Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Bab 39 - Karena aku mencintainya


__ADS_3

Dirga Pov


" Bos..... itu tadi beneran dek Mila kan?. " tanya Ferdy dan aku hanya mengedikan bahu.


" Bos.... Sebenarnya dek Mila itu siapa nya bos Dirga. Bertahun-tahun kerja bareng Bos tapi baru kali ini aku kepo sendiri dengan hubungan bos dan dek Mila."


" Makanya jadi orang jangan kepo. "


" Pasti ada yang bos sembunyiin kan. Sepertinya aku mencium bau-bau yang mencurigakan "


" Halah kamu itu sok tau. "


" Tapi bos... "


" Ferdy.... Stop! . Pusing kepalaku dengar ocehanmu. "


Bertemu Camila disini saja sudah membuatku pusing apalagi ditambah ocehan Ferdy yang makin hari makin penasaran dengan hubunganku dan Camila. Aku belum ada rencana untuk memberitahu Ferdy mengenai siapa Camila sebenarnya. Selain karena janjiku pada Mila juga karena aku tahu jika sampai Ferdy mengetahui rahasiaku ini bisa bisa seluruh staffku di kantor akan mengetahuinya. Maklum si Ferdy itu kalau sudah bicara susah di rem. Biarlah Ferdy tahu dengan sendirinya siapa Camila sebenarnya.


------


Hari yang cukup melelahkan. Beberapa hari tidak datang ke kantor membuat pekerjaanku menumpuk. Pagi hingga siang hari aku harus berada di luar kantor. Menemui klien dari satu tempat ke tempat yang lain. Dan salah satunya adalah saat tadi siang aku harus menghadiri meeting dengan sales dan marketing ku di salah satu coffe shop di pusat perbelanjaan terbesar di Surabaya. Dan disana pula lah dimana aku tanpa sengaja bertemu dengan Camila, istriku . Entah sedang apa dia tadi berada disana. Mungkin saja benar adanya jika dia akan pergi ke toko buku seperti apa yang tadi pagi disampaikannya padaku.


Jam diatas meja sudah menunjukan pukul 18.00 dan Ferdy sudah pamit pulang setengah jam yang lalu. Masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan. Tapi tiba-tiba saja aku kepikiran Camila. Sedang apa dia sekarang dan bagaimana tadi dia pulang. Apakah diantar teman teman nya atau kah naik ojek online seperti yang sering dia lakukan jika sedang tidak membawa motor kesayangan nya.


Segera kubereskan beberapa berkas yang tercecer di atas meja. Kuraih kunci mobil serta tas kerjaku. Bergegas keluar dari ruangan menuju lift. Tujuanku hanya satu. Pulang ke rumah Bunda Anyelir. Belum tenang rasanya jika belum melihat Mila.


--------


Pagar rumah Bunda terbuka. Tampak mobil Keenan sudah berada di dalam nya. Kuparkir mobilku di depan pagar. Turun dari mobil berjalan masuk ke dalam halaman rumah. Pintu rumah tertutup tapi jendela masih terbuka.


Kuketuk pintu nya hanya satu kali. Terdengar sahutan dari dalam rumah. Bunda berjalan tergopoh gopoh membuka pintu.


" Eh nak Dirga. Baru pulang. Ayo masuk."


" Terimakasih Bunda." setelah melepaskan sepatu aku melangkah masuk ke dalam.


Aku tersenyum melihat Keenan sudah duduk manis di meja makan.


" Woi adik ipar... Baru pulang hem."


" Iya. Habis ini masih harus ke club. " jawab ku. Menggeser kursi dan duduk disamping Keenan.


" Gila lu bro. Nggak capek? "


" Sama aja kayak lu kan. Habis gini masih harus ke resto..." aku terkekeh.


Danisha datang membawa dua gelas Orange juice. Meletakkan nya di hadapan Ken dan satu gelas lagi di hadapan ku.


" Diminum, Om. Pasti haus kan. "


" Thanks kakak ipar. " Danisha ini meski menyandang gelar kakak iparku tapi usianya masih sangat muda dan jauh dibawahku. Dan lucu nya lagi dia ikut ikutan Mila memanggilku dengan sebutan om. Padahal Jika dengan Ken mereka menyebutnya Kak. Apakah aku sudah setua itu hingga lebih pantas menjadi om mereka ketimbang kakak.


