
Ponsel di saku celana Dirga berbunyi, pasti Daffi yang menelpon nya.
" Ya Daff... Aku sudah jalan keluar ini. Tunggulah sebentar. Okay."
Dirga menutup panggilan telpon nya dan menyimpan kembali benda pipih itu di dalam saku celana jins nya.
" Pak Dirga sendiri atau...." kalimat dokter Allan menggantung karena Dirga sudah menjawab nya cepat.
" Tidak. Ada anak saya yang ikut. Sekarang sedang menunggu di depan bersama uncle nya."
" Owh...." dokter Allan manggut-manggut.
Rasya yang di belakang mereka terus saja menggeretu tak jelas di dalam hati. Ketidak sukaan nya pada suami Camila ingin ia ungkapkan tapi tak berani, karena pasti Allan akan menegur nya.
Sesampai di halaman Rumah Sakit Dirga melihat Je dalam gendongan Daffi. Dirga melambaikan tangan nya membuat Daffi mendekat.
" Papa, mana mama?" terus saja kata itu yang terlontar dari mulut Jaghad.
" Mama masih di dalam, sebentar lagi keluar. Kita tunggu disana ya," tunjuk Dirga pada sebuah coffe Shop yang tak jauh dari tempat nya berdiri saat ini.
Dirga mengulurkan tangan ingin mengambil Je dari gendongan Daffi, tapi ditolak oleh Daffi.
" Biar aku saja yang menggendong nya. "
" Baiklah terimakasih. Ah ya Daf, perkenalkan mereka dokter rekan Camila yang juga ikut bertugas disini. Dokter Allan dan dokter Rasya."
Daffi menjabat tangan dokter Allan sambil menyebutkan namanya, sebagai tanda perkenalan. Selanjutnya beralih mengulurkan tangan pada dokter Rasya. Tapi dokter Rasya hanya menatap nya tajam. Bukan nya Daffi lupa atau tidak tahu dengan dokter satu ini. Hanya saja Daffi pikir dia pura - pura saja untuk tidak mengenali.
Senggolan Allan di rusuk Rasya membuat Rasya menoleh. Allan menunjuk dengan dagunya memberi kode untuk menerima uluran tangan Daffi.
Dengan senyum masam, Rasya pun berkenalan dengan Daffi. Dan dengan seringaian, Daffi menguatkan cengkeraman tangan nya. Kedua lelaki itu sama - sama saling tatap dengan mata tajam mereka. Dalam benak mereka masing - masing saling mengatakan ketidak sukaan diantara mereka berdua.
Rasya, dia tidak suka dengan lelaki itu karena pernah mengacaukan rencana nya yang kala itu akan mengajak Camila keluar. Dan Rasya pun sempat berpikir jika lelaki bernama Daffi adalah selingkuhan Camila. Ternyata dugaan nya salah. Mereka bersaudara. Dan Rasya terlanjur tidak menyukai Daffi sejak pertemuan pertama mereka.
__ADS_1
Daffi, jelas dia tahu siapa Rasya. Melihat dari tatapan tajam Rasya saja, Daffi sudah tahu jika lelaki itu tidak menyukai nya. Ya, Rasya menyukai Camila, dan Daffi tahu akan hal itu. Sungguh Daffi tak akan membiarkan dokter tampan itu mengganggu Camila apalagi jika sampai berniat mengganggu rumah tangga Camila dan Dirga.
" Ayo!"
Dirga bersama dokter Allan berjalan mendahului Daffi dan Rasya, menuju coffe Shop.
Sementara Je masih nyaman berada di dalam gendongan tubuh tegab uncle nya. Sesekali Je menciumi pipi Daffi membuat Daffi kegelian. Dan berakhir kedua nya yang saling mencium pipi. Tawa Daffi pun pecah seketika tenggelam bersama tawa Je. Dirga hanya menoleh sekilas menatap kedekatan Je dengan Daffi.
