Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Season 2 - Chapter 94


__ADS_3

" Aku ke kamar dulu, " pamit Je sebelum mamanya menahan agar ia lebih lama lagi bersama Cinta.


" Jangan lama-lama. Kita makan malam bersama. "


" Aku hanya ingin mandi , Ma. "


Camila mengangguk.


" Cinta ..." panggil Camila


" Ya tante. "


" Kamu jadi kuliah disini ?"


Cinta mengangguk. Memang ia akan melanjutkan kuliah di kota ini dan Cinta untuk sementara waktu akan tinggal bersama kakak nya , Karena rumah papanya yang ada disini masih dikontrakkan .


" Nggak terasa ya mbak Hana , anak -anak kita sudah pada besar semua, " celetuk Mila pada Hana.


Melihat Cinta , sejujurnya Camila berharap jika Je dan Cinta berjodoh . Jadi , jodoh Je tak perlu jauh-jauh. Jika dulu Je berharap pada Rea, akan tetapi setelah Je mengatakan jika mereka sudah berpisah , bahkan sampai detik ini Je tak lagi pernah mengenalkan perempuan kepadanya.


" Iya , dan kita sudah semakin tua . "


Hana  dan Mila saling pandang lalu saling melempar senyum. Keluarga Mila dan Dirga yang sudah seperti saudara terjalin hingga mereka menua.


****


Makan malam dua keluarga tampak ramai sekali , sayang sekali Sofia beserta suaminya tidak bisa hadir karena sedang ada acara. Je merasa beruntung karena tidak ada nya Bu Sofia. Karena Je tak akan bisa menebak bagaimana dengan hatinya seandainya Bu Sofia kembali hadir di hadapan nya.


Sementara itu , Cinta yang kali ini merasa tidak begitu menyukai Je, karena sikap Je yang arogan , lebih memilih diam dan hanya fokus menikmati makanan nya.


Hal itu sempat menjadi tanda tanya besar pada Je. Benarkah itu Cinta ? Kenapa Cinta dewasa sangat berbeda dengan Cinta saat masih kecil. Lihatlah bagaimana kelakuan Cinta kecil yang bahkan berani mencium pipi nya . dan sekarang Cinta yang sudah remaja , justru hanya diam dan mengacuhkan nya . Je menggelengkan kepala nya merasa aneh dengan perubahan sikap Cinta.


" Cinta, ayo makan yang banyak . " pinta Mila pada Cinta.


" Iya tante. "


Kali ini ternyata Dirga pun merasakah perubahan dari diri cinta.


" Cinta, sekarang kenapa tak banyak omong seperti dulu ? padahal om suka loh saat mendengar celotehanmu . "


Cinta hanya nyengir.

__ADS_1


" Sebenarnya tergantung sih , Om.


" Tergantung apa nya ?"


" Tergantung dengan siapa lawan bicaraku, Om. " jawab cinta sigkat.


Dirga terkekeh. Sementara Cinta, dalam hati ia berkata jika Jaghad lawan bicaranya maka dia tak akan banyak bicara. Mengingat bagaimana lelaki itu bersikap.


Selesai makan malam , para orangtua  sedang berbincang di ruang keluarga, sementara Cinta yang merasa bosan lebih memilih menyendiri di taman belakang , memainkan ponselnya.


" Ehem ."


Suara deheman membuat Cinta mendongak. Menatap Jaghad yang berdiri menjulang di hadapan nya.


Lalu pria itu ikut duduk di sebelah cinta. Suasana hening , karena Cinta memilih mengabaikan Je dan kembali menekuri ponselnya.


" Jadi, kau akan kuliah disini ?"


Cinta menoleh , merasa Je sedang bertanya padanya . " Ya, " jawab Cinta singkat.


Diam, keduanya saling membisu . Je , tak tahu harus berkata apalagi . Sebenarnya jika tidak karena mama nya yang memaksa dia untuk menemani Cinta , mungkin Je lebih memilih berdiam diri di dalam kamarnya.


" Apanya yang berubah ?"


" Dulu , kau itu cerewet sekali . Selain itu juga sangat agresif ."


Cinta tersentak , tentu saja dia malu . kenapa juga Je harus mengingatkan nya akan masa lalu . Iya , memang dia dulu sangat agresif jika bertemu dengan Jaghad. Suka sekali mencari perhatian pria itu.


