
Je sudah diizinkan pulang meski masih ada beberapa luka yang belum kering sepenuhnya. Balita itu tampak riang gembira. Apalagi ada kenzo dan kenzi yang ikut menjemput nya di rumah sakit.
Sesampainya di rumah Je sudah berlarian mengelilingi seluruh penjuru rumah. Betapa bahagia nya dia setelah hampir sebulan lamanya meninggalkan rumah.
" Mama, apa Je sudah boleh sekolah lagi." tanya balita itu pada sang mama.
" Boleh. Kalau je sudah benar benar pulih. Nanti je bisa pergi sekolah lagi."
" Je rindu kawan kawan. Je rindu ibu guru."
" Tapi je harus janji sama mama. Je tidak boleh lagi berlarian keluar dari gerbang sekolah seperti dulu lagi."
" Iya mama. Je janji. "
Sejujurnya Camila masih enggan membiarkan je pergi ke sekolah mengingat kejadian kecelakaan je yang membuat rasa trauma tersendiri di hati Camila.
Tapi apa iya Camila harus melarang Je untuk kembali ke sekolah. Dia harus membicarakan hal ini pada papa Dirga. Bagaimana sebaiknya mengenai Je ini.
" Je jangan main terus. Je ingat pesan dokter. Harus banyak istirahat agar kondisi je segera membaik."
" iya mama."
Mbak Hana menemani Je, Kenzo dan Kenzi tidur siang. Sementara Bunda dan Danisha sedang memasak.
Camila masuk ke dalam kamar mencari keberadaan suaminya.
Di dalam kamar suaminya sedang sibuk menekuri laptop nya. Camila menimbang nimbang, apakah dia membicarakan masalah Je sekarang atau nanti saja.
" Pa, lagi sibuk?"
" iya sayang... Banyak file yang ditunggu oleh Ferdy buat meeting siang ini."
Camila mendekati suaminya memijit bahu suaminya. Kasihan papa Dirga ini sudah harus bekerja keras untuk nya juga untuk Je. Tapi dirinya hanya untuk menjaga Je seorang saja dia tidak mampu. Sampai sampai membuat Je celaka. Camila merasa gagal menjadi seorang ibu untuk Je.
" Mau aku buatin kopi Pa?"
Dirga mendongak. " boleh kalau tidak merepotkan."
" apanya yang merepotkan. Tidak sama sekali. Tunggu sebentar Pa."
Camila keluar kamar langsung menuju dapur.
" bunda masak apa."
" sayur asem sama ikan goreng. Bentar lagi mateng. Dirga nya mana."
" masih di kamar sibuk kerja. Ini minta dibuatkan kopi. "
Camila mulai meracik kopi untuk suaminya.
" setengah jam lagi makan siang siap. Suruh keluar Dirga nya."
" Baik bun. "
Camila membawa cangkir kopi ke dalam kamar nya. Di berikan langsung pada Dirga.
" masih hangat buruan Diminum Pa. "
" terimakasih sayang."
Dirga menyesap kopi buatan istrinya. Lalu mulai meregangkan otot otot tubuhnya yang terasa kaku. Sejak menjemput Je dari rumah sakit tadi, Dirga langsung mengurung diri di dalam kamar nya. Sebenarnya hari ini dia ada meeting penting dengan klien. Okeh karna itu semua tugas tugas nya ia limpahan pada Ferdy. Dan Dirga harus memberikan semua berkas berkas serta semua bahan untuk presentasi agar bisa dipelajari oleh Ferdy.
" oh ya pa. Setengah jam lagi maksn siang siap. Papa keluar ya...."
" iya. Aku mau menyelesaikan ini tinggal sedikit lagi."
" baiklah aku keluar dulu. Bantu bunda menyiapkan makan siang."
Dirga tersenyum menatap kepergian istrinya.
****
Makan siang kali ini terasa ramai karena hadirnya bunda juga kak Danisha. Mereka makan berempat dengan menu makanan hasil olahan tangan bunda Anyelir. Camila selalu suka dengan semua yang dimasak oleh tangan bunda nya.
