

Camila POV
Aku mengendus aroma maskulin yang menguar di indera penciumanku. Baunya seperti tak asing bagiku, menghirup dalam-dalam aroma yang entah kenapa membuatku nyaman. Kurapatkan tubuhku dan semakin erat memeluk guling yang terasa hangat, membuatku enggan sekali hanya untuk sekedar membuka mata.
Untuk kesekian kali aku menghirupnya dalam dan seperti baru terbangun dari alam bawah sadarku, aku mengerjab. Perlahan kubuka mata. Mengerjapkan nya sekali lagi hingga mataku terbuka sempurna. Pandangan ku terpaku pada leher yang putih dan mulus dengan rahang yang ditumbuhi bulu bulu halus. Aku tak berani mendongak karena aku sudah tahu pasti siapa gerangan seseorang yang sedang bersamaku sekarang.
Tiba-tiba jantungku berdegub kencang. Sedikit panik karena aku takut ketahuan dan tentunya takut jika om Dirga tiba-tiba terbangun. Pelan-pelan kujauhkan wajahku yang entah sejak kapan bisa berada di posisi seperti ini. Aku dapat mendengar dengkuran halus om Dirga. Kembali berusaha menarik tanganku yang ada diatas perutnya dengan perlahan. Wajahku sudah memanas, bisa-bisa nya tanganku ini nakal sekali hingga memeluk tubuh om Dirga . Aku merutuki diriku sendiri entah sejak kapan aku tidur dengan posisi seperti itu. Hingga mengira gulinglah yang tadi sedang kupeluk. Pantas saja terasa hangat dan sedikit keras tak seperti biasa guling yang kupeluk terasa empuk.
Sedikit banyak nyawaku sudah terkumpul. Mengingat kembali apa yang sedang terjadi hingga kenapa aku bisa berada berdua bersama om Dirga disini.
Kuedarkan pandangan yang terasa asing bagiku. Ini dimana pikirku dalam hati. Kamar yang tidak seberapa luas. Hanya terdapat ranjang dan sebuah almari. Jika ini hotel rasanya juga tak mungkin karena ruangan nya terlalu sederhana. Ah iya aku baru ingat jika semalam aku menemani om Dirga di club. Apa aku masih berada di club ya sekarang.
Perlahan aku bangkit dari berbaringku. Kupicingkan mata menatap satu satunya jendela yang ada di dalam kamar ini. Terlihat sudah terang diluar sana meski tirai nya masih tertutup tapi cahaya yang menerobos melalui celah celah jendela membuat sinar cahaya masuk ke dalam kamar.
Aku menoleh mencari cari dimana ponselku tapi tak ada disini. Kembali menajamkan penglihatanku kala tak sengaja menatap jam yang menempel di dinding. Sudah pukul 7.15 menit dan ini sudah pagi ternyata.
Aku bergegas turun dari ranjang teringat jika hari ini ada jadwal kuliah jam sembilan. Kuputar tubuhku dan kembali naik ke atas ranjang. Bukan nya om Dirga juga harus bekerja ya.
" om... Om Dirga... Bangun. Sudah pagi ini." kutepuk lengan nya berusaha membangunkan nya.
Om Dirga mengerjab, matanya menyipit. Melihatku sekilas sambil mengucek mata dia berusaha bangun dan bersandar di kepala ranjang.
" ehm.. Sudah pagi ya." tanya nya dan aku hanya mengangguk.
" kita dimana sih Om. Kok aku bisa tidur disini seranjang lagi dengan Om." aku bertanya padanya dengan sedikit kesal.
" di club."
" kenapa tak membawaku pulang semalam....."
" kamu tertidur dan aku tak tega membangunkan mu."
" ish... Om Dirga ini pinter banget cari alesan. Bilang saja mau cari kesempatan deket deket aku. Iya kan.."
" memang nya kenapa? Ga dosa kan cari kesempatan dekat sama istri sendiri. Dari pada dekatin istri orang. "
Kupukul dia dengan bantal. Aku benar benar kesal dibuatnya.
" ouw... Apaan sih " Om Dirga mengelak dari pukulanku.
" buruan anter aku pulang. Aku harus kuliah Om. " aku turun dari atas ranjang menghentakan kaki ku keluar dari kamar.
Aku duduk di sofa yang semalam kutiduri. Tak berselang lama om Dirga keluar dari kamar dengan rambut acak acakan dan wajah kusutnya khas orang bangun tidur. Aku melihatnya tak berkedip. Kenapa om Dirga terlihat tampan dengan penampilan nya yang jauh dari kata rapi. Apa karena selama ini aku selalu melihatnya dengan penampilan nya yang selalu sempurna. Dan baru sekali ini aku melihat om Dirga bangun tidur.
