Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Bab 6 - Dirga dan Camila


__ADS_3

Dirga POV


Jika ada yang mengataiku pedhofil akan kuterima meski kenyataan


nya tidak demikian. Gadis berhijab yang membuatku hampir gila itu baru saja


lulus SMA. Bukan karna tidak ada wanita dewasa yang membuatku tertarik, tapi


gadis itu telah menjerumuskan hatiku terlalu dalam.


" Kembalikan hatiku yang telah kau curi, " wajah tanpa ekspresiku sanggup membuat gadis di hadapan ku ini terkejut.


" Maksud om apa sih. Aku bener-bener ga ngerti. Siapa juga yang telah mencuri. Justru om sendiri yang seenaknya main tarik dan menculik anak orang." Aku terkesiap mendengar dumelan gadis ini.


Memang tadi aku sedikit memaksa menarik tangan nya keluar dari club. Tak kuhiraukan gadis pirang yang tadi datang bersamanya. Gadis yang menatapku dengan binar bahagia. Apa gadis pirang itu terpesona padaku. Ah lupakan. Daffi juga sempat heran menatapku saat aku berkata padanya. " Malam ini lu perfom sendiri. Gue ada urusan."


Saat ini aku sedang berada di salah satu coffe shop langganan tentunya bersama Camila. Melihat gadis yang duduk dihadapanku ini membuatku begitu bahagia. Seulas senyum kutunjuk kan padanya.


Teringat saat tadi aku memaksanya untuk masuk ke dalam mobilku dia sempat meronta dan berusaha menolak. Tapi dia kalah gesit dariku buktinya aku berhasil membawanya kesini.


" Kenapa kamu berani membuatku tertarik padamu saat pertama kita bertemu." Kutatap tepat ke manik matanya membuat Camila terkesiap dan mengalihkan pandangan dari wajahku.


" Memang beneran ga waras ni om om. Antar kan aku pulang. Nath pasti sedang mencariku. " ucapnya lagi.


Yang kutahu Ponsel gadis ini mati karena lupa di charge. Tadi dia sempat menggerutu tatkala mendapati ponsel nya sudah berlayar hitam. Salah sendiri kenapa dia tak meminjam ponsel ku saja jika ingin menelepon teman nya yang berambut pirang tadi. Kulihat Camila sudah berdiri dari duduk nya.


" Mau kemana.?" tanyaku


" Pulang." jawabnya yang sudah berlalu meninggalkanku.


Terpaksa aku menyusul nya keluar dari coffe shop dan menarik tangan nya kembali menuju ke mobilku.


" Apaan sih om dari tadi main tarik segala. Dasar tukang paksa."


Tak kuhiraukan celotehan gadis cantik ini hingga tanpa bisa menolak Mila sudah masuk ke dalam mobil ku lagi.


Selama perjalanan tak ada yang kami bicarakan. Aku sendiri juga heran kenapa bisa kehilangan kata-kata hanya untuk sekedar berbasa basi padanya. Kulirik dia yang sedari tadi hanya memandang jalanan tanpa mau


memandangku yang tampan ini.


" Rumahmu dimana. Ga mungkin kan jika kamu pulang ke rumahku." Kata-kata ku kali ini sukses membuatnya menoleh padaku.


Camila menjawab dengan menyebutkan alamat rumahnya.


" Kamu ada rencana mau kuliah dimana? " aku berusaha berbasa basi sedikit dengan nya. Tapi gadis ini malah menatapku dan memicingkan matanya.


" Ngapain sih nanya-nanya."


" Kan cuma nanya aja." busyet ternyata gadis ini begitu galak. Tapi aku selalu suka saat Camila ketus padaku.


Hening... Tak ada lagi obrolan diantara kami. Aku melihat sekilas kearahnya. Cantik. Hanya satu kata itu yang mampu kuucapkan. Meski

__ADS_1


usianya masih belia tapi gadis ini terlihat begitu anggun. Dan hanya dengan menatapnya atau bahkan berdekatan dengan nya seperti ini mampu membuat ku nyaman.


