Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Season 2 - Chapter 25


__ADS_3

Selesai makan, Je benar - benar tertidur. Dirga mengamati jam tangan nya. Sudah jam satu siang.


" Mau langsung ke rumah sakit atau...."


" Ke rumah sakit saja. Nanti kita bisa menunggu di dalam mobil sambil menunggu Mila selesai bekerja. Bagaimana?" jawab Dirga bersemangat.


Daffi tergelak. Menertawakan tingkah om om mesum di sebelah nya. Daffi sangat tahu betapa rindu nya Dirga pada Camila.


" Kenapa kau menertawanku. "


" Enggak. Hanya saja... Ah sudah lah. "


" Apa? "


" Iya, aku tahu kau merindukan Camila. Tapi jangan galak - galak begitu padaku."


Dirga mentoyor lengan Daffi. " Sialan kau Daf. Aku memang sangat merindukan nya. Kau tahu dua minggu itu waktu yang lama."


" Salahmu sendiri kenapa kau ijinkan Camila pergi ke Jakarta. "


" Lalu, apa iya aku harus melarang nya. Kau tahu aku tak akan mungkin melakukan hal itu. Aku sangat menyayangi nya dan aku akan melakukan apapun untuk membahagiakan nya. "


" Termasuk mendukung semua cita - cita dan karir Camila. " sela Daffi


" Ya, kau benar Daf. Bagiku, Camila adalah segalanya. Perjuangan untuk mendapatkan nya dulu juga tidak mudah. "


Kembali Daffi tertawa. Pria itu teringat akan cerita Dirga waktu itu. Untuk mendapatkan seorang Camila Wijaya agar mau menjadi istrinya, Dirga rela mengelabuhi Camila. Bahkan sampai rela menikung Danu, keponakan nya sendiri.


" Kenapa kau menertawakan ku lagi? "


" Kau ini sensitif sekali brother. Apa rasa rindu bisa mengubah orang menjadi pemarah seperti mu."


" Sepertinya iya. Jadi jangan coba - coba menggodaku lagi."


" Fine. Aku paham."


Mereka terdiam, menyelami pikiran masing - masing. Macet nya jalanan membuat emosi Dirga seolah tak terbendung. Sungguh dia ingin secepatnya bertemu dengan Camila.


" Daf.... "


" Hem.... "


" Thanks, sudah jagain Camila selama disini. "


" Itu sudah menjadi tugasku. Kau tenang saja. Lagi pula Camila itu sudah seperti adik aku sendiri. Bukankah kita keluarga."


" Ya kau memang kekuargaku yang terbaik."

__ADS_1


Akhirnya Dirga merasa lega. Mobil yang dikendarai Daffi memasuki pelataran Rumah Sakit setelah menempuh perjalanan hampir satu jam lamanya.


" Masih jam dua. Kau mau keluar sekarang atau menunggu disini saja? " tanya Daffi setelah ia memarkir mobil nya.


Sebelum menjawab pertanyaan Daffi, Dirga melihat putra nya yang masih tertidur pulas.


" Daf... Aku bisa minta tolong padamu."


" Apa sih yang tidak aku lakukan buat mu. "


" Boleh aku titip Je sebentar. "


Daffi terdiam sejenak, otak nya langsung bekerja. Dia tahu apa yang Dirga maksudkan.


" Baiklah. Aku akan menunggu disini. Je akan aku jaga. Kau masuk lah. Temui ratu hati mu."


" Kau memang tahu apa yang ku mau Daf. "


" Ya itu sudah pasti. Aku kan pengertian padamu."


Dirga tergelak. Sungguh beruntung dia memiliki sahabat seperti Daffi. Selalu bisa mengerti tentang nya.


" Aku titip Je. Jika dia bangun segera telpon aku. Okay."


" Baiklah. Semoga misimu berhasil. Dan semoga Camila tidak terkejut mendapatimu ada disini."


Sementara itu Daffi hanya mengamati sekilas sahabatnya itu hingga Dirga tak terlihat lagi. Disandarkan punggungnya pada jok mobil yang ia duduki. Lalu mengeluarkan ponsel. Untuk membunuh rasa kebosanan menunggu Je yang masih tertidur pulas, Dirga memilih bermain game dari ponsel nya.


***


Dirga menyusuri koridor Rumah Sakit. Tadi, dia sudah bertanya pada petugas di bagian informasi tentang dimana letak ruang dokter Camila berada. Awalnya agak kesusahan petugas itu mencari info akan tetapi setelah Dirga mengatakan jika Camila adalah dokter tamu, barulah petugas itu langsung paham.


