Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Bab 74 - Sweet Moment


__ADS_3

Camila Pov


Acara wisuda berjalan dengan lancar. Meski dengan perutku yang semakin membesar, tak menyurutkan kebahagiaan yang kurasakan.


" sayang, ayo duduk lah. Kamu pasti capek."


Dengan telaten om Dirga membimbingku untuk duduk di kursi.


Badan nya membungkuk, menyingkap sedikit ujung rok ku. Melepaskan sepatu yang sedang kupakai.


Aku sungguh terharu, semua kasih sayang yang om Dirga berikan untuk ku begitu tulus. Tiap detik tiap menit tak luput dari perhatian dan kasih sayangnya.


" terimakasih." ucapku dengan mata berkaca kaca.


" sama-sama." om dirga menatapku dengan senyuman dan tangan nya telah mengambil alih tanganku menggenggamnya erat.


------


Dua minggu aku habiskan untuk menyiapkan diri menyambut hari persalinan. Setiap hari tidak pernah terlepas dari perasaan gugup dan berdebar. Maklumlah karena ini pengalaman pertama ditambah pengetahuan yang sangat minim tentang kehamilan dan persalinan.


Meski aku ini telah lulus kuliah kedokteran, tetap saja perasaan takut itu ada. Sejak awal kehamilan sebenarnya aku sudah rajin membaca buku tentang ibu dan anak. Browsing di Internet tentang kehamilan dan persalinan. Tapi nyatanya teori dan fakta itu tidak akan sama.


Dokter mengatakan bahwa perkembangan janinku baik. Berat badan baby juga cukup. Dan kemungkinan melahirkan normal pun peluangnya sangat besar.


Sudah dua minggu ini pula om dirga akan sering mengajak ku olahraga, Jalan pagi keliling kompleks perumahan. Mengantarku ikut senam kehamilan. Dan semua itu dilakukan sebagai usaha untuk memperlancar proses persalinan.


----


Hingga hari yang dinanti itu tiba, sesuai prediksi dokter seharusnya aku melahirkan sekitar 3 atau 4 hari lagi.


Tapi hari ini sejak pagi perutku sudah berasa tidak enak. Sering buang air kecil hingga bolak balik ke kamar mandi. Semakin lama aku merasa perutku semakin mulas. Kadang mulas nya muncul selang satu menit hilang lagi. Begitu seterusnya hingga membuatku merasa tidak nyaman.

__ADS_1


Aku meringis menahan nyeri serta rasa mulas yang datang. Berusaha rileks dan tidak panik. Duduk bersandar pada kepala ranjang sambil menunggu om Dirga datang. Hari sudah beranjak sore. Biasanya om Dirga sudah berada di rumah sekitar jam lima sore. Apalagi sejak aku mendekati masa persalinan seperti ini, om dirga tak pernah lagi pulang malam. Selesai pekerjaan di kantor dia langsung pulang. Tidak pernah lagi datang ke club. Night club itu sekarang di serahkan pada boy yang bekerja sebagai bartender.


Dan benar saja saat kontraksi itu datang kembali, dengan sekuat tenaga aku menahan rasa sakit yang ada. Bertepatan dengan om Dirga yang sedang masuk ke dalam kamar.


" Sayang, kamu kenapa?" Om dirga tampak panik. Melihatku yang sedang meringis menahan sakit.


" sepertinya mau melahirkan. Daritadi kontraksi terus." jawabku sambil menahan kontraksi yang kembali kurasakan.


" sayang tunggu sebentar. Aku panggilkan mama." om dirga sudah tergesa keluar kamar meninggalkanku sendirian lagi di dalam kamar.


-----


Sampai di Rumah Sakit aku langsung di periksa oleh dokter kandungan yang menangani ku selama ini. Dan ternyata masih pembukaan tiga. Tapi rasa sakit yang kurasakan sudah sangat luar biasa.


Dokter sempat menyarankan agar aku bisa berjalan jalan di sekitar Rumah Sakit untuk mempercepat proses pembukaan. Sekitar jam delapan malam Bunda tiba bersama kak Ken. Hanya saja kak Danisha yang tidak bisa ikut. Mengingat kakak iparku juga punya balita yang baru berusia satu tahun, Kenzo namanya.


Tak lupa aku pun meminta doa restu pada bunda serta meminta maaf pada beliau atas semua salah dan dosaku selama menjadi anaknya. Baru kutahu betapa besar nya perjuangan seorang ibu. Sembilan bulan mengandung seorang bayi rasanya sungguh berat ditambah proses melahirkan yang ternyata sesakit ini rasanya.


