
Pagi ini, melihat sang istri yang sudah rapi dan terlihat sangat cantik, kembali membuat Dirga berwajah masam. Dirga mendekat dan berdiri di belakang tubuh Mila. Kedua lengan Dirga melingkari pinggang sang istri.
Mila yang masih merapikan hijab nya hanya diam saja saat suaminya bergelayut manja kepadanya.
" Ingat! Jangan lagi dekat dengan Rasya."
" Iya papa...."
" Kalau perlu aku akan mengantar jemput mu setiap hari."
" Hei, kalau seperti itu papa sendiri yang capek nanti."
" Atau mau aku pekerjaan sopir pribadi untuk mu."
" Astaga, Pa. Tidak perlu. Aku janji, aku tidak akan lagi dekat - dekat dengan dokter Rasya. "
Dirga mencium pipi Mila.
Suara ketukan di pintu kamar mengagetkan kedua nya.
Dirga melepaskan diri dari tubuh Mila lalu beranjak menuju pintu kamar nya. Asisten Rumah Tangga sudah berdiri di depan kamar.
" Pak Dirga, maaf itu... diluar ada tamu. "
" Tamu?"
" Iya."
" Siapa yang pagi - pagi seperti ini bertamu."
" Katanya mau menjemput non Mila."
" Menjemput Mila?"
" Iya."
" Ya sudah. Suruh tunggu saja. Sebentar lagi aku dan Mila akan keluar."
" Baik Pak. Permisi. "
Dirga kembali menutup pintu. Camila menatap suaminya lalu bertanya." ada apa, Pa? "
" Nggak tahu. Katanya ada tamu di depan. "
" Pagi - pagi tumben ada tamu. "
" Mencarimu. "
" Aku. " Mila menunjuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Siapa tamu yang mencarinya sepagi ini. Perasaan dia tidak ada janji dengan siapapun. Mila masih terbengong dan berpikir tapi dia masih juga tidak tahu.
" Ya sudah. Sebaiknya kita keluar. Kita lihat siapa tamu yang datang, " Dirga merangkul bahu Mila berjalan keluar kamar.
Dirga sendiri juga penasaran siapa tamu yang sedang mencarinya. Hingga sesaat setelah kedua nya tiba di ruang tamu, mata Mila
melotot mendapati dokter Rasya yang duduk di sofa.
Mila menoleh pada suaminya dengan terbengong - bengong.
Dirga pun paham jika mungkin saja istri nya ini tidak menyangka bahwa tamu yang
datang adalah dokter Rasya.
Mata Mila kini menatap Rasya, " dokter Rasya...."
Rasya berdiri, " Selamat pagi."
" dokter Rasya kok bisa ada disini?" pertanyaan yang terlontar begitu saja dari mulut Mila.
" Iya, saya sengaja menjemput anda dokter Mila."
" Menjemput saya?"
" Ya, memang nya kenapa ? bukan kah mobil anda masih rusak. Jadi saya pikir sebaiknya kita berangkat bersama ke Rumah Sakit. “
Emosi Dirga langsung memuncak begitu saja. Bagaimana bisa ada manusia semacam Rasya.
“ Ah ya Pak Dirga, saya minta maaf. Mungkin Bapak keberatan jika saya menjemput dokter Mila seperti ini. Tapi saya pikir selagi kita searah ya sudah saya mampir sekalian.”
Dirga sudah mau angkat bicara, tapi ditahan oleh Mila. Kali ini Mila yang berusaha bicara dengan nada lembut tidak penuh emosi seperti suaminya.
“ Dokter Rasya. Terimakasih banyak karena dokter telah berinisiatif menjemput saya. Tapi sekali lagi saya mohon maaf karena saya akan pergi ke Rumah bersama suami saya.”
Dengan sedikit menahan kekecewaan akhirnya Rasya pun menyerah juga, “ Baiklah kalau begitu. Kita bisa berangkat bersama – sama . Bagaimana ?”
Dirga menghela nafas , dia turuti saja apa yang lelaki itu inginkan. Dirga hanya ingin tahu sejauh mana permainan Rasya.
“ Baiklah. Sayang ayo kita berangkat. Kita pamit dulu pada Je.”
Mereka berdua meninggalkan Rasya seorang diri di ruang tamu. Setelah berpamitan pada anak tercinta, Dirga dan Mila berlalu keluar rumah menuju garasi.