Untuk dokter tamu memang ada penempatan khusus di rumah sakit ini.


Dengan kepala menoleh ke kanan dan ke kiri, Dirga sedikit kesulitan mencari tempat dimana Camila berada. Rumah sakit yang cukup besar. Dan hanya mengandalkan petunjuk arah yang terpasang di sepanjang lorong rumah sakit.


Dirga terpaku menatap sebuah petunjuk dimana itu adalah tempat ruangan Camila berada. Ya, karena hari ini adalah hari terakhir Camila berada disini, jadi tugasnya hari ini tidak lagi menemani dokter praktek atau pun operasi. Melainkan Camila harus membuat laporan selama ia bertugas disini.


Ini adalah sejenis ruang administrasi, mungkin jika Dirga tak salah. Karena dia pun tak seberapa paham dengan silsilah yang berada di dalam sebuah rumah sakit.


Beruntung ada seorang pesawat yang sedang melintas. Jadi Dirga memutuskan untuk menghentikan perawat tersebut, hingga sang perawat dibuatnya terkejut.


"Maaf suster. Boleh saya bertanya."


" Iya, ada yang bisa saya bantu Pak."


" Apa disini ada yang bernama dokter Camila. Eum... Dia dokter tamu dari Surabaya."

__ADS_1


"Oh dokter Camila. Iya ada di dalam."


" Bisakah saya bertemu dengan nya."


" Kalau begitu Bapak tunggu sebentar. Saya akan panggilkan dokter Camila."


" Terimakasih sus."


" Sama - sama."


Dirga berdiri menatap sekeliling Rumah Sakit yang tampak asri dengan ditumbuhi beberapa bunga dan pepohonan. Beberapa perawat serta pasien berlalu lalang di sekitarnya. Sungguh berada di tempat ini membuat Dirga harus banyak bersyukur atas nikmat Tuhan yang telah diberikan kepadanya selama ini. Nikmat kesehatan hingga ia tak perlu merasakan sakit. Nikmat mendapat istri yang baik dengan pekerjaan yang mulia ialah menolong banyak orang sakit yang berada di sekelilingnya. Dirga tidak menyesal telah membiarkan istrinya mengejar cita - cita karena memang cita - cita Camila sangat lah mulia.


Dia masih terdiam sembari menunggu perawat yang memanggil Camila. Terasa lama bagi Dirga padahal baru beberapa menit yang lalu dia meminta tolong pada perawat untuk memanggilkan istrinya.


Sementara itu, di dalam sebuah ruangan, Camila yang tampak sibuk dengan berkas - berkas nya terkejut dengan kehadiran salah satu perawat.


" Dokter Camila...."


Camila mendongak karena merasa namanya dipanggil.


" Iya sus...."


" dokter.... Eum diluar sedang ada orang yang mencari dokter Camila ."


" Mencari saya?" Camila memastikan.


Perawat itu mengangguk. " Iya dokter...."


" Siapa?"


" Saya kurang tau dokter. "


" Bukan dokter Rasya atau dokter Allan...."


" Bukan dokter."


" Owh... Ya sudah. Kalau begitu sebentaragi saya temui. Terimakasih ya sus. "


" Baik dokter. Saya permisi dulu."


Camila tersenyum lalu mempersilahkan suster untuk undur diri.


Dirapikan berkas - berkas nya yang masih berceceran di atas meja. Sebenarnya tinggal sedikit lagi tugas selesai ia kerjakan. Sebelum undur diri dari Rumah sakit ini Camila harus menyelesaikan apa saja yang harus ia selesaikan.


Camila beranjak berdiri, merapikan bajunya yang sedikit kusut. Karena satu hari ini dia banyak sekali aktifitas. Melangkah keluar dari ruangan, Camila tertegun di ambang pintu. Melihat seseorang yang sedang berdiri memunggunginya.


Mata Camila sudah berkaca - kaca. Dia tahu siapa pria yang sedang berdiri tak jauh dari nya. Seseorang yang begitu ia rindukan beberapa hari ini.

__ADS_1


Dengan perlahan Camila berjalan mendekati pria itu. Senyum nya mengembang. Rasa bahagia nya membuncah kala melihat Angkasa Dirgantara, suami nya, telah berada di hadapan nya. Ya, dia tidak sedang bermimpi karena lelaki itu memang benar - benar Dirga.


__ADS_2