
Camila POV
Sejak tadi malam aku tidak bisa tidur. Di rumah sudah ramai sekali. Seluruh anggota keluarga telah berkumpul. Hanya keluarga inti saja sebenarnya karena pernikahan yang akan kulakukan hanyalah pernikahan sederhana saja. Kak Andrew baru datang tadi subuh. Sedang Papa dan mama Jane sudah datang sejak semalam. Tapi sayangnya Nath menghilang entah kemana. Jujur aku sangat merasa bersalah padanya.
Teringat kembali bagaimana kecewanya Nath padaku saat seminggu yang lalu dia mengetahui rencana pernikahanku dan om Dirga. Kala itu Bunda mengabarkan pada papa jika aku dilamar oleh keluarga om Dirga. Bagaimana pun juga papa harus menjadi wali Nikah ku. Papa dan mama Jane sungguh berbahagia mendengar kabar pernikahanku. Tapi ternyata tidak bagi Nath.
Flashback
" Mil, elu ga serius kan mau merid?" suara Nath di ujung telpon membombardirku dengan pertanyaan yang sulit untuk kujawab.
" Mil, papa bilang jika elu mo merid. Dan gue sampe shock karna papa bilang calon suami lo namanya Dirga. Apa yang dimaksud papa itu adalah kak Dirga om nya Danu.? "
Pertanyaan Nath membuatku bungkam. Tak tau harus berkata apa.
" Mil... Mila..!!!! Jawab gue jangan diem aja. "
" Nath.... Ehm... Sebenarnya..... "
" sebenarnya apa? Jawab Mil. " Nath terus saja mendesak ku dengan berbagai pertanyaan nya.
" Nath....."
" iya Mil...."
" sebenarnya... Aku memang mau nikah.... Sama..... Om... Dirga. "
Kuhela nafas lalu menghembuskan nya perlahan. Aku telah jujur pada Nath.
Hening. Tak ada jawaban dari Nath.
" kenapa?"
Aku mengernyit mendengar pertanyaan Nath.
" kenapa elu bisa nikah sana kak Dirga.? Apa selama ini kalian ternyata pacaran? " tanyanya padaku
" enggak... Enggak..." aku menggeleng meskipun di seberang sana Nath pasti tak melihatnya.
" lalu? Bagaimana bisa tiba tiba kalian mau merid?. Mil elu jangan becandain gue. Gak lucu tau. "
" Nath aku mau nikah sama om Dirga karena permintaan Mama nya." aku menjeda ucapanku.
" mama om Dirga itu sering sakit dan beliau meminta pada om Dirga agar segera menikah. Tapi......"
" tapi kenapa Mil. " Nath menyela kembali ucapanku.
" tapi mama om Dirga minta agar aku yang menikah dengan nya. "
" kenapa harus kamu Mil."
" aku ga tau Nath. Sebenarnya aku tidak menginginkan pernikahan ini. Kamu tahu sendiri kan jika aku masih ingin mengejar impianku. Mengejar semua cita cita ku. Aku ingin lulus dan segera menjadi seorang dokter. Tapi Nath....... Melihat mama om Dirga aku jadi tak kuasa menolak. Aku ga ingin membuatnya kecewa dan pada akhirnya kembali sakit. Bagaimana pun juga aku tak bisa menyakiti nya. "
Hening tak ada tanggapan dari Nath.
" Nath, seandainya kamu menjadi aku, apa yang akan kamu lakukan.? Aku sudah bilang sama om Dirga agar mencari wanita lain yang mau dia nikahi. Tapi kembali lagi, keinginan mama nya hanyalah aku yang menikah dengan anaknya."
" kenapa kamu bisa kenal dengan mama Kak Dirga? "
" owh kalau itu aku memang dulu pernah ke rumah nya. Saat Danu akan berangkat ke London. Nath sekali lagi kumohon. Tolong kamu ngertiin posisiku saat ini. Aku sungguh dilema Nath. Ini adalah keputusan yang sangat berat. Menikah itu bukanlah sesuatu yang mudah Nath. "
__ADS_1
Tidak terdengar suara Nath disana.
" Nath.... Maafkan aku ya. Ya sudah kututup telpon nya ya. Bye Nath. "
Flasback end
***********
Kuedarkan pandangan di seluruh penjuru rumah Bunda. Mulai dari halaman depan yang sudah dipasang tenda dan beberapa kursi sudah berjajar rapi. Di ruang tamu sudah didesain sedemikian rupa untuk acara ijab qabul nanti malam. Aku melangkah menuju dapur. Tampak Bunda, budhe yasmin dan mama jane sibuk berkutat dengan masakan mereka.
