
Camila Pov
Terhitung sudah dua minggu om Dirga kembali ke Riau. Kesepian ? Iyalah..... Aduh pipiku pasti sudah merona hanya karena mengingatnya. Apa aku sudah mulai menyukai Om Dirga? Jawabannya..... Ehm... Mungkin.
Tak dapat kupungkiri jika aku memang merindukan nya. Merindukan candaan nya, sikap manja nya dan merindukan panggilan sayang nya. Jadi teringat saat awal menikah dulu aku begitu tak suka jika dirinya memanggilku dengan sebutan sayang.
Kadang aku tak percaya jika tak memerlukan waktu lama hingga aku dan Om Dirga bisa sedekat ini. Bahkan tak pernah ada dalam pikiranku jika akhirnya aku pun telah menyerah begitu saja padanya. Menyerahkan hati dan diriku dengan sepenuhnya.
Aku tersenyum sendiri, sesekali menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Kadangkala secara tiba-tiba rasa malu terbesit di benak ku hingga membuatku salah tingkah sendiri.
Padahal hanya satu kali aku dan Om Dirga..... Emm....tapi ya begitulah benar-benar tak menyangka.
Camila Wijaya pada akhirnya bertekuk lutut pada seorang Angkasa Dirgantara, Om sarap yang sarapnya ga ketulungan meskipun gantengnya juga maksimal..
Aku terkikik sendiri. Sedari tadi hanya Om Dirga, om Dirga dan Om Dirga lah yang kupikir kan.
Aku jadi resah, jika tiba-tiba om Dirga pulang dari Riau, akankah dia akan meminta "itu" lagi padaku. Aku harus bagaimana dong...?
Ponselku bergetar, orang yang sedari tadi kupikir kan terpampang di layar Ponselku. Video call dari Om Dirga kuabaikan sebentar karena kini aku sibuk menata hati. Ambil nafas dalam...hembuskan perlahan... Oke siap menjawab video call nya sekarang.
" Malam sayang....." selalu seperti ini. Wajahnya itu loh.... Dibuat semanis honey.... Membuatku geram juga gemas ingin mencabuti berewoknya.
"Lagi apa nih...." tanya nya.
" Lagi video call sama Om Dirga."
" Oh ya kah.....? Pasti sayang rindu kan sama orang ganteng ini."
" Enggak sama sekali tuh....."
" Yakin....? Tapi itu kelihatan mupeng gitu liat aku. "
" Apa? Mupeng? Eh... Ngarang..."
" Sayang. Nanti kalau aku pulang dari Riau. Kita hanimun ya...."
Aku terbatuk batuk. Apa dia bilang tadi. Hanimun? Yang benar saja.
" Sayang.... Sayang kenapa? Wajahnya jadi pucat gitu. Sayang sehat? "
__ADS_1
" Oh... Enggak... Mila sehat kok... Cuman kaget aja. Kenapa juga Om Dirga pake acara bilang hanimun segala. "
" Memang ada yang salah....?"
" Ya enggak sih.... Hanya aneh saja."
" Ya sudah kalau begitu aku ralat. Kita liburan... Bagaimana? "
Aku tersenyum sumringah mendengar kata liburan. Rasanya sudah lama sekali aku tidak pernah pergi berlibur. Terakhir kali aku liburan beberapa tahun lalu saat kak Ken masih di Australia.
" Liburan....? Boleh. Mau liburan kemana. "
" Terserah sayang ingin kemana. Jepang, Korea, hongkong, dubai atau mau keliling Eropa...."
" Kenapa nggak keliling dunia sekalian."
Tau lah Om Dirga banyak duit....
" Oke fix.... Kita keliling dunia."
"Serius."
" Dasar lebay."
" Jadi, persiapkan dirimu. Kita akan menjelajahi dunia."
