
Camila Pov
Tiga hari sejak pertemuan terakhirku dengan om Dirga, tak pernah lagi dia menelponku, kirim chat atau justru menemuiku pun sama sekali tidak pernah ia lakukan. Padahal aku sudah menunggu penjelasan dari nya. Bagaimana bisa dia menggantung nasib ku seperti ini.
Dengan seenaknya memaksaku agar mau menikah dengan nya. Tapi dengan seenaknya pula dia mau menceraikan ku begitu saja. Dipikirnya aku ini apa ? Barang yang bisa dipindah tangankan.
Seandainya pun om Dirga benar-benar menceraikanku dengan alasan Danu, tak sedikit pun ada keinginan buatku untuk menjalin hubungan dengan keponakan nya itu.
Bukan nya aku tak menyukai Danu atau membenci nya. Tapi sudah sejak awal aku hanya menganggap danu sebagai teman.tak lebih juga tak kurang.
Dulu sewaktu Danu memintaku menunggu nya memang aku iyakan karena aku pun juga tak akan pernah tau apa yang akan terjadi di waktu mendatang. Jikalau aku berjodoh dengan Danu sudah barang tentu akupun tak akan bisa mengelak nya.
Tapi masalahnya sekarang adalah Danu yang masih terus berharap padaku dan akupun yang juga tetap tak ada perasaan lebih pada Danu.
Aku benar-benar tak habis pikir dengan rumitnya jalan hidupku. Menikah di usia muda dan akan menjadi seorang janda di usia muda pula.
------
Berjalan gontai menyusuri koridor kampus. Seperti tak ada tenaga untuk beraktifitas. Jika tidak karena tugas tugas kampus yang sangat padat mungkin aku akan lebih memilih mengurung diri di dalam kamar untuk menenangkan hatiku.
Tapi aku tak bisa seperti itu. Study tetap harus jadi prioritasku. Seberapapun peliknya hidupku aku harus tetap pergi ke kampus melanjutkan aktifitasku sebagai seorang mahasiswa kedokteran. Teringat bagaimana dulu aku dengan susah payah berjuang agar bisa masuk fakultas kedokteran. Jadi aku tak akan pernah menyianyiakan nya.
Masuk ke dalam kelas dengan lesu dan tumben semua kursi sudah banyak terisi . Kulirik arlojiku dan ternyata aku belum telat. Sedikit heran karena kurasa suasana kelas berbeda dari biasanya.
Aku meneliti seisi ruangan kulihat nadia melambaikan tangan nya kepadaku . Syukurlah masih ada tempat kosong meski agak di belakang.
" lu kenapa keliatan ga semangat gitu. "
Baru juga aku duduk, Nadia sudah menegurku
" lagi ga enak badan . " jawabku singkat.
" pantesan dua hari kulihat pucet gitu."
" ini kenapa tumben kelas sudah penuh. Biasa nya juga masih lengang tak berpenghuni kalau belum dosen dateng . " aku memperhatikan sekeliling.
" lu emang ga tau ya . Kita kan kedatangan dosen baru . Ya wajarlah kalau semua pada carmuk. Terlebih cewek cewek kece seperti kita. " Nadia mengibaskan rambut dengan gaya centilnya.
__ADS_1
" dosen baru. ? Kok aku ga tau. "
" lu mah mana pernah mau tau...eh tapi ni ya Mil denger denger dosen baru kita ini ganteng. Dari luar negeri."
" luar negeri. "
" hmm.. pindahan dari Singapore ...... eh itu itu ...... orang nya dateng. "
Kulihat Nadia yang mulai merapikan bajunya dan membenarkan cara duduk nya .
Aku melihat kedepan mendapati seorang lelaki yang masih sangat muda untuk ukuran dosen di fakultas kedoktetan. Tubuhnya tinggi, kulitnya putih dan bermata sipit.
" good morning everybody " sapa nya ramah .
Dan serentak para mahasiswa berlomba lomba untuk menjawab sapaan renyah pak dosen .
Perkenalkan nama saya Allan.......
Saya adalah dosen sementara pengganti.......
Dan disini akan mengajar mata kuliah .......
Samar aku mendengar dosen baru tersebut yang memperkenalkan diri. Mungkin hanya aku yang tak terlalu berminat dengan kehadiran sang dosen baru.
Semua antusias menyimak perkenalan dosen baru itu yang kalau aku tak salah dengar bernama Allan...entahlah siapa tadi nama panjangnya aku tak begitu jelas karena aku juga tak menyimak tadi.
Kepalaku menunduk menekuri buku yang menurutku lebih menarik. Memutar mutar bolpoin yang kupegang dengan sesekali mencorat coret di atas kertas. Satu tanganku menopang dagu .
Entahlah aku lebih tertarik memikirkan om dirga ketimbang mendengarkan perkenalan dan tanya jawab yang menurutku tak penting.
Baiklah kalau begitu saya akan mulai mengabsen anda sekalian agar saya bisa kenal dengan anda semua.
Kembali kudengarkan suara dosen baru itu . Kuhela nafasku lewat mulut, kemana sebenarnya perginya om Dirga.
Ardi saputra
Afilia safitri....
__ADS_1
.............
Samar aku masih mendengar pak dosen yang mengabsen teman teman ku.
Lenganku yang digoyang Nadia dengan kuat menyadarkanku dari lamunan.
" apaan sih Nad.... " aku melotot pada sahabatku yang duduk di sebelahku.
" nama lu dipanggil dari tadi " Nadia berbicara lirih.
" dipanggil siapa " tanyaku tak mengerti.
" astaga Mila ...... " Nadia menepuk jidatnya.
" Camila Wijaya. " dengan nyaring aku mendengar namaku dipanggil.
Reflek aku mendongak menatap ke depan. Raut kekesalan tampak di wajah lelaki yang berdiri di depan.
Dengan ragu aku mengangkat tanganku .
" Camila Wijaya. " sekali lagi lelaki itu menyebutkan namaku.
" saya. " jawabku ragu
" benar anda yang bernama Camila Wijaya. Saya sudah memanggil nana anda lebih dari tiga kali dan anda baru menjawab nya. "
Kulihat lelaki itu menghembuskan nafas kasar membuat nyaliku menciut. Tatapan tajam nya sungguh mengintimidasiku. Terlihat jelas raut kekesalan di wajahnya.
" Jika anda memang tak berniat mengikuti materi kuliah saya lebih baik anda tidak perlu masuk kelas. Karena saya tidak mentolerir siapa pun yang berada di dalam kelas saya tapi pikiran nya bercabang kemana mana."
" maafkan saya Pak." cicitku takut takut.
" kali ini saya memberikan anda dispensasi karena ini adalah hari pertama saya mengajar disini. Tapi lain kali saya tidak akan memberi dispensasi kepada siapapun yang kerjaan nya asyik melamun di dalam kelas ketimbang mendengarkan materi kuliah yang saya sampaikan. Paham. Untuk yang lain saya harap juga paham dengan apa yang saya sampaikan. "
Aku menunduk tak berani menatap dosen killer yang telah mempermalukanku di depan semua mahasiswa. Salahku juga yang sedari tadi sibuk melamun dengan pemikiranku sendiri hingga tak menyadari jika namaku sudah dipanggil nya yang katanya lebih dari tiga kali.
Kupejamkan mataku sesaat, kuambil nafas dalam. Membuang jauh jauh pikiran tentang Om Dirga. Aku harus fokus, tak boleh seperti ini terus. Kubuka kembali mataku dan memperbaiki posisi duduk ku. Bersiap menerima materi kuliah dari si Pak Dosen Killer.
__ADS_1