" Sayang makan yang banyak. Di rumah sakit makan mu hanya sedikit."
" iya pa rasanya aku ingin melahap habis semua makanan ini."
Bunda dan Danisha hanya tertawa. Pasalnya selama di rumah sakit Camila hanya memakan makanan apa adanya. Terkadang makanan dari kantin rumah sakit atau makanan yang dibawakan oleh papa Dirga. hanya saja rasa makanan nya juga berbeda ditambah makan nya dengan melihat je yang sedang sakit semakin membuat Camila tidak berselera makan.
Camila menikmati makan nya dengan lahap. Bunda yang melihat nya pun tampak senang. Di sela makan nya Camila teringat akan permintaan Je yang ingin sekolah lagi.
" Eum... Pa. Tadi Je tanya. Apa dia masih boleh sekolah lagi."
Dirga menghentikan suapan nya. Lalu menatap Camila.
" Sebenarnya aku sedikit khawatir. Tapi kasihan juga baru sebentar merasakan nikmatnya sekolah masak iya kita sudah harus melarangnya."
" jadi... "
__ADS_1
" jadi ya biarkan saja je tetap sekolah. Tapi sayang harus menjaga nya bagaimana."
" bunda setuju dengan Dirga. Biarkan je tetap sekolah asalkan kamu yang harus menjaga dan mengawasi Je. "
" baiklah bun. Memang seharus nya penjagaan dan pengawasan je itu adalah tugasku. "
" Ya kamu benar. Sudah ayo makan yang banyak. "
Camila kembali menekuri makanan nya. Seharus nya ia berkaca pada kakak iparnya yang sanggup menjaga dan menjadi ibu yang baik bagi kenzo dan kenzi tanpa harus repot repot memikirkan karir. Mungkin Camila harus mulai berdamai dengan dirinya sendiri. Menyingkirkan segala ego nya demi putra semata wayangnya. Dulu saat ia tidak bekerja camila juga merasa baik baik saja meskipun ada sedikit rasa bosan. Itu karena Camila terbiasa bekerja. Tapi begitu dia tak lagi bekerja insyaallah rasa bosan itu akan terkalahkan dengan kelucuan je.
***
Sore harinya Bunda, Danisha, kenzo dan kenzi berpamitan pulang. Je sudah menangis meraung raung melarang saudara nya untuk pulang. Dia masih betah bersama mereka dan tidak mau jika berpisah dengan kenzo dan kenzi.
" Besok kak kenzo kesini lagi. Je jangan bersedih ayo diam tidak boleh menangis. Kalau je menangis nanti sakit lagi, disuntik sama om dokter lagi."
Balita itu akhirnya menurut juga perlahan tangis nya pun mereda.
" je tidak mau kan tidur di rumah sakit lagi. "
Balita itu menggeleng.
" kalau seperti itu jangan menangis dan nurut sama mama untuk tidak bandel. "
Balita itu mengangguk lalu menelusupkan kepala nya di bahu sang mama.
Kenzo dan kenzi akhirnya pulang juga. Camila membawa je masuk lalu membuatkan susu dan membawa je ke dalam kamar putranya, menemani je minum susu.
Tok... Tok...
Mbak Hana masuk ke dalam kamar tidur Je.
" Bu, ada tamu diluar."
" tamu? Siapa?
" eum... Itu... Dokter Rasya. "
" Dokter Rasya? Ngapain? "
" nggak tahu bu."
" aduh mau ngapain coba dokter itu. Mana Je mau tidur lagi. "
Gerutu Camila.
" eum... Mbak Hana tolong temani Je ya. Dia nya sudah mau bobok ini."
Dengan perlahan Camila turun dari atas ranjang lalu keluar dari dalam kamar putra nya. Jika menemui dokter Rasya dia harus mengajak serta suaminya. Camila menuju dimana kamarnya berada. Suami nya masih saja sibuk dengan pekerjaan.
" Pa...."
Dirga mendongak melihat istrinya yang datang dengan sedikit tergopoh gopoh.
" Ada apa sayang...."
" diluar ada tamu."
" tamu"
" tamunya siapa?"
" Dokter Rasya ada di depan."
