Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Season 2 - Chapter 21


__ADS_3

" Sayang...! Aku telpon daritadi kenapa tidak kamu angkat?" suara Dirga yang terdengar kesal membuat Camila merasa bersalah.


Camila baru saja datang dari acara makan malam nya bersama Daffi. Begitu memasuki kamar, suara dering ponsel nya membuat Camila dengan tergesa segara menyambar ponsel yang mesih terhubung dengan kabel charger.


" Pa, maafkan aku. Tadi aku pergi makan dengan Kak Daffi. Dan lupa membawa ponsel. "


Terdengar Dirga yang menghela nafas, bagaimana pun kesal nya dia pada Camila, tapi Dirga tak akan mampu memarahi istrinya itu.


" Jadi, Daffi datang?"


" Iya, tiba tiba saja tadi kak Daffi datang. Dan kami hanya makan malam di dekat rumah sakit. Maaf jika aku tak memberitahu. Karena tadi juga mendadak tanpa rencana."


" Baiklah. Lain kali jangan sampai lupa lagi membawa ponsel kemanapun kamu pergi. Agar aku tak khawatir jika menelpon berkali kali tapi tak diangkat. "


Sungguh Camila merasa sangat bersalah. Andai saja Dirga tahu bagaimana dia tadi terburu buru pergi demi menghindari Rasya. Ah, patutkah dia bercerita pada Dirga mengenai Rasya?


Tapi Camila tak ingin membuat Dirga khawatir padanya. Beban yang ia tinggalkan untuk Dirga sudah cukup berat. Tak mungkin juga Camila mau menambah beban pikiran Dirga dengan cerita mengenai Rasya.


" Pa, apakah Je sudah tidur?"


" Sudah." jawab Dirga singkat.


Tadi sebenarnya Je susah tidur dan minta video call dengan mama nya. Akan tetapi berkali kali Dirga menelpon istrinya, tak kunjung juga diangkat oleh Camila. Padahal Dirga tahu jika Camila sedang tidak bekerja malam ini. Kekhatiran Dirga mulai tak terkendali. Dan pada akhirnya di panggilan nya yang entah keberapa kali, Camila baru mengangkat nya.


" Pasti tadi Je mencariku?" tebak Camila


" Ya pastilah sayang. Sepertinya Je sangat merindukan mama nya."


" Akupun sama juga sangat merindukan Je."


" Jadi, hanya Je yang kau rindukan? Sayang ta rindu padaku?"


Camila tergelak. " Ya pastilah aku merindukanmu, Pa. "


" Sayang, lihat saja. Jika kamu pulang nanti, aku pastikan kita akan menghasilkan adik untuk Je. "


Ucapan vulgar yang Dirga lontarkan membuat wajah Mila memanas.


" Pa... Kau ini bicara apa? "

__ADS_1


Dirga tertawa dan tak berniat menjawab pertanyaan Camila.


" Ya sudah istirahatlah. Sayang pasti capek kan. "


" Papa Dirga juga harus istirahat. I love you. "


" I Love you too sayang."


Setelah panggilan telpon ia tutup, Camila sudah senyum senyum sendiri membayangkan seperti apa pertemuan dengan Dirga nanti, setelah sekian lama mereka tak bersua.


Sementara Dirga, setelah meletak kan ponsel di atas balas, ia buka laci di sebelah ranjang. Mengambil bolpoin yang ia simpan di dalam sana. Lalu mencoret kalender yang berada di atas nakas. Tak lama lagi istri nya akan kembali pulang ke rumah ini.


Dirga menatap Je yang terlelap di sebelah nya. Mengelus dengan sayang kepala putra nya lalu dicium kening Je. Dirga ikut membaringkan tubuhnya di samping Je. Berharap malam ini Je tak akan rewel dan terbangun di tengah malam. Sudah cukup lelah berhari hari ini Je selalu menangis mencari mamanya.


Argh, Dirga mendesah. Melewati hari tanpa seorang istri ternyata sangat berat. Dan dengan begini dia berjanji akan menjaga Camila dengan baik karena dia tak akan mampu hidup tanpa istrinya itu.


