Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Bab 57 - Konflik


__ADS_3

Camila PoV


Apa aku salah dengar?


Om Dirga bilang mau menceraikanku. Aku terkejut. Mulutku sudah terbuka tapi tak bisa berkata apapun. Aku terlalu shock. Bukan aku saja tapi mama juga tak kalah terkejut nya. bahkan sekarang wanita itu tampak meneteskan air mata lagi.


" Ma.... Semua pasti akan baik baik saja. Mama jangan seperti ini." om Dirga berusaha menenangkan mama.


" Danu, tolong bawa mama masuk ke dalam. Mama harus istirahat."


Tanpa kata Danu berdiri dan membawa mama mertuaku masuk ke dalam.


" apa maksud om dirga bicara seperti tadi." tanya ku kala kami hanya tinggal berdua di ruang tamu ini.


" seperti yang tadi kukatakan. Aku akan segera mengurus perceraian kita.  "


" cerai !!! Mudah sekali om bilang cerai. Setelah enam bulan om Dirga menjeratku dalam pernikahan yang om ciptakan sendiri."


" maafkan aku Mila. Hanya ini jalan yang terbaik buat semuanya. "


" buat semuanya kata om? Semua siapa yang om maksud. Om sendiri, mama, Danu atau justru aku. " aku menunjuk diriku sendiri.


Entah kenapa aku tak bisa mengontrol emosiku saat ini.


" jelas bukan buatku . Bukan terbaik untuk ku. Ini semua benar-benar ga adil bagiku. Mungkin bagi om Dirga cerai itu perkara mudah. Tapi, apakah om Dirga pernah tau apa yang aku rasakan.?"  Ucapku menggebu-gebu. Emosiku sudah tak dapat lagi kukontrol.


" Mila, sekali lagi aku minta maaf. ini adalah keputusan final yang harus kulakukan. Maafkan aku. Dulu aku memintamu menikah denganku karena mama. Tapi sekarang yang mama tahu adalah Danu yang mencintaimu dan sudah sejak lama menginginkanmu. Aku tak bisa melanjutkan pernikahan kita jika Danu merasa tersakiti. Lagi pula aku juga tidak ingin terus mengikatmu pada pernikahan yang tak kau harapkan. Yakinlah suatu ketika kamu akan lebih bahagia . Kamu bisa hidup bebas lagi. Bebas menentukan pilihan untuk bersama siapa. Dan mungkin Danu lah orang yang tepat untuk mendampingimu dan membahagiakanmu. "


Aku mulai terisak. Sungguh ini begitu tak adil buatku. Begitu mudahnya bagi seorang lelaki mencampak kan wanita begitu saja.


" aku akan segera mengurus perceraian kita. Sudah malam aku antar kamu pulang. " om Dirga berlalu melewatiku menuju pintu keluar.


Aku menyeka buliran bening yang membasahi pipiku. Tak dapat lagi menahan tangis yang begitu saja pecah. Sebenarnya aku malu menangis di depan Om Dirga. Tapi entahlah aku merasa dadaku begitu sesak dan tak mampu menahan nya lagi.


Kuseka air mata yang masih juga tak mau berhenti. Melangkahkan kaki keluar dari rumah mewah ini. Kali ini rasanya begitu berat. Aku berusaha tegar, meyakinkan diriku pasti aku kuat.


Kulihat om Dirga sudah duduk di balik kemudi. Perlahan kubuka pintu mobil tanpa melihatnya aku pun masuk dan duduk di sebelah nya. Tanpa kata om Dirga mulai melanjutkan mobil nya keluar dari garasi.


-----


Suasana hening tak seperti biasa. Kita seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal. Hingga saat mobil om Dirga berhenti di depan rumah, kubuka seatbelt ku. Aku hendak turun tapi kuurungkan. Om Dirga berbicara sesuatu padaku.


