Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Season 2 - Chapter 68


__ADS_3

Masih seputar Daffi.


>>>> Back to Story


" Kau masih mengharap Nathalie?" tanya Matt kala mereka berdua sampai di apartemen yang telah


perusahaan sewa untuk Daffi selama tinggal di London.


" Menurutmu? " Daffi ganti bertanya.


Matt hanya mengedikan bahu.


" Sampai kapan kau mau mengharap cintanya."


" Sampai dia mau menerima cinta ku." jawab Daffi mantap.


Matt berdecak. Sejujurnya Matt merasa iba pada Daffi. Sekian tahun melajang demi seorang Nathalie. Jika Daffi mau, sudah banyak wanita yang menyerahkan diri pada sahabatnya itu. Daffi lelaki yang sangat tampan dan


potensial untuk dijadikan suami. Hampir semua wanita akan menggilai seorang Daffi. Tapi Matt tak habis pikir kenapa Daffi begitu menutup diri.


" Sudahlah. Lebih baik kau istirahat. Jika perlu apa-apa jangan segan menghubungiku, " ucap Matt


" Thanks, Matt."


Setelah nya, Matt meninggalkan Daffi seorang diri.


Daffi meneliti tempat tinggalnya ini. Cukup rapi dan nyaman. Daffi yakin dia akan betah berada disini.


Kembali memutar memori tentang Nathalie. Bagaimanapun caranya Daffi harus bisa mendapatkan Nathalie kembali. Apapun itu akan dia lakukan.


Sudah cukup lama Daffi merasa lemah pada dirinya sendiri. Selalu mengorbankan diri demi seorang Nathalie. Dan sekarang saat nya bagi dia untuk mengejar cinta Nathalie.


*****


Keberuntungan seolah sedang berpihak pada seorang Daffi Juliandra. Bibir lelaki itu mengukir senyum. Tanpa disangka dia melihat keberadaan Nathalie di apartemen yang sama dengan yang dia tinggali.


Daffi tak sengaja melihat Nathalie berada disini. Tujuan awalnya adalah Daffi hanya ingin berjalan jalan mengitari kawasan yang akan menjadi tempat tinggalnya. Siapa sangka justru ekor matanya menangkap kehadiran


Nathalie tentunya bersama pria itu. Pria yang Daffi jumpai di bandara pagi tadi. Tapi Daffi tak peduli. Hanya Nath lah yang Daffi inginkan saat ini. Dengan keterampilan nya Daffi mengintai Nathalie, hingga lelaki bule yang bersama Nathalie pergi meninggalkan apartmen wanita itu.


Dan disana lah yang Daffi yakini sebagai tempat tinggal Nathalie saat ini. Tidak sabar rasanya Daffi ingin mendatangi Nathalie dan mengajak perempuan itu menikah.


Bertahun - tahun Daffi sabar menanti itu semua hanya demi seorang Nathalie.


Daffi menarik nafas dalam lalu ia hembuskan. Sebelum tangan nya terulur mengetuk pintu apartemen perempuan itu.


Dua kali ketukan dan pintu itu terbuka. Nathalie, wanita itu sempat menganga dibuatnya. Terkejut mendapati Daffi ada di depan apartemen nya.


" Boleh aku masuk?" Daffi meminta izin dan karena Nathalie masih terdiam, dengan gerakan pelan Daffi mendorong pintu tersebut hingga terbuka sebagian.


Tanpa diminta Daffi sudah masuk ke dalam nya. Nathalie yang baru saja tersadar segera membalikan badan menatap punggung kokoh Daffi.


" Kamu ngapain kesini daf?"


Daffi yang ditanya seperti itu menatap Nathalie dengan cengiran, " Merindukan mu."


" Daf...."


" Nath, kamu tahu betapa rindu nya aku padamu."


Nathalie meneguk ludah susah payah, menatap Daffi dengan pandangan yang sulit diartikan.


" Menikah lah denganku Nath."


" Apa?"


" Kamu ini bicara apa?"

__ADS_1


" Nath aku serius. Nikah sama aku ?"


Karena Nath hanya terdiam Daffi kembali bersuara.


" Dua belas tahun aku menunggumu, Nath."


" Buat apa kamu nungguin aku, Daf."


" Karena aku ingin kamu menjadi ibu bagi anak- anak ku."


" Sorry daf. Aku tidak bisa. "


Luluh lantak hati Daffi mendapat penolakan dari Nathalie.