Sementara Rasya, melihat anak Camila yang tampan sebenarnya dia suka. Tapi yang membuat Rasya tak suka adalah bagaimana anak Camila yang tertawa riang bersama dengan Daffi. Ya, Rasya iri. Yang ada dalam bayangan nya adalah seandainya dan seandainya. Rasya selalu menempatkan diri nya, seandainya dia yang menjadi suami Camila, seandainya dia yang tertawa bersama anak Camila. Argh sial.... Lama - lama Rasya bisa gila. Perasaan nya pada Camila membuatnya sangat tersiksa.
Mereka berempat masuk ke dalam coffe Shop. Duduk melingkar dengan Je yang sudah Daffi duduk kan di sebelah nya.
" Uncle, es klim...." pinta Je
" Je mau es krim?"
" Ya,"
" Nggak papa sih. Kasih dikit saja."
" Kalau mama nya tahu gimana?" tanya Daffi.
" Biarkan saja. Daripada dia nangis dan rewel." jawab Dirga singkat.
Camila bukan nya melarang Je makan es krim. Tapi hanya membatasi saja agar anak nya tidak kecanduan dengan es krim. Jika hanya sesekali saja tak masalah bagi Camila. Sementara bagi Dirga, asal anak nya tidak rewel atau membuatnya menangis, pasti ia turuti saja.
Pelayan datang lalu mencatat pesanan mereka.
" Jangan lupa es krim nya Je." Daffi mengingatkan pada Dirga.
Obrolan ringan hanya di dominasi oleh Dirga dengan dokter Allan. Dan saat kedua nya membicarakan mengenai insiden kecelakaan yang Dirga alami beberapa tahun yang silam, membuat Daffi menatap Dirga seolah bertanya.
" Daf, jangan kaget begitu. Jadi, dokter Allan ini dulu adalah dokter yang merawatku saat aku kecelakaan dulu."
__ADS_1
" Owh begitu rupanya."
" Dan dokter Allan ini juga mantan dosen nya Camila."
" Oh ya, wah kok bisa."
Allan hanya tersenyum melihat keterkejutan Daffi.
Obrolan mereka terhenti karena kedatangan Camila.
Senyum Camila yang menyapa semua lelaki ini, sungguh membuat Rasya terpana. Kapan sebenarnya Rasya tidak terpesona pada Camila. Seperti nya tidak pernah. Karena setiap melihat Camila, perhatian Rasya pasti akan teralihkan pada perempuan itu.
Seperti sekarang ini, Rasya terpesona melihat Camila yang begitu bahagia karena dapat bertemu dengan anak nya.
Apalagi Je yang sudah kegirangan saat mendapati kehadiran sang mama.
" Je anak mama... Rindu nya...."
Camila tak henti - henti menciumi putra nya. Daingkat tubuh kecil Je di dudukkan dalam pangkuan nya. Dan Camila kembali menciumi pipi gembil balita nya.
" Astaga Je, kamu makin tampan saja."
" Siapa dulu uncle nya," celetuk Daffi.
" Kak Daffi ish... Tampan sih, tapi tak laku juga?" Camila mencebik.
" Siapa bilang tidak laku. Ini karena belum nemu yang cocok saja." Daffi membela diri.
Dan mereka yang mendengar justru tertawa bersama, kecuali Rasya. Lelaki itu hanya bersikap biasa saja. Akan tetapi tatapan matanya hanya tertuju ke satu arah, Camila.
Tanpa sengaja ekor mata Dirga terarah pada Rasya. Dirga terhenyak, mendapati Rasya yang sedang mengamati istri nya. Diperhatikan sekali lagi tatapan Rasya yang tak juga beralih ke yang lain nya. Dirga lalu ganti menatap Camila. Tapi istrinya itu tidak merasa. Masih saja sibuk dengan Je. Sungguh tak dapat di definisikan perasaan Dirga saat ini. Curiga, sudah pasti. Dia lelaki, dan Dirga paham arti tatapan Rasya pada istri nya.
Ya, Rasya memperhatikan Camila karena lelaki itu suka pada istri nya. Sungguh Dirga menjadi geram sendiri. Akan tetapi jika ia menegur Rasya saat ini, rasanya tidak sopan. Dirga tidak akan mempermalukan Rasya di depan banyak orang. Dirga bukan lagi remaja tapi dia adalah lelaki dewasa yang juga akan bersikap dewasa dalam menghadapi Rasya.
__ADS_1