Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Season 2 - Chapter 32


__ADS_3

Pintu kamar mandi terbuka, sosok Camila dengan menggosok rambutnya yang masih basah keluar dari dalam nya.


Dirga mendongak menatap istri nya sekilas. Camila duduk di depan meja rias, menyalakan hair dryer untuk mengeringkan rambutnya.


Mulut Dirga sudah gatal ingin bertanya, tapi dia masih setia menunggu hingga istrinya selesai dengan aktifitas nya.


Camila menatap suaminya dari cermin besar dihadapan nya. Wajah suaminya yang sesekali menatap ke arah nya membuat Camila yakin jika ada hal yang akan ditanyakan suaminya. Dan Camila memilih menceritakan saja sebelum suaminya bertanya.


Rambut panjang nya yang berantakan sudah ia sisir dengan rapi. Lalu dia beranjak menuju ranjang. Jika biasanya ia akan berbaring di samping Je kali ini tidak ia lakukan. Dia mencium kening dan pipi Je. Lalu beringsut mendekati Dirga. Kedua lengan nya dilingkarkan di pinggang sang suami dengan kepala bersandar di dada papa Dirga.


" Pa...."


" Tadi sayang pulang dengan siapa? Dokter Rasya."


Anggukan kepala Camila terasa di dada Dirga.


" Kenapa harus pulang dengan dokter Rasya. Mobilmu kemana?"


Camila melepas pelukan nya di tubuh Dirga. Duduk menghadap suaminya.


" Pa, dengarkan aku. Jadi, selesai kuliah tadi, mobilku tiba - tiba tidak mau menyala. Entah kenapa, dan mungkin saja karena sudah lama tidak aku pakai. Lalu aku berniat menelpon mu, Pa. Tapi ternyata ponsel ku mati. Aku bingung mau ngapain. Akhirnya aku berniat mencari taxi di depan kampus. Dan disaat itulah dokter Rasya lewat dan menawariku bantuan. Aku sudah menolak tapi dia memaksa. Aku pikir lagi karena sudah malam dan jalanan sangat sepi. Aku takut sendirian dan takut jika ada orang jahat. Ya sudah aku mencari aman saja. Ikut di mobil dokter Rasya. "


Dirga menghela nafas setelah mendengarkan penjelasan Camila yang panjang lebar. Di rengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukan nya. Menghadapi Camila, selalu tidak bisa membuat nya marah.


" Jangan lakukan hal itu lagi. Sayang tahu, bagaimana panik nya aku. Berkali - kali aku hubungi tapi ponsel mu mati. Jika tadi kutunggu setengah jam lagi sayang tidak pulang juga, aku sudah berencana menyusul sayang ke kampus."


" Maafkan aku, Pa."


" Apalagi saat aku tahu sayang bersama dokter Rasya, rasanya membuatku semakin emosi saja. Kau tahu sayang, aku tidak suka dengan dokter Rasya. "


Camila kembali melepaskan diri dari pelukan suaminya. Dia, sendiri juga kaget mendapati suaminya yang ternyata tidak menyukai Rasya.


" Papa tidak suka dengan dokter Rasya? "

__ADS_1


" Ya. "


" Kenapa? "


" Karena... Ya intinya aku tidak suka. Dokter itu terlihat..." Dirga menjeda ucapan nya. Membuat Mila semakin penasaran saja.


" Sepertinya si Rasya itu suka sama kamu sayang."


Deg


Ah, ternyata suaminya pun merasakan. Pikir Camila dalam hati.


" Astaga, Pa. Jangan berpikir yang macam - macam Pa. Lagi pula aku ini bukan wanita single. Mana mungkin dokter Rasya menyukaiku. Ada - ada saja. "


Iya, pada akhirnya Camila lebih memilih menenangkan sang suami agar Dirga tidak terlalu banyak berpikir tentang Rasya. Biar dia saja yang menghadapi Rasya jika seandainya lelaki itu kembali menggoda nya.


