Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Season 2 - Chapter 3


__ADS_3

Sore harinya, Dirga dengan tergesa keluar dari kantor. Meeting nya kali ini sangat menguras tenaga juga fikiran. Baru jam tiga sore dia


selesai meeting dengan klien dan setelahnya dia masih harus kembai ke kantor. Ada beberapa dokumen yang harus dia sign. Barulah setelah semua beres, Dirga


segera meninggalkan kantor. Bayangan Je tak pernah bisa dia enyahkan dari


pelupuk matanya. Sungguh Dirga sangat menyayangi anak lelaki nya itu. Bahkan


sejak Je masih bayi, Dirga lah yang lebih banyak mengurus Je. Camila yang saat


melahirkan Je jiwa nya masih labil, tidak seberapa bisa mengurus Je dengan benar. Dirga tak menyalahkan Camila. Dia lah yang salah karena sempat memperdaya Camila dan memaksa perempuan itu untuk menikah dengan nya. Padahal Dirga tahu waktu itu usia Camila masih sangat belia. Bahkan baru menginjak semester satu kuliahnya.


Karena itulah Dirga tidak pernah mau menuntut lebih pada diri Camila. Istrinya mau menyayangi dan mencitai nya saja Dirga sudah sangat bersyukur. Hal terindah yang ada dalam hidupnya.


Mengendarai mobil seorang diri membelah jalanan yang mulai padat merayap karena kemcetan, membuat Dirga sedikit frustasi. Hari menjelang malam, beruntungnya tadi Camila sudah memberi kabar padanya jika istri nya sudah pulang ke rumah sore tadi.


Dan oleh sebab itu kenapa Dirga juga ingin segera pulang, karena Dirga tak ingin melewatkan momen kebersamaan dengan istri dan anak tercinta. Sangat jarang dia bisa menghabiskan waktu bertiga karena biasanya


Camila akan pulang malam.Jadwal kuliah Camila memang di malam hari , selesai Camila bekerja.


Sesampainya di rumah Dirga segera memarkirikan mobil nya dan berjalan tergesa masuk ke dalam nya. Senyumnya mengembang, ada Camila yang bermain bersama Je di ruang keluarga.


“ Sudah Pulang ....! “


Dirga menoleh ke arah samping, mendapati mamanya  yang sedang meyapanya.


“ Mama ....” Dirga menghmpiri mama nya mencium kedua pipi wanita yang telah melahirkan nya ini.


Camila dan Je yang baru menyadari kehadiran Dirga, ikut mendongak dan betapa Je sangat bahagia melihat papanya sudah datang.


“ Papa....! “ teriaknya.


“ Sayang....” Dirga mendekat dan berjongkok di samping Je, mencium pipi Je tapi segera di tahan oleh Camila.


“ Papa.... Mandi dulu sana... “


Dirga memberenggut menatap istrinya, dia tahu peraturan dari sang istri tercita, kebersihan adalah yang utama. Camila tidak akan membiarkan Dirga menyentuh Je saat Dirga baru saja pulang kerja atau baru saja berada di luar rumah.


Karena Dirga tak bergeming, Mila menggeram melihat Dirga yang masih berusaha menggoda Je.


“ Papa....! “


“ Iya iya sayang, aku mandi. Tapi ..... “ Dirga mendekat pada sang istri. “ mandiin, “ ucapnya manja.


Pipi Camila sudah merona , telapak tangannya mendorong wajah Dirga yang semakin dekat dengan wajahnya , mengikis jarak diatara mereka.


Tentu saja Camila malu dengan tingkah mesum suaminya, karena saat ini ada sang mertua yang justru tergelak melihat kemanjaan anak lelaki nya.


“ Sudah sana urus saja bayi besarmu itu sayang....” celetuk mama Dirga.


“ Biar Je mama yang nemenin disini. “ Lanjut beliau lagi.


Camila mendelik pada Dirga, tetapi suaminya itu sudah menarik lengan Camila agar ikut berdiri.


“ Je... Papa mandi dulu ya...setelah itu kita bermain. Okay jagoan....”


