Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Season 2 - Chapter 5


__ADS_3

Camila menatap miris ponsel nya yang telah retak. Mendongak menatap jam dinding yang ada di dalam ruang prakteknya. Sudah jam dua siang. Rasa lelah yang medera nya membuat dia menyandarkan punggung di kursi yang ia duduki. Seorang suster masuk setelah sebelum nya mengetuk pintu ruang Camila.


“ Dokter, Ini laporan nya ....” suster berlesung pipi itu membawa sebuah map untuk Camila, sebuah senyuman terbit di bibir perempuan yang usianya mungkin tak jauh beda dengan Camila.


Camila menegakkan kembali punggungnya. Suster tersebut meletak kan laporan di atas meja dan Camila segera mengecek nya. Setelah dirasa tidak ada yang salah, barulah dia  bubuhkan tandatangan di atas kertas laporan tersebut.


“ Terimakasih, Sus “ ucap Camila tulus.


“ Sama sama dokter. Saya permisi dulu. “


Camila mengangguk menatap suter yang kini berlalu keluar dari ruangan nya. Kembali Mila teringat akan ponselnya yang teregeletak begitu saja di atas meja. Diraihnya benda pintar itu. Ditekan tombol power dan menyala lah benda keramat yang wajib Camila bawa kemana mana.


Mata Camila membola melihat beberapa panggilan tak terjawab. Dia yakin pasti suaminya yang sudah menelpon nya.


Benar saja, Camila tak hanya mendapati panggilan tak terjawab, melainkan juga pesan whatssapp yang dikirim oleh papa Dirga.


Bibir Camila mengukir sebuah senyuman saat membaca pesan serta melihat foto putranya


yang tampak tertidur pulas di atas sofa ruang kerja suaminya. Pasti Je kelelahan setelah bermain . Tampak sekali di wajah putra nya itu.


Camila sudah beniat akan menelpon Papa Dirga, tapi diurungkan nya saat terdengar ketukan di pintu ruang praktiknya.


“ Masuk,” ucap Camila mempersilahkan seseorang yang berada di balik pintu ruangan nya.


Ceklek


Pintu terbuka, Mila memicingkan matanya melihat siapa gerangan yang datang menemuinya.


“ Dokter Allan ...! “ ucap Camila tak percaya.


****


Melupakan tujuan nya yang akan menelpon Papa Dirga, justru disinilah Camila berada. Di kantin Rumah Sakit, duduk berhdapan dengan seorang pria berkulit putih bermata sipit yang tak lain adalah dokter Allan.


“ Dokter kok bisa ada disini ? “ pertanyaan pertama yang Camila lontarkan.


“ Ah dokter apa kabar ? lama sekali kita tidak berjumpa “ ucap Camila lagi, padahal pertanyaan pertamanya tadi belum sempat dijawab oleh dokter   Allan.


Dokter Allan Toh, pria keturunan yang berasal dari Singapura, yang pernah menjadi dosen pengganti di kampus Camila saat dia berkuliah dulu. Hanya beberapa  bulan saja dokter Alllan pernah mengajar di  kampus Camila waktu itu. Akan tetapi karena dokter Allan juga lah yang dulu pernah merawat suaminya saat kecelakaan , pada akhirnya


menjadikan mereka akrab satu sama lain. Meski keakraban mereka tak lebih dari


mahasiswa dan dosen semata.


“ Kabar saya baik. Seperti yang Camila lihat . “ ucap lelaki itu. Camila hanya ber 'oh' saja sembari menganggukkan kepala.


“ Dan kenapa saya ada disini , itu karena mulai hari ini saya akan ertugas di Rumah Sakit ini. “


Camila mebuka mulutnya ingin menunjukkan keterkejutan nya, tapi tak jadi, dan dia urung kan dengan kembali mengatupkan bibirnya . Benarkah apa yang dikatakan dokter Allan. Jadi mereka akan berada di satu Ruamah Sakit yang sama. Setelah sebelumnya mereka menjadi partner sebagai mahasiswa dengan dosen.


“ Benarkah itu dokter ?”


“ Iya.”


“ Saya pikir dokter kembali ke Singapore. “


“ Tidak, saya masih bekerja di Rumah Sakit dimana Pak Dirga pernah dirawat dulu, meskipun saya sudah tak lagi mengajar .”


“ Owh... dan sekarang dokter pindah tugas di Rumah Sakit ini ?”


