Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Bab 33 - Ada apa dengan Nath


__ADS_3

Daffi POV


Disinilah aku berada saat ini, di tengah pesta sederhana pernikahan Dirga dan Camila. Ikut bahagia melihat Dirga yang begitu lancar melafalkan kalimat ijab qabul untuk Camila. Aku tersenyum melihat mereka. Tidak menyangka jika mereka akhirnya menikah.


Kupegang dadaku, biasa saja. Kenapa tidak sakit ya, padahal pemandangan di hadapan ku itu sungguh menyakitkan. Bagaimana tidak jika tanpa kabar tiba-tiba mereka menikah. Aku seperti orang bodoh yang mengetahui kenyataan pahit, wanita yang sedang dekat denganku saat ini menikah dengan sahabat ku sendiri.


Camila, gadis itu lah yang akhir-akhir ini dekat denganku. Banyak menghabiskan waktu bersamanya membuatku nekat menyatakan perasaan padanya beberapa waktu lalu. Bukan tanpa alasan saat aku menyatakan cinta, tapi memang yang kurasakan saat itu ya bisa dibilang jatuh cinta. Bagaimana tidak cinta jika hari hari kulalui bersamanya.


Camila gadis yang baik, ramah dan juga cantik. Pembawaan nya yang supel membuatku merasa nyaman bersamanya. Terlebih pada saat itu aku mungkin patah hati karena ditinggal Nathalie pergi. Dan kehadiran Camila bagai obat mujarab penyembuh luka hatiku yang belum sempat menyatakan perasaan ku pada Nathalie.


Untung saja Camila menolak ku kala itu. Gadis itu lebih tahu dan lebih bisa merasakan jika apa yang kurasakan terhadapnya mungkin hanya sebuah pelarian semata. Meskipun aku sempat menyangkalnya. Aku selalu memastikan diriku jika aku benar jatuh cinta pada Camila. Aku nyaman bersamanya dan aku selalu bahagia jika dekat dengan nya.


Tapi jika memang benar aku mencintai Camila, kenapa perasaanku sekarang baik baik saja. Tak ada perasaan sakit karena patah hati ditinggal menikah pujaan hati.


Yang ada justru mataku ini tak pernah lepas memandang Nathalie yang kali ini tak kalah cantik dari Camila. Kebaya yang membungkus tubuhnya tampak pas dan mempesona. Hanya satu yang kurang, aura yang terpancar dari wajah Nathalie menyorotkan kesedihan.


Apa gerangan yang membuatnya bersedih. Apa karena Dirga? Atau karena........ Ah, astaga Daffi...... Kuusap wajahku frustrasi.


Kembali Kutatap dia dari jarak jauh. Aku tak berani mendekat ke arah nya. Sungguh aku merasa bersalah padanya. Aku menyesal dan entah apa dia mau memaafkan kekhilafanku dan kesalahanku.


Tepukan di bahuku menyadarkan dari semua lamunanku barusan. Dirga berdiri di depanku dengan senyum mengembang di bibirnya.


Aku berdiri dan memeluk nya.


" Selamat bro, akhirnya lo nikah juga."


" Thanks daf lo udah datang."


Dirga memicingkan matanya " by the way lo tau gue nikah darimana?"


Pertanyaan nya membuatku terkekeh. " gue heran sama lu. Acara penting kayak gini gue ga dikasih tau. Owh... Gue tau lu pasti takut kan jika pengantin wanita lu gue bawa lari.... Hayo ngaku...."

__ADS_1


Kami berdua tertawa." sialan lu.... Awas aja klo lu berani."


" sory bro... Gue ga berani. Ya udah gue ke Mila dulu. Cantik bener bini lu. "


Aku kembali terkekeh melihat Dirga melotot padaku karna godaanku.


-------


Acara yang awalnya berlangsung bahagia tiba-tiba dikejutkan karena mama Dirga jatuh pingsan. Beberapa tamu undangan ikut panik, termasuk aku. Tapi semua bisa diatasi. Papanya Camila berhasil menenangkan tamu undangan yang hadir.


Aku pun sebenarnya masih kepikiran mamanya Dirga. Semoga tidak terjadi sesuatu hal yang buruk. Camila dan Dirga sudah meninggalkan kami, mereka pergi ke Rumah sakit. Kulihat kak Ken dan Danisha juga mengikuti mereka pergi ke Rumah Sakit.


