
Camila kira Rasya akan bersikap manis seperti kemarin, tapi nyatanya tidak. Pria itu kembali bersikap absurd seperti sebelum nya. Padahal Rasya tahu jika dia sudah bersuami juga sudah punya anak. Tapi tingkah Rasya masih saja seperti itu. Membuat Camila tak nyaman dibuatnya.
Seperti kali ini dengan sedikit memaksa, Rasya membawanya keluar untuk makan malam. Camila sudah berusaha menolak tapi Rasya tetap memaksa.
" Ayolah Camila. Kita tinggal beberapa hari saja disini. Tak mau kah jika kita berkeliling jalan jalan."
" Maaf saya tidak bisa."
" Bagaimana kalau kita ajak Allan sekalian juga."
"Tapi saya memang sungguh sungguh tidak bisa dokter Rasya."
Ya, sekalipun dengan dokter Allan, Camila tetap tidak akan ikut Rasya. Dia tidak enak hati seandainya Dirga tahu jika dia pergi bersama kedua rekan dokter nya.
Dan ditengah kebingungan Camila, dewa penyelamat datang. Daffi yang tadi sempat menelpon Camila, lelaki itu datang menemui nya. Bahkan Camila tak tahu jika tiba tiba saja Daffi sudah berada di depan guest house nya.
Rasya lelaki itu hanya menatap kedatangan Daffi. Sedikit tidak suka dengan kehadiran seseorang yang mengacaukan rencana nya.
" Dokter Rasya, maafkan saya. Eum... Saya harus pergi sekarang."
Camila tersenyum lalu segera mendekati Daffi dan menyeret lelaki itu untuk meninggalkan guest house. Meninggalkan Rasya yang masih berdiri mematung menatap kepergian nya.
Daffi, tentu saja lelaki itu kaget dengan perlakuan Camila.
" Kak, tolong bawa aku pergi darisini," ucap Camila.
Daffi semakin tak mengerti.
" Kamu kenapa?"
" Nanti aku ceritakan."
Dengan tergesa mereka berdua menuju dimana mobil Daffi di parkirkan.
" mau kemana sekarang?" tanya Daffi begitu mereka masuk ke dalam mobil.
" Makan saja kak. Terserah kakak mau membawaku kemana."
Daffi terkekeh. Penasaran dengan perilaku Camila yang terlihat sekali sedang berusaha menghindari seseorang.
" Lelaki tadi siapa? " tanya Daffi memecah keheningan diantara mereka berdua.
" Rasya. " jawab Camila singkat.
Daffi mengernyitkan keningnya.
" Dokter Rasya, rekan sesama dokter yang ditugaskan disini." jelas Camila kemudian karena mengetahui kebingungan Daffi.
Daffi manggut manggut.
" Lalu, kenapa kamu seolah ketakutan begitu? "
" Bagaimana aku tidak takut jika dia selalu saja mengganggu ku. "
" oh ya?"
__ADS_1
" Bukan nya aku terlalu percaya diri, Kak. Hanya saja semua yang dokter Rasya lakukan selalu membuatku takut."
Daffi tergelak, dia tidak meragukan pesona Camila Wijaya. Karena dulu dia pun juga sempat menyukai wanita yang duduk di sebelah nya ini. Sebelum pada akhirnya Dirga, sahabatnya, memperistri Camila.
" Kamu menertawakanku, Kak. Jahat sekali. "
" Aku tidak menertawakanmu. Hanya saja rasanya sungguh aneh jika membayangkan dokter itu mengejar ngejar istri orang."
" Dokter Rasya sudah tahu jika aku ini wanita bersuami sekaligus seorang ibu."
Daffi kaget, tentu saja. Benar benar nekat lelaki bernama Rasya itu. Bahkan niat sekali untuk menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Camila dan Dirga.
" Jika dia tahu kamu sudah menikah, untuk apa juga dia mengejarmu? "
" Entahlah kak, aku juga tidak tahu apa motif nya."
Mereka berdua saling terdiam dengan pemikiran masing masing.
" Dokter Rasya itu hampir setiap hari selalu menguntitku. Aku sedang di kantin, dia menyusul nya. Aku makan apa, dia pun ikut ikutan. Dan kemarin, dia kasih aku coklat. "
Daffi tertawa entah kenapa mendengar ada seorang pria yang memberikan coklat untuk Camila, terasa lucu baginya. Mirip sekali dengan remaja yang sedang jatuh cinta.
