

Dirga POV
Lega rasanya mendengar jawaban yang terlontar dari mulut gadis yang baru sore tadi kulamar. Aku tersenyum mengingat kembali jika satu bulan lagi aku akan menikah dengan nya.
" woi Dirga..... My soulmate. Lagi seneng nih kayaknya. Senyam senyum sendirian..... Ecie...." Daffi menggodaku.
Aku yang sedang duduk di dalam ruang kerjaku di night club ini terjengkit kaget. Tiba-tiba saja Daffi masuk tanpa permisi. Sejak kepulangan ku ke Surabaya baru kali ini aku bertemu dengan nya. Karena Daffi sendiri sedang berada di Malang. Tidak setiap hari dia datang ke club karena menurut cerita yang pernah dia sampaikan padaku, saat ini dia lagi fokus menyelesaikan skripsinya yang sempat tertunda.
" kapan datang." tanyaku. Aku berdiri dan kami berdua berpelukan. Maklumlah sudah lama sekali kita tidak pernah bertemu. Kita berdua hanya bertukar kabar lewat telpon atau video call.
" barusan...... Gue kangen sama elu. Kangen perform berdua bareng elu." Daffi nyengir dan melepaskan pelukan kami.
Jujur sudah lama sekali aku ga tampil berdua bareng Daffi. Mungkin malam ini aku bisa nemenin Daffi selagi mood ku lagi sangat baik.
Teringat ucapan Camila sore tadi, kuputuskan untuk tak bercerita apapun pada Daffi mengenai rencanaku yang akan menikahi Camila. Meskipun Daffi ini teman baiku tapi aku sudah berjanji pada Camila untuk merahasiakan tentang rencana pernikahan kami pada siapapun.
Dan sepertinya tidak hanya pada Daffi tapi pada Danu juga kalau aku tidak ingin Danu merusak semua rencana pernikahan ku.
Tadi aku belum sempat bicara banyak pada mama karena setelah acara lamaran tadi aku langsung pergi ke club ini. Aku hanya memberitahu mama tentang syarat pertama yang diajukan Camila yaitu pernikahan tertutup yang hanya diketahui dua keluarga tanpa orang lain tau. Selebihnya aku tidak mungkin memberitahukan mama jika aku tidak ingin beliau shock.
Mungkin besok pagi aku harus berbicara pada mama dan papa, meluruskan semua tentang rencana pernikahan ku dan Camila.
Flasback beberapa jam yang lalu
" jadi, bagaimana?" tanyaku harap-harap cemas.
Kulihat Camila sempat menutup matanya sebentar, mengambil nafas dalam dan menjawab Pertanyaan ku.
" ya.... Aku terima lamaran om Dirga."
" alhamdulillah" ucapku penuh syukur
" tunggu dulu."
" tunggu apalagi...." aku yang tadinya merasa sangat lega jadi kembali cemas. Kutatap lekat wajah Camila
" om Dirga jangan senang dulu. Aku mau menerima lamaran om tak lain dan tak bukan demi mama om. Seperti yang om minta tadi. Semua demi mama. Jadi, ada syarat yang harus om penuhi sebelum menikahi ku."
" syarat?" aku mengernyit. Kenapa mau menikahi nya saja harus ada syarat segala." syarat apa yang kamu minta Mila. " tanyaku.
" pertama, pernikahan ini hanya akan dilakukan secara sederhana. Hanya diantara keluarga kita. Maksudku hanya keluarga kita yang tau. Aku ingin status pernikahan ini tidak diketahui oleh publik. Karena apa? Ya karena aku belum siap menikah. Seperti yang tadi aku katakan pada om. Aku tidak ingin status pernikahan ini akan menghambat jalan hidupku dan cita citaku. Biarkan hanya kita dan keluarga kita yang tau. Dan orang lain tidak perlu tau akan hal ini. "
" tunggu dulu. " aku menyela ucapan nya karena menurutku tidak masuk akal dengan permintaan nya barusan.
" Mila sayang..... Namanya orang menikah itu perlu orang lain tau terutama RT, RW dan lain nya serta petugas KUA. Karena aku akan menikahimu secara sah dimata hukum dan negara bukan secara siri. Oke aku terima permintaanmu. Kita akan menikah secara sederhana. Cukup ijab qabul tanpa resepsi. Hanya keluarga dekat kita serta petugas KUA yang akan kita undang. Oh ya satu lagi. Kita juga perlu mengundang tetangga dekat rumah ini"
" eh buat apa pake acara ngundang tetangga." mila tampak keberatan.
" dengar ya Mila. Seandainya tetangga dekatmu tidak ada yang tau jika kamu menikah, lantas kalau aku sering datang kemari disangkanya kita kumpul kebo. Emang kamu mau tetangga pada salah paham. "
" oke oke.... Hanya tetangga dekat. "
__ADS_1
" oke deal. " aku tersenyum penuh kemenangan. Tak apalah jika Mila menyembunyikan status pernikahan kami. Lama-lama juga nanti bakal pada tau dengan sendirinya
" yang kedua..... "
Aku menoleh kearah Camila. Ini masih ada yang kedua ternyata. dengan penasaran aku mendengarkan syarat kedua yang diajukan Camila.
" seperti yang tadi om Dirga bilang. Setelah menikah aku masih bisa menjalani kehidupanku seperti sedia kala. Jadi..... Itu artinya kita akan tinggal terpisah. Aku akan tetap tinggal disini. Dan om Dirga silahkan tetap tinggal di rumah om Dirga sendiri."
" hei kenapa bisa begitu. Oke aku memang bilang kamu masih bisa menjalani kehidupanmu seperti sedia kala. Tapi, tidak dengan hidup terpisah juga Mila. Bagaimana jika mamaku tanya? Kenapa harus hidup sendiri-sendiri ".
