
Siang ini Dirga benar-benar harus meluangkan waktu nya untuk Camila. Mereka berdua akan mengunjungi dokter kandungan. Sebenarnya pagi tadi Camila sempat mengetes urin nya sendiri dengan menggunakan test pack. Dan hasilnya memang positif. Tapi untuk memastikan , mereka tetap memutuskan untuk pergi ke dokter.
" Ferdy ...!" panggil dirga pada asisten nya.
" Yes Bos. "
" Aku mau jemput Je, tapi aku nggak kembali ke kantor. Kita tidak ada meeting kan hari ini ?"
" Jadwal Bos hari ini kosong. Bos bisa pergi sekarang."
" Kau mengusirku, Fer ?"
" enggak bos. aku tak bermaksud begitu "
Ferdy menggaruk tengkuknya. Sepertinya dia salah bicara pada Bos Dirga.
" Ya sudah aku pergi sekarang. "
Dirga beranjak dari duduk nya. Lalu mengambil ponsel serta tas kerjanya.
" Hati- hati di jalan Bos. "
" Ya,"
Dirga keluar kantor , mengemudikan mobil nya menuju sekolah Je.
Sejak dulu dia lebih senang membawa mobil nya sendiri tanpa sopir pribadi. Sekalipun dia mampu jika hanya membayar seorang sopir pribadi. Tapi dia akan lebih suka menyetir sendiri mobil nya sekalipun itu sangat melelahkan.
Seperti biasanya dia akan menghabiskan waktu nya di jalanan demi untuk bisa sampai di sekolah anak nya. Empat puluh menit waktu yang ia tempuh untuk bisa sampai di sekolah je.
Je dan mbak Hana sudah menunggunya.
" Je ....!" teriaknya."
Je dan mbak Hana menoleh, Je sangat senang mengetahui kehadiran papa nya.
Dengan di gandeng oleh mbak Hana , kedua nya menghampiri papa Dirga yang berdiri di samping mobil nya. Lalu dirga membuka pintu mobil untuk je. Je duduk di bangku depan, di sebelah kemudi sementara mbak hana duduk di bangku tengah.
Dirga membantu memasangkan safety belt untuk Je. lalu ia menutup pintu mobil. Berlari kecil megitari mobil dan masuk ke dalam nya , duduk di balik kemudi.
" Sudah siap , Boy ?"
" Siap "
" Lets go, kita pulang."
" Yeay...." teriak Je kegirangan.
__ADS_1
Dirga kembali menjalankan mobil nya menuju rumahnya.
Perjalanan yang sangat melelahkan tentu nya. Tapi Dirga berusaha enjoy menjalaninya. Dia tidak pernah mengeluh karena sayangnya ia pada keluarga.
Sempat terpikir untuk mencari driver pribadi untuk Je, yang akan membantu nya mengantar jemput je ke sekolah serta mengantar istrinya kemanapun istri nya itu pergi.
Tapi dia masih akan membicarakan hal ini pada Camila. Takut jika istrinya tidak menyetujui rencanya jika ia memutuskan sepihak,
Pada akhirnya mereka sampai juga di rumah.
Setelah memarkir mobil nya, Dirga turun dari dalam mobil nya. Lalu mengitari mobil dan membuka pintu mobil di sebelahnya. Membantu je untuk turun.
Je sudah berlarian masuk ke dalam rumah. Hana membawa tas milik Je mengikuti balita itu .
Sementara Dirga paling terakhir masuk ke dalam rumah. Tidak mendapati Camila dimana mana.
" Apa mungkin masih di dalam kamar ?" gumam Dirga.
Dirga menuju kamar nya, membuka pintu kamarnya tapi Camila tidak ada di atas ranjaang . Suara gemericik air di dalam kamar mandi, langsung bisa membuat Dirga menebak jika istrinya pasti sedang mandi.
Disimpan tas kerja nya lalu dia buka kancing kemejanya satu persatu, disaat itulah Camila muncul di ambang pintu kamar mandi.
" Pa! sudah pulang ?"
" baru saja. "
" Ya jadilah. tadi janjian jam berapa memang nya. "
" Dokter nya mulai praktek jam empat sore. Tapi kita harus ambil nomor antrian dulu. Ya seperti dulu itu loh Pa. Saat aku hamil Je. "
Dirga nyengir , pasalnya ia telah lupa.
