Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Season 2 - Chapter 79


__ADS_3

" Jaghad !"


Panggilan itu meghentikan langkah Je yang sedang berjalan menyusuri koridor sekolahnya. Pemuda itu menoleh ke belakang mencari asal sumber suara.


Seorang wanita tersenyum ramah pada Je. Lalu berjalan lebih mendekat pada Je.


" Bu Sofia," ucap Je.


Wanita yang bernama Sofia itu sekali lagi tersenyum pada Je lalu berkata , " Terimakasih ya, karena kemarin kamu sudah membantuku."


Je hanya tersenyum tipis. " Sama-sama, Bu."


" Ya sudah . Kamu mau ke kelas ?"


Je mengangguk. Lalu pemuda itu memutar badan dan kembali melanjutkan langkahnya. Senyum tipis muncul di wajah tampan nya. Entah apa yang sedang dirasakan oleh Je. Hanya saja pertemuan singkat dengan gurunya membuat senyum tiba-tiba terukir di bibirnya.


Memasuki kelasnya dengan sikap angkuhnya, mungkin bagi sebagian teman yang melihatnya  sedikit tidak suka. Je yang terkesan sombong dan tidak pernah mau bergaul dengan orang lain. lebih suka menyendiri dan berkutat dengan ponsel atau bukunya. Tapi bagi sebagian gadis yang justru tergila-gila kepadanya, Je adalah sosok pemuda tampan yang misterius. Membuat mereka penasaran dengan sosok pemuda pecinta basket itu.


Je, mana peduli dengan komentar kawan-kawan nya. tujuan nya bersekolah untuk mencari ilmu. Bukan untuk mencari hal lain nya.


Tak berselang lama, masuklah guru wanita yang mengajar pelajaran matematika. Siapa lagi jika bukan Bu Sofia. Seluruh murid yang ada di kelas langsung terdiam begitu mendapati kedatangan guru mereka. Bu Sofia yang kalem dan pembawaan nya yang supel mampu mengambil hati murid-muridnya. Belum lagi wajah ayunya yang sanggup menghipnotis beberapa murid lelaki. Tak terkecuali Je, bahkan pemuda itu tak saggup melepaskan pandangan dari sang guru.


Je sendiri pun tak tahu kenapa dia begitu tertarik dengan gurunya. Tidak hanya tertarik pada penampilan serta wajah sang guru, melainkan juga cara penyampaian Bu Sofia dalam menjelaskan pelajaran sungguh membuat Je langsung paham begitu saja. 


***


Sore ini seperti biasa jadwal basket tak pernah absen Je lakukan. beberapa pasang mata yang mengagumi kepiawaian nya sudah meduduki lapangan basket begitu mengetahui ada je disana. Sorak sorai yang lebih banyak di dominasi oleh cewek-cewek penggila pemain basket membuat Je semakin bersemangat memasukkan bola ke dalam ring.


Peluh sudah membanjiri tubuh Je begitu permainan usai. Tak sedikit yang menawarkan pada Je minuman atau bahkan tisu, akan tetapi Je abaikan dan tetap melangkah keluar lapangan. Berjalan sambil menenteng bola basket nya.


Berjalan santai menuju kelas . Tapi siapa sangka lagi-lagi Je harus mendapati keberadaan Bu Sofia yang kini sudah bersiap pulang.


" Jaghad, kau belum pulang?" tanya Bu Sofia yang berdiri tak jauh dari Je.

__ADS_1


Je masih saja berjalan hingga kini semakin mendekat ke arah Sofia. Je berdiri menjulang di hadapan nya, membuat Sofia harus mendongak. Maklumlah tinggi Sofia hanya sampai bahu Je.


" Tiap hari kamu main basket?" tanya Sofia lagi.


Je mengangguk. "Bu Sofia kenapa belum pulang?"


"Ini mau pulang. Tadi janjian sama orang bengkel. Jadi sekalian aku mau ambil mobil."


"Pulang sama siapa, Bu."


"Owh itu, tadi aku sudah order Grabcar."


Je hanya manggut-manggut.


"Ya sudah, aku duluan ya. Hati-hati bawa motornya."


Sofia berlalu meninggalkan Je. Sofia teringat bagaimana kemarin dia yang berada di boncengan motor Je, sungguh sangat mendebarkan. Selain karena Sofia baru pertama kali naik di boncengan motor besar juga karena yang membonceng dia adalah murid baru yang bahkan baru sehari ia kenal.


