Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Bab 11 - Mila dan Daffi


__ADS_3

Author POV


Nathalie tak menyangka jika Danu ternyata juga teman sekolah Camila saat SMA. Danu


adalah sahabat baik Nath sejak kecil tapi sekarang malah Danu pergi


meninggalkannya ke London bahkan tanpa pamit padanya. Nath sungguh sangat


menyayangkan hal itu. Seolah Danu sama sekali tak menganggap keberadaan dirinya


padahal baru beberapa hari yang lalu mereka bertemu.


Hari ini Nath akan pergi ke Bali menyusul papa dan mama nya. Sebenarnya Nath sangat


betah tinggal di Surabaya dan enggan meninggalkan keluarga Bunda Anyelir.


Mereka sekeluarga sangat menyayangi Nath meski diantara mereka tak ada ikatan


darah.


Belum lagi jika mengingat om nya Danu yang ganteng itu, membuat Nath semakin enggan


untuk pergi ke Bali. Tak dapat dipungkiri jika Nath menyukai Kak Dirga, om nya


si Danu. Sosok nya yang begitu tampan dan dewasa mampu menyedot semua perhatian


Nath. Bahkan apa yang semalam dikatakan Nath jika dirinya ingin kak Dirga


menjadi suaminya itu bukanlah bualan saja. Tapi memang Nath beneran ingin


menikah muda dan Kak Dirga lah sosok suami yang diinginkan Nath. Meski Nath tau


usia Dirga jauh diatasnya tapi wajah gantengnya mengalahkan segalanya.


" Mila, serius kamu ga mau menemaniku ke Bali." Nath memeluk saudara tiri


nya. Rasanya berat berpisah dari Camila .


"aku kan harus kuliah. Mana bisa ikut kamu." Nath


menekuk wajahnya tanda ia kecewa karena dengan berat hati dirinya harus pergi ke Bali seorang diri.


" Bunda, Nath berangkat ya.... Bunda jaga kesehatan jangan kecapekan. Nath sayang


Bunda." Nath memeluk Bunda Anyelir, ibu kedua setelah mama Jane. Meskipun


Nath bukanlah anak kandung nya tapi Bunda Anyelir begitu tulus menyayangi Nath.


" hati-hati di jalan sayang. Salam buat papa dan mama. " ucap Bunda Anyelir.


Nath membawa koper besarnya dan memasukan nya ke dalam taxi. Kak Ken tak bisa


mengantar ke bandara karena sedang ada pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan.


Jika tidak karena paksaan papa dan mamanya mungkin saat ini Nath masih berada


di Surabaya karena sejujurnya Nath enggan untuk pergi ke Bali.


-------


Sejak tidak ada Nath, Mila merasa kesepian pasalnya Nath lah yang selama ini suka


sekali menjahilinya, menggoda nya tapi di satu sisi Nath adalah sosok saudara


perempuan yang baik dan perhatian. Selama Nath tinggal di Surabaya Mila lah


yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama gadis pirang itu.


Mila kembali harus menjalani hari nya tanpa godaan atau kejahilan yang suka Nath


lakukan padanya. Untung saja masih ada Danisha, kakak ipar yang usianya hanya


terpaut satu tahun di atasnya. Karena Mila dan Danisha seumuran jadilah mereka


selayaknya sahabat karib yang kemanapun akan sering terlihat berdua. Dulu saat


awal awal Danisha tinggal bersama keluarganya, kakak iparnya itu masih sedikit


canggung tapi semakin kesini Danisha sudah bisa membaur bersama seluruh anggota


keluarga.


Camila teringat akan Danu, lelaki yang pantang menyerah mengejar cintanya di kala dia


duduk di bangku SMA. Siapa sangka jika lelaki itu ternyata adalah sahabat masa


kecil Nath. Mengingat Danu pikiran Camila tiba-tiba tertuju pada om Dirga,


uncle nya Danu. Sejak pertemuan nya dengan om Dirga di night club kala itu,


Mila sudah tak pernah lagi bertemu.


