Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Season 2 - Chapter 77


__ADS_3

"Mas Je suka ya sama Bu Guru yang cantik tadi? "


Celetukan Pak Mardi membuat Je menoleh menatap sopir nya.


Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang setelah mengantar Sofia pulang ke rumah. Sebenar nya Sofia sudah menawari Je untuk mampir ke rumah nya, akan tetapi Je menolak dan memilih langsung pulang. Pasal nya hari sudah malam. Sebentar lagi Pak Mardi harus menjemput mama nya. Dan lagi, Je belum mandi. Tadi dia sampai melupakan mandi demi bisa mengantar Sofia pulang.


Je masih menatap Pak Mardi yang tanpa ekspresi. Bahkan lelaki paruh baya itu masih fokus pada kemudi, tak berniat memperhatikan Je setelah apa yang baru saja terlontar dari mulut nya.


" Bagaimana Pak Mardi bisa tahu?" tanya Je penuh selidik.


" Habis nya sedari tadi Mas Je senyam senyum sendiri. Apalagi jika bukan karena Ibu guru yang cantik tadi."


Je diam, tak berani menanggapi ucapan Pak Mardi. Dalam hati Je bertanya-tanya, apa ia dia menyukai Bu Sofia?


Je tak berani meng-iyakan, karena dia dan Bu Sofia baru hari ini bertemu dan berkenalan. Hanya saja Je tak memungkiri, pada pandangan pertamanya Je memang terpesona pada guru nya itu. Entah terpesona karena apa, Je pun tidak tahu. Rasanya ada yang berbeda saja.


Hingga mobil yang mereka kendarai masuk ke dalam halaman rumah, baik Je juga Pak Mardi tak lagi membahas tentang Sofia.


Setelah Je turun dari dalam mobil, Pak Mardi pamit untuk langsung berangkat menjemput Camila.


Je masuk ke dalam rumah mendapati papa nya yang berada di ruang keluarga. Sedang memperhatikan laptop di hadapan nya.


" Baru pulang?" tanya Dirga melihat Je memasuki ruang keluarga.


" Iya, Pa."


Je memperhatikan putra nya yang masih berbalut jaket dengan celana abu abu yang masih melekat di tubuh pemuda itu.


" Kau belum mandi, Je?"


Je menggeleng.


" Ya sudah sana mandi. Keburu mama mu datang nanti."


" Siap, Pa."


Je berlalu meninggalkan papa Dirga dan masuk ke dalam kamar nya. Sementara Dirga hanya menggelengkan kepala nya melihat tingkah laku putra nya.

__ADS_1


Baru kali ini Dirga mendapati Je yang perhatian pada seorang perempuan. Bahkan saat sore tadi Dirga yang tanpa sengaja melihat Je berdiri di pinggir jajan bersama seorang perempuan, membuat Dirga penasaran.


Je yang Dirga kenal adalah orang yang tidak peduli pada lingkungan sekitar. Dan Je hampir tidak mempunyai teman dekat. Kecuali Kenzo dan Kenzi.


Oleh sebab itulah Dirga saat ini sedang bertanya-tanya. Bagaimana mungkin seorang Jaghad bisa begitu peduli pada gurunya. Dan tadi, seharus nya Pak Mardi bisa saja mengantar guru nya Je tanpa Je harus ikut bersama mereka. Ah, seperti nya memang sedikit aneh. Mungkin nanti Dirga bisa bertanya pada Je tentang guru nya itu.


***


Sampai Camila pulang, Je belum juga keluar dari dalam kamar nya.


" Malam, Pa." Camila menghampiri Dirga yang duduk di atas sofa. Dengan sedikit membungkuk, Mila mencium pipi Dirga. Tapi seperti kebiasaan mereka. Dirga akan mencuri kecupan di bibir istri nya.


" Pa... Nanti Je lihat, kita di ledekin lagi."


Dirga terkekeh, Mila sudah menegakkan kembali tubuhnya.


Je memang selalu menggerutu dan meledek papa dan mama nya apabila kedapatan oleh nya papa dan mama sedang berciuman atau bermesraan. Dirga tidak pernah peduli dan cuek saja. Tapi Mila, akan merasa malu karena putra nya ini sudah beranjak remaja.


