
Meskipun sudah satu tahun lamanya Je tak pernah lagi berkunjung ke rumah Rea, faktanya lelaki itu masih hafal dimana letak rumah wanita yang bisa saja ia sebut sebagai kekasihnya. Setelah menghentikan motor sport di depan sebuah rumah yang lumayan mewah, karena orang tua Rea adalah orang berada juga, Je memencet tombol yang memang terpasang di depan pagar.
Tiga kali Je menekan bel tersebut, barulah pintu rumah terbuka. Rea sendiri yang membuka nya. Dan gadis itu berdiri mematung di ambang pintu rumahnya, menatap Je dengan mulut menganga. Membiarkan Je yang kepanasan berdiri di depan pagar.
" Re....! Cepat buka pagar nya!"
Teriakan Je membuat Rea tersentak, gadis itu terlihat salah tingkah. Lalu berlari kecil menghampiri pagar dan segera membukanya.
Je kembali menaiki motor nya memasukkan motor besar nya ke dalam halaman rumah Rea.
Rea masih berdiri mematung hingga Je turun dari atas motor nya. Mambalikkan badan nya hingga kedua nya berdiri saling berhadapan. Dengan gemas Je menarik lengan Rea hingga kedua nya saling berpelukan. Entah kenapa Je melakukan itu semua. Yang dia tahu jantung Rea yang berdetak kencang mampu ia rasakan.
"Kau tak merindukanku, Re." tanya Je.
Rea hanya mengangguk. Sungguh Rea tak menyangka jika Je akan memeluknya seperti ini. Selama ini baru kali ini lah mereka berdua berpelukan. Dan jangan ditanya tentang apa yang Rea rasakan. Gugup luar biasa.
Setelah Je melepas pelukan nya, pemuda itu menarik lengan Rea menuju teras. Duduk di teras saling bersisihan.
" Apa kabarmu?" tanya Je, karena Sedari tadi Rea hanya berdiam diri. Je sendiri tidak tahu kenapa Rea jadi pendiam seperti ini. Padahal selama ini Rea adakah tipe cewek cerewet dan semaunya. Buktinya Je bisa menjadi kekasih Rea karena kemauan Rea juga.
" Aku baik. Kau sendiri?" tanya Rea balik.
" Kau bisa melihat nya jika aku sedang baik baik saja bukan? Justru, kau lah yang kurasa sedang tidak baik - baik saja."
Je mengamati Rea, membuat Rea salah tingkah.
" Kenapa sekarang kau jadi pendiam seperti ini. Bukan kah Rea yang kukenal dulu adalah gadis yang sangat cerewet, banyak omong dan banyak maunya. "
" Apa? "
Je tergelak. Rea sudah mengerucutkan bibirnya tidak terima dengan perkataan Je.
"Bagaimana mungkin kau mengataiku cerewet dan banyak maunya, ck." Rea berdecak sebal.
"Aku kira waktu setahun bisa merubahmu, Re."
"Aku jadi pendiam karena aku tak tahu harus berkata apa padamu."
"Kau kan bisa bertanya padaku, bagaimana kuliahku, apa aku betah tinggal disana, apa aku sudah punya kekasih disana. Banyak hal yang bisa kau tanyakan. Daripada kau hanya diam membisu seperti itu. Membuatku ingin pulang saja."
__ADS_1
Rea tersentak tapi pada akhirnya dia bertanya juga pada Je." Bagaimana kuliahmu? Lancar? "
Je mengedikkan bahu lalu menjawab," Lancar. "
" Dan apakah kau sudah mempunyai kekasih baru disana? "
Je melotot menatap Rea lalu ia tertawa." menurutmu aku harus menjawab apa?"
"Terserah asalkan kau jujur padaku."
"Lain kami saja aku menjawabnya. Sekarang, bisakah kita pergi keluar, jalan-jalan?"
Je menatap Rea penuh harap dan gadis itu mengangguk mantap.
Dengan menaiki motor besar Je, mereka menghabiskan waktu berkeliling kota hingga mereka merasa capek, Je membelokkan motor nya ke sebuah pusat perbelanjaan.
" Ngapain kita kesini? " tanya Rea.
