
Rasya mengulum senyum, dalam hati bersorak kegirangan. Selama dua minggu lamanya dia akan berada dekat dengan dokter Camila. Saat nya bagi Rasya untuk mendekati dokter perempuan yang telah berhasil mencuri hatinya. Bagaimana mungkin Rasya akan menyianyiakan kesempatan ini. Sepertinya Rasya harus berterimakasih pada Om Hedra yang telah memberinya kesempatan agar bisa berdekatan dengan dokter Camila. Bukan kah kemarin Om hendra sendiri yang menyarankan nya untuk mencari partner , dan partner yang om Hendra maksud itu adalah istri.
Mungkinkah dokter Camila adalah jodohnya ? semoga saja. Rasya tak henti berharap agar dokter Camila memang benar benar Jodoh yang telah Tuhan persiapkan untuknya.
" Dokter Hendra, jika sperti itu saya permisi dulu. " Camila undur diri. Wanita itu telah beranjak berdiri. melemparkan seulas senyuman pada dokter Allan dan juga dokter Rasya.
Dan sumpah demi apapun juga, Rasya terpesona. Pandangan matanya tak lepas dari tubuh Camila yang kini telah menghilang di balik pintu ruang kerja dokter hedra.
Raysa terjengit kaget, sikutan lengan dokter Allan di rusuknya membuatnya melotot pada sahabatnya ini.
" Apaan ?" protes Rasya pada Allan.
Allan mencodongkan tubuhnya mendekat di telinga Rasya, berbisik lirih agar tak terdengar oleh Dokter hendra. " Bisakah mata indahmu itu dikondisikan. menatap istri orang tak berkedip. "
Ucapan Allan membuat Rasya berpikir, apa artinya istri orang. Mungkinkah yang Allan maksud itu adalah Camila. Bagaimana bisa Allan berkata jika Camila adalah istri orang.
Rasya hanya mencebik tak mempedulikan perkataan Allan.
" Dokter Allan, Dokter Rasya. Saya harap kalian berdua bisa mulai mempersiapkan diri dari sekarang. " Ucapan tegas dan berat dokter hendra, membuat perhatian Rasya beralih pada om nya .
" Baiklah, jika tidak ada lagi yang ingin kalian tanyakan, silahkan melanjutkan tugas masing masing. Terimakasih atas waktunya. Selamat siang. "
Allan dan Rasya keluar dari dalam ruangan dokter Hendra.
Rasya, lelaki itu menelisik sekitar . Siapa lagi yang ia cari jika bukan dokter Camila. Kemana perginya wanita itu, kenapa cepat sekali menghilng dari pandangan matanya.
" Kau mencari siapa ? " tanya Allan
Sedari tadi Allan perhatikan Rasya seperti tidak tenang. Matanya menyisir seluruh penjuru koridor rumah sakit dan itu membuat Allan risih, Allan sangat hafal betul bagaimana tingkah Rasya. Sahabatnya itu selain memiliki sifat slengekan juga terkenal dengan sebutan playboy nya. Setiap perempuan cantik yang ia kenal pasti akan berakhir dengan dipacarinya.
Dan sekarang Allan tahu jika Camila menjadi target Rasya selanjutnya. Jujur, Allan tak suka dengan tingkah Rasya yang kentara sekali sedang mengejar cinta Camila. Seandinya yang Rasya kejar itu gadis belia yang belum memiliki keluarga mungkin saja Allan tak mau ambil peduli dengan tingkah sahabatnya itu. Tetapi ini Camila, perempuan bersuami yang bahkan sudah memiliki anak.
Tidak mungkin juga Allan membiarkan Rasya mengejar istri orang.
" Rasya ... "
__ADS_1
Yang dipanggil namanya menoleh tak minat menatap pada sahabatnya. Rasya masih saja mencari cari keberadaan Camila sembari berjalan menuju kantin berdua dengan Allan.
" Jangan lagi menggoda dokter Camila. " ucap Allan.
Rasya menghentikan langkahnya mendengar nama Camila yang Allan sebut.
" memanganya kenapa ?"