Je hanya mengangguk dan kembali fokus pada Lego nya. Tak mempedulikan papanya. Padahal tadi pagi saat Dirga ingin meninggalkan nya pergi ke kantor, Je dengan semangat menghalangi papanya itu agar tidak pergi ke kantor dan menemaninya bermain di rumah. Tapi sekarang begitu ada sang oma yang menemaninya, kehadiran sang Papa tidak lagi diindahkan olehnya.


Camila mengikuti Dirga masuk ke dalam kamar mereka. Setelah mengambil alih tas kerja yag dirga bawa, Camila meyimpan nya di atas meja kerja dirga yang berada di dalam kamar mereka. Camila juga membantu suaminya melepas kemeja yang melekat di tubuh tegab suaminya.


Dirga menarik pinggang Mila hingga merapat di tubuhnya, kepalanya menunduk dan kecupan singkat mendarat di atas bibir Camila.


“ Aku sangat merindukanmu sayang...” ucap Dirga


“ Bagaimana bisa rindu, setiap hari juga kita bertemu. “


“ Tapi...momen momen sepeti ini jarang aku dapatkan. “


Camila menghela nafas merasa bersalah karena akhir akhir ini dia jarang menjalankan peran nya sebagai seorang istri untuk Dirga.


“ Pa, aku minta maaf...”


Dirga jadi tidak enak hati karena tanpa ia sengaja telah membuat istrinya menjadi merasa bersalah kepadanya.


“ Hei.... jangan sedih begitu. Aku tidak apa apa. Hanya saja rasanya aku terlalu bersemangat bisa menjumpai mu disaat pulang kerja seperti ini. Rasa capek ku sirna sudah hanya dengan melihat senyuman mu sayang...”


“ Mulai deh ngegombal nya “ Camila memukul pelan dada suaminya.


Jujur sebenarnya Camila merasa sangat bersalah, biasanya Jam segini dirinya belum ada di rumah. Beruntungnya hari ini dia hanya ada jadwal seminar, dan tugasnya di Rumah Sakit sednag off. Sehingga sore hari Camila bisa segera kemabli ke rumah. Bertemu kembali dengan Je, bisa menemani Je bermain.

__ADS_1


Dirga semakin merapatkan tubuhnya, membuat Camila terkesiap.


“Mandi yuk....”


“Aku sudah mandi , Pa.”


“Madiin aku....”


“ Auw...Pa.....!”


Dirga sudah membawa Camila ke dalam gendongan nya, melangkah ke dalam kamar mandi dan menghabiskan waktu berdua , melupakan Je yang sedang menunggu mereka.


*****


Camila menyisir rambut panjangnya, setelah dia dan Dirga mengahbabiskan waktu untuk berduaan , bahkan sempat melupakan jika sudah waktunya makan malam. Camila merasa tidak enak hati pada mama mertuanya yang pasti sudah menunggu mereka. Camila menoleh ke belakang saat dirasanya pintu kamar yang terbuka. Dirga masuk dengan membawa Je dalam gendongan nya. Wanita itu tersenyum melihat dua pria yang begitu dicintainya.


“ Mama, ayo makan malam. “ Ucap Dirga. Yang ditirukan dengan celotehan tak jelas dari mulut Je.


“ Mama... mama... makan ... “ celoteh balita dalam gendongan Dirga.


“ Iya , sebentar mama sisir rambut dulu ya sayang.”


Camila segera menyelesaikan aktifitasnya, lalu berdiri dan mengikuti Dirga keluar dari kamar. Di meja makan sudah ada mama mertuanya yang sedang menanti kedatangan mereka.


“ Ma... maaf ya, lama nunggu. “


Mama Dirga hanya tersenyum simpul, beliau sudah paham betul dengan anak lelaki dan menantunya. Karena seringnya beliau ada di rumah ini hingga sudah terbiasa dengan kebiasaan Dirga dan Camila. Tidak akan


meyianyiakan waktu untuk berdua setiap ada kesempatan untuk bersama.


Dirga mendudukkan Je di baby chair. Lalu dia sendiri duduk di sebelah Camila.


Camila sudah mengambilkan nasi untuk Dirga juga Je.


“ Pa, biar aku saja yang suapin Je. “


“ Nggak usah, sayang makan saja dulu. Je aku suapin. “


“ Tapi, Pa...”


Dirga sudah mengambil alih piring makan milik Je.


