Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Bab 30 - Sudah Siap?


__ADS_3


Camila PoV


" Mila, apa kamu sudah yakin dengan semua keputusanmu."


Aku gugup tidak tahu harus berkata apa lagi di depan Bunda, Kak Ken dan Kak Danisha.


" iya Bun Mila yakin." hanya itu kata kata yang mampu kuucapkan untuk meyakinkan Bunda.


Malam ini Bunda sedang membicarakan tentang lamaran om Dirga tadi sore pada Kak Ken.


" Mil, kakak hanya bisa mendukung semua keputusanmu. Kakak yakin semua sudah kamu pertimbangkan dengan baik. " ucap Kak Ken memberi restu untuk ku.


" terimakasih kak."


" Bunda juga hanya bisa mendoakan semoga semua keputusan yang telah kamu ambil adalah yang terbaik."


" iya Bun terimakasih kalian semua memang yang terbaik buat Mila."


" acaranya sebulan lagi. Waktu satu bulan itu cepet loh. Kamu sudah harus mempersiapkan diri dari sekarang. "


" baik bun. "


Setelah pembicaraan kami selesai aku minta izin untuk pergi ke kamar. Kembali merenungkan semua keputusan yang telah kuambil. Keputusan besar dalam hidup. Menikah itu sebenarnya bukan perkara mudah. Tapi..... Entahlah. Aku menghela nafas. Semoga semua keputusan yang telah kubuat adalah yang terbaik dari yang terbaik.


Mengingat mama nya om Dirga rasanya juga tidak akan bisa aku menolak keinginan nya. Aku tidak akan mampu membuat wanita itu kecewa. Biarlah untuk saat ini kujalani dulu apa yang sudah menjadi keputusan ku. Dan kurasa om Dirga juga orang baik. Aku yakin dia pasti bisa menepati janjinya dan syarat yang telah kuajukan padanya.


******


Satu minggu berlalu sejak hari lamaran itu. Tugas kuliah semakin padat merayap dan akupun mulai fokus kembali pada studi ku. Sedikit lupa dengan rencana pernikahan ku. Dalam seminggu ini pula aku tidak pernah lagi melihat om Dirga atau bahkan hanya mendengar kabarnya lewat telpon pun juga tidak. Bunda juga tidak pernah lagi membahas masalah itu jika di rumah.


Hari yang cukup terik di kala musim penghujan seperti ini. Entahlah cuaca akhir akhir ini selalu tidak dapat di prediksi. Bisa jadi setelah panas , tiba-tiba akan turun hujan dengan deras nya. Keluar dari pelataran parkiran kampus aku memacu motor matic kesayangan ku dengan kecepatan diatas rata-rata. Berharap agar bisa segera sampai di rumah dan menikmati segelas Orange jus buatan bunda.


Tapi kesialan sedang menerpaku. Pasalnya motor yang tadinya baik-baik saja justru sekarang dengan tidak mengenal tempat ban bagian belakang tiba-tiba kempes. Astaga, rasanya aku hampir menangis. Di pinggir jalan dengan berpanas panasan aku hanya berdiam diri menatap motorku yang entah kini harus kuapakan. Mencari tukang tambal ban terdekat rasanya juga mustahil. Tidak mungkin aku berpanas panasan sambil mendorong si matic kesayanganku. Aku berjongkok memeriksa kembali ban motorku. Menyeka keringat yang mulai menetes di dahiku. Kurasakan kerudung yang kupakai sedikit basah karena keringat.


Aku terjengkit kaget, sebotol air mineral ada di depan wajahku. Tangan berotot dengan bulu-bulu tipis itulah yang tengah mengulurkan nya. Aku mendongak, mataku melotot, mulutku menganga. Demi apa coba tiba-tiba ada dewa penolong yang datang menghampiriku.


Dengan cepat kuraih botol air mineral dari tangan nya. Aku berdiri dan membuka tutup nya sebelum menenggak hampir setengah isinya. Lega rasanya, dahaga yang sedari tadi kurasakan telah terobati.


" Thanks om." hanya itu kata yang kuucapkan.


Om Dirga menunduk mengamati motorku.


" ban nya kempes." ucapnya.

__ADS_1


" iya. Padahal tadi juga masih baik baik saja."


" naik ke mobil. Kuantar pulang.