“ Iya, atas ajakan keponakan pemilik Rumah Sakit ini.”


“ Benarkah itu dokter. Jadi dokter kenal dengan Dokter Hendrwan, pemilik Rumah Sakit ini ? " tanya Camila antusias karena tidak menyangka ternyata dokter Allan kenal dengan dokter Hendrawan.


Ah jelas saja mereka saling kenal, sesama dokter senior. Meskipun dokter Allan masih muda tapi kemampuandi bidang kedokteran tak mungkin diragukan lagi. Apalagi dokter Allan adalah salah satu dokter yang berasal dari luar negeri.


“ Jadi , teman saya itu adalah keponakan nya dokter Hendrawan. Dan teman saya itu juga akan mulai bertugas di Rumah Sakit ini mulai


hari ini. Sama seperti saya yang pada akhirnya menyerah dengan rayuan teman


saya untuk menemaninya bertugas disini. “


“ Oh begitu rupanya ... eum.. sebentar dokter. Apa mungkin teman dokter Allan adalah dokter muda yang bernama...” Camila sedikit mengingat insiden tadi pagi saat dirinya ditabarak oleh seseorang yang mengenalkan diri bernama ... ah siapa ya... Camila berusaha mengingat ingat.


“ Kalau tidak salah namanya dokter Rasya. Benarkah demikian, dok”


“ Benar sekali.”


Camila tersenyum ternyata pemikiran nya benar.

__ADS_1


Pelayan datang mengantarkan pesanan makan mereka. Baik dokter Allan juga Camila saling menikmati makanan yang sudah tersaji di atas meja.


Sebenarnya ini adalah pertemuan pertama mereka semenjak Camila resmi menjadi dokter dan bertugas di Rumah sakit ini.


Tadi, dokter Allan tak sengaja menemukan Camila ternyata bertugas di Rumah Sakit ini. Dirga sedang keliling Rumah Sakit, melihat lihat tempat tugasnya yang baru. Dan disitulah tanpa sengaja ekor matanya menangkap nama Camila Wijaya tertera pada papan daftar nama dokter praktek. Dengan ragu pada akhirnya Dokter Allan memberanikan diri untuk menemui mantan mahasiswa nya itu.


******


Di kantor Dirga,


Papa Dirga tengah menggendong baby Je keluar dari lobi kantornya. Hari sudah beranjak sore karena Dirga lihat Je sudah kecapekan karena tak hentinya bermain . Tidak hanya ruang kerjanya yang menjadi sasaran, tapi hampir seluruh ruangan yang ada di kantor Dirga ini sudah Je kelilingi. Bahkan ruang kerja Ferdy pun sudah tak berbentuk akibat ulah Je.


Semua karyawan kantor cukup paham akan hal itu, dan tak jarang diantara mereka justru ada yang sukarela mengajak Je bermain. OB


contohnya, dengan senang hati mengajak Je bermain . Dan di kantor ini memang


Dirga sengaja mendesain satu ruangan khusus untuk tempat bermain serta tempat istirahat Je jika sedang berada di kantornya. Meskipun Je akan lebih senang berada di ruangan papa Dirga . Baru saat Je sudah bosan bermain di dalam ruang kerja papa Dirga, maka Je akan beralih ke dalam ruang


bermain nya. Tentunya masih dibawah pantauan mbak Hana.


Begitu sampai di area parkir kantornya, Dirga membuka pintu mobil , memasukan Je dan mendudukan balita itu di atas car seat. Mbak Hana membuka pintu belakang menyimpan semua perlengkapan Je sebelum perempuan itu masuk ke dalam mobil.


Begitupun dengan Dirga, setelah dirasa Je cukup nyaman barulah dia mengitari mobil dan duduk dibalik kemudi. Dia sendiri yang membawa mobil tanpa seorang driver.


Meski kegiatan nya hari ini tak banyak, akan tetapi tubuhnya tetap saja merasa lelah, tidak ada jadwal meeting bukan berarti tidak menguras tenaga dan pikiran nya . Tetap saja mengerjakan report dan mengecek semua project yang perusahaan punya sanggup membuatnya pusing kepala.


Ditambah satu hari ini , Camila sama sekali tidak memberinya kabar, semakin membuatnya cemas saja. Kemana sebenarnya istrinya. Bukan nya Dirga


tidak menelpon, hal itu sudah dia lakukan, tetapi nomor ponsel istrinya justru tidak aktif. Padahal tadi siang panggilan nya masih tersambung, meskipun tidak terjawab oleh Camila. Dirga berusaha berpikir positif. Mungkin saja ponsel istrinya sedang lowbat. Dan Camila sedang berada di jalan atau sedang banyak pasien hingga lupa mencharger ponsel nya.