Kepala Dirga mendekat disamping telinga Camila, “ jangan lupa, habis ini kita masih harus bertarung lagi. “ ucap Dirga lirih.


Tubuh Camila menegang mendengar bisikan suaminya, refleks kepalanya menoleh kesamping dengan mata melotot menatap Dirga. Yang dia tatap seperti itu hanya terkekeh lalu menjauhkan kembali kepalanya, bersiap menyuapi Je makan.


Camila tak habis pikir, bahkan disini ada mamanya, tapi tingkah mesum Dirga tak bisa dikontrol. Semoga saja mama tak mendengar apa yang baru saja Dirga sampaikan kepadanya.


Dengan telaten Dirga menyuapi Je, dan balita itu tidak pernah rewel dengan urusan makan. Apalagi Hana, babysitter Je , juga sangat telaten merawat Je. Dan disaat ada Dirga juga Camila yang berada di rumah, maka Hana


akan dibebaskan dari tugas.


“ Ayo habiskan makan nya Je. “ Ucap Dirga sembari menyuapi satu sendok kecil nasi beserta sayur nya.


Mulut kecil Je mengunyah makanan dengan tangan yang sesekali mencomot isi piring yang ada di hadapan nya.


Mama yang melihat kebahagiaan keluarga kecil Dirga, tersenyum untuk yang kesekian kalinya. Tidak menyangka jika Dirga akan sesabar itu dalam mengurus Je. Benar-benar mewarisi sifat papa nya. Papa Dirga itu juga


orang yang sangat penyayang dan penyabar. Bahkan disaat mama sakit sakitan, sang Papa juga lah yang dengan setia merawat Mama. Bahkan Papa lebih memilih untuk meninggalkan perusahaan sementara waktu agar bisa fokus merawat sang istri tecinta agar kembali pulih seperti sedia kala. Dan mama sangat bersyukur, berkat kehadiran Camila beserta anak Dirga juga Alisha serta Bulan, istri dan anak Bumi Perkasa, kesehatan mama semakin membaik dan mama hampir tidak pernah lagi sakit sakitan. Yang menjadi PR buat mama untuk saat ini tinggal Danu, Cucu pertamanya dari Bumi Perkasa.


_____


Jaghad sudah terlelap di atas ranjang, setelah menghabiskan satu botol susu. Dirga masih berbaring di samping Je dengan tangan yang


menepuk-nepuk pelan pantat Je. Camila keluar dari dalam kamar mandi, Tampak


segar setelah membersihkan diri dan menganti piyama tidurnya.


Melihat anak nya yang sudah terlelap, Mila naik ke atas ranjang.


“ Je, sudah tidur Pa. “ tanya nya pada Dirga.


“ Baru saja. “


“ Biarkan dia terlelap dulu, jangan ditinggal.” Pinta Camila.


Memang Dirga dan Mila memutuskan untuk membawa Je tidur satu ranjang dengan mereka sejak usia Je dua tahun. Sebelumnya, saat Je bayi hingga berusia dua tahun, balita itu mereka tidurkan di dalam box bayi yang mereka simpan di dalam kamar mereka. Seiring pertumuhan Je, yang banyak tingkah saat tidur, akhirnya Mila meminta Dirga agar menidurkan Je di ranjang mereka. Berada


di tengah antara Papa dan Mama membuat Je merasa sangat nyaman hingga balita

__ADS_1


itu selalu terlelap dalam tidur malam nya.


Camila masih mengawasi Je dengan sesekali diusap lembut pipi putranya.


“ ehem....sayang “ Dirga sudah bangun dari berbaring nya. Menatap Camila yang masih memperhatikan Je.


Camila mendongak meneliti Dirga yang sudah mupeng menatapnya.


“ Apa ? “


Dirga menaik turunkan alisnya, dan Mila tahu apa arti itu semua.


“ Astaga, Pa ! tadi kan sudah ....”


“ Ayolah .... selagi sayang tak ada tugas. “


Camila menghela nafas, tidak mungkin juga dia menolak suaminya. Memang benar apa yang dikata Dirga, biasanya, setelah Je tertidur, Camila akan berkutat dengan tugas kuliah juga tugas laporan pekerjaan nya.


