Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Bab 22 - Genggaman Tanganmu


__ADS_3

DIRGA POV


Mila masih marah padaku, sedari tadi dia mendiamkanku. Hingga kembali ke rumah sakit pun Mila masih diam membisu. Aku tahu aku salah bicara, sebenarnya tak ada maksud apapun. Tapi memang apa yang kukatakan tadi benar adanya. Mama sering kali menanyakan tentang Camila bahkan sudah beberapa kali mama memintaku untuk menikahi Camila.


Bukan salah mama jika beliau seperti itu. Yang mama tahu Mila adalah kekasihku dan calon istriku meski aku tak pernah berkata apapun pada mama tentang status hubunganmu dengan Camila. Mungkin menurut mama karena Camila adalah satu-satu nya perempuan yang pernah kubawa ke rumah dan kukenalkan padanya jadi mama salah kira.


Akupun tak mau memupus harapan mama. Kalian tau sendiri bagaimana kondisi mama. Aku tidak akan mampu membuat mamaku sedih. Toh apa yang dipikirkan mama jika Camila adalah wanita spesial buatku adalah benar


adanya. Hanya saja status hubunganku dan Mila yang sesungguhnya lah yang mama tidak tahu.


Oleh karena itu aku masih berusaha mendapat kan cinta Camila. Bukan nya aku tak tau diri mengejar cinta wanita muda. Tapi yang namanya cinta itu tak bisa diprediksi untuk siapa dan dengan siapa. Perbedaan usia yang cukup mencolok mungkin yang pada akhirnya membuat Camila mencoretku dari daftar kandidat calon suaminya. Tapi bukan Angkasa Dirgantara namanya jika menyerah begitu saja. Aku masih berusaha bagaimanapun caranya agar bisa mendapatkan cinta Camila.


Aku hendak ke kamar mandi saat Ponsel ku yang berada di atas kasur berdering.


" Mama. " gumamku. Segera kugeser tombol hijau pada layarnya.


" Hallo ma..."


" Kenapa ga ngabari mama pas sampai Surabaya."


" Maaf kan Dirga ma. Dirga lupa." astaga kenapa aku bisa lupa jika aku belum memberikan kabar pada mamaku. Padahal sudah sejak kemarin aku tiba di Surabaya.


" Lagi dimana sekarang."


" Dirga lagi di luar kota ma. "


" Di luar kota? Dimana? Ini kan weekend apa kamu ga istirahat dulu. Kok langsung ngurusin kerjaan."


" Dirga ga lagi ngurusin kerjaan ma. Tapi....." ucapanku terhenti. Menimbang-nimbang apa iya aku harus cerita ke mama jika aku lagi nganter Camila.


" Tapi apa Dirga. "


" Ehm... Itu.... Dirga... Dirga sedang antar Mila ke rumah budhe nya yang sedang sakit. "


" Oalah jadi kamu lagi sama Mila. Aduh Dirga mama itu kangen sama Mila. Pengen ketemu gadis itu lagi. Mila itu cantik dan kelihatan nya dia juga gadis yang baik. "


" Iya mama ga salah. Mila memang cantik dan baik. "


" Kapan kamu mau bawa Mila ketemu mama lagi. "


" Kalau mama sudah balik dari London. "


" Bener ya. Kamu janji bakal bawa Mila kalau mama pulang ke Surabaya. "


" Siap ma. "


" Ya sudah kalau begitu mama tutup telpon nya. "

__ADS_1


" Iya ma. Mama jaga kesehatan ya. Love you ma."


" Love you too sayang. "


-------


Hari minggu ini hari keduaku berada di kota kelahiran Camila. Bunda dan juga Budhe banyak bercerita padaku tentang keluarga mereka. Jadi keluarga Bunda itu memang asli warga kota ini. Camila dan kedua kakak lelakinya juga lahir dan besar di kota ini. Bahkan rumah mereka pun juga masih ada disini tapi disewakan. Mereka baru tinggal di Surabaya saat Mila masuk SMA. jadi kurang lebih baru empat tahun Bunda, Mila dan kakak Mila yang bernama Andrew menetap di Surabaya. Sementara kakak sulung Mila yaitu Keenan selama ini menetap di Australia bersama papanya. Baru dua tahun terakhir ini Keenan menetap di Surabaya dan akhirnya menikah dengan Danisha. Sedangkan papa Mila sudah menikah lagi dengan mamanya Nathalie dan mereka tinggal di Australia. Silsilah keluarga Mila ternyata begitu rumit. Tapi aku salut karena mereka dapat hidup rukun dan damai.


Aku masuk ke ruang perawatan Budhe Jasmine. Agak terkejut karena ruang ini begitu ramai. Banyak keluarga pasien yang sedang berkunjung. Mungkin karena ini hari minggu jadi banyak diantara mereka yang meluangkan waktunya untuk menjenguk keluarga atau saudara yang sedang sakit.


