Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Bab 51 - Cintaku


__ADS_3

Dirga Pov


Sudah lewat tengah malam saat aku keluar dari club. Sebenarnya aku tak tega meninggalkan Daffi dalam kondisi kacau seperti itu.


Sebelum aku meninggalkan club, aku sudah berpesan pada Boy, bartender di club ini, agar menemani Daffi menginap disini. Aku hanya takut terjadi sesuatu pada Daffi.


Kulajukan mobil membelah jalanan yang tampak lengang. Baru juga tadi sore aku mengantar Mila pulang ke rumah Bunda, sekarang aku sudah merasa kangen lagi sama istriku itu.


Astaga, aku benar-benar cinta mati padanya. Tak kuasa rasanya berada jauh dari Camila. Padahal dua hari lagi aku harus kembali ke Riau. Proyek ku disana belum selesai dan lusa aku ada jadwal meeting dengan pimpinan proyek. Jadi mau tak mau aku harus tetap kembali ke Riau.


Mobil yang Kulajukan membelok ke jalan arah rumah Bunda Anyelir, bukan ke rumah mama. Sudah tengah malam begini pasti keluarga Bunda sudah pada tidur, apakah aku harus mengganggu istirahat mereka.


Benar saja, sampai di depan gerbang perumahan, portal sudah ditutup. Kubuka kaca mobil kala seorang security perumahan menghampiri.


" Selamat malam Pak....."


" Malam... Owh.... Mas ganteng suami Mbak Camila. Sebentar saya bukakan."


" Terimakasih."


Pak Security membuka portal agar mobil ku bisa masuk. Warga di perumahan ini memang sudah tau jika aku adalah suami Mila. Meski acara pernikahan ku tertutup dan terkesan diam diam, tapi acara pernikahan waktu itu tetap diketahui oleh beberapa warga perumahan termasuk Pak RT dan RW setempat.


Kumatikan mesin mobil, rumah Bunda tampak sepi. Lampu ruang tamu juga sudah dimatikan. Aku keluar dari dalam mobil, mendongak ke atas melihat lampu kamar Camila yang masih menyala. Memang biasanya Camila lah yang tidur paling larut karena dia selalu saja mengerjakan tugas-tugas kuliah yang tidak ada habisnya.


Aku tersenyum, mengeluarkan ponsel dari saku celana. Mencari kontak Mila. Baru di dering pertama panggilan sudah terjawab. Ternyata benar dugaanku jika Mila memang belum tidur.


" Hallo. Ada apa Om."


Duh istriku ini tidak bisa kah sedikit saja tak jutek padaku.


" Sayang... Buka pintu nya dong. Please......!!!" pintaku dengan suara yang kubuat semanja mungkin. Seorang Angkasa Dirgantara bisa semanja ini ternyata.... Seperti bukan aku saja.


" Hah...buka pintu.?"


" Aku di depan."


" Depan? Ngapain? Ini kan sudah malam. Ngapain Om Dirga kesini. "


" Kangen kamu."


" Ckck.  Dasar lelaki sukanya ngegombal. Baru ketemu sudah bilang kangen."


" Cepet buka pintu nya sayang.... Di luar dingin nih... "


" Iya iya tunggu.... Bawel ih...."


Tut.... Tut.....

__ADS_1


Entah sudah keberapa kalinya aku senyum senyum sendiri sedari tadi. Tiap bersama Camila hati ini selalu saja berbunga bunga. Inilah yang dinamakan jatuh cinta.


Ceklek... Pintu terbuka. Muncul lah sosok Camila dengan berbalut piyama tidur dan hijab yang melekat di kepalanya. Mau tidur saja masih tetap terlihat cantik.


Mila membuka pintu pagar. " Masuk" ucapnya.


Dengan semangat aku mendekati nya, melingkar kan tanganku di pinggang nya. Kutarik tubuhnya mendekat dan kini aku telah memeluk nya. Kurasakan tubuh Mila menegang dalam dekapanku. Mungkin dia kaget dengan perlakuanku.


