
Masih seputar Daffi & Nathalie, semoga tidak bosan, karena Dirga dan Camila untuk sementara belum aku munculkan.
>>> Back to story
Satu bulan, dua bulan hingga tiga bulan telah berlalu. Daffi merasa semakin hari dia semakin betah berada di
tempat ini. Meski dengan berat hati dia harus menekan perasaan nya kuat-kuat.
Apalagi sejak dua bulan lalu, Daffi tidak lagi menjumpai Nath. Bahkan apartmen Nathalie pun sudah berganti
penghuni. Entah apa disewa atau dibeli orang lain, Daffi pun tak tahu.
Daffi tidak heran jika dia tak menemukan keberadaan Nathalie disini, karena memang gadis itu pernah mengatakan
jika akan kembali ke negara asalnya, Australia. Dan yang Daffi tahu, kembalinya Nath ke Australia karena perempuan itu akan menikah.
Bukan menikah dengan nya seperti yang selama ini Daffi impikan. Melainkan menikah dengan pria bule yang sempat beberapa kali Daffi jumpai.
Daffi berusaha move-on dari Nathalie. Berusaha menata hati dan men-sugesti diri sendiri, jika Nathalie memang tidak ditakdirkan untuk berjodoh dengan nya. Buktinya, telah bertahan-tahun lamanya Daffi menunggu dengan penuh kesabaran. Tapi yang dia dapat selalu kekecewaan .
Daffi terhenyak karena suara dering ponselnya. Dilirik melalui ekor matanya, ternyata sang Bunda yang
menelepon.
Mengambil nafas dalam, dan berusaha menenangkan dirinya, sebelum dia mengangkat panggilan telepon dari
sang Bunda.
" Bunda...! "
" Kasih salam dulu sama Bunda."
Daffi terkekeh, selalu seperti inilah Bunda nya.
" Assalamualaikum, Bunda."
" Waalaikumsalam."
" Bunda apa kabar? "
" Alhamdulillah. Bunda baik."
" Ayah ? "
" Ayahmu juga baik. Kamu sendiri bagaimana ? "
" Daffi baik, Bunda . "
" Betah juga hidup disana."
" Ya, betah lah , Bun. Buktinya sudah tiga bulan Daffi disini."
" Syukur Alhamdulillah. Daff, Bunda mau ngomong sesuatu."
" Sesuatu? Apa itu Bunda."
" Daffi, anak Bunda yang paling tampan . Kali ini tolong dengarkan Bunda. Sebenarnya Bunda sudah capek berusaha mencarikan jodoh buatmu. Tapi.... "
" Bunda.... "
" Sebenatar , jangan disela. Bunda tidak akan pantang menyerah mencarikanmu calon istri, sampai kamu mau menikah."
Daffi menghela nafas. Bukan salah Bunda nya jika terlalu banyak berharap pada nya. Usia Daffi memang tidak lagi
muda. Dan sudah waktunya berumah tangga.
" Baiklah jika itu sudah menjadi keinginan Bunda. Kali ini Daffi menyerah. Daffi ikut Bunda saja. "
" Bener itu ? Ini Bunda tidak salah dengar kan ? Kamu beneran tidak menolak lagi dengan perempuan yang
akan Bunda jodohkan denganmu. "
__ADS_1
" Iya Bunda. Kali ini Daffi serahkan semua pada Bunda. Daffi akan ikut apapun kata Bunda. Carikan Daffi
calon istri yang tepat. "
" Alhamdulillah. Akhirnya kamu mau menikah. Bunda yakin, perempuan yang sudah Bunda pinang untuk mu kali
ini pasti cocok buatmu, Daff. Dan Bunda rasa , dia adalah calon isteri yang sangat tepat untukmu. "
" Jadi, Bunda sudah meminang seorang perempuan ? “ tanya Daffi tak percaya.
“ Iya. Kalau menunggumu, Bunda yakin sampai kamu ubanan pun juga tak akan mau .”
