
Dirga masih mendengarkan apa yang istrinya sampaikan.
" Pa, aku ingin sekali makan rawon nguling. Papa bisa nggak beliin?"
Dirga meraup wajahnya. Yang jual makanan itu jarak nya cukup jauh dari tempat nya saat ini. Dan di jam jam segini kondisi jalan pasti macet.
" Sayang, kenapa tidak minta tolong Pak Mardi saja buat beliin, " usul Dirga dan semoga saja istri nya menyetujui nya.
Tapi ternyata dugaan nya salah.
" Aku nggak mau dibeliin Pak Mardi. Mau nya kamu yang beliin, Pa. Rasanya pasti beda dibeliin sopir sama dibeliin dengan orang yang kita sayang. "
Ucapan Camila membuat Dirga meleleh seketika.
" Baiklah sayang. Aku beliin ya. Kamu tunggulah."
" Terimakasih, Pa. I Love you. "
" I Love you too. "
Panggilan telpon terputus. Jika sudah kena rayuan maut nya Camila, Dirga bisa apa selain menurut dan meng-iyakan apapun permintaan istri nya.
"Fer...!"
" Siap, Bos."
" Eum...." Dirga enggan mengucapkan keinginan nya karena jujur dia tak enak hati pada Ferdy. Karena Ferdy yang harus menyetir mobil nya dan ini untuk kepentingan pribadi. Bukan untuk kepentingan kantor. Kok rasanya tak etis ya mencampur adukkan urusan pribadi dengan urusan kantor.
Tapi Dirga bisa apa. Disini kan dia tetap lah bos nya. Bos yang bisa memerintah apa saja pada karyawan nya. Baiklah mungkin dia akan memberikan bonus bulanan untuk Ferdy nantinya.
" Bos... Tadi bos mau bicara apa? Kenanpa diam saja."
" Fer, kita jangan ke kantor dulu," ucap Dirga.
" Lalu, kita mau kemana dulu?"
" Beli rawon nguling." setelah mengatakan itu Dirga diam. Menunggu reaksi Ferdy.
Sedetik kemudian Ferdy baru tanggap.
" Apa bos? Beli rawon nguling? "
" Camila ingin dibelikan makanan itu sekarang. "
" Tapi kan jauh bos dari sini. Kita sedang berada di tengah kota, sementara kalau mau beli rawon itu adanya di perbatasan kota."
" Ya terus gimana lagi? Daripada aku pulang ditodong istri. Sudah, bantulah aku. Kamu tenang saja, nanti akhir bulan akan kubagi bonus untuk mu. "
Mendengar kata-kata bonus, Ferdy langsung semangat.
" Baiklah Bos. Demi bonus akan kuantar kemanapun bos mau. "
Dirga memukul lengan Ferdy. Dimana-mana orang itu sama saja. Jika sudah mendengar kata - kata bonus langsung semangat empat lima.
__ADS_1
Lebih dari satu jam perjalanan. Akhirnya mereka menemukan juga resto yang menjual makanan permintaan Camila.
Dirga mentraktir Ferdy untuk makan dulu di tempat. Barulah Dirga membungkus sesuai pesanan Camila. Istri nya minta empal nya lima plus tempe goreng lima. Luar biasa, banyak sekali permintaan istri nya itu. Tapi Dirga tetap menuruti nya karena sayang nya dia pada Camila.
Keluar dari resto hampir jam empat sore. Ferdy mengelus perutnya yang kekenyangan.
" Bos...!"
" Apa?"
" Kita ke kantor dulu atau langsung pulang?" tanya Ferdy.
Dirga mengangkat lengan kanan nya. Melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kanan nya. Sudah hampir jam empat rupanya.
" Langsung pulang saja. Kita lewat tol."
" Langsung pulang ke rumah bos Dirga? "
" Ya. "
" Terus aku nanti pulang nya? Mobil ku ada di kantor bos?"
" Sudah jangan banyak protes. Yang penting sekarang pulang ke rumah. Nanti kamu ke kantor ambil mobil naik grab saja. "
" Baiklah bos. " Ferdy menjawab dengan lesu.
