
Dengan tas ransel menempel di punggung nya, celana jins warna navy serta kaos hitam pas badan yang di bagian depan bertuliskan 'Bonjour!', satu tangan kekarnya menopang berat tubuh balita yang berada di dalam gendongan nya. Kacamata hitam yang bertengger di atas hidung nya sengaja tidak ia lepaskan. Hidung nya yang mancung, kulit nya yang putih bersih, tangan kekarnya yang ditumbuhi bulu bulu halus, serta rahang nya yang sedikit berewok menambah kesan maskulin di diri pria itu.
Ayah yang sangat manis, mungkin cukup pantas di sematkan untuk nya. Lihatlah, tanpa canggung ataupun malu, dia masih setia menggendong Je di dalam dekapan nya. Sekalipun sang balita ingin diturunkan, tapi Dirga tetap setia menggendong putra nya.
" Papa, mana mama?" tanya Balita itu dengan kedua tangan mungil nya yang melingkari leher sang papa.
" Sebentar lagi kita akan ketemu mama. Okay...."
Je mengangguk semangat. Balita itu sudah sangat merindukan mama nya. Dua minggu tidak dipeluk, tidak diciumi oleh sang mama membuat nya terus saja rewel.
Sebenarnya Dirga sudah dari beberapa hari yang lalu ingin menyusul istri nya ke Jakarta. Hanya saja pekerjaan di kantor masih belum bisa ia tinggalkan. Kasihan Ferdy jika dia selalu saja meminta asisten nya itu untuk menggantikan tanggung jawabnya.
Menyusuri bandara Soeta, Dirga berjalan menuju pintu keluar. Dia sudah janjian dengan Daffi. Sahabatnya itu akan menjemput nya siang ini.
Senyum terus tersungging di bibir pria tampan bernama Angkasa Dirgantara itu. Ya, dia sangat merindukan sang istri tercinta, sama hal nya dengan Je. Pasti Camila akan kaget mengetahui kehadiran nya disini. Pasalnya Dirga tak memberitahu istri nya itu jika ia akan datang menjemput.
Sesuai jadwal yang Camila sampaikan pada Dirga, istri nya itu baru akan pulang esok hari. Dan ini adalah hari terakhir Camila bertugas di Jakarta.
Dirga sudah merencanakan untuk berlibur dua atau tiga hari lagi di Jakarta. Tapi belum tahu lagi apakah Camila bisa atau tidak jika extend hingga lusa.
Lambaian tangan Daffi membuat Dirga segera menghampiri sahabatnya itu.
" Woi... Brother.... Apa kabar?"
Dirga memeluk Daffi dengan satu tangan nya karena tangan satu nya lagi masih menggendong Je.
" Aku baik. Kau juga kelihatan nya semakin tampan. Tak salah memang ucapan Camila."
Daffi tertawa mendengar perkataan Dirga.
" Camila cerita apa ke kamu."
" Banyak...."
" Hei little bro, uncle rindu sama kamu. "
Daffi mengambil alih Je dalam gendongan Dirga. Lalu diciumi pipi gembul Je membuat balita itu tertawa kegelian.
" Sumpah, Je tambah ganteng saja."
" Makanya buruan punya anak. "
" Punya anak sama siapa? Memangnya bisa apa aku melahirkan anak. "
" Sampai kapan kau akan betah melajang."
" Sampai Nath mau aku nikahin."
__ADS_1
" Keberadaan Nath aja kau tak tahu." cibir Dirga.
" Sialan. " Daffi meninju pelan lengan Dirga.
Dan mereka berdua tertawa bersama.
" Papa, mana mama? " Kembali Je bertanya.
" Baiklah jagoan. Ayo kita bertemu mama. Uncle akan mengantarmu bertemu dengan mama ila yang paling cantik sedunia," ucap Daffi membuat mata Je berbinar bahagia.
" Ayo!" Ajak Daffi pada Dirga.
Mereka bertiga keluar dari Bandara. Menuju dimana tempat parkir berada.
" Lama juga ya aku tak ke Jakarta. "
Dirga menerawang. Ingat akan kejadian dulu dimana saat dia pernah mengalami kecelakaan yang parah setelah dia pulang dari Jakarta.
" Mila tidak tahu jika kalian datang?"
Dirga menggeleng mendapat pertanyaan dari Daffi.