Daffi tahu jika lelaki bule yang tadi bersama Nathalie telah pergi dari apartemen Nathalie. Oleh karena nya Daffi berani nekat menemui perempuan itu.


Daffi tak mungkin lagi bisa menahan perasaan nya dan niat nya sudah bulat untuk mengungkapkan semua pada


Nathalie. Tapi apa yang Daffi dapatkan? Jawaban yang tidak Daffi sukai.


" Kenapa, Nath ? "


" Aku mau menikah."


" Dengan lelaki bule tadi."


" Ya."


" Buatku, sebelum dirimu resmi menjadi isteri orang, usahaku tak akan berhenti sampai disini," ucap Daffi lalu lelaki itu berniat keluar apartemen meninggalkan Nathalie.


Langkah Daffi yang sudah di ambang pintu terhenti.


" Bulan depan aku balik Australia. Aku mau nikah disana. Kuharap kamu tidak lagi mencariku atau mengganggu hidupku. "


Kata sarkatis yang keluar dari mulut Nathalie tak dihiraukan Daffi. Lelaki itu memutuskan melanjutkan langkahnya menjauhi Nathalie.


Di dalam kamarnya Daffi termenung. Merekam kembali perkataan yang terlontar dari mulut Nathalie. Benarkah perempuan itu akan menikah? Jika benar, itu artinya perjuangan nya selama bertahun tahun akan sia-sia.


*****


" Daff, kurasa kau memang harus menenangkan diri. Bagaimana bisa hanya termenung sedari tadi. Lihat...! Semua file- file itu harus kamu pelajari."


Matt sudah geram melihat tingkah laku Daffi hari ini. Padahal ini adalah hari pertama Daffi bekerja. Matt yang bertanggung jawab mengajari Daffi sampai Daffi bisa dipercaya mengelola perusahaan. Malvin telah mempercayakan semua pada Matt.


Tapi melihat Daffi yang seperti ini Matt jadi tak yakin apakah Daffi mampu membawa perusahaan yang Malvin


tinggalkan.


" Sorry Matt. Aku sedang banyak pikiran."


" Daff, kuharap kamu fokus pada pekerjaan. Urusan pribadi bisa  dipikirkan setelah kau selesai bekerja. Oke."


" Oke ... aku ... Ah, sorry Matt aku banyak menyusahkanmu."


" Bukan begitu Daff. Aku hanya minta agar kamu bisa fokus pada kerjaan. Sebab aku bertanggung jawab pada kakak iparmu. Pak Malvin telah mempercayakan semua dan aku harus mengajarimu sampai bisa. Jadi kuharap pikiran mu jangan bercabang kemana - mana. "


" Aku tahu. Memang tak seharusnya aku kepikiran Nathalie . Kau tau Matt, jika Nathalie tinggal di apartemen yang sama dengan ku. "


" Apa? Kau serius?  "


" Ya, dan aku sempat mengobrol dengan nya. Itulah kenapa pikiranku tidak bisa fokus. Itu karena Nath mengatakan jika dia mau menikah dalam waktu dekat. "


" Hah? Menikah? Lalu perjuanganmu selama ini hanya sia-sia ? "


" Tidak ada kamus sia- sia di hidupku, Matt. "


Matt mengernyit tak mengerti dengan jalan pikiran Daffi. Lelaki itu sangat susah ditebak.

__ADS_1


" Akan kupastikan Nath hanya akan menikah denganku. Tidak dengan pria bule itu atau pria manapun," ucap Daffi lagi.


Matt hanya memutar bola mata nya malas menanggapi Daffi. Jika diteruskan, bahasan tentang Nathalie tak akan ada habisnya.


" Persiapkan dirimu. Sejam lagi kita meeting. Untuk sementara buang jauh jauh Nathalie dari otak mu. Ingat pekerjaan."


" Oke, siap Matt."


Matt keluar ruangan meninggalkan Daffi seorang diri di dalam ruang kerja lelaki itu.


***


Satu minggu berlalu, tak terasa sudah Daffi hidup di London. Daffi harus banyak berterimakasih dengan Matt, karena lelaki itulah hidup Daffi jadi dipermudah. Sesuai permintaan Matt pula, Daffi benar-benar fokus pada pekerjaan nya. Belum lagi Malvin yang akan memantau hampir setiap hari membuat Daffi mau tak mau harus menpertanggung jawabkan keputusan nya untuk memegang kendali perusahaan yang dirintis kakak iparnya itu.