“ Pa, jangan emosi. Sungguh aku tak tahu jika dokter Rasya akan datang pagi – pagi ke rumah kita. “
“ Kita lihat saja sejauh mana permainanmu Rasya.” Gumam Dirga
“ Permainan apa ?” Mila tak mengerti dengan maksud perkataan suaminya.
Tapi Dirga enggan menjawab nya dan memilih untuk masuk ke dalam mobil. Mobil Dirga melaju keluar dari halaman rumah nya disusul oleh mobil Rasya di belakangnya.
__ADS_1
Ingin rasanya dirga mengumpat berkali – kali , tapi Camila selalu berhasil mengendalikan emosinya. Dirga tak habis pikir apa sebenarnya mau lelaki itu. Kenapa begitu kentara sekali jika dia sedang gencar mendekati istrinya. Tanpa rasa takut dan malu sedikitpun.
Dirga kembali memukul stir kemudi begitu ekor matanya mendapati dari kaca spion, mobil Rasya tetap saja membututi mobilnya.
“ Pa, sabar ....”
“ Bagaimana aku bisa sabar sayang ? Sebenarnya apa sih yang dia inginkan ,”
“ Entahlah , Pa. Aku tak tahu.”
“ Sayang merasa tidak, jika Rasya itu betul – betul menyukaimu.”
“ Aku juga tidak tahu , Pa.”
“ Mulai sekarang jauhi Rasya. Jangna suka dekat – dekat dengan dokter gila itu.”
“ Ya mana bisa begitu. Dokter Rasya itu sekarang menjadi pimpinan Rumah Sakit. “
“ Argh... sial....”
“ Pa ...” Mila mengelus pelan lengan Dirga berusaha memberikan ketenangan pada suaminya agar tidak terbakar emosi.
Sementara itu di belakang mereka Rasya masih setia mengikuti mobil yang dikendarai oleh Dirga Camila.
Semua rencana nya gagal sudah. Padahal sejak tadi pagi Rasya sudah bersemangat sekali ingin menjemput Mila dan mengajak nya berangkat bersama.
Sesekali Rasya memang perlu menikung Dirga. Semalam, orang suruhan nya sudah mengirimkan sedikit informasi mengenai Dirga.
Angkasa Dirgantara, seorang pengusaha yang bergerak di bidang export import. Cukup berat memang saingan nya kali ini. Tapi Rasya tetap akan maju dan pantang mundur.
Mobil Dirga memasuki gerbang Rumah Sakit. Langsung menuju area parkir. Dirga harus benar - benar memastikan Rasya tak akan berani berbuat macam - macam pada istrinya.
Setelah mobil terparkir dengan sempurna, Mila melepas Seat belt nya.
" Terimakasih Pa sudah memgantarku."
" Itu sudah menjadi tanggung jawabku sayang,"
Mila mencondongkan tubuhnya mengecil pipi Dirga. Tapi, Dirga segera menahan dagu istrinya. Satu senyuman terukir di bibirnya. Lalu bibirnya sudah berlabuh diatas bibir istrinya.
Ya, jika sudah seperti ini, mereka menjadi lupa sedang berada dimana sekarang.
Dirga, tak akan mampu melepas kan ciuman nya karena selalu membuatnya ketagihan.
Tak berselang lama Rasya melintas di depan mobil Dirga diparkirkan. Kaca mobil nya yang sengaja ia buka sanggup melihat tontonan love dua orang di dalam sana.
Tangan Rasya yang memegang stir kemudi mengetat, dia sangat kesal melihat pemandangan yang tak seharusnya ia lihat.
Kata umpatan keluar berkali kali dari bibirnya. Dan dengan sekali injakan gas, Mobil Rasya melesat begitu saja mencari tempat parkir yang jauh dari mereka.
__ADS_1
Sungguh Rasya tak menyangka melihat kemesraan pasangan suami istri itu. Ya, Rasya cemburu. Sekalipun Mila adalah istri Dirga tapi tetap saja Rasya sangat tidak terima dengan tingkah laku mereka. Seperti nya dia harus menegur Mila karena perbuatan tidak senonoh nya kali ini. Rasya adalah pimpinan Rumah sakit dan dia berhak melakukan apapun saja.