" secepatnya aku akan bicara pada Bunda. Tapi tidak hari ini. Aku belum siap menghadapi Bunda dan Keenan. Dulu aku memintamu pada keluargamu dengan cara baik-baik. Jadi akupun akan mengembalikan mu pada keluargamu dengan cara yang baik pula. Tolong beri aku sedikit  waktu untuk menyiapkan diri. "


Tanpa bisa menjawab pernyataan om Dirga, aku berusaha membuka pintu mobil dengan tangan bergetar. Menahan emosi dan kekecewaan yang begitu besar pada lekaki yang masih berstatus suamiku. Lelaki yang telah membuatku terbang tinggi tapi pada akhirnya menghempaskanku begitu saja ke dasar yang paling rendah.


" Mila..... " tanganku dicekal olehnya.


" maafkan aku. " ucapnya lagi.

__ADS_1


kutarik lepas tanganku. Rasanya aku hampir muak mendengar ucapan maaf nya.


Segera keluar dari dalam mobil, sedikit berlari aku masuk ke dalam halaman rumah yang kebetulan pintu pagar nya terbuka. Aku tak berani menoleh ke belakang dan bergegas masuk ke dalam rumah.


Tangisku tak dapat kutahan lagi. Aku terus berlari menaiki tangga. Tak kuhiraukan Bunda yang memanggilku.


Kubenamkan wajahku diatas bantal. Aku sendiri tak tahu kenapa aku bisa sesedih ini hanya karena om Dirga akan menceraikanku.


Dulu om Dirga lah yang memaksaku agar aku mau menikah dengan nya. Dan sekarang dengan begitu tak gentle nya menyerah dan ingin melepaskanku begitu saja. Menyerah demi kebahagiaan Danu. Padahal jika om Dirga masih mau mempertahankan ku, aku yakin mama juga danu pasti bisa menerima nya. Tapi sayang sekali. Om Dirga lebih menyayangi Danu daripada diriku.


Tanpa om Dirga bertanya atau seenggaknya berbicara baik-baik padaku, dia mengambil keputusan sepihak. Aku kecewa. Sangat kecewa. Jika saja om Dirga tau bahwa aku dari dulu hingga sekarang hanya menganggap Danu tak lebih dari seorang teman. Teman terbaik ku.


" Sayang.... Hei kamu kenapa nak."  Kurasakan bunda mengelus kepalaku.


Aku membalik kan badan, tangisku kembali pecah. Kupeluk bunda mencari ketenangan.


" Bunda....."


" tenanglah sayang. Ada apa ayo cerita sama Bunda."


Tangisku mulai mereda. Kuusap pipi dan kedua mataku. Apapun yang terjadi aku tetap harus jujur pada bunda.


" Bun.... Om Dirga...." kuhela nafasku.


" om Dirga mau menceraikanku."


" apa???? " bunda terkejut.


Tentu Bunda tak bisa menerima semua keputusan om Dirga. Orang tua mana yang mau anak nya menjadi janda di usia muda. Bunda pun juga sangat kecewa.


" Mila, jika kamu memang tak memiliki perasaan apapun pada Dirga tak seharusnya kamu menerima lamaran nya dulu. Jika pada akhirnya pernikahan yang kalian ciptakan , akan kalian hancurkan juga . Jujur bunda sangat kecewa."


" maafkan Mila bunda. "


" semua sudah terjadi. Dan tak mungkin disesali. Perceraian adalah konsekuensi yang harus kamu terima. Meski sebenarnya bunda tak bisa menerima begitu saja keputusan sepihak Dirga apalagi dengan alasan sepele seperti itu. tapi kembali lagi pada kalian berdua. Jika memang kalian tak bisa menjalani pernikahan ini lebih baik memang diakhiri. "


" bun... Maafkan Mila. Sebenarnya Mila..... mila sudah mulai mencintai om Dirga. Mila pun sudah mulai menerima kehadiran om Dirga di hidup Mila. Lantas sekarang Mila harus bagaimana Bunda ."


" astaga Mila.... "


Bunda memeluk tubuhku.


" sebaiknya kamu istirahat. Tenangkan dirimu. Bunda ke bawah dulu ya. "


" bunda...mila mohon bunda jangan cerita dulu ke kak Ken ya. Mila tidak ingin masalah ini semakin runyam. Berikan waktu buat Mila dan om Dirga untuk menyelesaikan semua ini."


Bunda mengangguk.


