
Je sedikit risih sebenarnya dengan adanya Cinta. Gadis kelas dua sekolah dasar itu tak juga berhenti merecoki nya. Ada saja yang cinta lakukan untuk merebut perhatian Je dari Rea. Sampai-sampai Je harus mengusap wajahnya berkali kali. Padahal mereka sedang makan. Dan Cinta dengan tingkah nya yang tak mau jauh dari nya. Rea pun seperti nya merasa menyesal sekarang karena telah menyetujui permintaan Cinta yang ingin ikut dengan mereka.
"Aku bilang juga apa tadi?" ucap Je menatap Rea.
Gadis itu hanya nyengir, "Sorry."
Cinta dengan nyaman nya memakan makanan nya masih dengan duduk di samping Je. Bahkan saat Je mengobrol dengan Rea maka Cinta akan menimpali. Seolah Je adalah milik nya dan hanya boleh mengobrol bersama nya. Tidak dengan Rea.
"Apa kak Rea tahu, kak Jaghad ini milik cinta satu-satu nya. Dan Kak Rea jangan coba-coba mendekati kak Jaghad lagi."
Rea sampai ternganga mulutnya mendengar seorang gadis kecil mengatakan hal demikian. Apalagi Jaghad, bahkan pemuda itu sudah meraup wajahnya. Bagaimana mungkin anak mbak Hana ini jadi korban sinetron. Kecil-kecil sudah berani mengklaim dia jadi miliknya. Astaga!
Karena Rea sudah tidak kuat lagi dengan tingkah cinta, terpaksa dia menghubungi Sofia dan meminta Sofia untuk menjemput cinta di tempat mereka makan.
Cinta, gadis itu enggan harus mengikuti sang kakak yang kini memaksa nya mengajak pulang.
"Tapi Cinta masih ingin disini bersama Kak Jaghad." Cinta berusaha menolak Sofia.
"Tapi Kak Jaghad nya juga mau pulang Cinta."
"Ya sudah kalau begitu Cinta pulang nya bareng Kak Jaghad saja. Boleh kan kak?" Cinta dengan wajah memohon nya menatap Je.
"Tidak bisa Cinta," Sofia berusaha membujuk Cinta.
"Cinta, kak Jaghad naik motor jadi tidak bisa membawa Cinta." ucap Jaghad kemudian.
" Ya sudah kalau begitu Kak Rea saja yang ikut kak Sofia. Aku nggak apa kok di bonceng motor sama Kak Jaghad."
Sofia, Je dan Rea saling pandang. Gadis kecil ini susah sekali dibujuk nya. Dan baiklah, Je pun akhirnya menyetujui.
" Re, kamu nggak papa pulang dengan Bu Sofia? "tanya Je merasa tak enak hati pada Rea.
" Its okay. Aku tak masalah kok. "jawab Rea. Meskipun fakta nya dia keberatan tapi mau bagaimana lagi. Cinta gadis kecil itu bahkan masih saja bergelayut manja di lengan Je.
" Maafkan Cinta ya Rea, Jaghad. " ucap Sofia tak enak hati.
Lalu Sofia beserta tunangan nya meninggalkan Je dan Cinta. Disusul dengan Rea di belakangnya.
Sementara Cinta sudah kegirangan.
"Kak Jaghad mau langsung pulang atau mau ajak Cinta jalan-jalan dulu?"
"Kita pulang." Jaghad sudah melangkahkan kakinya diikuti oleh Cinta.
__ADS_1
"Kak Jaghad nggak seru," cibir Cinta.
Dan Je benar-benar membawa Cinta pulang. Selama perjalanan karena Je menggunakan motor besar, maka Cinta dengan erat memeluk Je. Entah apa yang dipikirkan gadis kecil itu hingga begitu terobsesi pada Je.
Sampai di rumah, Hana yang mendapati Je datang bersama cinta mengerutkan kening nya.
"Sore mbak Hana," sapa Je pada mantan baby sitter nya.
"Kamu datang, Je." senyum lebar terbit di bibir Hana. Dia rindu sekali dengan Je karena setahun ini tak pernah bertemu.
Je dengan santai mencium punggung tangan Mbak Hana. Lalu memeluk wanita yang telah mengasuh nya selama sepuluh tahun lama nya.
"Aku kangen sama mbak Hana."
"Aku juga Je. Rindu banget dengan mu. Kapan kamu datang?"