Kulihat ranjang perawatan Budhe yang dikekelilingi beberapa orang. Mungkin keluarga nya Budhe sedang berkumpul. Dengan langkah lebar kuhampiri mereka. Budhe Jasmine yang menyadari kehadiranku tersenyum dan


melambai ke arahku.


" Eh nak Dirga. Ayo kemarilah. Budhe kenalkan sama anak Budhe."


Aku berjalan mendekat menyalami Budhe seperti biasanya. " bagaimana kondisi Budhe. Apa sudah ada kemajuan."


Tanyaku.


" Alhamdulillah Budhe sudah merasa lebih enakan. Kalau diijinkan, besok juga Budhe sudah boleh pulang. Oh iya nak Dirga kenalkan ini anak Budhe. Ratna namanya."


Aku mengedarkan pandangan. Ada seorang wanita yang kira-kira umurnya dua atau tiga tahun di bawahku. Juga seorang pria yang sedang duduk memangku anak lelaki dan seorang wanita dan pria paruh baya.


" Hai aku Ratna. " wanita yang Budhe kenalkan sebagai anaknya ini mengulurkan tangannya kepadaku.


Kuterima uluran tangan nya dengan seulas senyum. " saya Dirga."


" Oh iya kenalkan ini suamiku. Mas Ridwan namanya dan ini anak lelaki kami. Saga namanya. Dan yang ini kedua


mertuaku."


Aku berkenalan dengan mereka satu persatu.


" Nak Dirga. Ratna ini anak Budhe satu-satunya. Mereka tinggal di Lombok. Maka dari itu kemarin pas Budhe masuk rumah sakit yang bisa Budhe minta tolong hanya Anyelir karena hanya mereka saudara dekat Budhe.


"


" Oh begitu Budhe. Oh ya Mila sama Bunda kemana kok ga kelihatan. "


" Tadi katanya mau ke kantin. Mungkin nak Dirga mau menyusul mereka ga papa. "


" Iya Budhe. Kalau begitu saya nemuin Mila dulu ya. Mari mbak Ratna mari mas saya tinggal dulu. “


“ Iya iya silahkan. “ ucap mereka berbarengan.


------

__ADS_1


Belum juga tiba di kantin, aku berpapasan dengan Camila di koridor rumah sakit.


" Om Dirga. Ngapain disini "


" Nyari kamu. "


Camila mengernyit." ngapain nyari aku. "


" Kangen. "


Camila melotot dan berjalan meninggalkanku. Aku berjalan mensejajarkan langkah dengan nya.


" Bunda mana."


" Di toilet."


" Jalan yuk. Kudengar disini banyak pantai yang indah. Mumpung aku disini sekalian pengen lihat-lihat. "


" Om Dirga sendiri saja. Aku kan harus jagain Budhe."


" Bukan nya Budhe sudah ada anak nya ya yang ngejagain."


" Ya tapi..... " ucapan Mila terputus karena tiba-tiba kita berpapasan dengan Bunda.


" Eh ada nak Dirga. "


" Iya tante. "


" Oh ya nak Dirga. Berhubung Ratna anak Budhe nya Camila sudah datang, nanti sore kita balik ke Surabaya ya. Maaf bunda sudah ngrepoti nak Dirga."


" Oh gapapa kok tante. Dirga senang bisa bantu tante. Lagian Dirga juga suka berada di kota ini."


" Terimakasih loh nak Dirga."


" Sama-sama tante. Oh ya tan, Dirga boleh ga ajak Camila jalan-jalan sebentar. Katanya disini banyak pantai yang


indah."


" Oh pasti boleh. Mila kamu temani dong nak Dirga nya jalan-jalan. Mumpung masih disini. "


" Tapi Bun.. " Mila sudah memberenggut. Tapi melihat Bunda nya sudah menatapnya tajam seperti itu Camila tak bisa berkutik. Aku tersenyum penuh kemenangan.


" Iya iya Mila anterin. Ayo om. " Mila menarik tanganku.


" Tante saya pinjam Mila dulu. "


Mila masih menarik tanganku dan aku tersenyum lebar melihat tangan kami yang bertaut.

__ADS_1


" Sepertinya kamu yang lebih semangat. Gitu katanya tadi ga mau.".


Mila menghentikan langkahnya, menatapku tajam. Kuangkat keatas genggaman tangan kami. Mila yang tersadar dengan apa yang dilakukan nya berusaha menarik tangan nya lepas. Tapi tak kubiarkan itu terjadi. Aku semakin erat menggenggam tangan nya. Kembali berjalan menyusuri koridor rumah sakit.


__ADS_2