Bahkan ini sudah hampir sebulan berlalu. Dan Mila pun tak pernah lagi mendengar kabar


si om sarap itu. Sempat terbesit di benak Mila, jika dia ingin bertanya tentang


kabar om Dirga pada Daffi. Tapi niatan itu diurungkan nya. Toh buat apa juga


dia bertanya nanti Daffi pasti mengira jika dirinya terlalu kepo dengan hidup

__ADS_1


seorang Angkasa Dirgantara. Tapi entahlah mengapa beberapa bulan ini hidup


Angkasa Dirgantara sering bergentayangan di kehidupan Camila. Bukan Camila tak


ingat jika pertama kali dirinya mengenal om Dirga karena tanpa sengaja dia


menemukan dompet lelaki itu. Dan seolah takdir yang tak hentinya mempertemukan


nya kembali dengan om Dirga dalam situasi apapun.


" Assalamualaikum Mila."


Camila tersentak. Ternyata sedari tadi dirinya berjalan menyusuri koridor kampus


sambil melamun. Bahkan kini dirinya tanpa sadar telah berjalan menuju parkiran.


Camila mendongak menatap lelaki jangkung yang berdiri di depan nya, lelaki yang telah


menyapa nya barusan.


" Waalaikumsalam Kak Ilham." Mila tersenyum pada kakak tingkat nya yang


bernana Ilham Irwantara.


" Sudah mau pulang." tanya Ilham dan Mila mengangguk.


" Sendirian atau ada yang jemput." tanya ilham lagi.


Mila jadi merasa kikuk pasalnya sudah beberapa kali ilham sering menghampiri nya dan


ujung-ujung nya menawarkan diri untuk mengantar Camila pulang. Selama ini


Camila selalu sukses menolak ajakan ilham. Camila tak bisa memberi harapan palsu


pada seorang pria. Bukan nya Mila terlalu percaya diri, tapi melihat gelagat


serta perlakuan ilham padanya, Mila bisa menebak jika lelaki ini menyukai


dirinya. Ilham itu tampan meski tubuhnya tidak gagah dan atletis. Hidung nya


mancung dipadu dengan alis yang tebal. Kalau kata teman kampus nya ilham itu


keturunan Turki.


" Mila, eum bolehkah aku mengantarmu pulang." lagi lagi Mila tersentak


bingung harus menjawab apa. Apa dia harus menolak untuk yang kesekian kali.


Lalu dia harus memakai alasan apalagi untuk menolaknya. Jika selama ini dia


selalu beralasan dijemput Nath atau bareng Danisha dengan mobil jemputan nya


Hari ini kak Danisha hanya ada satu mata kuliah dan dia sudah pulang duluan diantar


Kak Shasha tiga jam lalu. Biasanya kalau ada Nath, maka Camila akan dijemput


oleh Nath. Tapi sekarang Nath tidak ada.


" eh... Itu kak...." Camila masih berpikir harus menggunakan cara apalagi


untuk menolak ajakan lelaki ini. Mila sendiri juga heran sudah berkali kali


ditolak. Tapi masih saja mencari kesempatan.


" Mil....." panggil Ilham untuk yang kesekian kalinya karena Mila masih diam


tanpa jawaban.


" ehm... Maaf Kak...."


" kenapa? Kamu sudah ada yang jemput." sela Ilham karena dia tahu pasti


penolakan lagi yang dia dapat.


" ya sudah kalau begitu aku temenin ya sampai jemputan kamu datang."


" eh tapi kak....."


" Mila. !!!!"


Mendengar ada yang memanggil namanya, Mila refleks menoleh ke arah sumber suara. Seulas


senyum tersungging di bibirnya. Dia tentu saja senang melihat Daffi berada


disini dan Mila juga lega pasalnya dia bisa terbebas dari ilham.