" Biar jadi surprise. "
Daffi tertawa. Tiba - tiba saja dia teringat akan keberadaan seorang lelaki, rekan sesama dokter yang pernah mengganggu Camila tempo hari. Daffi berpikir sejenak apakah Dirga mengetahui nya. Tapi tak pantas juga jika Daffi menanyakan hal ini pada Dirga. Biarkan saja, toh itu juga bukanlah urusan Daffi.
" Mau langsung bertemu Camila atau mau kemana dulu?" tanya Daffi.
Dirga sedikit berpikir.
" Jam kerja Camila seleaai jam tiga sore."
" Baiklah. Bagaimana kalau kita makan siang dulu. Kasihan Je pasti lapar."
Dirga menoleh ke belakang dimana Je sedang sibuk dengan mainan yang ia bawa dari rumah. Balita itu memilih duduk di bangku tengah seorang diri daripada duduk di bangku depan dengan dipangku papa Dirga.
Seolah tenaga Je tak ada habisnya. Ini sudah mendekati jam tidur siang nya, tapi Je masih terlihat sangat aktif sekali.
" Je sudah pantas punya adik sepertinya." celetuk Daffi.
" Ya, menurutku juga begitu. Kasihan dia tidak ada teman di rumah. Kau tahu tiap kali Je bertemu Kenzo dan Kenzi. Anak itu seperti melupakan dunia nya karena begitu bahagia bisa bertemu dengan saudara nya. "
" Lalu? "
" Kau kan tahu Daf, bagaimana trauma nya Camila pada persalinan. Dia takut melahirkan dan aku tak mungkin memaksa nya. Karena bukan aku yang merasakan sakit nya. "
" Suami yang pengertian." Daffi mencibir.
__ADS_1
" Kau ini. Seharus nya kau juga sudah pantas menjadi seorang suami juga seorang ayah. Lupakan saja Nathalie. Aku yakin banyak sekali perempuan yang mau kau nikahi. "
" Kalau itu kau jangan meremehkanku. Hanya saja, masalah hati itu susah untuk diajak kompromi. "
Perbincangan mereka terhenti. Daffi mrmbelokkan mobil nya di sebuah restaurant cepat saji.
" Tak apa kan kita makan disini. Aku takut Je keburu kelaparan."
" Iya, makan dimanapun aku tak masalah. "
Dirga menoleh ke balakang menatap Je yang masih fokus dengan mainan robot miliknya.
" Je, kita makan dulu sayang."
Je mendongak.
" Mama," ucapnya.
" Belum. Mama masih bekerja. Kita makan dulu baru bertemu mama nanti. "
Je pun terpaksa mengangguk.
Mobil berhenti. Dirga turun dari dalam mobil lalu mengambil Je yang duduk di bangku tengah.
Je yang sudah terlihat mengantuk melingkar kan tangan nya ke leher sang papa. Kepalanya bersandar di ceruk leher Dirga.
" Jangan tidur dulu. Ayo kita makan."
" Sini, uncle saja yang gendong"
Daffi mengulurkan tangan nya diamabut oleh kedua tangan mungil Je. Masuk ke dalam resto dan Dirga memesan makanan ala kadarnya karena di dalam resto ini hanya menyediakan fast food.
Sembari menunggu Dirga membawa makanan mereka, Daffi mendudukkan Je di baby chair. Balita itu sudah tampak sayu.
" Kayaknya dia memang mengantuk."
Dirga hanya mengangguk. " Ini memang sudah waktunya dia tidur siang."
" Aku tak bisa membayangkan. Bagaimana repot nya membawa Je seorang diri di dalam pesawat."
" Je itu pintar. Dia tidak rewel sama sekali."
" Oh ya?"
" Ya. "
" Luar biasa. Sama sekali tidak merepotkan papa. " Daffi mengelus kepala Je dengan sayang.
__ADS_1
Dirga mulai menyuapi Je. Dan semua itu tak luput dari perhatian Daffi. Sungguh Daffi merasa bangga juga iri pada Dirga. Bangga karena Dirga mampu menjadi suami dan ayah yang baik. Iri karena Dirga bisa merasakan kehidupan rumah tangga yang nyaman dan damai. Sementara dia sendiri hingga sekarang masih terbelenggu oleh masa lalu yang entah kapan bisa iya enyahkan. Jujur Daffi pun ingin segera move on. Tapi itu sangat sulit.