" terimakasih Bunda. "

__ADS_1


******


Sudah satu jam berlalu sejak bunda meninggalkanku seorang diri berada di dalam kamar. Sedikitpun aku tak bisa memejamkan mata. Bayang-bayang kejadian sore tadi terus terngiang di memoriku.


Flasback beberapa jam yang lalu


Aku memarkir motor matic ku di garasi kediaman mama mertuaku. Keluarga om Dirga ini bisa dibilang keluarga berada. Rumah mewahnya saja berada di sebuah perumahan elit daerah surabaya barat.tapi meskipun begitu papa dan mama om dirga ini adalah orang-orang yang sangat baik.


Berjalan tergesa menuju pintu yang sudah terbuka. Jujur hatiku gelisah memikirkan om Dirga. Dalam hati aku berdoa semoga tidak terjadi apa-apa padanya. Apalagi saat di garasi tadi aku tak menjumpai mobilnya , membuatku bertambah panik saja.


" assalamualaikum. "


" waalaikum salam. "


Aku tertegun. Dua orang di hadapanku inilah yang dengan serentak menjawab salamku.


" Danu..." ucapku terkejut karena mendapati danu berada di ruang tamu bersama mama.


" Mila...ayo masuk. "


Dengan canggung aku melangkah masuk. Danu menatapku tajam membuatku salah tingkah. Ini bukanlah Danu yang kukenal dulu. Kenapa Danu yang sekarang auranya begitu menakutkan. Tatapan tajamnya seolah menghunusku.


Aku duduk di sofa yang sama dengan yang diduduki mama.


" Mama apa kabar. " kucium punggung tangan mama.


" sebenarnya mama sehat. Tapi....Mila sayang maafkan mama karena telah memintamu datang kemari. "


" oh ga apa kok ma. Lagian Mila sudah selesai kelas."


Aku tersenyum, dengan ragu aku menoleh menatap Danu dan sialnya pandangan mata Danu masih mengintimidasiku.


" Danu, kamu apa kabar. Kapan kamu pulang. " tanya ku berbasa basi.


" aku tidak dalam keadaan baik-baik saja kalau kamu ingin tau. " aku terjengkit kaget mendengar jawaban danu.


" Mila....kamu tau betapa shock nya aku. Baru datang masuk rumah sudah disuguhi pemandangan itu. "


Danu menunjuk sebuah foto berpigura besar yang di pajang di dinding ruang tamu. Bersebelahan dengan foto keluarga mereka. Dan foto yang danu maksudkan itu adalah foto pernikahanku dengan om Dirga.


" aku sungguh tak percaya. Seorang Camila Wijaya bisa berfoto bersama bersanding dengan uncle ku Angkasa Dirgantara . Menggunakan baju pengantin pula. Dan kata kata oma membuatku semakin bertambah nelangsa. Oma bilang itu adalah foto pernikahan uncle. "


Aku terdiam tak dapat berkata kata.pada akhirnya Danu mengetahui juga tentang pernikahanku dengan om Dirga.


" kenapa Mila ? Kenapa kamu malah menikah dengan uncle Dirga . Kenapa kamu tidak menungguku. Bukan kah aku sudah memintamu untuk menungguku. Apa kamu lupa ? Jawab aku Mila. !!! "


"  danu cukup....jangan menghakimi Mila seperti itu. Kita tunggu uncle mu untuk menjelaskan semuanya. " ucap mama pada Danu yang pada akhirnya mampu meredam emosi Danu yang tadi meletup letup.


" mila... jujur mama tidak mengerti dengan semua ini. Mama terlalu bingung dengan kisah cinta kalian. Saat Danu bilang jika Mila lah wanita yang Danu cintai, mama juga shock. Mama tak tau apapun. Jadi mama putuskan untuk menelpon Mila tadi dan meminta Mila datang kesini. "

__ADS_1


Penjelasan mama yang panjang membuatku bungkam. Apalagi sekarang mama mulai terisak. Ku peluk mama dan bersandar di bahuku. Hingga pada akhirnya orang yang ditunggu tunggu datang juga. Siapa lagi jika bukan om Dirga.


Flashback end


__ADS_2