Jalanan sore semakin padat merayap, Je sudah tidak mau lagi anteng di dalam duduknya. Balita itu justru merengek minta untuk duduk dengan Mbak Hana.


Dengan sigap Hana mengulurkan tangannya membantu mengambil Je yang duduk di sebelah Papa Dirga. Sesekali Dirga mengawasi putranya dengan tangan masih di atas kemudi.


“ Je, jangan lompat lompat nanti jatuh. “


Tegur Dirga melihat sang putra sudah lonjak lonjak di jok belakang.


Putra nya itu tak menggubris sang Papa, sampai sampai mbak hana harus memega gi tubuh mungil itu, agar Je tidak terjatuh. Bisa bahaya jika sampai Je terluka. Pasalnya Camila, mama nya Je sangat protektif pada putraya itu. Sedikit saja Je terluka maka Camila tak akan hentinya merasa bersalah .


Higga pada akhirnya mobil Dirga memasuki kawasan perumahan dimana mereka tinggal, barulah Je akan tenang, karena balita itu tahu jika dia akan tiba di rumah sebentar lagi. Bagi Je, rumah tetaplah tempat ternyaman buat nya.


Camila tampak menoleh kebelakang, mendapati mobil Dirga yang berhenti tepat di samping mobil nya. Senyum Camila mengembang. Menanti putra dan suaminya turun dari dalam mobil.


Dan begitu Dirga membuka pintu mobil , Camila segera mendekati. Je turun dari pintu belakang bersama Mbak Hana yang mengikuti di belakangnya.


“ Mama...! “ teriak bocah itu. . Camila meletakkan tas laptop nya di bawah kaki, sedikit berjongkok untuk bisa menangkap tubuh Je.


Je mendekap sang mama dengan erat. Setelahnya Camila menciumi kedua pipi mulus Je.


“ Anak mama ikut papa seharian. Nggak rewel kan ?”


Camila mendongak menatap Dirga yang berdiri di hadapan nya. Lelaki itu tesenyum kepadanya, Camila pun membalas dengan senyum termanisnya.


Sambil mengangkat tubuh Je Camila berdiri. Dirga memajukan wajahnya, mencium


pipi Camila dan mencuri satu kecupan di bibr istrinya. Tangah Dirga terulur mengambil tas laptop di bawah kaki Camila,


“ Yuk masuk, “ ajak nya pada istrinya.


Mbak Hana sudah masuk mendahului mereka dengan membawa perlengkapan Je yag tidak sedikit jumlahnya. Mulai dari baju, makanan dan juga mainan kesayagan Je.


“ Je belum mandi ...?” tanya Camila dengan mengendus leher Je.


“ Beyum, “ jawab sang putra dengan bahasa yang masih sedikit cadel.


“ Baiklah kita mandi bersama.”


“ Papa Dirga ikutan boleh tidak ?” celetuk Dirga.


Tangan Camila refleks mencubit perut Dirga,


“ Auw...sakit sayang “


" Tidak boyeh," celetuk Je tiba tiba membuat Dirga menganga.


“ Kenapa tidak boleh. “


“ Ini Mama Je. Bukan mamanya Papa Dirga. Mama hanya boyeh mandi tama Je, bukan tama Papa,”

__ADS_1


“ Tapi kan Papa juga ingin dimandikan mama “


“ Papa sudah besal. mandi cendiyi. “


Camila tergelak mendengar lerdebatan dua pria beda usia.


“ Pa ... ngalah sama anak.”


“ Yeay... Habisnya Je menhuasai Mama ila, Papa kan juga tidak rela. “


“ Ish Papa....”


Mereka tertawa sembari masuk ke dalam kamar mereka. Tak mempedulikan asisten rumah tangga mereka yang senyam senyum karena mendengar candaan mereka dari ruang makan.


****


“ Ma....! “ terak Dirga diambang pintu kamar mandi


“ Apa sih Pa..”


“ sudah belum sih...” protesnya pasalnya sudah hampir satu jam Camila dan Je berada di dalam kamar mandi.