" motorku bagaimana. "


" tinggalkan saja disini. Biar nanti diambil orang bengkel. "


" tapi om. "


Om Dirga sudah berjalan menuju mobil nya yang terparkir tak jauh di belakang motorku. Dengan terpaksa aku mengikutinya. Daripada aku kepanasan disini dan tidak bisa pulang. Aku sih berusaha berpikir realistis. Tak tahan rasanya berada di pinggir jalan seperti ini dibawah sengatan teriknya matahari. Sebenarnya tadi aku mau menelepon Kak Ken dan ingin minta tolong padanya untuk menjemput serta membantu membawa motorku ke tukang tambal ban. tapi belum sempat aku melakukan nya keburu om Dirga yang datang duluan.


" masuk lah. Kuantar kamu pulang. " om Dirga membuka pintu penumpang.


Aku menurut. Masuk ke dalam mobil. Dibalik kemudi ada seorang lelaki yang kini menoleh ke belakang dan tersenyum kepadaku. Aku pun membalas senyuman nya. Om Dirga masuk di bangku depan duduk di sebelah... Apa jangan jangan itu sopirnya om Dirga ya.... Ah entahlah.


" Fer, telpon bengkel suruh ambil motor itu disini."


" siap bos."


Setelahnya lelaki yang dipanggil fer oleh om Dirga menelepon seseorang yang kutahu adalah tukang bengkel. Mungkin langganan nya om Dirga.


Mobil mulai melaju meninggalkan motorku yang masih berada di pinggir jalan. Hawa dingin dari AC mobil mulai mengeringkan keringat yang tadi membasahi tubuhku. Sangat kontras dengan kondisi diluar yang sangat panas. Tadi sempat kudengar om Dirga menyebutkan alamat rumahku. Memberi instruksi pada lelaki di sebelah nya.


" ini masuk di gerbang perumahan depan itu bos ? ."  tanya lelaki itu pada om Dirga. Kulihat gerbang perumahan dimana aku tinggal sudah di depan mata.


" iya. Nanti lurus saja, perempatan kedua belok kanan mentok. Rumah paling pojok bercat warna crem."


" siap bos."


Aku hanya diam mendengar percakapan mereka. Om Dirga sepertinya sudah hapal diluar kepala dengan alamat rumahku. Padahal dia juga tidak seberapa sering bertandang ke rumah.


Seperti yang sudah di instruksikan oleh sang Bos, mobil berhenti tepat di depan rumah Bunda. Aku membuka pintu mobil bertepatan dengan om Dirga yang juga sudah keluar dari dalam mobil. Sebelum menutup pintu nya, om Dirga melongok kan kepala ke dalam.


" kamu mau tetep disitu. Ga mau ikutan masuk ke dalam." tanya nya pada si fer


" memang boleh ya bos aku ikutan masuk."


Tanpa menjawab, om Dirga sudah menutup pintu mobil. Tak lama dari itu pintu sebelah juga terbuka. lelaki tadi juga ikut keluar. Aku berjalan mendahului mereka. Kebetulan pintu pagar memang terbuka dan pintu depan kulihat juga tak ditutup.


" loh ada nak Dirga. " aku menoleh kebelakang. Ternyata ada Bunda. Mungkin saja Bunda baru dari rumah Budhe arti, tetangga sebelah rumah. Pantas saja pintu tidak ditutup.


Om Dirga menyalami Bunda. Si fer ikut ikutan menyalami Bunda juga.


" ini siapa." tanya Bunda

__ADS_1


" saya Ferdy tante. Asisten pribadi Bapak Dirga.


Owh jadi namanya Ferdy toh... Aku manggut manggut sendiri. Dan apa dia bilang tadi, asisten pribadi. Idih sebegitunya ya pake asisten pribadi segala. Ya ga heran juga sih. Om Dirga itu kan direktur utama diperusahaan nya yang besar itu. Pantas saja punya asisten pribadi.


Jangan tanya kenapa aku bisa tahu jika om Dirga itu seorang direktur. Itu karena saat pertama kalinya aku menemukan dompet nya kala itu dan mengambil kartu namanya, disitu tertulis jika Angkasa Dirgantara jabatan nya adalah Direktur Utama perusahaan xxxxx dan aku tahu sendiri sebesar apa perusahaan nya karena aku pernah kesana meski itu cuma satu kali.


" aduh Mila kenapa bengong disitu. Ini nak Dirga nya disuruh masuk."