Awalnya aku ingin ikut serta pergi menyusul mereka, tapi kuurungkan. Kulihat gadis berkebaya merah itu terlihat panik. Kuhampiri dia yang sedang berdiri seorang diri. Jika penampilan nya seperti ini tidak terlihat sama sekali tampang Bulenya.  Rambutnya bukan pirang lagi melainkan sudah berganti hitam. Wajahnya lebih mendominasi wajah lokal, seperti wanita Asia pada umumnya. Memang sih yang kutau Nathalie ini papanya adalah orang Indonesia, orang jawa tepatnya. Jadi kemungkinan besar wajah Nathalie ini lebih mendominasi almarhum papa nya.


" Nath...." panggil ku. Aku berdiri di belakangnya.


Aku bisa melihat tubuhnya menegang. Tanpa berniat menolehku dia berlalu pergi meninggalkanku.


" Daf.. Plis elu jauh jauh dari gue. Jangan ganggu hidup gue lagi."


" ga bisa." jawab ku dengan nada tinggi. Bagaimana bisa dia berbicara seperti itu.


" Daffi... Diantara kita tidak ada hubungan apa apa. Dan anggap saja kita tidak pernah saling mengenal. Jadi.... Tolong jangan deket deket gue lagi. " Nath berlalu tapi segera kucekal lengan nya.


Aku menariknya keluar halaman rumah menjauh dari kerumunan orang yang masih ada di rumah Camila. Kulihat motorku tak jauh dari sini.


Kembali aku menarik tangan Nath menuju dimana motorku terparkir. Kulepas genggaman tanganku. Kuambil helm ku dan memakainya. Nath tampak bingung menatapku yang kini sudah menaiki motor gedeku.


" naik." ucapku padanya.


Nath tak bergeming tetap berdiri menatapku. Kembali kutarik tangan nya lebih mendekat.

__ADS_1


" ayo naik." perintahku sekali lagi.


" lo gila ya... Gue pake kebaya dan lo suruh gue naik. Ngapain coba. Lepasin tangan lo. Gue mau ke dalam. "


" gue bilang naik. Sekarang. Lo bisa kan duduk menyamping."


" enggak. Ntar gue jatuh. Gue ga mau."


" lo mau gue gendong."


"apaan sih... Iya iya... Gue naik."


Nath berusaha naik di boncengan motorku. Begitu dia sudah berada di atas jok motor kutarik tangan nya agar berpegangan di pinggangku.


" pegang yang erat kalau ga mau lo. Jatuh." perintahku


" lo sebenarnya mau apa sih. Gue udah bilang kan, kita ga ada urusan apa apa lagi."


" ga bisa semudah itu lo bilang ga ada urusan. Kita berdua tetap ada urusan. Apalagi sejak kejadian semalam....."


" stop..... Ga perlu lo  lanjutin omongan lo. ".


Tiba tiba Nathalie kembali turun dari motorku. Dengan terseok seok Nath berlari meninggalkanku yang masih berada di atas motor. Berniat mau mengejar nya tapi kuurungkan. Di sana banyak orang. Malu jika sampai mereka tahu aku dan Nath ribut-ribut.


Kuputuskan untuk menghidupkan mesin motor dan melajukan motor besarku meninggalkan rumah Camila. Mungkin besok aku akan menemui Nathalie kembali. Aku tetap harus berbicara padanya.


Masuk di area parkiran night club, aku turun dari motorku dan bergegas masuk ke dalam. Mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruang. Malam ini club tampak ramai, masih seperti hari hari sebelumnya. Aku berlalu masuk ke dalam, membuka pintu ruanganku. Sebenarnya ini adalah ruangan bekas punya Danu. Dulu tiap kali berada di club tempat ini lah yang menjadi ruang private baginya.


Tapi semenjak Danu pindah ke London, ruang ini kosong tak ada yang menempati dan sejak Dirga memintaku untuk mengurus club ini jadilah ruangan ini dia wariskan kepadaku.


Kututup pintunya, duduk di satu-satunya sofa yang ada diruangan ini. Kupejamkan mataku, Nathalie..... Wajah gadis cantik itu terbayang di pikiranku. Gadis yang saat kubuka mata tadi pagi telah menghilang tak ada di sampingku.

__ADS_1


Argh.... Apa yang harus kulakukan sekarang.


__ADS_2