“ Ini Loh Je mainan terus tidak mau diajak keluar. “


Dirga melangkah masuk ke dalam kamar mandi membujuk putranya agar mau segera menyudahi ritual mandinya. Karena sedari tadi Je begitu antusias bermani busa dengan sang Mama.


“ Ayo dong Je, giliran papa ini yag mau mandi. Nanti Je masuk angin kelaman di dalam kamar mandi. “


Dengan sedikit memaksa dan Je yang sedikit meronta pada akhirnya Dirga berhasil juga membawa sang putra keluar dari dalam kamar mandi.


Sementara itu Camila yang bajunya sudah terlanjur bsah memilih untuk melanjutkan ritual mandi setelah sebelumnya dia hanya memandikan Je saja.


“ Sayang....” Camila terjegit kaget Dirga muncul di ambang pintu kamar mandi dengan seringaian mesum seperti biasanya.


Camila lupa mengunci pintu kamar mandi setelah Dirga membawa Je keluar tadi.


“ Je kamu kemanain Pa? ”


“ Sama Mbak Hana. “


Camila ingin memprotes karena dia pikir Dirga lah yang akan memakaikan baju untuk Je, tidak tahunya semua tugas dialihkan ke mbak hana.


Mila menatap ngeri suaminya yang sudah mulai membuka kaos yang dipakai. Lalu membuka celana pendek hingga hanya tersisa celana dalam saja.


Mila menelan saliva dengan tatapan tak lepas menatap tubuh setengah polos milik suami tercinta.


Di usia pernikahan ke tujuh tahun, pesona Dirga selalu mampu menghipnotis Camila. Dirga yang begitu mempesona selalu bisa membuat sang istri terpesona.


Usia mereka yang terpaut cukup jauh tak menyurutkan rasa cinta yang Camila miliki untuk suaminya.


Baginya, haya Dirga lah suami terhebat di dunia.


Dirga menaik turunkan alisnya meggoda Camila, dan istrinya itu sudah tersipu malu. Dirga semakin merapatkan tubuhnya, memusingkan kepala nya dan detik selanjutnya sudah menempelkan bibirnya di atas bibir istrinya, mencium penuh kelembutan dan kasih sayang. Kedua tangan Mila terkalung di leher Dirga. Dipejamkan matanya menikmati setiap momen kebersamaan dengan sang suami tercinta.


Percintaan panas yang tak dapat mereka hindari dan sangat sulit untuk mereka sudahi.


****


Suasana makan malam yang terasa hangat, diselingi canda tawa ketiganya. Je dengan mulut belepotan tertawa saat Papa Dirga terus saja menyuapi dengan sesekali melontarkan candaan, membuat balita itu kegirangan.


Camila yang melihat interaksi dua lelaki yang begitu dia sayangi, tersenyum bangga. Bangga dengan suaminya yang sangat kentara menyayangi dirinya juga anak mereka.


Tiba-tiba Dirga menoleh kepadanya. Tangan pria itu terulur mengusap sudut bibirnya.


“ Mama ini  sudah gede juga makan nya masih belepotan. Sama kayak Je, “ celetuk Dirga.


Refleks tangan Camila menyeka sudut bibirnya, tersenyum malu pada sang suami.


“ Mau Papa suapin juga....” Goda papa dirga.


Camila hanya mencebik. Dan pecahlah tawa Dirga.


Seusai makan malam, Dirga membawa Je masuk ke dalam kamar.


Menemani anak nya untuk membaca beberapa buku cerita bergambar, juga mengajari Je mewarnai beberapa gambar hewan serta buah buahan. Seharusnya Camila juga harus ikut serta mengajari anak nya atau setidaknya menemani anak nya belajar, akan tetapi tugas kuliah Camila yang belum terselesaikan membuat Dirga mengambil alih semua kewajiban Camila menemani Je.


Meskipun begitu, sesekali Camila masih mengawasi anak dan suaminya yang duduk di atas karpet didalam kamar mereka. Sementara Camila yang duduk di atas sofa dengan laptop dipangkuan nya. Beberapa berkas terceceran di atas sofa. Selagi masih ada Papa Dirga yang bisa diandalkan, maka Camila akan terbebas dari gangguan Je. Balita itu memang terkadang akan menggangu Camila yang sedang mengerjakan tugas. Dan sudah menajdi tugas Papa dirga untuk mengalihkan perhatian Je dengan mengajak Je belajar , bermain atau terkadang bermain game. Asalkan Je tidak mengganggu Camila apapun akan dirga lakukan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2