Ini bukan untuk pertama kalinya Daffi menemui Mila. terhitung sudah 3 kali Daffi


bertemu dengan Mila sejak kepergian Nath ke Bali. Sebenarnya Daffi tidak hanya


menemui Mila saja tapi juga Danisha. Laki-laki itu biasanya akan mengajak Mila


dan Danisha pergi makan atau sekedar nongkrong di cafe yang tak jauh dari


kampus tempat Mila dan Danisha kuliah. Sejujurnya Daffi merasa kehilangan sejak


Nath pergi ke Bali. Dan Daffi berharap agar Nath kembali ke Surabaya agar dia


bisa bertemu kembali dengan gadis pirang yang sudah berhasil membuatnya jatuh

__ADS_1


cinta. Yang Daffi sesalkan adalah dia belum sempat mengutarakan isi hati nya


pada Nath.


" Kak Daffi" dengan ceria Mila melambai kan tangan ke arah Daffi yang sedang


bersandar di atas motor gede nya.


" Kak ilham. Maaf aku pulang dulu ya." pamit Mila pada pria jangkung kakak


tingkat nya.


" oh iya... sudah dijemput ya."


" heeh. Ya udah kalau begitu aku duluan. Assalamualaikum."


" Waalaikum salam."


Sedikit berlari Camila mendekati Daffi.


" Kak Daffi ngapain disini."


" Nungguin kamu." Mila mengernyit.


" Nunggu aku. Ngapain. "


" Bete ga ada kerjaan, ga ada temen juga. Eh tiba-tiba kepikiran kamu. Tadi sih


sebenarnya iseng kesini siapa tau aja bisa ketemu kamu."


" Dan akhirnya ketemu juga kan. " Mila terkekeh.


" Keberuntungan kayaknya sedang berpihak kepadaku. Pas banget kamu pulang. "


Camila tertawa.


" Eh itu tadi siapa. Cowok kamu. Atau gebetan. "


" ish apaan sih. Itu kakak tingkat aku. Kebetulan aja ketemu. "


" owh kirain... Tapi dia masih ngeliatin kamu tuh. " Daffi menunjuk dengan dagunya.


" Masak ... " Mila tak berani menoleh. Tapi melirik sekilas dan memang ilham


masih berdiri di tempat nya yang tadi.


" Aduh. Ngapain juga dia masih disana. " gumam Camila


" Pasti itu fans kamu ya.. Hahahaha..."


" Kak Daffi, apaan sih."


" Heh.... Ya sudah ayo. Mau kutraktir makan ga." ajak Daffi


" Makan dimana."


" eh ngomong-ngomong lo sendirian ? Danisha mana ?. "


" udah pulang sejak jam sepuluh. Cuma ada satu matkul dia. "


" owh.. Ya udah. Gapapa kan kita makan berdua. " tanya Daffi lagi. Camila


tampak berpikir sejenak. Sebelum dia memutuskan untuk menerima ajakan Daffi.


" ya ga papa sih kak. Memang kak Daffi mau makan dimana . "


" Dimana aja yang penting aku makan ga sendirian. Enakan kalau makan ada yang


nemenin. Gue traktir deh... Terserah mau makan dimana. "


" Asyik. ditraktir.... "


" ya udah ayok naik. "


" eh... Naik motor gede ini kak. "


" lha emang kamu bawa motor sendiri . "


" enggak. Tadi berangkat nebeng kak Danisha. "


" ya udah kalau gitu buruan naik.


" iya iya... Aduh kenapa motornya gede banget sih."


" namanya juga moge. Ya pasti gede lah."


" untung aja aku tadi pake celana. Jadi ga ribet kan."


 


Daffi menyerahkan helm pada Camila.


Camila naik ke boncengan motor dengan hati-hati. Sementara ilham masih saja


memperhatikan Camila dengan hati bertanya tanya. "Apakah laki-laki yang


bersama Mila itu kekasihnya?"


Ilham menekuk wajahnya melihat motor Daffi yang telah menjauh meninggalkan pelataran

__ADS_1


parkir.


__ADS_2