Om dirga, jangan ditanya lagi betapa kacau nya raut muka nya. Antara khawatir, senang juga panik. Tiap kali aku merasakan kontraksi, dengan kasih sayang om Dirga yang akan mengkomandoku untuk menarik nafas dalam lalu hembuskan perlahan. Tangan nya juga mengusap punggungku mencoba memberikan ketenangan untuk ku.


Hingga menjelang subuh besok harinya, aku masih belum bisa melakukan proses persalinan. Pembukaan belum lengkap ditambah info dari dokter yang mengatakan jika pinggulku sempit. Air ketuban belum pecah hingga dokter pun masih memberi kesempatan padaku agar dapat melahirkan secara normal.


Rasa sakit yang kurasakan jangan ditanyakan lagi. Semua ibu pasti sudah pernah merasakan nya. Dan aku mencoba untuk tetap kuat demi semua.


Pagi menjelang badanku sudah lemas tak bertenaga. Mengalami kontraksi yang tak berkesudahan dari semalam, jujur membuatku sangat tersiksa. Meski rasa sakit itu datang dan pergi tapi rasanya aku seperti tidak tahan lagi.


Om dirga sudah masuk ke dalam kamar perawatanku dengan membawa kantong berisi bubur ayam.


" sayang, ayo sarapan dulu. Biar ada tenaga saat nanti anak kita lahir. Ayo aku suapin."


Om dirga menyodorkan satu sendok bubur ke depan mulutku. Aku menikmati sarapan masih dengan menahan kontraksi yang kadangkala datang. Tiba-tiba aku merasakan cairan merembes keluar membasahi bajuku.

__ADS_1


" om ini apa... " aku mengusap baju bawahku yang basah. Kebetulan dengan bunda yang juga sedang masuk ke dalam kamar setelah pergi sarapan bersama papa dan mama.


" kenapa Mila..." tanya Bunda.


" ini Bun...." aku menunjukan cairan bening yang ada di telapak tanganku. Tadi aku memang sengaja menyentuh nya karena penasaran.


" ketubanmu pecah. Sebentar bunda panggil suster."


-------


Hingga tengah hari aku merasakan kontraksi yang semakin kuat. Sebenarnya om dirga sudah berniat untuk memutuskan operasi secar karena tidak tega melihatku yang terus kesakitan. Tapi dokter menyarankan agar menunggu beberapa saat lagi karena dokter yakin aku bisa melahirkan secara normal. Aku pun juga sebenarnya ingin menyerah saja tapi mengingat perjuangan ku dari semalam rasanya sayang sekali melewatkan momen melahirkan secara normal.


Suster membawaku keruang bersalin. Sudah pembukaan delapan dan hanya menunggu sebentar untuk ku bisa melahirkan normal.


Dokter sudah masuk ke dalam ruang bersalin tak lama setelahnya om dirga pun juga diizinkan masuk untuk menemaniku.


Dengan wajah cemas nya om dirga masih bisa memberikan motivasi untuk ku.


" sayang kamu pasti bisa. Demi anak kita. I love you." bisik om dirga di telinga ku lalu mencium keningku.


Kudengar suster yang memberitahukan dokter, jika pembukaan sudah lengkap. Dengan sisa sisa tenaga yang masih aku punya, berusaha fokus mengikuti instruksi dokter. Mencoba kembali rileks dan dengan satu tarikan nafas, aku mulai mengejan semampu yang kubisa. Aku kembali lemas. Menarik nafas dalam lalu menghembuskan nya perlahan. Om dirga masih berusaha menyemangatiku.


Dokter kembali memberi instruksi, begitu kurasakan kontraksi kembali datang, aku kembali mengejan hingga kurasakan baby ku meluncur keluar disertai dengan tangis nya yang nyaring memenuhi ruang persalinan.


Syukur alhamdulillah kupanjatkan.


Sungguh terasa sangat lega. Peluh sudah membanjiri seluruh tubuhku. Om dirga berkali kali mencium seluruh wajahku.


" terimakasih sayang... Terimakasih... Anak kita laki laki."


Aku masih bisa mendengar suara om dirga hanya saja aku terlalu lemas. Untuk membuka mata pun susah. Tapi segera kupaksakan. Begitu mataku terbuka, tampak seorang suster yang menggendong bayiku. Senyum tak mampu kusembunyikan.

__ADS_1


Aku bahagia. Sangat bahagia. Bahkan om dirga pun juga tampak berkaca kaca. Dan kebahagiaan juga tampak di wajahnya.


__ADS_2