" Bener ini rumahmu." mobilku telah berhenti di depan sebuah rumah yang tampak sepi. "Kok sepi." lanjutku.


" Bunda sedang ke jogja." Camila melepas seat belt dan membuka pintu untuk keluar dari dalam mobilku.


Aku pun ikut turun dan berjalan di belakangnya. Camila membuka pintu pagar. Saat aku ingin mengikutinya untuk masuk, Camila berbalik.


" Ngapain om ikut masuk. Ini sudah malam sebaiknya om pulang."


" Kamu tinggal sendirian. “


" Enggak. "


" Lalu.... Katamu tadi Bunda mu sedang ke jogja. "


" Ada Nath juga disini. "


" Kalian tinggal serumah. Maksudku kamu dan gadis pirang tadi. "


" Iya." Camila mengangguk.


Aku sedikit kepo sebenarnya ingin bertanya tentang dia dan si pirang. Tapi belum sempat aku membuka suara sebuah motor matic berhenti. Kupicingkan mata demi melihat siapa yang datang. Setelah nya disusul oleh


sebuah motor kawasaki Ninja yang juga berhenti. Aku mengenali siapa pemilik motor besar itu. Tak salah lagi itu Daffi. Dan gadis yang mengendarai motor matic tadi membuka helm nya.


" Astaga Mila....! Kemana aja sih. Aku telponin nggak bisa." si pirang menatapku. " Kukira om nyulik Mila. Lain kali jangan asal bawa anak orang jadi runyam kan. Aku bingung nyariin ternyata sudah disini."


" Lo sendiri ngapain disini. " tanyaku balik ke Daffi.


" Ngawal cewek cantik yang kehilangan sodaranya. Takutnya kenapa-napa di jalan makanya gue ikutin. "


" Kalian ngapain masih disini. Pada pulang sana. Sudah malam" si pirang berusaha mengusirku dan Daffi.


" Nggak ditawarin nge-teh dulu apa." protes Daffi..


" ga ada. Sana pulang." Nath mendorong motor matic nya masuk ke dalam garasi.


Aku menatap Mila yang sedang membuka kunci rumah.


" Mila.... Hati-hati di rumah. Kalau perlu apa-apa bilang saja. Aku pulang dulu. Besok kesini lagi. Bye. " aku melambaikan tangan pada Mila sebelum akhirnya berlalu menuju mobil.


" Gue pulang dulu ya pirang... Bye sampai ketemu besok. Mila.... Gue pulang ya... " kudengar Daffi yang juga berpamitan pada mereka.


" Jangan panggil gue pirang. Sana pergi. " sempet kulihat gadis Bule itu mendorong Daffi. Aku tersenyum melihat mereka dari kaca spion sebelum akhirnya kujalankan mobilku meninggalkan rumah Mila.


-------


" Baru pulang..."


Aku menoleh saat mendengar suara mama. Yang awalnya akan menaiki tangga kuurungkan dan berjalan mendekati wanita yang sangat aku cintai ini.

__ADS_1


" Mama belum tidur." kucium kedua pipi nya.


" tadi sudah tidur. Mama haus ambil minum. Ini mau balik kamar eh malah liat kamu. Jam berapa ini. Apa Danu juga sudah pulang."


tanya mama.


Danu adalah cucu satu-satu nya yang dimiliki kedua orangtua ku. Aku hanya dua bersaudara, kak Bumi yang tak lain papanya Danu adalah anak tertua. Jarak usiaku dan kak Bumi terpaut jauh sekitar lima belas tahun. Kak Bumi sudah berusia empat puluh tiga tahun sedangkan aku dua puluh delapan


tahun. Status kak Bumi adalah seorang duda dengan satu orang anak. Mereka bercerai sekitar lima tahun lalu. Kak Bumi yang terlalu sibuk dengan pekerjaan membuat nya mengesampingkan keluarga. Dan mamanya Danu yang merasa kesepian karena sering ditinggal Kak Bumi akhirnya memilih berpisah dan menjalani hidupnya sendiri.