Aku terjengkit kaget saat dirinya menjatuhkan tubuh duduk di sebelahku.
" aku tau kalau aku tampan. Tak perlu segitunya lah mandangin sampai tak berkedip." om Dirga berbicara tanpa ekspresi. Kepalanya dijatuhkan di sandaran sofa dengan mata terpejam.
Mulutku menganga antara terkejut juga malu karena ketahuan jika sedari tadi aku mengagumi nya. Entahlah refleks saja tadi aku merasa om Dirga terlihat sangat tampan. Kutepuk pipiku yang kian memanas. Malu nya aku.
" anterin aku pulang. Keburu siang bisa telat ke kampus nanti." rengek ku menarik lengan nya karena kulihat om Dirga masih memejamkan mata.
" mandi dulu sana. Nanti kuantar ke kampus."
" mandi di rumah aja om. Ga bawa baju ganti."
Matanya terbuka dan menoleh ke arahku. Dia tersenyum melirik tanganku yang bergelayut di lengan nya. Seolah baru menyadari apa yang kulakukan, segera kulepas lengan nya dengan wajah menunduk. Dua kali aku bertingkah aneh yang justru membuatku malu.
" aku suka kalo kamu manja manja gitu. Sini kupeluk...." om Dirga menarik lenganku mendekat padanya tapi segera kutepis.
" ish apaan sih om... Ayolah buruan..."
Dia terkekeh. " aku mandi dulu." om Dirga berdiri dari duduk nya.
" jangan lama lama." kataku yang membuatnya menoleh.
__ADS_1
" biar cepet gimana kalau kamu yang mandiin saja..." Mulutku menganga melihat om Dirga yang menarik turunkan alis nya menggodaku.
" oooommmmmm...... " aku menggeram tapi justru membuat om Dirga tertawa terbahak bahak. Aku bangkit dan mendorong nya menuju kamar mandi.
******
Karena waktu nya sangat mepet dengan terpaksa aku menerima tawaran om Dirga yang akan mengantarku pergi ke kampus.
Jalanan tampak macet dimana mana. Rasa rasanya aku bisa telat jika begini. Ponsel yang berada di dasbord bergetar. Sudah barang tentu itu adalah ponsel om Dirga.
" sayang... Boleh minta tolong jawab panggilan telpon nya." pinta nya padaku dengan pandangan masih fokus pada kemudi.
Aku melotot dan mendengus sebal.
" angkat sendiri kenapa. Om Dirga ini manja bener sih."
" aku lagi nyetir..... Siapa tau penting. Lagian nih ya manja sama istri sendiri itu nggak dosa justru dapat pahala."
Kuputar bola mata malas mendengar ucapan nya. Entahlah digombalin dalam kondisi panik malah membuatku bad mood. Tanpa banyak kata kuambil ponselnya. Kugeser tombol hijau dan menekan loudspeaker.
" good morning bos... " suara ferdy yang nyaring menggema di dalam mobil.
Kudekatkan ponsel di depan wajah om Dirga.
" kenapa Fer."
" bos lagi dimana.?"
" masih di jalan kejebak macet." jawab om Dirga.
" bos sudah ditungguin Bu Vira nih....buruan napa bos. "
" Vira??? Ngapain Vira disana."
" astaga bosqueee.....jangan bilang bos lupa jika ada jadwal pertemuan dengan bu Vira. "
Tiba tiba aku terkikik sendiri.
" kamu kenapa?" om Dirga melihatku.
Aku menoleh dan menghentikan tawaku. Aku menggeleng. " enggak... Enggak ada apa-apa kok." aku berusaha menutup mulut dengan telapak tangan agar tak kelepasan lagi.
Om Dirga menolehku sekilas masih tak puas dengan jawabanku.
" bos... Hallo bos... Bos lagi sama siapa.?" tanya Ferdy
" siapa? Kepo bener kamu itu fer "
" kayaknya denger suara perempuan deh.... Hayo bos lagi sama perempuan mana...."
Om Dirga mendengus. Aku ingin tahu Om Dirga akan menjawab apa. Kutajamkan pendengaran ku demi menanti jawaban darinya.
" sudah kubilang jangan kepo..... "
" bos sudah ada girlfriend sekarang..... Syukurlah..... "
" Ferdyyyyy...... "
" asiyap bos...."
" bilang sama Vira. Satu jam lagi aku sampe. Bye...."