" Karena Camila sudah bersuami. "
" Kau jagan bercanda, Aku tak percaya. Sudah aku duluan saja. bye. ..." Rasya berjalan cepat meninggalkan dokter Allan yang masih berusaha memanggil namanya.
" Sya ... Rasya.... "
Tapi Rasya tak peduli dan berjalan cepat meninggalkan Allan yang memilih berhenti sembari menatap punggung Rasya yang kini hilang di lorong Rumah sakit
****
Camila, seusai dari ruangan dokter Hendra dia segera menuju kantin. Melanjutkan niatnya yang tadi tertahan. Perutnya sudah keroncongan minta diisi dan dia tak dapat lagi menahan rasa lapar. Jika ia biarkan maka dia bisa sakit. Dan Camila tidak mau hal itu terjadi.
Sebelum menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, Camila teringat jika dia belum menghubungi Je.
Diambil ponsel di saku jas dokter nya, lalu mulai menghubungi putranya. Sembari makan Camila mengobrol dengan Je. Mendengar celoteh Je membuat Camila sesekali tertawa. Je yang pintar, Je yang lucu. Dan kunyahan nya mendadak berhenti kala Je berucap sesuatu.
" Mama pulang sore kan....? Je mau main sama mama."
Lidah Camila mendadak kelu. Dia tak akan mungkin berbohong pada Je dengan menjawab Ya. Bisa dipastikan putra nya itu akan terus menunggu nya pulang. Tapi jika dia bilang yang sesungguhnya, maka dia harus rela membuat Je kecewa untuk sekian kali nya.
" Mama... Mama...."
Camila menghela nafas.
" Je sayang. Mama minta maaf. Hari ini mama ada jadwal kuliah. Untuk sementara Je main dulu sama Papa Dirga ya. Mama janji akan segera pulang begitu kuliah usai."
Camila tak lagi mendengar suara Je. Dan Camila tahu putranya itu marah. Semenit kemudian kembali suara Je terdengar.
__ADS_1
" Baiklah, Je main sama papa. "
" Anak pintar. Ya sudah mana tutup dulu telpon nya. I love you, boy. "
Camila menghela nafas lalu beralih menelpon suaminya. Camila ingin memberi tahu papa Dirga tentang keputusan sepihak yang baru saja ia ambil.
" Selamat siang, Sayang... Sudah makan?" suara nyaring Dirga yang selalu Camila dengar setiap ia menelpon suaminya.
" Pa... Papa lagi apa?"
" Eum... Selesai meeting bareng Ferdy. Sayang sudah makan?"
" ini lagi makan di kantin."
" Kenapa jam segini baru makan? "
" Tadi banyak pasien. Pa, boleh aku cerita sesuatu kepadamu. Eum... Papa lagi sibuk tidak."
" Untuk sayang aku selalu ada waktu. Cerita lah. Aku akan menjadi pendengar yang baik. "
" Pa, yang aku katakan kepadamu semalam ternyata benar. Aku ditugaskan ke Jakarta dua minggu lama nya. "
Camila pikir Dirga akan marah dan melarang nya pergi. Tetapi pemikiran nya salah.
" Sayang, mungkin bagi sayang ini adalah momen berharga yang tidak setiap saat datangnya. Jika memang sayang ingin pergi, aku akan mengizinkan. "
" Tapi Pa, bagaimana dengan Je."
" Je akan baik baik saja. Sayang tak perlu khawatir. Aku janji akan mengurus Je dengan baik selagi sayang pergi. Lagipula nanti kita bisa minta bantuan mama atau Bunda untuk tinggal sementara di rumah. Tidak masalah bukan? "
" Pa, aku pikir papa akan melarangku pergi. "
" Sayang, aku tak akan menghalangi langkahmu. Aku suamimu dan aku akan selalu mendukung semua yang terbaik untuk mu. Sayang jangan merisaukan hal itu. Jujur, aku tidak marah. Justru ini kesempatan bagi sayang. Lagipula ini semua juga bukan untuk diri sayang sendiri . Masih banyak orang diluaran sana yang membutuhkan dokter hebat seperti sayang. "
" Pa, kenapa aku makin cinta sama kamu.... "
__ADS_1
Dan Dirga sudah tertawa lebar di kantornya mendengar pujian istrinya.