
Camila Pov
Sebulan sudah berlalu dan kondisi Om Dirga sudah lebih membaik. Kaki nya sudah bisa dipakai berjalan normal kembali tanpa bantuan kruk.
Dirinya pun tiga hari lalu juga sudah aktif di kantor. Selama dia sakit Om Dirga lebih banyak bekerja dari rumah. Jika ada hal penting atau ada dokumen yang perlu ditanda tangani olehnya, pasti Ferdy lah yang akan datang ke rumah.
Akupun sekarang juga lebih sering tinggal di rumah mama. Agak ribet jika aku harus tinggal di rumah Bunda. Harus mondar mandir kesana kemari. Selama sakit Om Dirga amat sangat rewel. Dimana pun dia berada mau nya harus ada aku. Untung saja aku cinta padanya, jadi dengan senang hati aku akan mendampingi nya.
Bicara soal cinta, kurasa Om Dirga jadi terlihat lebih muda sekarang. Apa karena sekarang dia lebih banyak tersenyum dan hidupnya lebih bahagia. Ditambah sikap manjanya yang kadang membuatku gemas sendiri.
Seperti sekarang ini, meski kondisi nya sudah pulih kembali tapi tetap saja kebiasaan manjanya tidak juga mau dihilangkan. Kebetulan hari ini aku tidak ada kelas. Karena dengan segala tipu daya nya aku dipaksa untuk datang ke kantornya. Hanya karena masalah sepele. Flashdisk nya ketinggalan di rumah. Padahal dia ada meeting siang nanti.
Aku sudah menawarkan padanya untuk mengirim data via email. Tapi dia nya enggak mau dan tetap menyuruhku datang ke kantornya hanya untuk mengantarkan flasdisk nya yang tertinggal. Suka sekali kan dia merepotkanku. Padahal hari ini aku ada janji ketemu dengan Nadia. Sudah lama kita tidak pernah keluar berdua.
Aku berdiri mematung di depan sebuah gedung perkantoran. Untuk kali kedua aku berada disini. Dengan mantap aku masuk ke dalam lobi dan berjalan menemui reseptionis.
" Siang mbak. Saya Camila. Bisa saya bertemu dengan Bapak Angkasa Dirgantara."
" Apa sudah ada janji sebelum nya." tanya reseptionis.
" Eum, sudah Mbak...."
" Tunggu sebentar ya."
Aku menunggu reseptionis yang sepertinya ingin menelepon seseorang . Sebegitu susahnya kah untuk bertemu Om Dirga. Harus pake janji segala.
" Sayang....!!! " seru seseorang di belakangku.
Refleks aku menoleh. Ada Om Dirga dan tentu saja bersama Ferdy.
Aku tersenyum pada mereka berdua. Om Dirga menghampiriku dan meraih pinggangku.
" Mala...." ucap Om Dirga pada seseorang di belakangku. Siapa lagi jika bukan mbak reseptionis. Aku pun berbalik menoleh pada mbak reseptionis yang kini sudah berdiri dari duduk nya.
" Iya, Pak Dirga." jawabnya.
" Kenalkan, ini istri saya. Jika sewaktu-waktu dia datang kesini, langsung saja suruh naik keatas, ke ruanganku."
" Oh, baik pak."
Om Dirga menarik ku agar mengikutinya. Menghampiri Ferdy yang masih berdiri terpaku di tempatnya. Memperhatikan kami berdua.
" Eum.. Om ini flasdisk nya. " aku meraih flasdisk dari dalam tas dan menyerahkan padanya.
__ADS_1
" Kita naik ke atas. " Om Dirga meraih flasdisk dari tanganku.
" Ke atas. Kemana?" tanya ku.
" Keruanganku lah. Kemana lagi. Nggak mungkin juga kan ke ruangan Ferdy. " Om Dirga berkata lirih.
" Ehem... Bos. Kalau pun dek Mila mau ke ruanganku juga tak masalah. Akan kusambut dengan suka cita." Ferdy nyengir.
" Sialan..... . " Om Dirga memukul pelan lengan Ferdy.
Aku mengamati seluruh penjuru lobi kantor ini. Seperti dejavu. Aku memang pernah satu kali datang ke kantor ini.
" Sayang..... Ada apa? " tanya Om Dirga yang melihat gelagat aneh dariku.
" Tidak ada apa-apa. Hanya saja... Aku teringat saat pertama kali datang kemari." ucapku sambil tersenyum mengingat kejadian lalu.
