
Dirga Pov
Alvira Hidayat, perempuan ini terus saja mengekoriku selama dua minggu aku berada di Riau. Sejak kepulangan ku dari mengantar Camila dan Bunda , besok siangnya aku langsung terbang ke Riau. Project ku disini sangat membutuhkanku untuk turun tangan secara langsung.
Semua karena Vira, perempuan itu yang selalu membuat masalah denganku. Andai saja perusahaan Vira bukanlah perusahaan besar dan sangat berpengaruh pada semua Project yang ada di sini, sudah pasti aku akan memilih untuk menghindar dari perempuan ular ini.
Cup satu kecupan mendarat di pipiku. Aku terjengkit kaget. Vira kini justru malah bergelayut manja di lenganku melirik sepintas aku yang sedang video call dengan Camila.
" lagi telpon sama siapa." tanyanya
Astaga perempuan ini mengganggu saja. Padahal aku yang kangen berat dengan Mila masih belum puas memandang wajah cantik gadis itu. Apalagi ini pertama kalinya aku melihatnya tanpa hijab yang biasa menutupi rambutnya.
" om udah dulu ya. Kututup telpon nya. Bye." Tiba-tiba Mila menutup telpon nya sepihak. Aku yang belum sempat berkata apapun padanya pastilah kecewa.
Memang sih aku berada disini atas undangan Vira. Perempuan itu mengajak ku makan malam. Tapi siapa sangka disaat aku lagi menunggu Vira, Mila malah mengirimkan satu chat WhatsApp. Hanya satu kata sebenarnya yang Mila kirimkan, tapi hal itu justru membuatku terlalu bersemangat untuk segera menelepon nya.
" telpon sama siapa tadi? " Vira kembali bertanya.
" calon istriku."
" calon istri? Jangan bercanda Dirga. Aku ga percaya." ucapan Vira dengan nada tinggi.
" terserah kalau kamu ga percaya."
Perempuan itu memberenggut kesal menatapku.
" kamu mau pesen apa. " tanyanya kembali melunak.
" udah.... Nih. " kutunjukan padanya segelas es jeruk yang kini kusesap.
" itu kan minuman. Kamu mau makan apa. Biar kupesenin. "
" ga usah makasih. Aku masih kenyang. Ini aja cukup."
" Dirga!!! Kamu ini kenapa sih. Aku tuh ngajak kamu makan malem disini. Bukan buat minum es jeruk doang." mukanya semakin memerah
" Vira cukup..... Sudah cukup kamu berbuat sesuka hatimu. Aku harus pergi sekarang. " aku beranjak berdiri tapi Vira menarik tanganku.
" Dirga, kamu kenapa sih. "
Kutepis tangan Vira, dan aku tetap berlalu pergi. Masih kudengar Vira yang meneriakan namaku. Tapi aku tak menggubrisnya. Sudah lelah rasanya menghadapi perempuan sakit itu. Sejak dulu hingga sekarang tak henti dia mengganggu hidupku. Obesinya ingin menikah denganku sungguh besar.
Aku mengenal Vira saat kami sama-sama menang tender sebuah proyek besar di Jakarta.
Dan sejak saat itu perusahaan ku dan perusahaan nya sering melakukan kerjasama.
Terutama untuk proyek-proyek yang berada di luar pulau. Tapi semakin dekat dengan nya Vira semakin posesif ditambah dengan pengakuan nya yang menyukaiku dan ingin menikah dengan ku. Bahkan ini sudah dua tahun berlalu sejak dia menyatakan perasaan nya kepadaku dan aku dengan halus telah menolaknya. Aku tak
bisa menerimanya karena selama ini tak sedikitpun ada perasaan cinta untuk Vira. Aku tidak ingin memberikan harapan palsu untuk perempuan itu.
Hanya Camila yang ada di hatiku. semenjak aku mengenal Camila, pertemuan pertama dengan nya saat dia masih menggunakan seragam SMA sedikit banyak telah mempengaruhiku. Ya, aku ingin menikah tapi hanya dengan Camila bukan dengan Alvira.
--------
__ADS_1
Baru juga aku menginjakan kaki di Bandara dan seperti biasa, Ferdy lah yang dengan setianya menjemputku.
" Bos...."
" hemm..." aku masih lurus menatap jalan tanpa berniat menoleh pada Ferdy. Yang ada dipiranku saat ini hanya satu. Bertemu Camila. Lebih dari dua minggu tak bertemu dengan nya membuatku rindu luar biasa.
" akhirnya sukses ya bos...."
" ya. Memang sudah seharusnya begitu."
" Bu Vira itu selalu saja mempersulit keadaan. Mau nya hanya sama bos sendiri. Padahal sebenarnya aku masih mampu loh bos."