Setelah perceraian kedua orang tuanya Danu memilih untuk tinggal bersama kakek dan nenek nya yang tak lain adalah mama dan papaku. Pada akhirnya Danu hijrah ke Surabaya saat dirinya SMP. Sebelumnya Danu tinggal bersama kak Bumi di pulau dewata, Bali. Kak Bumi adalah pemilik hotel dan resort yang berada di Bali. Dan sejak menikah dia bersama istrinya tinggal menetap di Bali untuk mengelola bisnis perhotelan yang saat itu berkembang cukup pesat.


Selain perhotelan kak Bumi juga pemilik salah satu night club di Surabaya. Night Club yang saat ini aku kelola bersama Danu. Papa dan mama begitu menyayangi Danu. Sejak awal mereka telah melarang Danu agar tidak ikut


terjun di dunia bisnis milik Kak Bumi. Papa dan mama ingin Danu fokus pada sekolahnya. Sebenarnya akupun masih mampu mengurus night club itu tanpa bantuan Danu meski aku sendiri juga disibuk kan dengan urusan perusahaanku sendiri.


Tapi Danu sendiri yang meminta untuk ikut mengelola night club itu. Alasan nya karena dia ingin belajar mandiri tanpa tergantung oleh daddynya. Danu ingin belajar bisnis serta ingin mencari kesibukan di waktu luang nya. Aku tahu jika Danu kesepian dan dia butuh hiburan.


Kembali ke mama, wanita yang diusia ke enam puluhlima tahun ini tapi masih memiliki wajah yang cantik, menungguku untuk menjawab pertanyaan tentang Danu.


" Eum... Tadi Dirga tidak ke Club. Jadi ga tau apa Danu masih disana atau sudah pulang. Nanti coba Dirga telpon ."


" Tumben ga datang ke club." Mama memicingkan mata mencari kejujuran atas ucapanku. Karena memang setiap hari aku pasti datang ke club. Selain untuk mengawasi kondisi club tersebut, aku juga sering tampil


sebagai Disc jockey profesi sampingan yang sudah kugeluti kurang lebih tiga tahun ini.


" Tadi ada sedikit urusan ma." jawabku. Tapi mama sepertinya kurang puas dengan jawabanku.


" Urusan apa? Lagian sampai kapan kamu bakal kayak gini Dirga. Usiamu ini sudah tidak muda lagi.  Hampir tiga puluh tahun, sudah saatnya untuk berumah tangga."


" Mama, kenapa bahas itu lagi sih. Pasti suatu saat Dirga akan menikah." jawab ku sekenanya karena sudah tiga tahun terakhir ini mama selalu merecokiku tentang urusan pernikahan.


" Kangan sampai kamu trauma dengan rumah tangga kakakmu yang berantakan. Mama berharap banyak padamu Dirga. “


" Ya enggak lah ma... Siapa juga yang trauma. " Mama ku ini ada-ada saja. Bagaimana bisa dia berpikiran aku trauma hingga tidak kunjung menikah. Sebenarnya bukan karena aku trauma, tapi kebanyakan perempuan yang


berhubungan denganku mereka tidak tulus mencintaiku. Apalagi yang mereka incar selain harta dan ketampananku. yang mereka lihat hanya tampilan fisik ku dan juga tebalnya kantongku. Aku ingin memiliki teman hidup yang memang menerimaku


apa adanya. Bukan karna harta atau keindahan fisik yang semata.


Camila, hanya satu nama yang berhasil membuatku tersenyum lega.


" Ngapain kamu senyum-senyum begitu." tersadar akan ucapan mama aku tersentak dari lamunan tentang Camila.


" Mama doain saja semoga incaranku kali ini tepat sasaran." kulihat mama melotot kearahku.


"Sebaiknya mama tidur lagi ini sudah terlalu malam. Nggak baik buat kesehatan mama begadang sampai tengah malam begini."


Aku menuntun mama hingga di depan pintu kamarnya.


"Good night mom. I love you." kukecup pipinya sekali lagi sebelum aku meninggalkan nya untuk menuju ke kamarku yang berada di lantai dua.

__ADS_1


__ADS_2