" Kak! Jangan menertawakanku. "
Camila sudah mengerucutkan bibirnya. Bisa bisa nya Daffi justru menertawakan nya. Dia tahu memang apa yang baru ia ceritakan mengenai Rasya memang lucu. Hanya saja Camila merasa kesal jika mengingat nya.
" Kamu tahu apa yang ada dalam pikiranku? "
" Apa itu?"
" Kenapa aku?"
" Maksudku si Rasya itu... Kalian ini sudah dewasa. Masak iya pakai kasih coklat segala."
" Entahlah, dia bilang coklat itu pemberian keluarga pasien. Lalu dia kasih ke aku. "
" Dan kamu terima? "
Camila mengangguk." Aku terima tapi tidak aku makan. Dan yang barusan, dia memaksaku mengajak keluar. Apa tidak gila namanya. Dan beruntung nya Kak Daffi datang di saat yang tepat. Kamu memang dewa penolongku kak. "
" Andai aku tak datang, apa kamu akan ikut pergi dengan nya? "
" Ya nggak lah. Aku mana berani. Apalagi aku sedang jauh dari om dirga. "
" Baguslah."
" eum... Kenapa tadi kak Daffi tiba tiba datang tidak memberitahu ku dulu. "
" Feeling sih....hahahha..." Daffi tergelak.
Lalu ia kembali berkata." Sebenarnya aku tadi sudah mengabarimu via whatsapp. Tapi tidak kau balas. "
Camila terhenyak,". Benarkah itu Kak. Maaf? "
Memang sejak tadi ponsel nya sedang Camila cas.
__ADS_1
Lalu dia menepuk dahinya," Kak... Aku tadi tak bawa apa apa?"
Daffi tidak mengerti apa yang disampaikan Camila.
" Maksud aku, tadi aku tak bawa ponsel juga tak bawa dompet. "
" tapi kamarmu sudah kau kunci kan?"
Camila menggeleng.
" Astaga Mila...!
" Kurasa aman sih karena ada security."
" Ya sudah. Kita makan dekat dekat sini saja ya. Biar bisa cepat kembali. Daripada kamu kepikiran."
Camila mengangguk setuju.
***
Setelah kepergian Camila, Rasya meraup wajahnya. Apa yang sudah ia lakukan? Mengejar ngejar istri orang tanpa tau aturan.
Tapi, dia tak mau membohongi dirinya sendiri jika dia sangat mengharapkan bisa bersama Camila. Tapi seolah Camila memang sengaja menjauh darinya.
Berjalan gontai kembali ke kamar nya, menatap Allan sekilas yang sedang fokus pada laptonya sedang duduk di atas sofa.
Rasya ikut duduk di hadapan Allan. Membuat dokter bermata sipit itu menatap nya keheranan.
" Darimana saja kamu?" tanya Allan.
" Keluar sebentar."
" Keluar kemana?" tanya Allan lagi.
Rasya tak menjawab. Hanya menghela nafas berat.
" Jangan bilang jika kau menemui Camila."
Rasya mengangguk. " Ya," jawabnya singkat.
Kini Allan yang menghela nafas. Menyandarkan punggungnya pada sofa, menatap Rasya tajam dengan mata sipit nya. Dokter berdarah Singapura itu tak habis pikir dengan tingkah laku sahabatnya. Susah sekali untuk dinasehati.
" Sudah berapa kali aku bilang. Jangan lagi mengganggu Camila. Kau tak berpikir bagaimana perasaan suaminya seandainya tahu jika istrinya kamu goda."
" Jangan berbicara seperti itu padaku Allan. Aku bukan lelaki penggoda."
" Lalu apa? Sebutan apa yang pantas untuk mu? "
" Jangan suka menghakimi ku. Kau tak tahu bagaimana dengan susah payah aku menahan diriku untuk mencoba menjauhi Camila. Tapi tetap tak bisa. "
" Bukaan nya tak bisa. Semua tergantung dari niat awal mu."
" Entahlah. "
" Andai kau bisa menjaga dirimu, menjaga matamu agar tak jelalatan memperhatikan Camila. Aku yakin kau pasti bisa mengenyahkan perasaan suka mu yang tidak pada tempatnya itu. "
__ADS_1
Rasya terdiam. Menyelami apa yang baru diucapkan oleh Allan. Tidak ada yang salah dengan semua ucapan Allan. Tapi yang susah itu adalah menjalani nya. Allan tidak merasakan nya sebagaimana perasaan nya yang begitu kuat pada Camila.