
Author POV
Nathalie tak menyangka jika Danu ternyata juga teman sekolah Camila saat SMA. Danu
adalah sahabat baik Nath sejak kecil tapi sekarang malah Danu pergi
meninggalkannya ke London bahkan tanpa pamit padanya. Nath sungguh sangat
menyayangkan hal itu. Seolah Danu sama sekali tak menganggap keberadaan dirinya
padahal baru beberapa hari yang lalu mereka bertemu.
Hari ini Nath akan pergi ke Bali menyusul papa dan mama nya. Sebenarnya Nath sangat
betah tinggal di Surabaya dan enggan meninggalkan keluarga Bunda Anyelir.
Mereka sekeluarga sangat menyayangi Nath meski diantara mereka tak ada ikatan
darah.
Belum lagi jika mengingat om nya Danu yang ganteng itu, membuat Nath semakin enggan
untuk pergi ke Bali. Tak dapat dipungkiri jika Nath menyukai Kak Dirga, om nya
si Danu. Sosok nya yang begitu tampan dan dewasa mampu menyedot semua perhatian
Nath. Bahkan apa yang semalam dikatakan Nath jika dirinya ingin kak Dirga
menjadi suaminya itu bukanlah bualan saja. Tapi memang Nath beneran ingin
menikah muda dan Kak Dirga lah sosok suami yang diinginkan Nath. Meski Nath tau
usia Dirga jauh diatasnya tapi wajah gantengnya mengalahkan segalanya.
" Mila, serius kamu ga mau menemaniku ke Bali." Nath memeluk saudara tiri
nya. Rasanya berat berpisah dari Camila .
"aku kan harus kuliah. Mana bisa ikut kamu." Nath
menekuk wajahnya tanda ia kecewa karena dengan berat hati dirinya harus pergi ke Bali seorang diri.
" Bunda, Nath berangkat ya.... Bunda jaga kesehatan jangan kecapekan. Nath sayang
Bunda." Nath memeluk Bunda Anyelir, ibu kedua setelah mama Jane. Meskipun
Nath bukanlah anak kandung nya tapi Bunda Anyelir begitu tulus menyayangi Nath.
" hati-hati di jalan sayang. Salam buat papa dan mama. " ucap Bunda Anyelir.
Nath membawa koper besarnya dan memasukan nya ke dalam taxi. Kak Ken tak bisa
mengantar ke bandara karena sedang ada pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan.
Jika tidak karena paksaan papa dan mamanya mungkin saat ini Nath masih berada
di Surabaya karena sejujurnya Nath enggan untuk pergi ke Bali.
-------
Sejak tidak ada Nath, Mila merasa kesepian pasalnya Nath lah yang selama ini suka
sekali menjahilinya, menggoda nya tapi di satu sisi Nath adalah sosok saudara
perempuan yang baik dan perhatian. Selama Nath tinggal di Surabaya Mila lah
yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama gadis pirang itu.
Mila kembali harus menjalani hari nya tanpa godaan atau kejahilan yang suka Nath
lakukan padanya. Untung saja masih ada Danisha, kakak ipar yang usianya hanya
terpaut satu tahun di atasnya. Karena Mila dan Danisha seumuran jadilah mereka
selayaknya sahabat karib yang kemanapun akan sering terlihat berdua. Dulu saat
awal awal Danisha tinggal bersama keluarganya, kakak iparnya itu masih sedikit
canggung tapi semakin kesini Danisha sudah bisa membaur bersama seluruh anggota
keluarga.
Camila teringat akan Danu, lelaki yang pantang menyerah mengejar cintanya di kala dia
duduk di bangku SMA. Siapa sangka jika lelaki itu ternyata adalah sahabat masa
kecil Nath. Mengingat Danu pikiran Camila tiba-tiba tertuju pada om Dirga,
uncle nya Danu. Sejak pertemuan nya dengan om Dirga di night club kala itu,
Mila sudah tak pernah lagi bertemu.