Sementara itu, Je kembali menoleh ke belakang menatap punggung Sofia yang semakin jauh meninggalkannya.


"Kak Kenzo! Apaan pakai lempar bola sembarangan!" omel Je pada Kenzo, saudara sepupu nya.


Iya, Kenzo tadi juga ikut bermain basket bersamanya. Tapi saat keluar lapangan mereka tidak bersama. Karena Kenzo pun ada misi terselubung dengan seorang perempuan. Hingga Kenzo lebih dulu meninggalkan Je.


" Ngapain bengong disitu?" tanya Kenzo.


Pemuda yang tak kalah tampan dari Je, berada di dua tingkat diatas Je. Ya, Kenzo sudah menginjak kelas dua belas sekarang.


Setelahnya Je menghampiri Kenzo dan mereka berdua berjalan bersisihan. Je ingin masuk ke dalam kelas nya mengambil tas dan baju seragam yang ia tinggal disana. Sementara Kenzo, pemuda itu menuju ke parkiran untuk mengambil motornya.


Berpisahlah mereka di ujung koridor. Tapi tiba-tiba Je teringat sesuatu. Ada hal yang ingin dia tanyakan pada Kenzo.


"Kak Ken!" panggil Je cukup kencang.

__ADS_1


Kenzo menghentikan langkah lalu berbalik, menatap Je penuh tanya.


Je berlari kecil menghampiri Kenzo.


"Kak Kenzo tau Bu Sofia tidak?" tanya nya.


Kenzo menggeleng. "Baru juga sih denger namanya. Katanya cantik ya orang nya."


Je mengerutkan alis. "Memang Kak Kenzo nggak diajar Bu Sofia selama ini."


Lagi-lagi Kenzo menggeleng. "Bu Sofia baru tahun ajaran baru ini mulai mengajar disini. Memang nya kenapa?"


Je mengedikan bahu lalu menggeleng.


"Nggak kenapa - kenapa. Ya sudah sana pulang."


Je mendorong bahu Kenzo dan Je sendiri sudah berbalik meninggalkan sepupunya itu.


"Je....!" giliran Kenzo yang berteriak memanggil Je.


"Apa?"


"Jangan bilang kau menyukai Bu Sofia...."


Lagi Je mengedikkan bahu tetap berjalan meninggalkan Kenzo. Tak menghiraukan Kenzo yang masih menatap nya penuh pertanyaan.


Je sendiri tidak tahu, kenapa dia begitu ingin tahu tentang Bu Sofia. Dan fakta yang ada mengatakan jika Bu Sofia baru tahun ajaran ini mulai mengajar di sekolah ini. Mungkin saja Bu Sofia itu memang baru lulus. Wajahnya saja masih terlihat sangat muda.


Je menggelengkan kepala. Untuk apa dia memikirkan Bu Sofia. Benarkah dia menyukai guru matematika nya itu? Lantas menyukai dalam konteks yang seperti apa. Rasa suka murid pada gurunya atau rasa suka lelaki pada perempuan?


Tapi rasanya tak etis jika dia menyukai gurunya. Atau bisa saja dia hanya terobsesi. Ah masa bodoh lah. Je tak mau lagi peduli. Rasanya memang aneh jika dia kedapatan benar - benar menyukai gurunya sendiri. Padahal cewek - cewek yang selalu berusaha mendekati Je banyak. Dan diantara mereka juga rata-rata cantik secara fisik. Hanya saja Je tak seberapa tertarik. Dia lebih tertarik dengan perempuan dewasa yang terlihat mandiri. Daripada gadis seusianya yang masih bersikap labil dan kekanak-kanakan. Hanya memusingkan saja. Belum lagi jika ada acara ngambek segala. Oh My God Je sungguh tak suka dengan gadis seperti itu.


Masuk ke dalam kelas yang tampak lengang. Segera dia ambil tas dan baju seragam nya tanpa berniat mengganti baju basket nya. Je keluar lagi menuju parkiran untuk mengambil motor nya.

__ADS_1


Saat menuju gerbang sekolah dia melihat Bu Sofia yang masuk ke dalam mobil yang Je tahu adalah mobil Grab. Tanpa bisa dicegah Je menjalankan motornya mengikuti Sofia.


__ADS_2