Hari sudah beranjak siang, pikiranku masih sangat kacau. Rasanya seperti mimpi. Hari ini aku akan menikah. Kudaratkan pantatku di atas sofa ruang keluarga. Kuhela nafasku, menenangkan kembali hatiku yang gundah gulana. Seorang pengantin seharusnya merasa berbahagia di hari pernikahan nya. Aku sudah tidak bisa mundur lagi. Satu-satu nya yang harus kulakukan adalah tetap maju dan menghadapi semua keputusan yang telah kuambil.
Aku terjengkit kaget mendapati Nath dengan sedikit berlari kecil menaiki tangga. Darimana saja saudara ku itu hingga semalam dia tidak pulang. Sampai papa bingung mencari keberadaan nya.
" Nath.... Tunggu!!!" teriakanku tak digubrisnya. Nath tetap melangkah menaiki tangga.
Aku yang ingin mengejarnya dihalangi oleh kak Danisha yang muncul dari ruang tamu.
" Mila, mau kemana. Ini periasnya sudah datang. Ayo buruan kita siap siap."
" tapi Kak... Itu Nath.. "
" biarkan saja. Tadi kakak yang nyuruh Nath untuk istirahat di kamar kakak. Kelihatan nya dia capek sekali." ucap Kak Danisha dan aku pun menuruti saran kakak iparku itu untuk membiarkan Nath sementara waktu.
Aku pun masuk ke kamarku bersama kak Danisha dan perias dari wedding organizer yang sudah disewa oleh mamanya om Dirga.
-------
Aku masih berada di dalam kamarku didampingi oleh kak Danisha. Saat ini kami sudah siap dan tinggal menunggu kedatangan om Dirga beserta keluarga. Bapak penghulu dan petugas dari KUA juga sudah datang.
" jangan tegang begitu. Ayo rileks. Pasti kamu gugup kan." tanya Kak Danisha sambil membetulkan kebaya yang kukenakan.
" wajar namanya orang mau nikah. Kakak dulu juga gitu kok." Kak Danisha tersenyum.
Pintu terbuka, muncul Kak Ken disana.
" pengantin pria sudah datang. Kalian siap-siap ya." ucap Kak ken
Duh aku semakin gugup. Kak Danisha berdiri dan membantuku untuk ikut berdiri.
" ayo kita turun. Acaranya akan dimulai. "
" sekarang ya Kak."
" iya lah... Mau kapan lagi. Yuk ah kita keluar. "
Kak Danisha mengapit lengan ku, keluar dari dalam kamar. Turun dari tangga dengan berhati hati. Kaki ini rasanya berat sekali untuk melangkah.
" hei... Rileks jangan tegang begitu. Semua akan baik-baik saja. Percaya deh sama kakak. " Kak Danisha berusaha menenangkanku.
Aku tersenyum. Ayolah Mila rileks....aku berusaha menetralkan degub jantungku kala tak sengaja ekor mataku menangkap punggung lelaki yang duduk di hadapan pak penghulu dan papaku.
Kak Danisha menuntunku semakin kedepan, sedikit mendongak kulihat sudah banyak keluargaku yang berkumpul disana. Ada bunda yang duduk diapit oleh mama jane dan budhe yasmin. Disebelah nya ada Mama dan papa om Dirga beserta dua orang perempuan yang tak kukenal. Kedua kakak lelaki ku juga ada disana, Kak Ken dan Kak Andrew. Mereka berdua tersenyum padaku. Di sebelah kak Andrew ada Nath yang menatapku dengan pandangan tak terbaca. Mbak Ratna yang tak lain anak budhe yasmin juga turut hadir bersama suami dan anak nya.
Om Dirga menoleh kearahku, aku menunduk tak berani menatapnya. Kak Danisha membawaku untuk duduk disebelah om Dirga. Kupejamkan mataku kala Pak penghulu mulai mengucapkan kata-kata.
Dan semua seperti mimpi. Karena aku yang terlalu larut dengan pemikiranku sendiri hingga aku tak fokus pada apa yang sudah terucap dari mulut lelaki yang duduk di sebelahku ini.
Tiba-tiba saja kata SAH sudah terlontar dari para tamu undangan. Jadi...... Acara ijab qobul nya sudah selesai. Dan aku... Astaga.... Statusku kini sudah berubah.
__ADS_1
Lantunan doa yang dilafalkan oleh Bapak penghulu membuatku sedikit tenang. Setelahnya kami berdua diminta menyematkan cincin pernikahan dan untuk pertama kalinya om Dirga mencium keningku Begitupun aku yang kini mulai mencium punggung tangan nya. Dia lelaki yang duduk di sebelahku ini adalah suamiku mulai sekarang dan entah sampai kapan.