Bahkan ini sudah hampir sebulan berlalu. Dan Mila pun tak pernah lagi mendengar kabar
si om sarap itu. Sempat terbesit di benak Mila, jika dia ingin bertanya tentang
kabar om Dirga pada Daffi. Tapi niatan itu diurungkan nya. Toh buat apa juga
dia bertanya nanti Daffi pasti mengira jika dirinya terlalu kepo dengan hidup
__ADS_1
seorang Angkasa Dirgantara. Tapi entahlah mengapa beberapa bulan ini hidup
Angkasa Dirgantara sering bergentayangan di kehidupan Camila. Bukan Camila tak
ingat jika pertama kali dirinya mengenal om Dirga karena tanpa sengaja dia
menemukan dompet lelaki itu. Dan seolah takdir yang tak hentinya mempertemukan
nya kembali dengan om Dirga dalam situasi apapun.
" Assalamualaikum Mila."
Camila tersentak. Ternyata sedari tadi dirinya berjalan menyusuri koridor kampus
sambil melamun. Bahkan kini dirinya tanpa sadar telah berjalan menuju parkiran.
Camila mendongak menatap lelaki jangkung yang berdiri di depan nya, lelaki yang telah
menyapa nya barusan.
" Waalaikumsalam Kak Ilham." Mila tersenyum pada kakak tingkat nya yang
bernana Ilham Irwantara.
" Sudah mau pulang." tanya Ilham dan Mila mengangguk.
" Sendirian atau ada yang jemput." tanya ilham lagi.
Mila jadi merasa kikuk pasalnya sudah beberapa kali ilham sering menghampiri nya dan
ujung-ujung nya menawarkan diri untuk mengantar Camila pulang. Selama ini
Camila selalu sukses menolak ajakan ilham. Camila tak bisa memberi harapan palsu
pada seorang pria. Bukan nya Mila terlalu percaya diri, tapi melihat gelagat
serta perlakuan ilham padanya, Mila bisa menebak jika lelaki ini menyukai
dirinya. Ilham itu tampan meski tubuhnya tidak gagah dan atletis. Hidung nya
mancung dipadu dengan alis yang tebal. Kalau kata teman kampus nya ilham itu
keturunan Turki.
" Mila, eum bolehkah aku mengantarmu pulang." lagi lagi Mila tersentak
bingung harus menjawab apa. Apa dia harus menolak untuk yang kesekian kali.
Lalu dia harus memakai alasan apalagi untuk menolaknya. Jika selama ini dia
selalu beralasan dijemput Nath atau bareng Danisha dengan mobil jemputan nya
Hari ini kak Danisha hanya ada satu mata kuliah dan dia sudah pulang duluan diantar
Kak Shasha tiga jam lalu. Biasanya kalau ada Nath, maka Camila akan dijemput
oleh Nath. Tapi sekarang Nath tidak ada.
" eh... Itu kak...." Camila masih berpikir harus menggunakan cara apalagi
untuk menolak ajakan lelaki ini. Mila sendiri juga heran sudah berkali kali
ditolak. Tapi masih saja mencari kesempatan.
" Mil....." panggil Ilham untuk yang kesekian kalinya karena Mila masih diam
tanpa jawaban.
" ehm... Maaf Kak...."
" kenapa? Kamu sudah ada yang jemput." sela Ilham karena dia tahu pasti
penolakan lagi yang dia dapat.
" ya sudah kalau begitu aku temenin ya sampai jemputan kamu datang."
" eh tapi kak....."
" Mila. !!!!"
Mendengar ada yang memanggil namanya, Mila refleks menoleh ke arah sumber suara. Seulas
senyum tersungging di bibirnya. Dia tentu saja senang melihat Daffi berada
disini dan Mila juga lega pasalnya dia bisa terbebas dari ilham.