" Itu kan dulu . Tingkah anak-anak yang kebanyakan halu . " Jawab Cinta sekenanya menyembunyikan rasa malu nya .


" Bahkan aku masih ingat saat kau mencium pipi ku. " Selanjutnya Je terkekeh. Tiba-tiba saja dia teringat saat Cinta dulu yang tiba -tiba mencium pipi nya. Dan hal itu masih saja diingat Je hingga sekarang.


" Kak , Kau jangan mengingatkan ku akan hal itu. Anggap saja itu hanya tingkah anak-anak . Aku jadi malu jika mengingatnya. "


" Ternyata kau punya rasa malu juga ?"


Cinta terhenyak lalu menatap Je tajam.


" Kak Jaghad, jangan menggodaku . "


pipi cinta sudah memerah menahan malu , dan janghad yag melihatnya merasa lucu. Pecahlah tawanya seketika .

__ADS_1


" Kenapa kak Jaghad menertawakanku . apanya yang lucu coba. "


Je menghapus jejak air mata di sudut matanya . Dia terdiam seketika. Mengingat sejak kapan dia bisa tertawa selepas ini . Rasanya Je tak pernah bisa tertawa sampai seperti ini jika bersama perempuan.


Je hanya bisa tertawa lepas jika sedang menertawakan papa nya yang sedang diomeli mamanya atau dia akan tertawa jika mamanya akan bercerita hal lucu tentang masa kecilnya.


Dan skearang , lihatlah dia bisa tertawa hanya karena melihat cinta yang merona pipi nya.


Astaga ! apa apaan dia .


Cinta yang merasa aneh dengan perubahan sikap Je langsung menatap intens pria disebelahnya ini.


" Kak Jaghad , kenapa diam ? "


Je menoleh menatap cinta lalu dia kembali menatap lurus ke depan. Cinta merasa ada yang tidak wajar pada jaghad. Sebentar tertawa lepas tapi detik selanjutnya langsung terdiam begitu saja.


" Tidak apa apa. Aku masuk dulu. Sebaiknya kau juga masuk karena angin malam tidak baik untuk kesehatan, "


Setelah mengatakan itu Je bangkit dari duduk nya dan secepat kilat meninggalkan Cinta. memilih masuk ke dalam kamarnya dan mengurung dirinya disana.


Camila yang melihat Cinta masuk ke dalam ruang keluarga hanya sendirian , merasa heran . Kemana perginya Jaghad ? karena tadi dia meminta jaghad menemani Cinta.


" Cinta , kesini sayang ...." pinta Camila


Cinta mengangguk lalu mendekat dan duduk di samping Camila.


" Kak Jaghad nya mana ?"


Cinta mengedikkan bahu , karena dia tidak tahu dimana pria itu setelah meninggalkan nya tadi.


" Tidak tahu tante . Mungkin di kamarnya."


Camila menghela nafas, sebenarnya Camila hanya ingin mengakrabkan putranya dengan Cinta. Dan berharap ada kecocokan diantara mereka , dan siapa tahu lagi jika ada jondoh antara Jaghad dengan Cinta.  Hanya saja mengingat bagaiamana hubungan keluarganya dengan keluarga Cinta , rasanya tak etis jika setelah mereka besar tapi hubungan nya menjadi renggang .


Apalagi Je yang tak pernah bisa dekat dengan perempuan. Tidak ada salahnya jika Je mau dekat  dengan cinta . Camila yang merasa khawatir karena perempuan yang dekat dengan Je hanya Kenzi saja .


Akan tetapi sepertinya usaha Camila juga sia sia karena nyatanya Je juga tak mau menemani Cinta.


Sementara itu didalam kamarnya , Je yang sedang bersandar pada kepala ranjang. Dia tidak mau terlalu larut akan pemikiran nya tentang tawa yang tadi sempat terlepas hanya karena Cinta. Tidak. Dia tidak boleh berpikir hal yang aneh aneh tentang Cinta.


Cinta tetaplah cinta , gadis dengan tingkah diluar batas yang hanya akan membuat Je sakit kepala.Dan Je tak akan mau lagi terlibat dengan gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2