" okay bos..."
Panggilan telpon terputus. Om Dirga meraih ponselnya yang berada di tanganku dan menyimpan nya kembali ke dalam dashboard.
Tak ada lagi pembicaraan diantara kami hingga tiba di depan kampusku. Aku pun juga tak banyak bertanya padanya yang pasti aku cukup puas mendengar jawaban om Dirga tadi. Pasalnya aku sudah harap harap cemas takut jika Om Dirga akan membocorkan rahasia pernikahan kami. Meski itu dengan asisten pribadinya sekalipun.
__ADS_1
" pulang jam berapa nanti." tanya nya saat aku berusaha melepas seat belt.
" sore kayaknya."
" aku jemput."
" nggak usah deh Om. Biar nanti aku bareng kak Danisha saja. Jadwalku hari ini sama dengan Kak Danisha. Jadi biar sekalian dijemput kak Ken saja. "
" okelah kalau begitu. Salam buat Ken dan Danisha. Tadi tak sempat ketemu. Dan kamu.... Belajar yang bener. Jangan pacaran biar cepet lulus. "
Aku mencebik lalu membuka pintu. Tumben sekali om Dirga menasehatiku. biasanya dia tak banyak omong padaku.
" iya iya... Makasih sudah dianterin. Assalamualaikum. " aku keluar dari dalam mobil.
" waalaikumsalam... Sayang... Kamu merasa nggak jika ada yang kelupaan."
Sebelum menutup pintu aku mengernyit mendengar ucapan Om Dirga. Memang apa yang kelupaan. kurasa tak ada.
Tiba tiba Om Dirga mencondongkan tubuhnya dan mengulurkan tangan kanannya. Aku kembali mengernyit tak mengerti apa maksudnya.
" biar dapat ridho dari suami. Cium tangan gih..." katanya lagi dan aku tersenyum. Astaga ada ada saja tingkah nya hari ini.
Tanpa pikir panjang secepat kilat kugapai tangan nya dan kucium punggung tangan nya.
Om Dirga tersenyum sebelum akhirnya pintu mobil kututup.
Pipiku pasti memerah lagi hanya dengan tindakan kecil seperti itu.
Mobil Om Dirga berlalu meninggalkanku yang masih berdiri mematung. Hingga mobil tak terlihat barulah aku beranjak meninggalkan tempat ini. Lima belas menit lagi jam kuliah dimulai. Untung saja Om Dirga bisa lolos dari macet. Jika tidak mungkin aku sudah terlambat.
Berjalan dengan tergesa hingga aku tak dapat menghindar lagi saat tiba tiba aku bertabrakan dengan seseorang di belokan menuju ruang kelasku.
" ops... Maaf tidak sengaja." ucapku sambil berjongkok memungut beberapa buku yang berserakan. Ini bukan buku ku tapi buku yang dibawa oleh orang yang kutabrak tadi.
" its oke ga masalah. Aku juga yang salah jalan tak lihat-lihat tadi ." ucap seorang lelaki yang membuatku mendongak.
" kak Ilham..." jadi orang yang kutabrak tadi adalah Kak Ilham, kakak tingkatku.
Lelaki itu tersenyum.
" sekali lagi maaf ya kak. Aku terburu buru soalnya. Lima menit lagi kelas. " kulihat lagi jam di pergelangan tanganku.
" iya ga papa kok."
" ehm kalau begitu aku duluan ya kak. Takut telat."
Lelaki itu mengangguk. Aku berlalu meninggalkan nya. Baru dua langkah tapi dia memanggilku lagi.
" Mila... "
Mau tak mau akupun menoleh.
" nanti makan siang bareng aku ya."
"eh... Ehm..."
" mau ya... Plis..."
" kita lihat nanti saja ya kak. Semoga aku tak ada kelas."
" oke."
" aku duluan kak."
Tanpa berniat menoleh lagi ke belakang aku berlalu meninggalkan kak Ilham. Ah kenapa juga dia harus mengajaku janjian. Padahal selama ini aku mati-matian menghindari dirinya. Kenapa pula harus selalu bertemu dengan nya lagi dalam situasi apapun. Apakah ini yang dinamakan jodoh?.
Kugelengkan kepalaku berusaha mengusir pikiran pikiran aneh. Bisa bisa nya aku berpikir jika aku dan kak ilham berjodoh jika jelas jelas aku sendiri sekarang sudah menikah. Itu artinya aku telah menemukan jodohku. Bukan kak ilham tapi om Dirga lah jodohku.
__ADS_1