" iya iya Bunda."


" nak Dirga, nak Ferdy ayo silahkan masuk."


Aku mendahului mereka masuk ke dalam rumah. Langsung menuju dapur, membuka lemari pendingin dan meneguk air putih langsung dari botol nya.


" ini anak gadis Bunda kok kayak begitu. Ada calon suami juga di depan. Kalau lihat cara minum kamu yang seperti ini nanti nak Dirga bisa ilfill. Pake gelas sana sayang...."


" keburu haus Bunda."


" ya sudah ini Bunda buatin minuman dulu. Nanti antar ke depan. "


" Bunda aja deh yang anter. Mila gerah mau mandi. Auw... Bunda ish kenapa nyubit Mila sih. " aku mengusap lengan ku yang dicubit Bunda. Sebenarnya ga seberapa sakit sih toh Bunda nyubitnya juga ga kenceng.


" ada calon suami kok malah mau ditinggal. Nda sopan namanya. Sudah dianterin pulang juga. Masak nak Dirga nya dicuekin sama kamu. Sudah gih buruan sana anter minuman nya. Sekalian itu cemilan yang ditoples bawa kedepan." kuhitung sudah dua kali bunda menyebut calon suami. Apa sebegitu bahagianya bunda karena om Dirga bakal nikahin aku.


" iya iya Bunda...." aku memberenggut sebal. Padahal cuma disuruh anterin minuman ke depan.


Sampai di ruang tamu kulihat om Dirga menunduk menekuri handphone di tangan nya hingga tak menyadari kehadiranku. Aku masih berdiri dalam diam mengamati om Dirga. Sebenarnya dia itu tampan. Kulitnya putih, tinggi badan nya proporsional. Tidak pendek juga tidak tinggi. Dan hei lihatlah hidung nya.... Jika dilihat dari samping begini jelas sekali betapa mancung nya itu hidung. ya itung itung bisa memperbaiki keturunan kelak. Pasalnya hidung yang aku punya ini standard saja. Tidak pesek juga tidak mancung. Ehm... Kuamati sekali lagi, seandainya rambut tipis di sekitar tulang pipi dan rahang nya itu ditebas habis mungkin wajahnya akan kelihatan jauh lebih muda. Tapi...... dengan adanya cambang tipis seperti itu juga kelihatan lebih macho sih meski terlihat sedikit tua.... Ah ya memang dia sudah tua kan....


" ehem..." suara deheman membuatku terjengkit kaget. Om Dirga sudah menatapku.


Aku yang ketahuan sedari tadi melamun jadi merasa malu sendiri. Berjalan mendekati mereka dan meletakan nampan di atas meja.


" silahkan diminum" kataku sambil mengedarkan pandangan di sofa ruang tamu. Sebenarnya masih ada satu sofa panjang dan satu single sofa yang kosong. Sofa panjang letaknya diantara sofa yang diduduki oleh om Dirga dan Ferdy, dibatasi oleh meja persegi. Jika aku memilih duduk di sofa panjang itu otomatis aku harus melewati dimana om Dirga duduk. Jadilah tak ada pilihan lain selain duduk di single sofa sebelah om Dirga. Lagian ini kenapa om Dirga dan Ferdy memilih duduk berhadapan bukan nya berdampingan.


Baru juga aku duduk om Dirga sudah bertanya " sudah siap ? ."


Aku mengernyit tidak mengerti dengan pertanyaan nya.


" Siap? Siap apanya." aku ganti bertanya.


Ferdy yang baru selesai menyesap Orange juice miliknya menatapku tak berkedip karena aku dan dia duduk saling berhadapan. Kubuang pandangan beralih ke Om Dirga yang juga sedang menatapku. Alisnya bertaut, sedikit mencondongkan tubuhnya ke arahku.


" tiga minggu lagi. " ucapnya lirih yang masih bisa kudengar. Aku menelan ludah dengan susah payah. Pasti yang om Dirga maksud adalah..............


Kugelengkan kepalaku. Kembali menatap kedepan. Pandangan mataku bertemu dengan Ferdy yang juga masih menatapku dengan senyum evil nya. Astaga, caranya memandangku itu sungguh...... dasar lelaki dimana saja sama. tidak bisa membiarkan pemandangan indah dihadapan nya.

__ADS_1


__ADS_2