" itu urusan om Dirga. Terserah om Dirga mau jawab apa jika mamanya om tanya. Yang pasti aku akan tetap tinggal disini. Dan aku tidak mau hidup satu atap dengan Om. Semua demi kebaikanku. Aku ga ingin om Dirga ngerecokin hidupku. Aku hanya ingin tenang hidup damai tanpa harus terbebani status pernikahan kita. Impianku masih panjang om. Tolong jangan om hancurkan. "
" oke fine. Aku terima. " pada akhirnya aku harus mengalah. Biarlah aku menyetujui apapun yang Mila inginkan. Asal dia mau menikah denganku itu sudah cukup. Cukup membuatku dan mamaku bahagia. Urusan lain dipikir belakangan.
" yang ketiga.... "
" masih ada lagi? Yang ketiga apalagi Mila kenapa banyak sekali syarat nya."
Mila mendelik dan oke aku turuti.
" oke oke... Apa syarat ketiga."
" tidak ada kontak fisik diantara kita."
Jelas aku shock. Mana bisa begitu.
" apa? Hei Mila maksudnya apa ini. Tidak ada kontak fisik? "
" iya. Meski kita menikah tapi bagiku itu hanyalah status. Aku tidak ingin om melakukan hal hal diluar batas kewajaran. Jadi yang om harus ingat-ingat tidak boleh ada kontak fisik diantara kita. Jadi kita hapuskan hak dan kewajiban sebagai suami dan istri. Om tidak boleh menuntut hak dan kewajiban ku sebagai istri. Begitupun sebaliknya aku tidak akan menuntut om mengenai hak dan kewajiban om sebagai suami. "
" oke... Terserah om. "
" adalagi syarat yang akan kamu ajukan padaku. "
" tidak. Cukup tiga saja. Tolong om penuhi. "
" baiklah. "
" oke deal. "
" deal "
Flasback end
-------
" lo mau pulang sekarang daf. .." tanyaku pada Daffi sesaat setelah kita selesai perform berdua malam ini.
" iya lah.... Skripsi gue menanti bro. "
" jadi, sudah sampai mana skripsi lo. "
" dikit lagi kelar. Doain deh biar gue bisa wisuda bulan depan. "
__ADS_1
" kenapa ga dari dulu aja lo ngerjain skripsi. Gue salut sama lo pada akhirnya mau juga berusaha nyelesein skripsi. " kubuka lemari pendingin yang ada di sudut ruang kerjaku. Mengambil dua kaleng soda. Kuserahkan satu pada Daffi.
" ini semua karena seseorang yang telah nyemangatin gue. " aku yang baru meneguk sodaku tersedak dan terbatuk-batuk.
" oh ya.... Hebat dong. Pasti seorang perempuan. Iya kan? "
Daffi mengangguk." kamu benar. "
" seseorang yang begitu baik dan selalu memberi motivasi ke gue agar segera lulus dan ngejar cita cita gue. Tapi sayang nya...... " Daffi menggantung ucapan nya.
" kenapa? " tanyaku penasaran
" gue pernah nembak dia. Dan lo tau bro.... Gue ditolak..... "
Pecah tawaku. Seorang Daffi si playboy ditolak cintanya. Ga bisa kubayangin bagaimana reaksi Daffi saat cintanya ditolak.
" ketawa aja terus..... "
" gue ga bisa ngebayangin gimana elu waktu ditolak. " aku masih saja terkekeh
" sebenarnya sih ga ditolak secara langsung keles."
" lalu?"
" dia hanya minta waktu karena belum siap menjalin suatu hubungan ."
" owh.... Siapa? Apa si Bule temen nya Danu. "
" bukan. " jawab Daffi singkat.
Aku mengernyit." bukan nya lo suka ya sama si Bule itu. Siapa nama nya... Ah ya Nathalie. Lo kan sedari dulu suka banget kalau ngeliat cewek Bule. "
" iya sih. Awalnya memang gue tertarik sama Nath. Gue suka sama si gadis pirang itu. Tapi yah lo tau sendiri klo si pirang lebih suka ke elo. "
" kenapa gue? " kembali kuteguk sodaku. Tak dapat dipungkiri memang gadis pirang itu selalu berbinar tiap kali ketemu aku. Bukan nya aku sombong tapi memang seperti itulah kenyataan nya. Bahkan gadis itu pernah terang terangan ngajakin aku nikah.
" iya kan... Nath itu sebenarnya suka sama elu. Gue tau itu. Ehm tapi masalahnya bukan disitu sih. Si pirang itu kan udah balik ke negara asalnya. Dan gue sudah enggak pernah lagi ketemu dengan nya. Jadi ya rasa suka gue pupus begitu saja. "
" lalu siapa jika bukan Nathalie. "
Daffi melihat ke arahku memandang serius.
" sodara nya. "
" sodara? Sodara nya siapa? "
" sodara nya si pirang "
Deg... Kukatupkan mulutku rapat rapat. Aku terdiam. Kenapa aku bisa melupakan jika aku pernah melihat kebersamaan Daffi dan Camila. Jadi ternyata Daffi pernah menyatakan perasaan nya pada Camila.
Lantas bagaimana jika Daffi tau bahwa Camila akan menikah dengan ku.
" loh kenapa kaget begitu sih.?" tanya Daffi karena melihatku yang tiba-tiba mendadak tegang.
__ADS_1
" ah ya... Gue tau. Dulu lo juga pernah suka kan sama Camila.... Hayo ngaku lo" lanjutnya dan Daffi terkekeh.
Aku hanya mengedikan bahu tanpa berniat menjawab nya.