Ini bukan untuk pertama kalinya Daffi menemui Mila. terhitung sudah 3 kali Daffi
bertemu dengan Mila sejak kepergian Nath ke Bali. Sebenarnya Daffi tidak hanya
menemui Mila saja tapi juga Danisha. Laki-laki itu biasanya akan mengajak Mila
dan Danisha pergi makan atau sekedar nongkrong di cafe yang tak jauh dari
kampus tempat Mila dan Danisha kuliah. Sejujurnya Daffi merasa kehilangan sejak
Nath pergi ke Bali. Dan Daffi berharap agar Nath kembali ke Surabaya agar dia
bisa bertemu kembali dengan gadis pirang yang sudah berhasil membuatnya jatuh
__ADS_1
cinta. Yang Daffi sesalkan adalah dia belum sempat mengutarakan isi hati nya
pada Nath.
" Kak Daffi" dengan ceria Mila melambai kan tangan ke arah Daffi yang sedang
bersandar di atas motor gede nya.
" Kak ilham. Maaf aku pulang dulu ya." pamit Mila pada pria jangkung kakak
tingkat nya.
" oh iya... sudah dijemput ya."
" heeh. Ya udah kalau begitu aku duluan. Assalamualaikum."
" Waalaikum salam."
Sedikit berlari Camila mendekati Daffi.
" Kak Daffi ngapain disini."
" Nungguin kamu." Mila mengernyit.
" Nunggu aku. Ngapain. "
" Bete ga ada kerjaan, ga ada temen juga. Eh tiba-tiba kepikiran kamu. Tadi sih
sebenarnya iseng kesini siapa tau aja bisa ketemu kamu."
" Dan akhirnya ketemu juga kan. " Mila terkekeh.
" Keberuntungan kayaknya sedang berpihak kepadaku. Pas banget kamu pulang. "
Camila tertawa.
" Eh itu tadi siapa. Cowok kamu. Atau gebetan. "
" ish apaan sih. Itu kakak tingkat aku. Kebetulan aja ketemu. "
" owh kirain... Tapi dia masih ngeliatin kamu tuh. " Daffi menunjuk dengan dagunya.
" Masak ... " Mila tak berani menoleh. Tapi melirik sekilas dan memang ilham
masih berdiri di tempat nya yang tadi.
" Aduh. Ngapain juga dia masih disana. " gumam Camila
" Pasti itu fans kamu ya.. Hahahaha..."
" Kak Daffi, apaan sih."
" Heh.... Ya sudah ayo. Mau kutraktir makan ga." ajak Daffi
" Makan dimana."
" eh ngomong-ngomong lo sendirian ? Danisha mana ?. "
" udah pulang sejak jam sepuluh. Cuma ada satu matkul dia. "
" owh.. Ya udah. Gapapa kan kita makan berdua. " tanya Daffi lagi. Camila
tampak berpikir sejenak. Sebelum dia memutuskan untuk menerima ajakan Daffi.
" ya ga papa sih kak. Memang kak Daffi mau makan dimana . "
" Dimana aja yang penting aku makan ga sendirian. Enakan kalau makan ada yang
nemenin. Gue traktir deh... Terserah mau makan dimana. "
" Asyik. ditraktir.... "
" ya udah ayok naik. "
" eh... Naik motor gede ini kak. "
" lha emang kamu bawa motor sendiri . "
" enggak. Tadi berangkat nebeng kak Danisha. "
" ya udah kalau gitu buruan naik.
" iya iya... Aduh kenapa motornya gede banget sih."
" namanya juga moge. Ya pasti gede lah."
" untung aja aku tadi pake celana. Jadi ga ribet kan."
Daffi menyerahkan helm pada Camila.
Camila naik ke boncengan motor dengan hati-hati. Sementara ilham masih saja
memperhatikan Camila dengan hati bertanya tanya. "Apakah laki-laki yang
bersama Mila itu kekasihnya?"
Ilham menekuk wajahnya melihat motor Daffi yang telah menjauh meninggalkan pelataran
__ADS_1
parkir.