"Makan." jawab Je singkat.
Rea hanya mengikuti Je, berjalan di sisi Je memasuki mall tersebut.
Je yang memang merasa lapar membawa Rea untuk menuju foodcourt. Tapi tiba-tiba langkah Je terhenti.
Iya, itu suara Cinta. Kenapa juga dia harus bertemu bocah itu disini. Astaga! Je meraup wajahnya frustrasi.
" Kak Jaghad sedang apa disini?" tanya Cinta, tangan mungil Cinta sudah memegang lengan Je dan menggoyangkan nya menanti jawaban dari pemuda tampan itu.
" Mau makan."
" Memang nya kapan kakak pulang?" tanya Cinta lagi.
Duh cerewet sekali batin Je dalam hati.
" Baru tadi kakak sampai. Cinta sama siapa disini?"
Je mengedarkan pandangan mencari keberadaan Mbak Hana juga Om Ferdy. Tapi tak terlihat oleh Je.
" Sama kak Sofia. Itu disana..." tunjuk Cinta.
__ADS_1
Je melihat arah tunjuk cinta pada sebuah tenant baju. Memang benar di dalam sana ada Bu Sofia dan juga tunangan nya.
Mungkin karena Sofia merasa kehilangan adiknya, perempuan itu menyeret tunangan nya keluar dari toko baju, dan Sofia bernafas lega mendapati Cinta sedang bersama dua orang yang ia kenal. Dua orang itu adalah mantan siswa dan siswi nya di sekolah.
"Cinta kenapa pergi nggak bilang bilang. Kakak cariin juga," omel Sofia pada adik nya.
"Habis nya aku lihat kak Jaghad tadi." Cinta membela diri. Kedua lengan nya masih bergelayut manja di lengan Je. Bahkan Rea pun hanya diam mengamati kedua nya.
"Jaghad apa kabar? Kapan kamu pulang?" sapa Sofia.
" Saya baik Bu dan baru tadi saya pulang." sedikit malas Je menjawab pertanyaan Bu Sofia. Pandangan Je tertuju pada lelaki di samping mantan guru nya itu. Rasa nya sangat canggung berada di situasi seperti ini.
" Hai Rea. Apa kabar. " Sofia pun menyapa Rea.
" Saya baik Bu Sofia. "
Je yang sudah tidak tahan berada di situasi ini segera pamit pada Sofia.
"Bu Sofia sepertinya kita harus pergi dulu. Senang dapat bertemu dengan anda kembali." ucap Je
Lalu pemuda itu menoleh pada Rea dan mengisyaratkan untuk mengajak nya segera pergi.
Tapi tarikan tangan Cinta membuat Je harus menunduk.
. "Cinta ikut kak Jaghad, boleh?"
" Apa?"
" Cinta masih kangen sama Kak Jaghad. Cinta ikut kak Jaghad ya... Please...." pinta gadis kecil itu.
" Eh Cinta tidak boleh ikut kak Jaghad. Tadi Cinta pergi nya dengan Kak Sofia. Jadi pulangnya juga harus dengan Kak Sofia. " Sofia berusaha membujuk adik nya.
Kini Cinta mendongak," Kak Jaghad sekarang mau kemana? " tanya nya.
" Eum... Kakak mau pergi makan. "
" Ya sudah Cinta ikut kak Jaghad makan ya. Nanti jika sudah sekesai, Cinta pulang dengan kak Sofia lagi. "
" Jangan begitu Cinta."
__ADS_1
" Bu Sofia, sudah tidak apa apa. Biar saja Cinta ikut saya dan Je makan. Nanti jika kita sudah selesai makan, saya telpon Bu Sofia. Bagaimana? " Rea berusaha menawarkan solusi. Tak peduli dengan Je yang sudah menatap nya tajam seolah tidak setuju dengan keputusan nya barusan.
Pada akhirnya Sofia pun menyetujui karena Cinta yang tak bisa dia bujuk lagi. Rea Dan Sofia saling bertukar nomor telepon. Sekalipun Rea pernah menjadi murid Sofia, akan tetapi kedua nya sama sama tidak saling menyimpan nomor ponsel masing masing.