Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Season 2 - Chapter 15


__ADS_3

Daffi Juliandra, lima tahun sudah dia tinggal di Jakarta, masih betah melajang di usia ke tiga puluh tahun. Sempat beberapa kali menjalin kasih tetapi selalu tidak berujung pada kebahagian, dan semua akan berakhir pada sebuah perpisahan. Banyak hal yang membuat Daffi selalu merasa tidak cocok dengan wanita yang ia pacar. Hingga semua wanita itu lebih memilih pergi meninggalkan Daffi. Ah ralat, bukan mereka yang meninggalkan Daffi, tetapi Daffi sendiri yang lebih memilih pergi.


Hingga saat ini, Daffi menjadi malas untuk berusaha mencari calon istri. Kehidupan nya hanya ia dedikasikan untuk pekerjaan dan pekerjaan. Daffi, pria yang dulu selalu semuanya sendiri , bahkan pernah meninggalkan kuliah demi cita cita nya menjadi seorang disk jokey. Tapi sekarang lihatlah, bagaimana Daffi yang bertransformasi menjadi seorang eksekutif muda dan gila kerja. Tak lagi menjalani profesi lamanya sebagai seorang disk jokey. Karena kehidupan yang ia jalani sekarang sudah cukup nyaman baginya.


Daffi meletakkan ponsel di atas meja kerjanya. Dirga, sahabat sekaligus pengelola night club dimana dulu ia pernah bekerja sebagai seorang disk jokey di daerah Surabaya, baru saja menelpon nya. Hubungan nya dengan Dirga masih terjalin cukup baik, sekalipun Daffi sudah menetap di Jakarta. Mereka masih sering bertelpon hanya untuk sekedar berkirim kabar.


Seperti kali ini, Dirga memberi kabar padanya jika Mila, yang tak lain adalah istri Dirga sedang berada di Jakarta. Sehingga dia bisa menemui istri sahabatnya itu hanya untuk melepas rasa rindu. Mereka sudah seperti keluarga. Terlebih mengenai hubungan masa lalunya bersama Nathalie yang merupakan saudara perempuan Mila.


Daffi menyandarkan punggung di kursi kerjanya. Memejamkan mata sembari memijit pelan pelipisnya. Mengingat Nath hanya membuatnya sakit kepala. Bagaimana tidak, jika selama kurun waktu tujuh tahun ini, Nath telah berhasil menjungkir balik kan hatinya.


Daffi sadar jika Nath melakukan penolakan kepadanya. Semua bentuk tanggung jawabnya tak dihiraukan oleh Nath. tapi yang masih mengganjal di hati  Daffi adalah alasan penolakan Nath padanya. Iya memang Daffi telah melakukan kesalahan besar pada perempuan itu. Kesalahan satu malam yang berakibat fatal. Bahkan penyesalan yang Daffi rasakan tak pernah bisa Daffi enyahkan . Ini sudah tujuh tahun berlalu , akan tetapi bayang bayang masa lalu nya bersama Nath masih saja menghantui hidupnya.


Daffi meraup wajahnya frustasi. Sisa hidupnya hanya dia habisakan untuk pekerjaan. Bahkan perusahaan kakak iparnya yang saat ini ia kelola sudah berkembang cukup pesat. Akan tetapi masih saja ada yang kurang di hidup Daffi sebelum Nath memaafkan nya dan menerima kehadiran nya.


Belum lagi kedua orang tuanya serta kakak perempuan nya yang selalu merecoki dan meminta agar dia segera menikah, semakin menjadi beban dalam hidup Daffi.


Daffi beranjak berdiri, menyambar ponselnya yang tadi berada di atas meja. Sepertinya dia memiih pulang saja . Dilihat nya jam yang melingkar di pergelangan tangan nya , baru jam tiga sore. Belum waktunya jam pulang kerja, akan tetapi dia sudah tak ada lagi jadwal meeting sampai sore nanti.


Setelah berpamitan pada sekretarisnya , Daffi menuju lift yang langsung terhubung dengan basement gedung kantornya. Rencanaya adalah dia akan segera pulang dan akan menemui Camila nanti malam.