Menyesap Orange juice buatan Danisha, baru satu teguk yang mengalir di tenggorokanku saat mataku menangkap kehadiran Camila. Gadis itu tampak segar dengan baju rumahan bergambar Strawbery dan jilbab Pink yang melekat di kepalanya. Hanya dengan melihatnya yang baik baik saja seperti ini sudah membuatku lega. Entah kenapa aku merasa bersalah karena tadi aku mengacuhkan nya saat bertemu dan lebih parahnya aku tak mengantarkan nya pulang ke rumah. Meskipun itu sesuai dengan keingan Camila sendiri jika dia tak ingin aku mengantar jemput nya. Tapi tetap saja aku bertanggung jawab penuh atas dirinya.


" Kok om Dirga ada disini." tanya nya padaku.


Aku hanya tersenyum tak berniat menjawab pertanyaan nya.


Camila sudah berlalu menuju dapur membantu Bunda menyiapkan makan malam.


Keenan terkekeh " Sabar adik ipar...... Punya istri masih bocah harus banyak bersabar. "


Aku ikutan terkekeh mengingat Keenan juga sama denganku, mempunyai istri yang masih bocah. Sepertinya aku harus berguru pada Keenan bagaimana cara menghadapi istri kecilnya itu.

__ADS_1


Bunda masuk ke ruang makan disusul Danisha dan Mila di belakangnya. Mereka membawa beberapa makanan.


" Ayo kita makan dulu." ajak Bunda sambil mengangsurkan piring kepadaku.


" Terimakasih Bun."


Kami makan dalam diam. Sesekali aku melirik kearah Mila. Gadis itu juga tampak tenang seperti tak terusik dengan kehadiranku disini. Atau mungkin lebih tepatnya dia mengacuhkan ku. Ah, mungkin hanya perasaanku saja.


" Nak Dirga, Bagaimana kondisi mamanya." tanya Bunda tiba tiba memecah keheningan. Aku mendongak menatap Bunda Anyelir.


" Alhamdulillah mama sudah lebih baik. Sudah sehat." jawab ku


" Syukurlah kalau begitu. Maafkan Bunda belum bisa menjenguk."


" Iya Bun. Tak apa, lagian mama juga sudah sehat sekarang. Hanya saja memang butuh banyak istirahat."


Ponsel ku yang berada disaku celana bergetar. Kuraih benda pintar itu. Tumben Daffi menelepon. Aku meminta ijin pada mereka untuk mengangkat panggilan telpon. Untung saja makanku sudah selesai. Aku bangkit dan berjalan menuju ruang keluarga duduk di sofa yang berada disana.


" Hai Daf. Ada apa? Tumben nelpon."


" Lp dimana."


" Di rumah lah."


" Tumben di rumah. Mentang mentang sudah ada istri di rumah jadi betah."


" Apaan sih. Makanya buruan kawin"


" Lo nggak ke club"


" Sebentar lagi kesana."


" Gue pikir lo sudah ga mau datang kesini."


Terdengar Daffi terkekeh di ujung sana.


" Eh Daf lu dimana sih. " tanyaku


" Di club lah... "


" Serius "


" Ya iyalah mana pernah gue bercanda. Buruan kesini perform bareng gue. "


" Iya, iya bentar lagi gue kesana."


" Eh, Dirga.... Disitu ada Camila ga." tanya Daffi.


" Ada. Lagi bantuin bunda tuh beresin meja makan."


" Lo di rumah Bunda. "


" Ya."


" Lo sekarang pulang ke rumah Bunda."


" Ya engga lah...."


" Kok bisa...."


" Sejak kapan seorang Daffi Juliandra kepo sama hidup gue. Lagian ngapain lu nanyain Mila. "


" Cuma nanya doang.... Betewe sebenarnya gue ada urusan sih sama istriku. Yah... Pengen bicara sesuatu lah sama dia. "

__ADS_1


" Bicara apaan. "


" Nggak bisa gue bilang lewat telpon. Makanya gue ijin ke lo buat minjem Mila besok. Boleh ya. Gue mau curhat."


" Curhat? " aku tertawa. Sejak kapan Daffi sering curhat sama Mila.


" Bisa nggak sih lu nggak cemburu sama gue... Ya emang sih gue pernah suka sama Mila. Tapi kan dulu sebelum Mila lu nikahin. Lagian nih ya jujur gue masih penasaran. Kok tiba tiba aja kalian merried. Mana pake rahasia rahasia segala dari gue. "


" Iah lu kepo bener sama hidup gue.... "


Kudengar Daffi terbahak." ya udah lah. Buruan kesini. "


" Oke. Oke.... "


Klik. Panggilan telpon terputus.


