
Lima tahun berlalu,
Sejak kejadian Camila keguguran lima tahun yang lalu, hingga detik ini mereka belum dikaruniai seorang anak lagi. Jadilah Je menjadi anak tunggal mereka. Baik Dirga juga Camila sudah ikhlas jika memang mereka belum diberi kesempatan untuk memiliki adik untuk Je.
Jaghad atau yang biasa mereka sebut Je, usianya sudah menginjak sembilan tahun. Dan saat ini lelaki kecil itu sudah bersekolah di Sekolah Dasar kelas tiga. Sudah besar memang, dan selama ini Je tak pernah menuntut pada Papa dan Mama nya untuk memberinya adik lagi. Je sudah merasa nyaman menjadi anak tunggal Mama ila dan papa Dirga.
Camila, wanita itu saat ini telah kembali lagi bekerja di sebuah Rumah Sakit swasta. Bukan Rumah Sakit kepunyaan dokter Rasya. Sebenarnya Camila pernah menerima tawaran dari tempat kerjanya yang lama , akan tetapi mengingat dokter Rasya Camila masih sedikit trauma dan enggan untuk menerima tawaran tersebut. Sekalipun dokter Rasya telah menikah sekarang. Iya pada akhirnya dokter Rasya menikah dengan seorang wanita yang juga berprofesi sebagai dokter. Wanita yang dulu pernah sekali Camila jumpai saat tak sengaja mereka makan malam disebuah resto .
Dirga pun tidak keberatan istri nya kembali bekerja satu tahun yang lalu. Dan dia selalu mendukung apa saja yang istrinya lakukan.
Malam ini mereka sedang makan malam bersama. Ada Dirga, Mila dan Je. Disaat mereka sedang menikmati makanan, dikejutkan dengan Asisten Rumah Tangga mereka yang mengatakan sedang ada tamu.
" Biar aku saja yang kedepan." ucap Dirga. Camila pun mengangguk meneruskan makan nya bersama Je.
Dirga beranjak berdiri meninggalkan makannya yang masih tersisa. Tiba di ruang tamu ia dikejutkan dengan kehadiran Daffi Juliandra.
"Daff! Kau datang?"
Daffi mendongak lalu berdiri. Mereka berdua berpelukan. Cukup lama mereka tidak bertemu.
"Apa kabar?" tanya Dirga lagi.
" Aku baik. Seperti yang kau lihat."
Dirga terkekeh pasalnya Daffi yang sekarang semakin gemuk dimata Dirga.
" Ayo, kita makan malam. Kebetulan Mila dan Je sedang makan."
Daffi yang berusaha menolak tetap dipaksa oleh Dirga. Dibawa nya lelaki itu ke meja makan.
" Sayang! Lihat siapa yang datang!" teriak Dirga.
Camila, wajah perempuan itu berbinar melihat kedatangan Daffi.
" Kak Daffi! Kenapa datang tidak memberi kabar. Ayo duduk lah. Kita makan," ucap Camila
" Uncle Daffi!"
" Hai boy... Apa kabarmu?"
__ADS_1
" aku baik."
" Ayo Daff. Makan lah. Jangan sungkan."
"Aku baru datang, kalian sudah menodongku makan malam. Baiklah.kalau begitu."
Daffi terkekeh, tak ayal dia pun mengisi piring nya dengan makanan yang tersedia.
Suasana makan malam semakin rame dengan kehadiran Daffi.
Setelah makan malam usai, mereka berkumpul di ruang keluarga.
" Kau tidurlah disini malam ini, " tawar Dirga. Tapi Daffi menggeleng.
"Aku sudah chek in di hotel. Barangku juga ada disana. Aku tidak lama berada disini karena besok siang aku mau pulang kampung. Bertemu ayah dan bundaku."
" Ada hal apa sampai kamu pulang kampung segala. Bukan kah lebaran masih lama?" tanya Dirga.
Daffi tergelak. Dirga ini selalu tahu kebiasaan nya. Semenjak di Jakarta, Daffi hanya akan pulang ke rumah kedua orang tuanya saat lebaran tiba. Dia hampir tidak pernah pulang ke kampung halaman nya karena kesibukan nya mengelola perusahaan kakak ipar nya. Justru ayah dan Bunda nya yang sering mengunjungi nya di Jakarta.
" Ada hal penting yang harus aku lakukan." jawab Daffi singkat.