" Ini datang-datang main peluk. Diliat orang malu."


" Nggak ada yang liat. Semua pada tidur."


" Lepas ih. " Mila mendorong dorong tubuhku berusaha melepaskan diri.


" I miss you..." aku melepaskan pelukanku.


Mila menatapku jengah ..... wajahnya terlihat lucu. Aku terkekeh melihat nya.


Pintu pagar dia tutup kembali. Aku mengikutinya masuk ke dalam rumah.


" Om ngapain sih malam malam kesini."


Aku masih mengikutinya yang kini menapaki tangga naik ke lantai dua.


Mila masuk ke dalam kamarnya dan aku masih setia mengekorinya.


" Tadi kan sudah kubilang. Aku kangen."


" Apa kata om deh . Serah...." Mila duduk di atas ranjang kembali menekuri laptopnya. Beberapa buku berserakan di atas kasur.


Aku ikut duduk di atas ranjang. Melihatnya yang kembali fokus mengerjakan tugas.


" Ini sudah jam satu. Mendingan istirahat . Bukan nya besok harus kuliah . "


" Sebentar, nanggung tinggal dikit lagi." Jawabnya.


Kurebahkan tubuhku di atas kasur  . Mila menatapku. " om ngapain tidur disini . "


" Aku ngantuk. "


" Tidur di kamar kak andrew saja...."


" Kenapa begitu ?"


" Ranjangku sempit nggak muat kalau om dirga ikutan tidur disini . "


" Masih muat kok....tenang saja....tuh kan masih luas. "

__ADS_1


" Luas apanya....ngarang. .."


" Sayang .... mending sekarang tutup laptopnya, beresin bukunya. Kita tidur....oke....."


" Eh..eh...apaan sih om aku belum kelar ini. "


" Ya sudah .kalau begitu aku tidur duluan. Ngantuk sayang...." aku sudah menguap. Kantuk mulai menyerang. Mencari posisi senyaman mungkin, aku tidur miring menghadapnya yang masih fokus menatap layar laptop.


-------


Sarapan sudah siap semua di meja makan ketika aku turun dari lantai dua dimana kamar Mila berada. Baru jam tujuh pagi dan aku harus segera ke kantor. Hari ini aku ada meeting dengan ferdy. Untung saja aku selalu punya baju cadangan yang selalu kusimpan di dalam mobil. Jadi aku tak perlu pulang lagi ke rumah mama untuk mengganti baju ku dengan baju kerja.


" Pagi Bunda......" sapaku melihat Bunda yang sedang menuang teh hangat ke dalam cangkir.


" Pagi nak Dirga. Jam berapa semalam datang. Kok Bunda engga tahu . "


" Eum jam satu an kalau nggak salah bun. "


" Ayo duduk. Kita sarapan dulu. "


" Baik bun. Terimakasih. Ken sama Danisha mana bun ".


" Masih di atas. Sebentar lagi juga turun."


Mila datang dari dapur membawa secangkir coklat hangat yang masih mengepulkan asap. Dia duduk di sebelahku.


Kucondongkan tubuhku ke samping. Berbisik ditelinganya. " untuk ku mana  . "


" Om mau ? "


" Apapun yang cintaku buat, pasti abang terima. "


Mila terbatuk-batuk padahal dia tidak sedang minum.


" Dasar lebay....." dia tertawa kecil, mendorong pipiku dengan telapak tangan nya menjauh dari wajahnya.


Aku pun ikut tertawa. Satu langkah menuju lebih baik. Mila sudah mulai menerima kehadiranku.


Mila berdiri kembali ke dapur, dan aku baru menyadari jika sedari tadi bunda ternyata memperhatikan interaksi kami, beliau ikut tersenyum.


" Bunda senang melihat anak-anak bunda yang hidup rukun, harmonis dan bahagia."


" Dirga mohon doanya agar rumah tangga Dirga dan Mila langgeng sampai nanti. "


" Bunda pasti akan selalu mendoakan kalian."


" Terimakasih Bunda."

__ADS_1


__ADS_2