" Ya sudah. Sebaiknya sayang istirahat. "


***


Rasya, lelaki itu masih berdiam diri di dalam mobil nya. Berhenti tak jauh dari rumah Camila. Seperti nya Rasya memang harus melakukan itu. Mencari tahu tentang siapa suami Camila. Yang jelas lelaki itu pasti bukan orang biasa - biasa saja. Satu kali bertemu tak membuat Rasya bisa langsung menilai tentang sosok suami Camila.


Terlebih di pertemuan tak disengaja dengan suami Camila waktu itu, lelaki yang mengenalkan diri kepadanya bernama Dirga, hanya berpenampilan biasa - biasa saja. Tapi siapa sangka jika seorang Dirga mempunyai rumah mewah di kawasan elit seperti ini. Hanya orang - orang berkantong tebal yang mampu membeli rumah di daerah ini.


Rasya menelpon seseorang, meski dia baru kembali lagi ke Indonesia setelah sekian lama berada di luar negeri, akan tetapi jika untuk mencari seorang detektive atau orang suruhan bagi Rasya adalah hal yang sangat mudah.


" Hallo, cari tahu tentang seseorang bernama Dirga... Aku tidak tahu siapa nama lengkap nya. Yang jelas dia tinggal di daerah......"


"........."


" Oke, aku tunggu info secepatnya."


Panggilan telpon ia tutup. Seringaian muncul di sudut bibirnya.

__ADS_1


Camila, bagaimana caranya untuk mendapatkanmu?


Argh.... Rasya memukul stir mobil nya. Memandang rumah dua lantai yang tak jauh darinya.


Teringat bagaimana tadi dia menyuruh seseorang untuk sengaja merusak mobil Camila, hingga mobil wanita itu yang tak bisa dijalankan.


Berpura - pura menjadi dewa penolong dan seolah semua memang suatu kebetulan. Hebat nya lagi, Camila tak bertanya kepada nya, bagaimana bisa secara kebetulan ia bisa lewat di tempat yang sama dengan dimana wanita itu berada.


Setelah acara pelantikan nya tadi sore, secara diam - diam Rasya mengikuti kemana Camila pergi karena wanita itu tampak terburu - buru. Dan ternyata Camila munuju ke sebuah universitas. Dari sana juga Rasya mencari tahu semua tentang dokter Camila yang sedang mengambil spesialis.


Semua dia rencanakan dengan sebaik - baiknya, tanpa sedikitpun ada cela. Camila, perempuan itu yang sudah membuatnya gila. Bahkan Rasya rela melakukan apapun.


Ponsel di saku celana nya berdering. Rasya pikir, orang suruhan nya yang menelpon. Ternyata bukan. Dokter Hendra lah yang menelpon.


" Ada apa Om."


" Kau dimana?"


" Aku ada sedikit urusan om."


" Kau ini. Seharusnya, setelah acara tadi, om berencana akan mengenalkan mu dengan orang orang penting tapi kau menghilang entah kemana."


" Maafkan aku Om."


" Sekarang, cepat lah pulang. Ada hal penting yang ingin om sampaikan padamu. "


" Baik, om. "


Jika bukan karena om Hendra adalah satu - satu nya keluarga yang ia punya, mungkin dia juga tidak akan menurut dengan lelaki paruh baya itu.


Dengan terpaksa Rasya mulai menjalankan mobil nya meninggalkan area kawasan perumahan dimana Camila tinggal. Jika dua tidak segera datang bisa dipastikan om Hebdra akan mengomeli nya sepanjang masa. Salah dia sendiri tadi dia pergi tanpa pamit. Dan seharusnya acara yang digelar oleh Rumah Sakit adalah untuk dirinya. Tapi dengan bodoh nya Rasya justru memilih pergi meninggalkan acara hanya demi mengejar Camila.


Camila Wijaya, lama - laba dia semakin gila karena terus mengikuti hawa nafsu yang semakin kesini semakin susah untuk ia kendalikan. Andai Allan tahu aoa yang telah dilakukan nya hari ini pada Camila, sudah pasti Allan akan mencincang nya habis - habiskan. Allan adalah salah satu orang yang sangat tidak mendukung keinginan gilanya untuk mengejar - ngejar Camila.

__ADS_1


__ADS_2