" Aku mandi dulu ya. Papa dan Je sudah makan malam atau belum?"


"Baiklah jika seperti itu. Tunggu aku sebantar ya."


Dirga mengangguk. Lalu Mila meninggalkan nya untuk masuk ke dalam kamar.


Tak berselang lama Dirga dikejutkan dengan kehadiran Je yang begitu saja duduk di sofa sebelah nya.


Dirga hanya menoleh sekilas menatap putra nya.


" Mama sudah pulang belum, Pa?" tanya Je.


"Sudah. Baru saja."


"Sekarang mama mana?"


"Masih mandi. Kenapa?"


"Je kangen sama mama. Nanti malam Je ingin tidur sama mama."

__ADS_1


"Tidak boleh. Enak saja. Kalau mama tidur sama kamu, Papa tidur sama siapa? "


"Ya sekali - kali papa tidur sendiri kan tidak masalah."


"Nggak. Nggak ada istilah pinjam mama segala."


" Dasar papa pelit. Jika seperti ini kenapa aku jadi kangen Mbak Hana ya. Dulu saat aku masih kecil, tiap hari Mbak Hana yang menemani ku tidur."


Dirga tersenyum, masih dengan fokus pada laptop nya. Ekor mata Dirga melirik putra nya yang seperti nya sedang menerawang jauh akan masa lalu nya.


Mengenai Hana, mantan baby sitter Je itu sudah menikah lagi lima tahun yang lalu. Dan Mbak Hana pada akhirnya Menikah dengan Ferdy, setelah gagal di incar oleh dokter Rasya. Dirga sendiri yang menjodohkan Ferdy dengan Hana. Karena Dirga merasa iba melihat Ferdy di usia kepala empat tapi belum juga mendapat tambatan hati. Dan meskipun Hana adalah seorang janda beranak satu, tapi Hana masih cantik dan awet muda. Usianya pun sama dengan Ferdy.


Dan mungkin memang mereka berdua sudah berjodoh. Pendekatan tidak memerlukan waktu lama hingga pada akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Setelah menikah Ferdy memboyong Hana ke rumah nya. Dan semenjak itu, Je tidak lagi mempunyai pengasuh. Selama kurun waktu satu tahun setelah pernikahan nya, Hana masih sering mengunjungi Je sekalipun itu tidak setiap hari. Dan lagi Hana tidak bisa menginap di Rumah Dirga karena setelah Ferdy pulang kerja pasti Hana langsung di jemput nya.


Dirga menepuk sedikit keras lengan putra nya membuat remaja itu terlonjak kaget.


" Pa...! Kenapa harus mengagetkanku ?"


"Habis nya dari tadi ngelamun terus. Itu mama sudah memanggil kita."


"Aku hanya kepikiran Mbak Hana, Pa. Kangen sama Mbak Hana."


"Kepikiran Mbak Hana apa Bu Sofia?" goda Dirga.


Je sudah melotot mendengar perkataan papa Dirga. Dan Dirga segera beranjak berdiri menuju ruang makan jika tidak ingin Je membalas menggodanya.


Memang sejak Je beranjak remaja, hubungan Je dengan Dirga lebih mirip seperti teman. Jika bertemu ada saja yang mereka ributkan atau perdebatkan. Hingga kadangkala sanggup membuat Mila sakit kepala demi menghadapi kekisruhan anak dan suaminya.


"Je mana, Pa?" tanya Mila mendapati suaminya hanya sendirian.


" Je sibuk memikirkan Bu Sofia." celetuk Dirga.


Je yang kini sudah berada di belakang papa Dirga dan mendengar apa yang papa nya katakan langsung protes begitu saja.


"Papa jangan mengada-ada. Aku lagi kangen sama Mbak Hana bukan Bu Sofia."


Dan Camila yang mendengar mereka menyebut nama Bu Sofia, mencoba berpikir keras. Sebuah nama yang terasa asing di pendengaran Camila.

__ADS_1


__ADS_2