" ngapain? Oh atau mungkin hanya mau menjenguk Je."
" je kan baru tadi pagi keluar Rumah sakit. Jangan mengada ngada deh Pa."
" lha terus."
" Ya ngga tahu."
" Ya sudah ayo kita temui. Siapa tahu penting. "
" semoga saja dia tidak membawa berita atau hal yang aneh aneh. "
" semoga saja. Ayo. "
Dirga merangkul bahu camila. Mereka berdua memasuki ruang tamu langsung disambut oleh dokter Rasya.
Dokter Rasya langsung beranjak berdiri begitu sang tuan rumah menampakkan diri. Rasya pikir mereka tidak mau menemui nya karena cukup lama tadi ia menunggu hingga Dirga dan Mila keluar.
" Selamat sore pak Dirga, dokter Mila."
" sore dokter Rasya. Ayo silahkan duduk."
Dirga mempersilahkan dokter Rasya untuk duduk kembali. Lalu Dirga bersama Mila duduk di satu sofa yang sama. Hati kedua nya sudah harap harap cemas menanti apa maksud kedatangan dokter Rasya ke rumah mereka.
" pak Dirga, dokter Mila saya mohon maaf jika kedatangan saya ini mendadak dan tidak memberitahukan sebelum nya. Ah ya bagaimana kabar je hari ini. Apakah ada keluhan."
__ADS_1
Dirga dan Mila saling pandang. Sedikit terheran dengan arah pembicaraan dokter Rasya.
" Alhamdulillah Je hari ini baik baik saja, anteng dan tidak rewel. " jawab Dirga.
" baguslah kalau seperti itu. Eum... Pak Dirga, jadi maksud kedatangan saya kemari ini saya ingin meminta ijin pada pak Dirga untuk.... Oh maaf pak mungkin bapak takut jika saya akan membahas tentang dokter Mila. Tapi untuk kali ini tidak. Jadi saya bermaksud untuk mengajak hana menemani saya di acara pernikahan nya Allan minggu depan. Apakah pak Dirga mengizinkan. "
Dirga seperti orang cengo, ini apakah yang Rasya bicarakan benar adanya atau hanya pura pura. Sementara Camila, perempuan itu memang dari awal sudah tahu bagaimana dokter Rasya terus saja mendekati mbak hana.
Dirga menatap Camila. Tapi camila hanya mengedikkan bahunya.
" Pak Dirga, saya tahu jika saya punya banyak salah dengan keluarga pak Dirga terutama pada dokter Camila. Saya sudah menyadari kekeliruan saya. Dan sekarang saya akui jika saya tertarik dengan hana bukan karena sebab apapun. Anda boleh berpikir jika saya mungkin ingin menaruh dendam atau apalah.... Tapi sungguh. Saya sudah menyadari semua kekeliruan saya di masa lalu. "
Rasya terdiam sesaat.
" sebenar nya saya malu. Malu karena pernah punya perasaan yang tidak semestinya pada dokter Camila. Tapi perasaan itu datang dengan sendirinya. Dan begitu melihat bagaimana perjuangan kalian dalam menyelamatkan Je membuat saya langsung tersadar jika saya tidak berhak mrncerai beraikan keluarga anda. Saya sungguh sangat menyesal. Dan saya minta maaf untuk kekilafan saya. "
Dirga menghela nafas nya. Meraih jemari istrinya.