Dan malam ini , dia memang sengaja meliburkan diri. Selain karena otak nya yang sudah lelah, juga karena Mila sedikit malas karena mungkin rasa capek yang menderanya setelah seminggu lamanya sama sekali tak ada libur baginya.


“ Baiklah ....” jawab Mila pada akhirnya.


Dirga sudah tersenyum sumringah. Mendekati Camila dan menarik tubuh istrinya agar duduk di pangkuan nya.


Wajah Dirga mendekat, sedikit dimiringkan agar mudah untuk nya menggapai bibir istrinya. Salah sendiri kenapa dia memiliki hidung yang sangat mancung sehingga seidkit kesusahan saat dia ingin mencium istrinya.


“ Papa.... ! “


Baru juga Dirga menempelkan bibirnya di atas bibir Camila,  suara serak Je menghentikan


aksinya. Dijauhkan bibirnya dari wajah Camila, menoleh kesamping mendapati Je


yang sudah mengucek matanya.


“ Kenapa dia bangun lagi...” gerutunya, karena tadi Dirga yakin jika Je sudah tertidur lelap. Tapi sekarang mata anak nya itu sudah


terbuka meski tampak sayu.


“ Ya sayang... kenapa ?” tanya lembut.


Camila beringsut turun dari pangkuan suami tercinta , mendekati Je dan membungkuk di sisi tubuh mungil Je.


“ Je.... kenapa bangun lagi sayang...” Camila ikut bertanya pada putra nya.


“ Pipis....” je menjawab singkat.


Dirga dan Camila saling pandang, Camila hanya mengedikkan bahu menjawab tatapan frustasi Dirga.


Dalam hati ingin tertawa, ya, menertawai suaminya, tetapi Mila berusaha menahan nya agar tak sampai menyembur keluar jika tidak ingin Dirga kesal kepadanya.


Diangkatnya tubuh kecil Je, Mila beringsut turun dari atas ranjang dan membawa Je masuk ke dalam kamar mandi. Membantu putra nya untk buang air kecil.


Je sudah tidak lagi memakai diapers. Untuk hal ini , Mila harus banyak berterimakasih pada Hana karena telah berhasil mengajarkan Je toilet training. Bahkan sudah sejak usia dua tahn Je tak lagi memakai diapers.


Setiap ingin buar air kecil Je pasti akan mengatakan  pada orang yang ada di dekatnya. Begitupun saat dia ingin buang air besar, Je juga sudah pandai.


Dulu saat Je berusia dua tahun dan belum lancar bicara, Balita itu akan memegang tititnya sebagai pertanda jika ingin buang air kecil. Memang Je ini sudah kelihatan cerdas , dan Camila sangat bangga pada anak satu


satu nya.


“ Sudah sayang....” tanya Camila begitu tidak ada lagi air seni yang dikelurkan Je.


“ Sudah. “ jawabnya .


Mata Je tampak mengantuk dengan tubuh yang sudah menempel pada pundak Camila yang posisinya saat ini sedang berjongkok karena tadi membantu Je . Seteah memberishkan Je dan merapikan celananya, Camila kembali menggendong Je menuju ranjang. Kepala Je sudah terkulai lemas di pundak mamanya.


Dengan perlahan Camila menidurkan Je, kembali menepuk pelan pantat Je yang sudah beralih posisi tidur miring menghadap sang Papa yang merebahkan diri di sampingnya.


Mata Je kembai terpejam, Dirga sudah menatap Camila.


“ Sayang ....” panggil lirih Dirga dan Camila hanya menoleh sekilas karena masih fokus menatap Je memastikan agar putra nya benar benar tertidur.


“ Bisa kita lanjut lagi yang tadi tertunda, “ ucap Dirga lagi.


“ Astaga Papa.....”


Camila menggelengkan kepala dengan tingkah mesum suaminya.


Tapi meskipun begitu, Camila tak akan menolak dengan semua yang sudah Dirga berikan kepadanya. Hingga kedua nya larut dalam malam panjang mereka. Menikmati setiap momen kebersamaan yang tidak bisa mereka dapatkan setiap hari nya. Dan kesempatan yang tak akan pernah Dirga sia sia kan.

__ADS_1


__ADS_2