Je melepas pelukan nya. "Baru tadi."
"Lalu kenapa bisa bersama Cinta?"
"Tidak sengaja bertemu di mall tadi. Dan cinta tidak mau pulang dengan Bu Sofia. Mau nya pulang bersamaku."
"Cinta.... Kenapa ngerepoti Kak Je." tegur Hana.
Hana tersenyum. Benar apa yang Cinta katakan.
"Ya sudah ayo masuk dulu."
"Eum... Mbak Hana aku langsung pulang saja ya. Nanti dicari mama. Aku tadi bilang hanya keluar sebentar."
"Benar tidak mau masuk dulu."
Je mengangguk. "Lain kali aku pasti akan main kesini."
"Ya sudah. Hati-hati di jalan. Terimakasih sudah mengantar Cinta pulang. Salam buat mama dan papamu."
"Aku pulang dulu."
Je sudah naik ke atas motor. Tapi Cinta tiba-tiba menghampiri Je. Menarik pundak Je agar merunduk sehingga sejajar dengan tinggi tubuh nya. Tanpa Je sangka, cinta memberikan satu ciuman di pipi Je.
"Kak Jaghad, Terimakasih ya sudah mengantar Cinta." begitu lah kata Cinta penuh kegirangan.
Je hanya mengangguk lalu memakai helmnya. Cinta masih berdiri disana menunggu Je. Hingga lelaki itu meninggalkan rumah Ferdy.
__ADS_1
Hana, perempuan itu hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anak nya. Apalagi sudah berani mencium pipi Je. Yang ada dipikirkan Hana, mungkin saja Cinta itu merindukan sosok kakak laki-laki yang selama ini diinginkan nya. Iya, Cinta memang pernah berkata padanya jika dia ingin memiliki kakak lelaki seperti salah satu teman sekolah nya. Huft, Hana hanya menghela nafas. Lalu mengajak Cinta masuk ke dalam rumah.
***
Tiba di rumah nya Je langsung disambut oleh mama nya.
"Kenapa sore sekali pulang nya."
" Maaf, Ma. Je mandi dulu ma."
Camila membiarkan putra nya meninggalkan nya.
Malam menjelang saat ketiga nya berkumpul di ruang makan. Dirga yang mengetahui putra nya sudah berada di rumah kembali tentu saja senang.
"Pa, kita jadi ke bali kan?" tanya Je.
"Tentu saja. Papa sudah mengatur semuanya. Sudah lama juga kita tidak pernah berlibur bersama. Lagi pula daddy mu sudah tanya terus kapan kita akan datang. Katanya sudah rindu. Apalagi keluarga daddy juga sudah lama kan tak bertemu dengan kita."
Yang Dirga maksud dengan daddy adalah kakak nya Bumi Perkasa. Memang sejak kecil Je sudah terbiasa memanggil kakak dari Papa nya itu dengan sebutan daddy. Daddy Bumi lebih tepatnya.
"Iya itu benar Pa. Apalagi dengan kak Bulan aku sudah sangat merindukan nya." timpal Je.
Mereka memang sudah menjadwalkan liburan ini sudah jauh-jauh hari.
"Opa dan Oma ikut tidak, Pa?"
"Tidak. Mereka sudah tua. Lagi pula kesehatan opa mu juga sedang bermasalah. Jadi tidak memungkinkan bagi mereka untuk bepergian jauh."
Je mengangguk. Memang opa dan Oma nya yang tak lain adalah kedua orangtua papa Dirga, usia nya sudah sangat tua. Selain itu opa dan Oma nya juga sering sakit karena mengingat faktor usia. Usia Dirga saja saat ini sudah kepala lima. Sementara kedua orang tua Dirga sudah menginjak usia sembilan puluh tahun. Apalagi kesehatan papa dan mama nya juga sudah menurun.
"Kalau nenek."
"Nenek juga tidak ikut. Mana mau nenek melakukan perjalanan jauh." kali ini Mila yang menjawab pertanyaan putra nya. Karena nenek yang Je maksud adalah Bunda Anyelir, ibunda Camila.
"Jadi nanti kita hanya pergi bertiga?"
"Tidak," jawab Dirga.
"Lalu?" Je yang penuh tanya menatap sang papa.
"Ada om Ferdy, Mbak Hana juga Cinta yang akan ikut kita."
"Apa?"
__ADS_1