" Dokter Rasya, semua yang sudah terjadi biarlah terjadi. Yang pasti sekarang dokter Rasya sudah menyadari semua kekilafan dan kesalahan yang pernah dokter Rasya lakukan. Saya pun juga sudah melupakan nya meski tak saya pungkiri jika saya sempat was was jika dokter akan bertindak lebih pada istri saya. Tapi kembali lagi saya percaya pada istri saya bahwa dia bisa menjaga diri dengan sebaik baiknya. "
" dan mengenai hana apakah anda serius dengan nya? "
" saya rasa saya serius dengan nya pak Dirga. Saya tertarik pada hana sejak pertama jumpa. "
" jika seperti itu yang anda harus tau dulu, hana itu bukanlah wanita single. Tapi janda dengan satu orang anak. Jadi sebelum anda melangkah terlalu jauh yakinkan dulu hati anda. Sebelum nantinya anda mengecewakan hana. "
" Saya tidak masalah itu pak Dirga. Sekalipun hana itu adalah seorang janda niat saya tetap bulat untuk ingin lebih dekat dengan nya. "
" baiklah jika memang seperti itu saya tidak keberatan jika anda memang serius menyukai hana. "
" jadi apakah saya diijinkan untuk membawa hana ke pernikahan dokter Allan. "
" jika itu biarkan hana yang memutuskan. "
" saya sudah pernah mengajak nya. Tapi dia menolak saya. Saya rasa mungkin saja hana takut pada anda juga dokter Camila. Oleh karena itulah saya memberanikan diri untuk datang kesini menemui anda berdua.
" Ya sudah begini saja dokter Rasya. Nanti biarkan saya yang berbicara pada mbak hana. Pada saat acara nanti dokter Rasya tinggal datang menjemput nya. Bagaimana?" tawar Camila.
Dokter Rasya mengangguk setuju.
"Baiklah terimakasih bantuan nya dokter Camila."
" sama sama dokter Rasya."
" jika seperti itu saya pamit dulu. Selamat sore. Sampaikan salam saya buat Hana."
" Baik dokter Rasya. Akan kami sampaikan salam and pada mbak hana."
***
Malam ini Je tampak ganteng dengan setelah tuxedo nya serasi dengan apa yang dikenakan papa Dirga. Sementara itu Camila tak kalah cantik dan anggun nya dengan baju terusan berwarna peach dan jilbab dengan warna senada.
" anak mama ganteng sekali." Camila mengusap bekas luka Je yang mulai mengering. Meskipun terdapat beberapa luka tak mengurangi kadar ketampanan putranya.
" Ma, kalau papa ganteng tidak?" Dirga menaik turunkan alisnya menggoda Camila.
" kalau papa jangan ditanya. Lelaki paling ganteng sedunia. Siapapun lewat."
Camila terkikik. "Mama juga sangat cantik malam ini."
" eum... Pa, kira kira mbak hana sudah siap atau belum ya."
" Ya sudah kita keluar. Siapa tahu mbak hana sudah menunggu kita."
" ayo."
Je berada di dalam gendongan Dirga sementara Camila melingkar kan tangan nya di lengan sang suami.
Sampai di luar ternyata mbak hana sudah siap. Camila tersenyum sumringah. Baju yang ia pilihkan untuk mbak hana sangat pas dan sesuai.
" wah, mbak hana cantik sekali."
" ibu ini bisa saja."
" iya beneran."
Jika tidak karena paksaan Camila mungkin mbak hana tetap keukeh untuk tidak mau ikut. Dirga pun ikut ikutan meyakinkan mbak hana jika dokter Rasya hanya ingin mengenal mbak hana lebih dekat lagi. Dan tidak ada salah nya memberi kesempatan pada orang yang punya niat baik. Dan akhir nya mbak hana menyetujui.
Mobil dokter Rasya memasuki pelataran rumah Dirga. Mereka semua keluar. Dokter Rasya juga keluar dari dalam mobil nya. Sempat terkejut mendapati hana yang tak kalah cantik dari Camila. Cinta itu memang aneh. Dulu bagi Rasya Camila adalah segala nya. Tapi sekarang posisi camila bisa tergantikan begitu saja.
Mbak hana ikut di satu mobil bersama dokter Rasya. Sementara Dirga membawa mobil nya sendiri mengiringi mobil dokter Rasya.
" Pa semoga apa yang dikatakan dokter Rasya itu benar adanya ya...
" iya semoga memang hana lah jodoh nya dokter Rasya. "
" aku juga berharap hal seperti itu. "
" sebenarnya dokter Rasya itu orang yang baik. Hanya saja karena dia terlalu jujur pada orang sampai sampai membuat orang lain ketakutan padanya."
__ADS_1
" aku sih berharap dokter Rasya benar benar menikahi hana dan mereka hidup berbahagia. "