Daffi menatap Dirga juga Mila bergantian. Je sudah masuk ke dalam kamarnya dan tidak ikut mengobrol dengan orang - orang dewasa.
" Jadi, Kakak ku beserta keluarga nya sudah berencana untuk kembali tinggal di Jakarta. Kakak iparku memberi tawaran padaku. Kita tukar tempat. Kak Malvin pulang ke Jakarta dan kembali menghandel perusahaan nya yang sekarang aku pegang. Sementara itu, aku diberi tawaran untuk beralih menghandel perusahaan Kak Malvin yang ada di London. "
" Jadi maksudnya kalian tukar tempat. Kakakmu ke Jakarta dan kamu yang pindah ke London. "
" Tepat sekali. Bahkan Matt, rekanku yang selama ini membantu ku, sudah lebih dulu dipindah ke London. "
" Dan kau menerimanya. "
" Ya. Ini sebuah tantangan dan aku tak akan menyianyiakan."
Mereka terdiam, tapi tiba-tiba saja Camila berkata.
" Kuharap kak Daffi bisa bertemu dengan Nathalie disana nanti. "
Daffi hanya terkekeh. Pasalnya berkali kali dia mendatangi kakak nya di London, tak sekalipun Daffi pernah bertemu dengan Nathalie. Padahal wanita itu sudah menetap dan tinggal di London.
__ADS_1
Yang membuat Daffi sedikit kecewa, dulu saat Danu pernah memberitahu nya saat Nathalie tinggal tak jauh dari flat Danu, Daffi mengabaikan nya dan tak menanggapi nya. Dan setelah Danu kembali ke Indonesia dan menetap di Indonesia, Daffi yang kebetulan sedang mengunjungi kakak nya di London, teringat akan info yang dulu Danu pernah berikan. Tapi ternyata hasilnya nihil. Nath sudah pindah tempat.
Daffi menghela nafas hanya mengingat saudara perempuan Camila.
"Aku tak berharap banyak pada Nathalie."
"Jika seperti itu, lupakan saja Nathalie. Kau harus mulai menata hatimu. Sampai kapan mau melajang hah?" ucap Dirga.
Daffi hanya mengedikkan bahu.
" Ingat Daf, usiamu itu bertambah terus setiap tahun nya," ucap Dirga lagi.
Daffi menyelam semua omongan Dirga. Benar apa yang Dirga ungkapkan. Setiap tahun dirinya semakin tua. Bahkan sekarang menginjak angka tiga puluh lima, tak ada niatan di hati Daffi untuk berumah tangga. Padahal Camila dan Dirga saja sudah memiliki anak yang menginjak remaja.
" Entahlah, aku itu susah menjalin cinta dengan wanita manapun. Selalu kandas di tengah jalan."
Camila hanya menanggapi dengan senyuman.
" Kak Daffi, kuharap Kak Daffi segera menemukan jodoh nya. Siapa tahu saat Kak Daffi pindah ke London, disana mendapat jodoh. Bukan kah Kak Daffi itu suka ya dengan wanita Bule? " ucapan Camila mbuat Daffi terkekeh.
Istri Dirga ini masih ingat saja jika dirinya sangat terobsesi dengan wanita Bule.
" Ya semoga saja aku dapat jodoh wanita Bule. "
Setelah mengatakan itu, Daffi tergelak. Bahkan Dirga dan Camila pun ikut tertawa.
Hingga tak terasa obrolan mereka sudah terlalu panjang. Daffi menatap jam dinding yang menempel di ruang keluarga rumah Dirga. Hampir jam sebelas malam.
" Ternyata sudah malam rupanya. Aku pamit dulu ya. Kapan-kapan aku mampir kesini lagi," pamit Daffi.
"Kak Daffi nginap saja disini. Lagi pula ini sudah malam."
" Nggak papa. Masih banyak taxi. Aku harus balik hotel."
Dirga dan Camila tak berhasil memaksa Daffi. Dan Daffi tetap ngotot untuk kembali ke hotel. Pasalnya Daffi sudah memesan travel untuk besok siang. Jika menginap di Rumah Dirga, Daffi takut telat besok.
" Ya sudah, Kak Daffi hati - hati ya. "
Daffi mengangguk. Taxi yang ia pesan sudah siap di depan rumah Dirga. Lalu Daffi berpamitan pada kedua nya.
__ADS_1
"Aku balik dulu. Selamat malam. Salam untuk Je."