“ Ya sudahlah, terserah Bunda. " akhirnya Daffi pun menyerah.
Setelah panggilan telpon nya dengan sang Bunda berakhir, kembali Daffi menghela nafas. Mungkin inilah yang
terbaik untuknya. Dan Daffi akan berusaha untuk tak akan lagi mengharapkan Nathalie.
*****
Nathalie, perempuan itu sedang duduk menyendiri di teras resto milik kakak lelaki nya. Hari sudah malam dan
Nathalie tak menghiraukan keadaan sekitar.
Resto ini adalah milik Kennatria, kakak lelaki nya. Meskipun Ken bukanlah kakak kandungnya, tapi rasa kasih
sayang yang dia miliki untuk Ken lebih dari segalanya, begitupun sebaliknya.
Tepukan dipunggungnya membuat Nath terjengit kaget. " Kak... Ngagetin aja.".
Ken tersenyum lalu ikut duduk di salah satu kursi yang ada di hadapan Nathalie.
" Sampai kapan kamu mau melarikan diri. Tidak kasihan sama Papa," ucap Ken lembut.
Nath menghela nafas. " Apa kak Ken mengusirku dan memintaku untuk pulang ke Australi. "
" Bukan seperti itu Nath. Hanya saja, kakak rasa kamu sudah cukup dewasa untuk menentukan jalan hidupmu."
Ken tidak lagi berkata apapun. Merasa iba dengan adik tiri nya ini. Di usia yang sudah kepala tiga, Nathalie
selalu tidak beruntung mengenai urusan percintaan.
Dan keberadaan Nath disini juga karena adik nya itu sedang patah hati. Willy, lelaki yang telah Nath pacari
bertahun-tahun lama nya lebih memilih melarikan diri dan meninggalkan Nath. Willy tidak ingin mengikuti keinginan papa yang menginginkan menantu dengan keyakinan yang sama.
Willy tetap pada pendirian nya untuk tidak meninggalkan kepercayaan yang dianut nya demi seorang Nathalie. Dan
papa pun juga tidak akan menyerahkan Nathalie pada Willy selagi mereka berdua berbeda keyakinan.
Nath pun tak habis pikir dengan mantan kekasihnya itu. Dan Nath sadar jika cinta Willy untuk nya tidak lah
sebesar yang dia kira selama ini. Yang lebih memperburuk keadaan, Nath merasa telah menyia-nyiakan hidupnya selama lima tahun ini demi seorang Willy Setiawan. Lelaki yang tidak menghargai keberadaan nya sama sekali.
Nathalie, gadis itu untuk kesekian kali harus membawa diri menjauh dari semua kerumitan hidup. Dulu, saat
dirinya ingin menjauh dari Daffi karena rasa malu yang mendera, Nath pergi menjauh dari lelaki itu. Bahkan hingga bertahan-tahun dirinya berhasil tak menjumpai Daffi.
Akan tetapi usahanya sia-sia karena ternyata Tuhan telah mempertemukan nya kembali dengan Daffi. Meskipun
dalam kondisi yang sudah jauh berbeda dengan dahulu.
Nath yang merasa jika Willy adalah yang terbaik untuk nya, sehingga Nath memilih untuk kembali mengabaikan
Daffi, demi Willy.
Tapi kenyataan nya, justru Willy pergi meninggalkan nya hanya karena sebuah keyakinan yang berbeda. Ah, meskipun sedari awal mereka menjalin hubungan, masalah perbedaan keyakinan itu sudah mereka ketahui. Tapi tetap saja, hingga lima tahun berlalu semua tidak ada yang berubah dan berpisah adalah keputusan yang akhirnya Nath dan Will buat.
" Sudah yakin kau akan kembali ke London?" tanya Ken pada Nath.
Nath mengangguk. " Iya."
__ADS_1
" Bukankah tempat tinggalmu juga sudah kau jual Nath."