Jadi jika mau periksa ke dokter kandungan, minimal satu jam sebelum nya sudah harus datang mengambil nomor antrian. Karena pasien sang dokter lumayan banyak.
" Ya sudah , aku mandi dulu. habis itu kita berangkat . "
Camila mengangguk. Dirga sudah masuk ke dalam kamar mandi.
****
Disinilah mereka berada saat ini, sedang menunggu antrian di salah satu dokter kandungan terkenal di kota ini.
Mereka hanya berdua , sebenarnya tadi Je sudah merengek ingin ikut dengan papa dan mama nya. Tapi Dirga melarang. Selain karena waktu yang cukup lama Dirga takut jika Je akan rewel.
Pada akhirnya Hana harus berusaha keras merayu Je agar Je tidak ikut dengan papa dan mama nya. lagipula setelah pulang sekolah adalah jadwal nya Je tidur siang. Setelah melalui drama yang menguras air mata , Je menyerah juga. Lebih memilih mengikuti mbak Hana untuk tidur siang.
" Pa, masih lama. " celetuk Camila.
__ADS_1
" Tinggal dua nomor antrian lagi. Sayang capek ?"
" Punggung ku pegal kelamaan duduk. "
" Sabar sebentar lagi."
Camila hanya mengangguk. Disandarkan kepalanya di bahu suaminya sambil menunggu dirinya dipanggil oleh perawat.
" Nyonya Camila !" panggilan suster membuat Camila terhenyak.
Perempuan itu mendesah lega. akhirnya namanya dipanggil juga.
Camila beranjak berdiri , Dirga pun melakukan hal yang sama. Mereka berdua berjalan dengan bergandengan tangan menuju ruangan dokter.
" Selamat siang dokter , " sapa Camila.
" Selamat siang nyonya Camila. "
Lalu terlibatlah obrolan diantara dokter, Camila juga Dirga.
Camila menyampaikan beberapa informasi terkait keterlambatan dirinya menstruasi juga mengenai hasil test pack yang menyatakan dirinya positif hamil.
Lalu Dokter pun memeriksa Camila juga melakukan USG untuk mengetahui apakah benar ada janin dalam rahim Camila atau tidak.
" Nyonya Camila, ternyata memang benar. anda positif hamil Jika dari perhitungan usia kehamilan anda memasuki usia delapan minggu. "
" Delapan minggu , dok ?"
" Iya."
Camila dan Dirga saling pandang. Dalam hati Dirga berucap syukur karena dia diberi kepercayaan lagi untuk memiliki seorang bayi.
" Alhamdulillah, " ucapan yang meluncur dari mulut Camila juga Dirga.
***
Mereka sedang dalam perjalanan pulang setelah dari dokter kandungan. Dirga tidak berani membahas mengenai kehamilan istri nya itu. Dirga takut jika Camila belum bisa menerima kehamilan nya. Bukan tanpa sebab Dirga berpikiran demikian, karena Camila selalu mengatakan belum ingin hamil lagi karena masih trauma dengan kejadian saat melahirkan Je dulu.
Ditambah pengalaman pertama saat Camila hamil Je dulu, istri nya juga seolah tidak bisa menerima kehamilan nya karena waktu itu Camila masih kuliah.
jadi untuk kehamilan yang sekarang , Dirga enggan membicarakan banyak hal pada sang istri. Dirga ingin memberikan waktu buat Camila untuk menata diri . Menyiapkan diri dan hati untuk menerima kehamilan keduanya kali ini. Semoga saja Camila bisa menerima dengan lapang dada. begitulah doa Dirga selama perjalanan.
Camila pun juga masih terdiam tidak membicarakan apapun mengenai kehamilan nya pada sang suami. Jujur, Camila masih terlalu terkejut karena mengetahui dirinya yang hamil lagi. Mulai sekarang Camila harus menyiapkan diri untuk menerima kehamilan kedua nya. Tidak hanya menyiapkan diri tapi juga menyiapkan hati. Hamil itu tidak mudah dan akan sangat berat ia jalani. Semoga Camila sanggup melalui semua ini. Begitulah doanya dalam hati.
__ADS_1