" aku tak pernah meragukan kemampuanmu Fer."
" tapi bos, kenapa bos disana lama sekali. " ucap Ferdy sedikit kesal.
" memangnya kenapa. "
" ya ga papa sih bos. Ah aku tau pasti bos berkencan dulu dengan Bu Vira... Iya kan iya kan... Cie si bos "
Ferdy menggodaku dengan senyum jahilnya.
" sialan lu. Aku bukan lelaki gampangan yang mudah berkencan dengan sembarang wanita "
" ya ya... percaya bos. Selama aku kerja dengan bos, kulihat memang bos sepertinya tidak begitu tertarik pada perempuan."
Aku mengernyit. " maksudmu."
" bos ini kan sudah cukup umur, tampan dan mapan. apalagi yang kurang? Tapi kenapa bos selalu lari jika didekati perempuan. "
" Bos.... Bos... Itu bukan nya Daffi ya. "
Aku menoleh ke arah yang ditunjuk Ferdy. Aku melihat Daffi dengan seorang perempuan berada di boncengan motor nya.
" sepertinya aku tak asing dengan wanita yang bersama Daffi. " pikirku dalam hati.
Motor Daffi berbelok ke sebuah Cafe.
Kutepuk bahu Ferdy. " ferdy.... Berhenti sebentar.... Bawa minggir mobilnya."
" siap bos."
Kulihat Daffi turun dari motor melepas helm nya. Begitupun dengan wanita yang juga turun dari boncengan motor Daffi.
" Camila." gumamku saat wanita itu berhasil melepas helm nya.
Aku masih mengawasi mereka berdua. Camila tertawa entah apa yang sedang mereka obrolkan. Daffi membawa tangan Mila dan menggandengnya masuk ke dalam caffe.
Aku masih terdiam tak ada niat untuk menghampiri mereka berdua. Dapat kulihat tadi
Mila yang tertawa lepas bersama Daffi. Berbagai pikiran menghantui ku. Apakah
Daffi dan Camila ada hubungan spesial. Ah, kenapa untuk mendapatkan cinta Camila banyak sekali saingan nya. Danu keponakanku dan sekarang Daffi sahabat baik ku.
__ADS_1
" Bos... Bos..." kurasakan punggung ku ditepuk pelan.
Aku tergagap. Sedari tadi aku sibuk melamun menyelami berbagai pikiran tentang Camila yang begitu menggangguku.
" bos kenapa? Bos baik baik saja kan."
" ya aku baik baik saja. Jalan" perintahku
" kenapa daritadi bos hanya diam saja. Bos melamun.".
" tidak. Buruan jalan."
" oke oke siap bos"
Ferdy kembali menjalankan mobil. Teringat kembali interaksi antara Daffi dan Camila yang kulihat tadi. Tampak wajah bahagianya saat bersama Daffi. Sementara jika bersamaku, gadis itu akan selalu bersikap cuek dan ketus.
Kuusap wajahku frustrasi.
" Fer, carikan tiket pesawat ke London untuk sore nanti."
" apa bos? ."
" apa kurang jelas bicaraku tadi."
" jelas bos. Hanya saja...." ferdy menggantung kalimatnya. " apa bos yakin mau langsung ke London hari ini juga. Bos kan baru tiba dari Riau apa ga capek. "
Aku hanya diam tanpa menjawab pertanyaan ferdy.
" apa bos lagi ada masalah. " tanya nya lagi.
" enggak. " aku menjawab singkat
" kalau aku lihat sejak ketemu Daffi tadi, bos tampak....... kacau. " ucap ferdy yang sukses membuatku menoleh padanya. Ferdy juga sedang menatapku."seperti ada yang sedang bos pikirin gitu."
" sok tau kamu. Pokoknya carikan tiket sore ini juga. Mengerti. "
" siap bosku."
Kuambil Ponsel di saku celana setelah mendial nomor nya di dering kedua panggilanku diangkat juga.
" hallo Daf. Lo dimana."
".............. "
" sorry ganggu acara makan lo. Gue cuma mau bilang kalau gue di Surabaya. Tapi sorry gue ga bisa nemuin lo sekarang. Sore ini gue harus balik lagi ke London.
"..........."
" iya sory...... Lain waktu mungkin kita bisa ketemu. Thanks lo udah mau bantuin gue jagain club."
"............"
" oke bye. See u Next time."
__ADS_1
Kututup panggilan telpon. Tampak Ferdy mengernyit melihat ke arahku. Tak kuhiraukan dia yang terlihat penasaran ingin tau apa yang sedang terjadi antara aku dan Daffi.