" Memang. Tapi nanti aku bisa menyewa saja di tempat lain . "
" Kalau seperti itu, terserah kau saja. Dan apa kau akan kembali bekerja di tempat yang dulu. "
" Entahlah kak. Aku tak tau. Sepertinya aku harus mencari pekerjaan yang baru. "
" Kau sudah dewasa. Kakak yakin kau bisa mengambil keputusan yang terbaik."
" Thanks kak. "
Nath selalu merasa nyaman jika bersama Ken. Bahkan setelah gagalnya rencana pernikahan dengan Will, hanya pada Ken lah tempat Nath bersandar.
Papa dan mama jangan lagi ditanya bagaimana kecewa nya mereka. Hingga Nath tak ada nyali untuk tetap berada di Australia dan lebih memilih pergi ke Indonesia. Dan sekarang dia memutuskan akan kembali lagi ke London. Kota yang menurutnya cukup nyaman untuk menjalani harinya yang semakin terasa kelam.
" Kapan kau akan berangkat ke London."
" Besok kak."
" Jaga dirimu baik-baik. Jangan segan hubungi kakak jika kau membutuhkan bantuan."
Nath sungguh terharu dengan perhatian yang Ken berikan. Dipeluk nya tubuh Ken dengan erat.
" Kak, terimakasih dengan semua perhatian yang kakak berikan. Aku sayang sama kakak. "
" Kakak juga sayang kamu Nath. "
Nath berharap semoga dengan kembalinya dia ke London akan membawa hidup baru untuk nya.
Meski sebenarnya dia tak yakin apakah dia mampu memulai hidup baru dikota yang beberapa bulan lalu ia
tinggalkan.
Dan Nath pun tak tahu bagaimana dia akan bersikap jika seandainya bertemu kembali dengan Daffi. Sanggupkah ia
menghadapi lelaki itu.
Jika Daffi kembali memintanya untuk menikah, Nath sudah yakin akan menjawab Ya. Mungkin Daffi lah lelaki yang
disiapkan Tuhan untuk nya. Jadi meskipun dia akan lari ke ujung dunia sekalipun, Daffi akan terus berada di dekatnya. Dan Nath tak bisa memungkiri akan hal itu.
Tapi Nath tak ingin mengatakan pada siapapun mengenai kehadiran Daffi di kehidupan nya. Termasuk pada Ken.
Biarlah waktu yang akan mengatakan pada semua jikalau memang benar Daffi lah lelaki yang Tuhan kirimkan untuk nya.
****
Di tempat lain, Daffi dan Matt sedang berdua , menyelami pikiran masing-masing. Mereka berdua sama-sama lelaki
single. Daffi yang masih terjebak akan masa lalu, sementara Matt yang tidak pernah mau ambil pusing mengenai persoalan wanita.
" Kau yakin mau terima perjodohan itu, Daff." tanya Matt memastikan. Pasalnya beberapa hari lalu
Daffi mengatakan jika dia akan menikah. Dan calon pengantin perempuan nya adalah pilihan orangtua lelaki itu.
" Ya," jawab Daffi singkat.
" Bahkan kau belum mengenalnya. "
" Nanti juga akan kenal. "
" Terserah kau saja Daff. Semoga apa yang telah kau buat ini adalah keputusan yang terbaik."
" Thanks, Matt."
Sebenarnya Daffi pun juga tak yakin dengan semua keputusan yang telah dia buat. Setelah beberapa hari yang
lalu Bunda nya mengatakan telah mencarikan jodoh untuk nya, Daffi pun hanya meng-iyakan. Selain karena dia merasa patah hati dengan kepergian Nathalie, juga karena dia tak ingin terus membuat kedua orangtuanya khawatir. Karena hingga di usia ke tiga puluh lima tahun dirinya belum juga menikah.
Huft, Daffi menghela nafas. Semoga keputusan nya untuk menerima perjodohan ini adalah yang terbaik buat nya
__ADS_1
dan keluarganya.