Tak ayal ia pun menurut apa saja yang bos Dirga perintahkan. Dia tak berani membantah jika tidak mau bonus nya disunat.
****
Setelah meletakkan rawon di dapur, Dirga memesan pada ART nya untuk memanasi makanan tersebut. Setelah nya Dirga meninggalkan dapur. Menuju kamarnya berada untuk mencari sang istri tercinta.
Begitu sampai di kamarnya, perlahan Dirga membuka pintu kamarnya mendapati Camila yang baru saja memandikan Je. Mereka berdua berada di atas ranjang. Camila sedang memakaikan baju untuk Je.
" Papa pulang....!" ucap Dirga mengagetkan keduanya.
Mendapati papa nya datang, Je sudah kegirangan. Lelaki kecil itu melompat lompat diatas ranjang.
" Yeay papa pulang...." teriak nya lantang.
" Je, jangan loncat-loncat nanti jatuh."
Lalu dengan sigap, Camila menangkap tubuh Je. Lalu mulai mendandani putra nya itu.
Dirga duduk di pinggir ranjang. Camila menoleh menatap Dirga dengan tatapan kesal nya.
" Papa kenapa baru pulang? Dapat nggak pesanan ku? " cerocos Camila.
Dirga hanya tersenyum. Lalu mengacak rambut Camila.
" Ish... Papa.....!"
" Sayang, pesanan mu ada di dapur. Sedang dipanasi."
__ADS_1
"Akhirnya dapat juga," wajah Camila sudah berseri - seri.
Lalu terburu - buru ia turun dari atas ranjang.
" Je, mau ikut mama nggak?"
" Kemana?"
" Makan rawon."
Je sudah mengangguk. " Mau."
" Ayo....!"
Je ikut turun dari atas kasur. Lalu Camila menggandeng lengan Je keluar kamar.
Dirga terbengong dibuat nya.
" Lah, aku dicuekin. Kenapa pesona ku bisa terkalahkan dengan rawon? " gumam Dirga seorang diri.
Lalu lelaki itu memutuskan untuk keluar kamar juga. Mengikuti anak dan istri nya.
Camila sudah membawa semangkok besar rawon yang masih mengepulkan asap panas nya.
" Je, sini sayang. "
Camila mengangkat tubuh Je, lalu mendudukan nya di atas kursi.
Diambil nya piring khusus kepunyaan Je, lalu mengambil kan nasi beserta kuah rawon untuk Je.
" Coba Je incip. Ini namanya rawon. Pasti Je suka."
Camila menyuap Je dengan satu sendok rawon. Putra nya itu melahap nasi rawon dengan antusias.
"Enak," ucap Je.
" Enak kan? Mama bilang juga apa."
Dirga datang menghampiri mereka. Mengambil alih piring Je.
" Sayang, biar aku yang menyuapi Je. Sayang makanlah. Nanti keburu dingin nggak enak."
Camila menurut perkataan suaminya. Dia mengambil nasi beserta kuah rawon, empal juga tempe.
Dirga sembari menyuapi Je, dia sampai - sampai harus menelan saliva nya mendapati sang istri yang makan begitu lahap nya.
Istri nya ini seperti menemukan harta karun, sangat menikmati suapan demi suapan yang mampir di mulutnya.
Dirga tersenyum. Perjuangan untuk mendapatkan makanan ini tidak sia - sia. Mendapati sang istri yang makan begitu lahap nya, ada kebanggaan tersendiri di hati Dirga. Ternyata apa yang istri nya sampaikam tadi benar adanya.
Yang membelikan Pak Mardi dengan Dia sendiri itu beda. Membeli dengan rasa cinta dan kasih sayang membuat rasa masakan semakin nikmat.
Bukti nya Camila sampai nambah - nambah makan nya. Tak hanya istrinya yang suka. Je pun sama, menikmati makanan yang papa nya belikan. Bahkan berkali kali Je mengatakan jika makanan yang sedang ia makan ini sangat enak.
__ADS_1
" Mama bilang juga apa. Enak kan? Je harus berterima kasih sama papa. Karena telah bersedia membelikan makanan enak ini untuk kita."
Dirga jadi terharu mendengar nya.