****


Daffi sampai di apartement nya setelah menempuh perjalanan lebih dari satu jam lamanya. kemacetan jalan selalu membuatnya mengumpat berkali kali. Suasana hati daffi yang tak seberapa baik hari ini, dan semoga saja setelah bertemu Camila , dia bisa sedikit melupakan beban hidupnya selama ini.


Sesaat setelah dia masuk ke dalam apartmen yang telah ia tempati selama tiga tahun terakhir ini, Daffi menjatuhkan tubuh besarnya di atas sofa. Apartmen ini dia beli dari hasil kerja kerasnya. dan bukan pemberian kakaknya. Sejak awal Daffi mau pindah ke Jakarta , Malvin telah menyiapkan hunian untuknya. Tempat yang cukup mewah dan nyaman. Dan Daffi sempat menempati nya selama lebih kurang dua tahun lamanya. Hingga pada akhirnya Daffi memutuskan untuk membeli apartmen sendiri. Daffi tidak enak hati jika terus saja menumpang hidup pada kakaknya, dan selagi Daffi mampu mengumpulkan semua gajinya selama bekerja, ia memutuskan untuk membeli apartmen saja. Selain bisa ia gunakan sebagai tempat tinggal juga sekaligus sebagai investasi masa depan.


Daffi merogoh saku celananya mengambil ponsel miliknya. Mencari nomor telpon Camila. Daffi rasa Camila pasti sudah mendarat dan sudah sampai di Jakarta. Secara ini sudah sekitar dua jam berlalu sejak Dirga tadi menelpon nya. 


Dan benar saja perkiraan Dafi. tiga kali deringan Camila menjawab telpon nya.


" Hallo, Camila " 


" Kak Daffi. "

__ADS_1


" Kamu dimana sekarang ? kata Dirga kamu sedang ada di jakarta ."


" Iya Kak benar. Aku sedang berada di Jakarta. Dan baru saja aku mendarat. Ini masih dalam perjalanan menuju Rumah Sakit. "


" owh begitu rupanya. Kamu ke Jakarta sendiri atau .... " kalimat daffi menggantung.


" Tidak kak, aku bersama dua orang rekanku sesama dokter. Kak Daffi, Apa tadi om Dirga menelponmu ?"


" Ya, Dirga menelponku. eum Mila, bagaimana kalau nanti malam kita ketemu. bisa tidak ?"


" Nanti malam ya ... sepertinya bisa. Tapi aku belum tahu juga sih jadwal aku malam nanti apa. "


" Atau begini saja, jika kamu sudah sampai, telpon aku maka aku akan datang menemuimu. "


" baiklah kak. "


" Ya sudah kamu hati hati di jalan. Jangan lupa mengabariku dimana kamu akan tinggal selama di sini nanti. "


" Okelah. bye kak."


Daffi beranjak berdiri lalu melepas kemeja yang melekat di tubuhnya. Kamar mandi yang kini ia tuju. Tubuhnya sangat lengket dan mandi adalah solusi satu satunya agar tubuhnya kembali segar


****


Sementara itu, di dalam mobil yang Camila tumpangi, perempuan itu sedang tersenyum setelah mematikan panggilan telpon dari Daffi. Sedari tadi yang ada dalam pikiran nya adalah Jaghad, dan tanpaa dia duga saat ponsel nya bergetar, Camila pikir Jaghad atau Dirga yang menelpon nya. Sudah terlanjur semangat dan ternyata tebakan nya salah. Daffi lah id caller yang terpampang di layar ponsel nya.


Meskipun sedikit kecewa, tapi Camila senang kala Daffi menelpon nya begitu lelaki itu tau jika dia sedang berada di Jakarta. Daffi tetap lah Daffi seperti yang ia kenal dulu. Penuh perhatian pada orang orang terdekat nya.


Sayang sekali Nathalie tidak mau menerima Daffi dan lebih memilih pergi untuk menghindari lelaki baik seperti Daffi.


Sudah lama sekali Camila tidak bertemu dengan Daffi. Entahlah sudah berapa bulan lamanya. Camila sampai tak ingat lagi. Dan semoga saja nanti malam dia tak ada kegiatan agar bisa bertemu dengan Daffi.


