" kok aku sih." kusuapi Budhe dengan sepotong apel yang baru saja kukupas.
" lha kan kamu yang masih single. Belum menikah. "
" Mila masih kuliah Budhe. Masih jauh dari pikiran pikiran itu. Belum ada sama sekali niatan buat menikah sekarang. "
" jangan begitu nduk. Siapa tau nak Dirga itu jodohmu. Iya kan ?."
" jodoh ada di tangan Tuhan, Budhe. "
" ada apa ini kok ngomongin soal jodoh segala. " Bunda masuk dan menimpali obrolan ku dengan Budhe.
" ini loh nye...anakmu tak bilangin. Sopo ngerti nak Dirga itu jodoh nya. Sudah ganteng, baik, mapan lagi. Kurang apa coba to. "
Bunda malah terkekeh mendengar penuturan Budhe.
" aku ini ya kepikiran hal yang sama loh mbak yu."
" maksud Bunda apaan." aku yang kepo dengan antusias menatap Bunda.
Bunda menggeser kursi dan duduk di sebelahku. Ikut mengambil sepotong apel dan menyuapkan ke mulutnya.
" ya kalau Bunda lihat sih nak Dirga itu kayaknya suka sama kamu. Lha ini buktinya dia mau nganter kita kesini. Apa coba namanya kalau bukan pengorbanan."
__ADS_1
Aku mencebik. " palingan juga cuma modus."
" lah itu kamu ternyata juga ngerasa."
" ngerasa apa to Bunda..... "
" kamu ngerasa kalau dimodusin sama nak Dirga. Kalau sudah berani modus begitu tandanya dia suka sama kamu. "
" iyo bener kuwi nduk. Budhe sih setuju setuju aja kalau kamu sama nak Dirga. " Budhe ikut menimpali.
" haduh... Bunda sama Budhe ini. Mila itu masih ingin kuliah. Pingin lulus jadi dokter. Terus ambil spesialis. Baru deh mikirin menikah. Lagi pula om Dirga itu sudah terlalu tua kalau buat Mila. "
" jangan dilihat umurnya. Palingan berapa sih jarak usia kalian. Wong nak Dirga juga ga keliatan tua-tua banget kok. " kata Budhe sambil mengunyah buah apel
" Budhe, om Dirga itu paman nya temen aku. Jadi pantasnya aku tuh ya jadi keponakan nya. Bukan istrinya. Selisih umurku sama Om Dirga itu mungkin ada kalau sepuluh tahun. "
" halah cuma sepuluh tahun. Ga kejauhan kok. Bener to Nye.... " budhe menoleh pada Bunda meminta persetujuan.
( nye : sebutan untuk nama bunda anyelir)
" iyo bener mbak yu. "
Aku beranjak berdiri. Bisa stres aku ngadepin dua emak emak pendukung om Dirga.
" Mila ke Mushola dulu."
Aku masih bisa mendengar Bunda dan Budhe yang masih saja membahas tentang om Dirga.
----
Saat kembali dari Mushola ternyata Om Dirga sudah ada di dalam ruang perawatan Budhe.
" lha itu Mila nya." Bunda melihat kedatangan ku.
" ajak nak Dirga jalan-jalan. Ini kan malam minggu pasti rame. Anak muda kan suka nya nongkrong gitu kalau malam minggu."
" iya Mil. Mumpung kita disini. Ajak nak Dirga nya kemana gitu. "
Aku menghela nafas. Kenapa semua seolah mendekatkan ku sama om Dirga. Entah apa yang telah om Dirga perbuat hingga Bunda dan Budhe begitu antusias melihatku bersama om Dirga.
" iya iya... Ayuk om kita ngopi saja di depan. "
Kebetulan di depan rumah sakit ini ada tempat nongkrong yang biasa dipenuhi oleh muda mudi. Apalagi jika malam minggu begini pasti ramai.
" Mila pergi dulu. Bunda mau dibeliin apa." aku mencium tangan Bunda.
" Budhe juga mau nitip apa. Mumpung Mila mau keluar ini." aku ganti pamit pada Budhe, mencium punggung tangan nya.
" nda usah. Budhe mana boleh makan sembarangan. Dimarahin suster nanti. Kalau ga sembuh-sembuh gimana. "
Om Dirga beranjak berdiri mengikutiku berpamitan pada Bunda dan Budhe.
-----
Disinilah aku dan Om Dirga berada. Sebuah tempat outdor yang lokasinya persis di depan
Rumah Sakit tempat Budhe dirawat. Di tempat ini begitu ramai. Ada banyak food truck yang mangkal. Menjual aneka macam makanan dan minuman.
Kursi - kursi juga banyak disediakan untuk para pengunjung. Selain itu disini juga banyak wahana permainan untuk anak-anak. Stand penjual makanan juga berjejer menjajakan aneka macam cemilan yang mampu memanjakan lidah.