Siapa juga yang akan nolak diajak liburan. Pastilah aku akan menerima dengan suka cita. Apalagi minggu depan sudah ujian semester. Dan setelahnya aku bisa menikmati libur panjang. Semoga saja Om Dirga benar-benar mengajak ku hanimun.... Oppss......ishh... Hanya menyebut kata hanimun saja kembali membuatku salah tingkah.
*******
Dua minggu yang melelahkan, hanya berteman dengan buku-buku dan berkutat di perpustakaan. Benar-benar menguras tenaga dan fikiran.
Semenjak aku mempersiapkan ujian hingga selesai ujian semester, memang sengaja aku sedikit mengabaikan Om Dirga. Study tetap nomor satu buatku. Cita-cita menjadi seorang dokter adalah prioritasku.
Tak jarang aku tak mengangkat panggilan telpon atau video call darinya. Hanya sesekali aku membalas pesan via whatsapp yang dia kirimkan padaku.
Untung saja Om Dirga masih berada di Riau, jadi aku bisa menjalani ujian semester dengan tenang tanpa ada gangguan atau godaan darinya.
****
__ADS_1
Aku menguap dan merentangkan kedua tangan lebar lebar, meregangkan otot tubuhku yang terasa kaku. Hari sudah menjelang sore. Selepas pulang kuliah tadi memang aku langsung tidur dan karena capek nya tidurkupun sangat pulas hingga sesore ini aku baru membuka mata.
Turun ke lantai bawah mencari Bunda. Siang tadi aku tak sempat makan. Pantas saja perutku terasa keroncongan.
Sampai diambang pintu dapur aku menghentikan langkah. Bukan nya mendapati Bunda, justru kini aku melihat seorang lelaki yang sedang berdiri membelakangiku dengan gaya sensualnya. Sedang menikmati secangkir minuman dengan satu tangan dimasukkan ke dalam saku celana.
Aku tersenyum, bahagia kurasakan begitu saja hanya dengan melihat dirinya ada disini. Reflek aku berjalan mendekat dan melingkarkan tanganku dipinggangnya. Aku memeluk tubuhnya dari belakang. Kutempelkan pipiku di punggungnya yang tegap, kupejamkan mataku menghirup dalam aroma maskulin yang sudah satu bulan ini kurindukan.
Tubuh Om Dirga menegang, mungkin dia baru menyadari kehadiranku. Satu tangan nya masih memegang cangkir dan tangan satu nya lagi kini sudah menggenggam tautan tanganku yang melingkar di atas perutnya.
" Sayang sudah bangun."
" hem..." hanya gumaman yang keluar dari mulutku.
Om Dirga ingin berbalik, tapi kutahan. " jangan berbalik. Aku belum mandi."
" Pantes bau asem...."
" Asem apaan... Masih wangi juga kok...."
" Kalau begitu........" Om Dirga sudah berbalik menghadapku.
" Auw...." aku memekik kaget karena kini Om Dirga sudah mengangkat tubuhku.
" Om turunin... "
" Katanya belum mandi. Yuk aku mandiin. " dia justru berjalan dengan masih mengangkat tubuhku.
Karena takut terjatuh reflek kulingkarkan kakiku di pinggang nya. Kedua tanganku memeluk erat lehernya. Kepalaku sudah kusembunyikan di cerukan lehernya. Aku malu jika sampe ketahuan Om Dirga pipiku sudah merona.
" Om kalau Bunda lihat kan malu. Turunin." Om Dirga tak menjawab dan terus melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamarku pastinya.
Semoga saja Bunda tak melihat kami. Mau ditaruh dimana muka ku jika ketauan Bunda aku digendong Om Dirga persis kayak anak kecil saja.
Diturunkan nya tubuhku di atas kasur. Tatapan mata kami bertemu. Dengan pelan dia mendorong tubuhku hingga berbaring di atas ranjang. Tubuh Om Dirga membungkuk diatasku.
" Aku sangat merindukanmu sayang..."
Selanjutnya bibirnya sudah menempel diataa bibirku. Ciuman yang lembut dan menuntut membuatku terbuai dalam pusaran penuh kerinduan.
__ADS_1