" Loh dek Mila sudah pernah kesini? Kapan? Kenapa aku bisa tidak tahu." Ferdy kepo lagi.
" Oh itu... Pas aku ngembaliin dompet seseorang yang tertinggal di gerai donat. "
" Dompet. Dompet siapa? Jangan bilang dompet nya bos Dirga.?"
Aku tertawa. Ferdy ini laki-laki tapi tingkat keingintahuan nya sangat tinggi mirip perempuan.
" Sudah-sudah ayo kita naik." Om Dirga kembali merangkul pinggangku dan membawa nya pergi menuju lift. Disusul Ferdy di belakang kami.
Aku mendelik memandang Om Dirga. Jangan bilang akulah yang dia maksud. Pintu lift terbuka. Kami bertiga masuk ke dalam nya. Hening tak ada lagi kata yang keluar dari mulut Om Dirga. Hingga pintu lift terbuka kembali Om Dirga merangkul pinggangku membawanya keluar dari dalam lift.
" Bos, jangan lupa kita meeting satu jam lagi." Ucap Ferdy dan Om Dirga hanya mengangguk.
Membawa ku masuk ke dalam sebuah ruangan yang kutebak pasti ruang kerjanya.
" Duduklah." pinta nya. Tapi tak kuhiraukan karena sekarang aku lebih memilih berdiri berjalan menyusuri ruang kerjanya. Mengamati seluruh penjuru ruang dan akhirnya aku berhenti di depan jendela besar yang ada di sudut ruangan.
Aku berdiri dan menyingkap sedikit tirai. Dari sini aku dapat melihat pemandangan kota Surabaya yang dipenuhi dengan banyak gedung bertingkat yang menjulang tinggi.
Aku terjengit kaget. Dua tangan kekar melingkar di perutku. Siapa lagi jika bukan tangan Om Dirga. Dialah yang sedang memeluk ku dari belakang.
" Cantik kan?" tanya nya.
" He eh. Cantik." sahutku.
" Tapi....lebih cantikan kamu."
__ADS_1
" Ish.... Oh ya Om. Kok aku tidak lihat ada sekretaris cantik di depan ruang Om Dirga tadi."
" Sekretaris cantik?"
" Hem... Biasanya kan kalau di kantor-kantor gitu pasti si bos punya sekretaris cantik dan seksi."
" Buat apa sekretaris cantik dan seksi. Ini yang sedang kupeluk lebih daripada cantik dan seksi. Lagipula Ferdy saja sudah cukup buatku. Bisa membantu apa saja yang kubutuhkan. "
Aku hanya tersipu mendengar apa yang diucapkan Om Dirga. Pantes saja hingga setua ini ga nikah lha wong kemana mana selalu berdua sama Ferdy. Untung saja ada aku, kalau tidak mungkin Om Dirga juga tak laku-laku.
Aku terkikik dengan pemikiranku sendiri. Om Dirga sudah menatapku dari samping.
" Kenapa tertawa,"
Aku langsung menghentikan tawaku. "Enggak. Siapa yang tertawa."
" Itu tadi barusan."
" Ya sudah. Aku pulang dulu ya Om."
" Kenapa terburu-buru. Disini saja nemenin aku."
" Bukan nya Om Dirga ada meeting habis ini. Lagipula aku ada janji mau ketemu Nadia."
Aku melepaskan diri dari pelukan Om Dirga lalu membalikkan badanku menjadi berhadapan dengan nya.
" Ya sudah hati-hati. Padahal aku masih kangen. Ingin berlama-lama berduaan."
" Haduh Om... Ini di kantor masih sempat-sempat nya mesum. "
" Siapa yang mesum?" Om Dirga menarikku lebih mendekat.
" Situ yang mesum." ucapku lirih.
" Masak sih."
Kudorong wajahnya yang sudah mendekat hingga hidungnya nyaris menempel dipipiku.
" Jni di kantor. Kalau ada yang lihat gimana."
" Biar saja. Paling juga Ferdy."
Aku kembali menghindari dirinya yang kini mulai mengendus ku dan bibirnya sudah menempel dipipiku. Dicium pipiku dengan gemas. Sesekali digesek nya perlahan rambut halus yang tumbuh di sekitar rahangnya membuatku geli. Beginilah kebiasaan baru Om Dirga. Suka Ndusel ndusel.
__ADS_1
#######
Ndusel ndusel \= nempel nempel manja