Tak hanya muda mudi tapi juga anak-anak memenuhi tempat ini. Sungguh ramai suasana di malam minggu seperti ini.
Angin malam berhembus kencang. Kusesap coffe late ku berharap rasa hangat menerpa tubuhku.
" Mil......" aku mendongak menatap om Dirga.
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa detik tak ada lagi kata yang diucapkan. Om Dirga hanya menatapku dalam diam. Aku jadi salah tingkah ditatap seintens ini.
" bagaimana kuliahmu. lancar kan." tanyanya kemudian.
" iya Alhamdulillah lancar. "
" eum.. Om Dirga... Danu apa kabarnya disana." dengan ragu aku bertanya tentang teman semasa SMA ku yang tak lain adalah keponakan om Dirga.
Jujur aku tak bisa melupakan bagaimana Danu yang kala itu memintaku menunggunya. Menunggu dia pulang dengan membawa kesuksesan. Aku bangga dengan teman yang sudah kuanggap sebagai seorang sahabat. Danu yang mempunyai tekad untuk bisa sukses. Danu yang ingin membuktikan jika dirinya yang seorang badboy juga
mempunyai masa depan.
Kupejamkan mataku mengingat hari terakhirku bersamanya, saat kami di Bandara. Perlakuan
Danu padaku menunjuk kan jika lelaki itu tak main-main tentang perasaan nya kepadaku.
Tapi entah mengapa hingga detik ini aku belum bisa membalas perasaan nya itu.
Aku tak bisa menganggap Danu lebih dari seorang sahabat.
" Danu baik disana. Apalagi ada mama yang mengurusnya. kamu kangen sama Danu?" pertanyaan om Dirga menyadarkanku.
Kubuka mataku perlahan. Om Dirga masih menatapku tapi kali ini tatapan nya tajam
menghunus tepat di bola mataku.
" sebagai sahabat pasti lah aku kangen padanya mengingat tiga bulan lebih kita tak bertemu. " jawab ku. Kembali kusesap coffe late ku yang sudah mulai dingin.
" hanya sekedar sahabat." tanya om Dirga menyelidik.
" maksud om Dirga? " aku mengernyit.
" apa benar kamu hanya menganggap Danu sebagai sahabat." om Dirga mencodongkan tubuhnya kedepan hingga mengikis jarak diantara kita.
" i-iya." aku mengangguk.
Om Dirga kembali menegak kan tubuhnya. Membuang nafas kasar.
" benarkah seperti itu. Tapi yang kulihat.... kamu dan Danu..... sangat dekat."
" itu karena aku dan Danu berteman baik. Danu juga yang selalu menjagaku selama ini." Jawabku bersemangat.
" syukurlah kalau begitu."
" maksud om Dirga?"
" ya kalau begitu mamaku ga salah kalau masih berharap kamu mau jadi menantunya." dia berbicara tanpa ekspresi.
" apa om.???!! " sepertinya om Dirga kambuh lagi sarapnya. Kukira setelah lama tak berjumpa om Dirga tak lagi suka berbuat hal aneh padaku. Tapi nyatanya apa. Omongan nya ini sungguh membuatku bertanya-tanya. Huft..... Padahal aku sudah terlanjur baper dengan segala perlakuan nya padaku. Nyesel kan sekarang.
" sudah lupakan. Ayok kita beli makanan untuk Bunda."
Om Dirga beranjak berdiri meninggalkanku yang masih mematung duduk di kursi.
" Mila......!!!!!" seru nya. Kulihat om Dirga sudah berada beberapa meter meninggalkanku.
" mau sampai kapan kamu disitu." teriaknya
" iya iya.... " aku bangkit berdiri. Gara-gara om Dirga yang bisa mengubah mood ku dengan cukup drastis.
Berjalan lesu aku menghampirinya. Kutepis tangan nya yang berusaha menggapai jemariku. Om Dirga menoleh ke arah ku tapi aku berpura-pura tak peduli padanya.
Biarkan saja, salah sendiri kenapa membuatku jadi bad mood dengan omongan nya tentang mama dan menantu. Apa coba maksudnya berbicara seperti itu.
Yang ada dipikiranku sudah dipenuhi hal-hal menyebalkan. Firasat buruk menghantui ku. Pasti si om sarap itu telah berbicara yang tidak-tidak pada mamanya. Dan bisa jadi si om itu mengakui diriku sebagai calon istrinya pada sang mama. Seperti waktu itu saat tanpa rencana aku dibawanya berkunjung ke rumahnya. Bahkan dengan percaya diri dia mengenalkanku pada papanya sebagai calon istri.
__ADS_1
Mukaku sudah kutekuk dan sepertinya om Dirga menyadari nya. Dia menarik tubuhku mendekat dan dengan sigap merangkul bahuku tanpa sepatah katapun. Ingin menolak tapi tak bisa karena rangkulan om Dirga begitu kuat membuatku tak bisa berkutik.