****


Ini sudah memasuki hari kesepuluh Camila bertugas di Jakarta. Selama berada disini dengan terpaksa kuliahnya juga terbengkalai. Camila mendesah, seharusnya pagi ini dia semangat. Tapi mengingat tugas tugasnya yang menumpuk membuatnya ia kembali tak semangat menjalani hari. Padahal dalam hati Camila ingin sekali menghabiskan waktunya bersama Je dan papa Dirga.


Tapi apa mau dikata jika tugas nya yang segunung itu sudah melambai lambai kepadanya.


Hari ini dia akan mengikuti meeting dengan rekan kerja sesama dokter. Dan bisa Camila pastikan meeting tersebut akan memakan waktu seharian.


Setelah merapikan baju serta jilbab nya, Camila menyambar tas kerjanya. Masih ada empat puluh menit lagi sebelum waktunya jam kerja dimulai. Dan ia berniat sarapan terlebih dahulu di kantin Rumah Sakit yang memang ada dikhususkan untuk dokter dan tenaga medis lain nya.


Karena hari ini dia cukup sibuk jadi tidak boleh melewatkan sarapan.


Saat Camila berjalan dari guest house menuju Rumah Sakit, dia berpapsan dengan dokter Allan dan dokter Rasya.


" dia lagi." gumam Camila yang lebih tepatnya ditujukan untuk dokter Rasya.


Karena kali ini dokter Rasya tidak sendirian, jadi Camila pun harus memasang wajah biasa saja. Tidak enak dengan dokter Allan jika Camila harus bersikap ketus atau jutek pada dokter Rasya.


" Pagi dokter Allan..." sapa Camila


" Pagi juga dokter Mila." jawab Allan


" lucu juga sekarang dokter Allan memanggilku dengan sebutan dokter. Mengingat bagaimana dokter Allan adalah dokter senior."

__ADS_1


Allan tergelak. Dia ingat betul bagaimana dulu dia saat menjadi seorang dosen galak nya minta ampun. Tapi sekarang mantan mahasiswa nya sedang bertugas dengan nya dngan sama sama menyandang gelar dokter.


Rasya yang merasa diabaikan tidak terima.


" dokter Camila kenapa tidak menyapaku."


" Hah... Oh... Pagi dokter Rasya."


" Pagi juga dokter Camila. Apa kabar anda hari ini."


" Saya baik dokter."


" Apakah anda sudah sarapan dokter Camila? Ah saya tahu. Pasti belum kan? Bagaimana jika kita sarapan bersama. " tawar dokter Rasya.


Camila tersenyum kikuk menatap dokter Allan yang berjalan disisi nya.


Allan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya. Dan begitu dirinya me atap Camila, dokter Allan tahu jika Camila sangat membutuhkan bantuan nya.


" Bagaimana dokter Camila? Kita sarapan dulu ya."


" Jangan khawatir Dokter Mila. Kita akan sarapan bertiga." sela Allan.


Dan Camila pun mengangguk menyetujui nya.


Mereka bertiga berjalan menuju kantin dengan di selingi obrolan ringan.


Bahkan saat sudah sampai di kantin pun, Camila lebih memilih untuk banyak mengobrol dengan dokter Allan. Camila hanya ingin menghindari agar tidak terlalu jauh berurusan dengan dokter Rasya. Menurut Camila, kehadiran Rasya sangat mengganggu ketenangan hidupnya.


" Jadi bagaimana kabar Pak Dirga selama kalau tinggal disini?"


" Alhamdulillah dia baik. Selain suami yang hebat dia juga papa yang hebat. Bisa berperan ganda selagi saya tak ada." jawab Camila membanggakan suaminya.


Rasya yang mendengar kalimat pujian dari mulut Camila hanya mencebik dan protes dalam hati. Kenapa harus lelaki lain yang dipuji oleh Camila dan bukan dirinya.


Rasya menepuk dahi nya. Merasa konyol dengan pemikiran nya barusan. Terang saja Camila memuji suaminya dan bukaan dirinya. Memang dia siapa nya Camila?


Tingkah aneh Rasya mendapat perhatian dari Allan. " Rasya... Kau kenapa?"


Rasya mendongak menatap bergantian pada Allan dan juga Camila yang sedang memperhatikan nya.

__ADS_1


__ADS_2