Nathalie, untuk sementara waktu Daffi mengenyahkan urusan nya dengan perempuan itu. Tidak mau terlalu


memusingkan Nath jika tak ingin Matt mengocehi nya setiap waktu. Bagi Daffi yang utama sekarang adalah mempelajari seluk beluk perusahaan kakak iparnya yang telah diserahkan kepadanya. Jatuh bangun Malvin membangun perusahaan ini dari nol. Tak kan lah Daffi akan menghancurkan nya.


Tidak mudah memang mengelola sebuah perusahaan besar seperti ini. Tapi untung saja Daffi sudah berpengalaman, jadi dia tidak merasa kesulitan.


Malam ini Daffi kembali ke apartemen nya setelah seharian sibuk bekerja. Tak disangka dia harus bertemu


dengan Nathalie di dalam lift. Yang membuat Daffi sakit hati, Nath tak sendiri melainkan dengan lelaki bule yang kapan hari pernah Daffi jumpai. Perasaan cemburu begitu saja menguasai hati Daffi. Dengan sekuat tenaga Daffi berusaha meredam emosi nya agar tak kelepasan berbuat hal di luar naluri nya.


Ting


Begitu pintu lift terbuka, tanpa repot-repot menoleh ke belakang dimana Nath berada, Daffi terlebih dulu keluar dan dengan tergesa berjalan menuju dimana unit nya berada.


Daffi tak tahu lagi bagaimana caranya menghadapi seorang Nathalie. Perasaan yang ia miliki untuk gadis itu tak bisa semudah itu dia hempaskan. Semakin dia ingin melupakan maka bayangan Nathalie akan semakin berputar di pikiran nya.


Sementara itu, di sisi lain dimana Nathalie berada kini, perempuan itu juga sedang berperang dengan batin


nya. Bertemu kembali dengan Daffi hanya membuka kenangan lamanya yang berusaha dia kubur dalam-dalam. Nath tak habis pikir, kenapa Daffi masih juga mengharapkan nya setelah bertahun-tahun lamanya.


" Nath... Kau baik-baik saja."


Tepukan pelan di bahu nya membuat Nath tergagap dan tersadar dari lamunan nya. Bahkan Nath tak merasa


sejak dirinya bertemu dengan Daffi di dalam lift hingga berakhir dirinya yang sudah duduk manis di atas sofa di dalam ruang tamu apartemen nya.


Willy masih menatap Nath dengan pandangan penuh tanya karena Nath tak menjawab pertanyaan nya.


" Nath..." sekali lagi Willy berusaha menyadarkan Nath.


" Wil, sory aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah. Sebaiknya kau pulanglah karena aku ingin istirahat."


" Baiklah. Aku akan pulang. Dan kau... Harus berjanji padaku. Jika terjadi sesuatu denganmu, segera hubungi aku," ucap Willy penuh penekanan.


Nath hanya mengangguk lemah. Menatap Willy yang juga sedang memperhatikan nya.


Willy Setiawan, lelaki blasteran Indonesia Amerika. Meski bertampang bule tapi Willy sangat fasih berbahasa Indonesia karena keluarga besarnya juga tinggal di Indonesia. Saat ini Willy memang sedang bekerja di sebuah perusahaan yang berpusat di London.


Willy sudah berjalan dan bersiap membuka pintu, tapi Nath memanggilnya lagi. " Will...."


" Ya." jawab lelaki itu singkat lalu membalik kan badan. Menatap Nathalie yang masih duduk diam diatas sofa.


" Papa sudah menunggumu untuk datang menemui nya. Minggu depan kita ke Australia ya...." pinta Nathalie.


Willy menghembuskan nafas sedikit salah tingkah karena bingung menyiapkan jawaban untuk Nathalie, wanita


yang ia cintai.


" Nath ... aku...."


" Jangan katakan jika kau belum siap, Will. Aku sudah bosan mendengarnya. Dan akupun juga sudah capek


terus di desak oleh papa."

__ADS_1


" Nath ... kau tahu kan jika urusan kepercayaan itu sangat sensitif. Aku belum menemukan jawaban nya karena.... " Will menggantung ucapan nya. Dan Nath sudah tahu apa arti semua ini.


Lebih dari lima tahun menjalin asmara bersama Willy, Hingga detik ini Nath tak tahu kemana cinta mereka akan berlabuh. Sebenarnya hanya karena satu sebab, perbedaan keyakinan. Dan baik Willy juga Nathalie belum menemukan jawaban serta solusi untuk hubungan mereka kedepan.


__ADS_2