Aku berjalan kembali ke ruang makan. Hanya ada Keenan disana yang menekuri ponselnya. Setelahnya dia berdiri dan sedikit terkejut melihatku yang tiba tiba sudah ada di sampingnya.


" Eh elu Dir.... Gue tinggal dulu ya."


" Oke... Silahkan."


Keenan berlalu meninggalkanku. Kuedarkan pandangan ke arah dapur. Hanya ada Bunda disana. Tidak terlihat Camila maupun Danisha. Mungkin mereka berdua sudah naik ke lantai atas saat aku sedang bertelpon tadi.


Kuhampiri Bunda yang berdiri membelakangiku.


" Bunda...." panggil ku. Bunda menoleh.


" Eh nak Dirga. Sudah selesai nelpon nya."


" Sudah Bun. Tadi Daffi yang nelpon. Minta Dirga segera pergi ke club."


" Owh... Daffi saudara ipar nya Danisha."


" Iya benar bun. Oh ya bun, sebenarnya ada yang ingin Dirga bicarakan sama bunda."


" Ya sudah kalau begitu ayo kita duduk saja disitu. " bunda menunjuk kursi yang ada di pantry.


" Jadi, apa yang ingin nak dirga bicarakan pada bunda. "


Kutarik nafas perlahan. Aku memang harus membicarakan mengenai hubunganku dengan Mila jika tidak ingin bunda curiga atau salah paham.


" Bunda, Dirga mau minta izin pada Bunda. Ehm.... Ini mengenai Mila dan Dirga. Sebenarnya Dirga pernah berencana ingin membawa Mila untuk tinggal bersama Dirga dirumah mama. Tapi setelah Dirga lihat sepertinya Mila masih terlalu canggung berada disana. Mungkin Mila masih butuh penyesuaian."


Aku menjeda ucapanku.


" jadi setelah Dirga pikir lagi mungkin ada baiknya jika Mila masih tetap tinggal disini. Saya harap Bunda mengizinkan Mila untuk tetap tinggal disini. "


" Astaga Nak Dirga. Bunda pikir ada hal yang sangat serius. Hmm.... Disini itu masih rumah Mila. juga rumah Dirga sekarang. Tentu saja kalian masih bisa tinggal disini kapan saja dan kapanpun kalian mau. Justru bunda sangat senang jika Mila masih tinggal disini. "


" Terimakasih banyak bun. Tapi Dirga tidak ikut tinggal disini untuk sementara. Ya nanti mungkin Dirga masih akan bolak balik di rumah mama juga di rumah bunda. "


" Iya bunda paham. Nak Dirga juga masih harus membantu merawat mama kan? . Pokoknya kapanpun nak Dirga mau pulang kesini jangan sungkan. Nak Dirga sekarang juga sudah menjadi anak Bunda. "


" Terimakasih banyak Bun. "


" Oh ya satu lagi. Bunda hanya berpesan yang sabar ya menghadapi Mila. Maklumlah anak itu masih labil. Pikiran nya pun juga belum seratus persen dewasa. Nak Dirga wajib membimbing Mila. Ingatkan jika dia salah. "


" Baik Bun. Dirga janji akan membimbing Mila agar menjadi istri yang baik. Semua butuh proses. Dirga pun juga janji pada Bunda akan menjaga Mila dengan sebaiknya. Dan akan menyayangi Mila. Doakan Dirga agar Dirga bisa menjadi suami dan imam yang baik untuk Mila. "


" Pasti akan Bunda doakan. " bunda tersenyum.


" Kalau begitu Dirga pamit dulu Bun. Besok pagi Dirga kesini lagi. "

__ADS_1


Aku bangkit dari duduk ku dan berpamitan pada Bunda. Lega rasanya dapat berbicara pada Bunda. Dengan begini aku merasa tak ada beban lagi. Dan tak akan lagi menjadi pertanyaan jika Bunda harus melihat aku dan Mila tinggal terpisah. Oke, satu permasalahan sudah bisa kuselesaikan. Sekarang tinggal bagaimana caranya menaklukkan Camila agar istriku itu mengerti jika aku memang benar benar tulus menyayangi dan mencintainya. Bukan karena apapun aku menikahi nya tapi memang sebenarnya karena aku mencintai nya.


__ADS_2