Banyak hal yang ingin ia ceritakan pada lelaki yang telah ia anggap sebagai teman baik nya. Dulu saat sebelum menikah, Camila sempat dekat dengan Daffi. Mereka sering menghabiskan waktu bersama dengan saling bercerita hingga tumbuh lah perasaan suka. Hanya sekedar suka karena yang Camila tahu, Dafgi sudah menyukai Nathalie, saudara perempuan nya.

__ADS_1


Camila terhenyak, ternyata sedari tadi dia hanya menatap sepanjang jalan sambil melamun. Hingga tak menyadari jika mobil telah sampai di tempat tujuan.


Camila menoleh ke belakang, dokter Allan dan dokter Rasya sedang membuka pintu mobil bersiap untuk turun. Camila pun melakukan hal yang sama, turun dari mobil.


Lagi lagi Camila harus menghela nafasnya kala Rasya masih dengan percaya diri menyeret koper besar miliknya. Tanpa perlu persetujuan Camila, Rasya tetap keukeh membantu Camila membawa koper milik wanita itu.


Sebenarnya Rasya sedikit terganggu dengan Camila yang tadi sedang bertelpon dengan seseorang yang Rasya sendiri tak tahu siapa.


Sementara dokter Allan, lelaki bermata sipit itu hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya.


" Sudah biarkan saja Rasya membantu membawakan kopermu," ucap dokter Allan yang pada akhirnya dituruti juga oleh Camila.


Mereka bertiga berkala memasukiobi Rumah Sakit dengan Rasya berada di depan sementara Camila dan dokter Allan berada di belakang Rasya.


Mereka bertiga di sambut dengan hangat oleh kepala Rumah Sakit serta beberapa staff yang ada disana. Berhubung hari sudah menjelang malam, jadi mereka bertiga hanya melakukan perkenalan singkat. Setelahnya mereka di bawa ke gues house yang tak jauh dari Rumah Sakit. Guest house yang akan mereka tinggali selama dua minggu nanti.


Tidak hanya ada mereka bertiga yang menempati, mainkan ada juga beberapa dokter tamu dari berbagai daerah. Dan Camila merasa senang lada akhirnya bisa berkenalan dan berbagi pengalaman bersama mereka semua.


Setelah masuk ke dalam kamarnya Camila segera mandi dan berganti baju. Malam ini ada jadwal makan malam bersama dengan semua dokter yang me jadi rekan nya selama bertugas sementara di Rumah Sakit ini. Camila tidak lupa akan janjinya pada Daffi sore tadi. Dengan sangat menyesal Camila harus membatalkan rencana pertemuan nya dengan Daffi.


Sebelum keluar dan menuju dimana tempat makan malam yang Camila datangi, Camila menyempatkan diri untuk menelpon Daffi.


" Kak Daffi, aku minta maaf. Seperti nya aku harus menunda pertemuan kita. Malam ini ada acara dinner bersama rekan rekan sesama dokter yang juga datang ke Rumah Sakit ini."


" Tidak masalah. Kita bisa bertemu di lain hari."


" Baiklah. Terimakasih kak Daffi. Aku akan menghubungi mu lagi nanti. Selagi aku tidak banyak kesibukan di Rumah sakit, maka kita bisa mengagendakan untuk bertemu. Bagaimana? "


" Baiklah. Aku setuju. Kapanpun kamu ingin bertemu dengan ku, pasti aku siap." ucap Daffi yang di akhiri dengan kekehan.


" Ya sudah aku tutup telpon nya ya Kak. Selamat malam. "


" Selamat malam. "

__ADS_1


Dan setelah menutup panggilan telpon nya dengan Daffi, Camila ganti menelpon Bunda Anyelir. Mencari Je dan berbicara pada putra nya itu yang telah ia nanti Sedari tadi. Belum puas dia mendengar celoteh je, pintu kamarnya di ketuk dari luar. Pasti dia telah ditunggu. Begitu pikir Camila. Dengan berat hati Camila mengakhiri panggilan telpon nya. Masih ada satu tugas lagi yang belum Camila lakukan yaitu menelpon Dirga. Tapi seperti nya tak mungkin sekarang ia lakukan. Nanti saja sebelum tidur Camila akan menelpon suaminya. Tetapi Camila tak lupa mengirim chat pada Dirga mengabarkan pada suaminya jika dirinya telah sampai Jakarta dengan selamat.


__ADS_2