Acara belum selesai sampai disini. Kami dibawa untuk menghadap kedua orang tua kita untuk meminta doa restu. Istilah jawanya sungkem. Bunda memeluk ku begitu erat. Tangis haru mengiringi prosesi ini. Begitupun saat aku dan om Dirga sungkem pada mama dan papa nya. Tangis bahagia juga nampak di wajah mereka.
Sesaat setelah kami selesai sungkem, kami bersalam salaman dengan beberapa kerabat dan tetangga dekat yang turut hadir di acara ini. Kedua kakak lelaki ku juga tampak berbahagia.
" Kak Andrew maaf ya Mila langkahin..."
" kamu ini kecil kecil jadi manten. Betewe selamat ya adik kecilku...." Kak Andrew memeluk ku. Kulihat Nath yang duduk di belakang kak Andrew sedang menatapku.
" Nath...." kulepas pelukanku pada kak Andrew. Dan kini aku menghampiri Nath.
Nath, saudara perempuanku ini kini juga memeluk ku. " Selamat ya Mil. Mungkin kak Dirga lah jodohmu dan bukan jodohku." bisik nya lirih di telingaku.
" makasih Nath. Maafkan aku ya." dan kami berdua kembali berpelukan.
Dapat kulihat kedatangan Kak Daffi yang kini sedang memeluk om Dirga di teras depan. Jadi ternyata kak Daffi juga diundang, batinku bertanya-tanya. Setelahnya kak Daffi menghampiri ku yang kini sedang berdiri bersama Nath.
" Selamat ya Mil. Kamu sama Dirga ini bener-bener kok... Acara penting kayak gini gue ga diundang..... Ckk... Tapi ya meski kalian ga ngundang, gue tetep dateng kok..... Hahaha.." Kak Daffi terkekeh dan mengulurkan tangan nya. Aku masih tak mengerti. Kalau tidak diundang kenapa Kak Daffi bisa ada disini dan mengetahui tentang pernikahanku. Batinku mulai bertanya tanya kembali.
Kuterima uluran tangan nya." maaf ya Kak. Bukan maksud ga mau ngundang. Tapi ini cuma acara keluarga doang sih sebenarnya. "
" jadi selama ini gue ga lo anggap keluarga gitu.... "
" ya ga gitu juga kali kak... Maaf"
" sudah sudah ga papa jangan merasa bersalah gitu. Yang penting gue sudah disini sekarang."
" makasih ya kak."
Kak Daffi tersenyum sebelum berlalu untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan.
Aku terjengkit kaget, om Dirga sudah berdiri di sebelahku. Tanpa kata tanpa suara. Aku pun juga tak tahu harus berkata apa padanya. Jadi akupun juga tetap diam membisu.
Tiba-tiba saja teriakan dari belakangku mengejutkan kami berdua. Kulihat mama om Dirga yang kini sudah berganti status menjadi mama mertuaku jatuh terkulai dipelukan papa mertua. Kak Dirga bergegas mendekati mereka.
" ma... Mama.. Pa, mama kenapa." om Dirga terlihat panik.
" ayo kita bawa ke Rumah Sakit sekarang." perintah papa mertua.
Papa sudah membopong mama. Diikuti oleh om Dirga yang kini berjalan keluar rumah. Semua keluarga ikut panik. Beberapa tamu undangan yang sedang menikmati hidangan mulai bertanya tanya tapi papaku berhasil menenangkan mereka. Aku berjalan mengikuti om Dirga yang kini sudah membuka pintu mobil. Papa mertuaku masuk ke dalam nya beserta mama yang masih berada di pangkuan nya.
" om, aku ikut." ucapku kala om Dirga mulai mengitari mobil.
" ayo masuklah." titahnya.
Kak Ken dan Kak Danisha ternyata juga berlari mengikuti ku.
" kita ikut ke Rumah sakit." ucap Kak Ken.
Om Dirga mengangguk sebelum dia masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi.
" Mil, Aku bawa mobil sendiri. Kamu ikulah bersama Dirga" perintah kak Ken padaku.
" iya kak."
Setelah aku masuk dan duduk di sebelah om Dirga, mobil berlalu meninggalkan rumah Bunda. Disusul oleh kak Ken dan Kak Danisha yang mengikuti kami dari belakang.
Aku menoleh ke kursi belakang. Tampak wajah panik papa mertuaku karena mama masih juga belum sadar dari pingsan nya.
__ADS_1